
......******......
2 minggu sudah Garel menjalani proses perawatan di rumah sakit pasca koma, selama itu juga Garel tidak mau berbicara pada Viena satu katapun.
Untung saja Viena masih berbaik hati untuk merawat dan menjaga Garel.
Atas permintaan Garel, dokter Irwan terpaksa mengizinkan Garel dirawat dirumahnya sendiri dengan syarat Garel harus rutin makan dalam 3 jam sekali dan setiap 2 minggunya melakukan chek kemajuan selama pemulihan.
Garel menegaskan dirinya merasa bosan jika berlama dirumah sakit yang dijadikan alasan untuk memperlambat pemulihannya.
padahal itu hanya alasan Garel agar bisa bertemu dengan Anasya dengan mudah tanpa pengawasan keluarganya khususnya kakek jika terus di rumah sakit.
Dan itu semua ide licik Anasya yang sudah ngebet ingin menjalankan rencananya yang pasti sudah didukung suaminya.
Meski pada awalnya Reonal berat hati untuk mengizinkan Anasya menjalankan rencananya yang satu ini.
Namun penuh keyakinan Anasya memberi penjelasan pada sang suami akhirnya Reonal luluh dan patuh dengan syarat Anasya tidak lupa jalan kembali pada sang suami.
Begitupun keluarga tidak bisa menolak keinginan Garel yang banyak alasan baik Viena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak atau mencegah keinginan Garel, jangankan untuk menasehati Garel bahkan Viena bicarapun tak sekalipun Garel gubris.
Didalam rumah Viena dan Garel disamput oleh bibi Ina yang bekerja selama Garel koma 3 minggu ini, bibi Ina menyambut majikannya yang sudah kembali kerumah dengan penuh hormat.
"selamat datang tuan, nyonya" sapa bibi Ina hormat pada kedua majikannya sembari sedikit menundukkan tatapannya.
"terima kasih, bi" ucap Viena sembari tersenyum pada bibi ina, melihat senyum majikannya bibi Ina cepat tersenyum menandai ia membalas senyuman majikannya yang ia kenal beberapa hari ini irit bicara yang terkesan cuek.
Viena mendorong kursi roda milik Garel memasuki rumah mereka yang dibantu asisten Garel yang ikut mengantar mereka berdua kerumah atas kemauan Garel lagi yang semena mena tidak mau diatar oleh keluarga lainnya.
Garel sengaja menjauhkan 2 belah pihak untuk menjauh dari hubungan rumah tangganya agar tidak ada yang tahu jika hubungannya dengan Vjena tidak sedang baik-baik saja.
"nyonya, tuan. saya pamit undur diri" izin asisten Garel
"terima kasih, Ton" ucap Viena pada asisten Garel yang memiliki nama Toni Amarsyan
"apa bibi sudah masak? " tanya Viena pada bibi ina
"sudah nyonya"
"terimakasih bi" ucap Viena lalu meninggalkan bibi seorang diri setelah menanyakan bibi Ina, dari pertanyaan itu hanya Viena seorang yang tahu maksudnya.
Viena merasa mendorong kursi roda yang diduduki Garel keruang tamu, kondisi Garel saat ini tidak memungkinkan jika harus tinggal dilantai atas apalagi Garel masih merasakan pusing yang mungkin membahayakan untuk Garel menaiki tangga dan begitupun Garel harus senantiasa menggunakan kursi roda untuk mengurangi rasa lelah dan pusing dikepalanya.
Viena membantu Garel berpindah keatas ranjang, gerak tangan Garel sekan menolak Viena membantunya tapi reflek Viena menahan tangan itu tanpa berbicara apaun diantara keduanya.
Viena tetap melanjutkan niatnya yang ingin membantu Garel keposisi yang nyaman.
Setelah selesai urusan dengan Garel, Viena berjalan kedapur lalu menyiapkan sepiring nasi beserta lauk-lauknya lalu membawa kekamar Garel tak lupa Viena membawa secangkir air putih.
"Ayo makan, sudah waktunya makan" ujar Vjena sedikit merendahkan suaranya agar tidak terdengar kasar,
Viena menghafal jelas pesan-pesan dari dokter irwan jika Garel harus makan 3 jam sekali meski hanya 3-4 suap saja.
Ditatapnya orang yang diajak bicara tak juga ingin berbicara dan tidak meresponsnya. Viena melangkah keluar dari kamar tamu yang sekarang menjadi tempat tinggal Garel.
"makan lah, makanlah dengan tenang, aku juga sudah menulis dikertas sana nomor bibi Ina, jika tidak ingin mengatakan padaku" ujar Viena sebelum Viena menininggalkan kamar itu dan menutup kembali pintu kamar.
Viena tahu jika kehadirannya malah akan memperlambat Garel sembuh, maka ia tidak akan memaksakan diri u tuk menyuapi Garel.
"bi.. " sapa Viena pada bibi ina
"iya nyonya, apa ada yang bisa saya bantu" tanya bi ina
"jika tuan Garel butuh sesuatu yang menurut bibi tidak baik untuknya, jangan lupa kasih tahu saya dulu, takutnya akan membahayakannya" jelas Viena panjang x lebar.
Mungkin semenjak menjaga Garel, julukan Viena sebagai perempuan irit bicara mulai memudar, ia lebih banyak berbicara terutama.pada Garel disaat ia mengurus Garel.
" baik nyonya" sahut bibi antusias, karena selama 3 minggu Viena berkunjung kerumahnya sendiri bibi ina selalu mendengar satu kata dua kata saja setiap majikannya itu bicara tapi tidak kali ini dan mungkin menjadi pertama kalinya bibi ina mendengar kalimat sepanjang itu dari diri Viena.
Viena meninggalkan bibi Ina menuju kamar nya yang ada dilantai atas..
__ADS_1
Berbagai bunga hiasan yang ada dikamarnya, telah tertata rapi. begitu indahnya bunga-bunga itu telah membawa suasana hati viena pada masa lalu.
Lelah hari Viena hilang mengenang betapa baiknya pria waktu itu padanya.
meski mereka bertemu satu kali, tapi pria kecil itu menemani Viena selama 2 tahun lamanya melalui surat-saurat yang sesuai dikatakan pria kecil itu pada Viena kecil.
jika pria itu datang lagi disaat detik-detik Viena terluka, apakah prial itu akan menghibur Viena dengan cara seperti dulu.
Dreet Dreeet dreet
getaran ponsel Viena membuyarkan pikiran Viena dari kisah masa lalunya.
panggilan masuk dari sang kakek, dengan cepat Viena menggeser tombol hijau tanda menjawab
π±" Hello kek?"
π±"Fana, kakek sudah mengantarkan dua pengawal rumah untuk menjaga kalian" ujar kakek diseberang sana
π±"kakek, Maaf merepotkan kakek, tapi kenapa harus, kek? " tanya Viena merasa tidak enakan pada kakek dan Viena merasa tidak terbiasa jika ada pengawal dirumah, ia tahu jika dengan latar belakang keluarga mereka yang terpandang bukan tidak memungkinan pesaing dalam berbisnis keluarga mereka berbuat macam macam.
Tapi Viena merasa risih, Viena sudah terbiasa hidup mandiri menjaga diri sendiri apalagi rumah saja harus ada yang jaga segala.
π±"tidak apa-apa, kakek hanya khawatir ada yang akan berulah, kamu tahu sendiri jika Garel adalah penerus tunggal pengusaha sukses. maka pasti banyak yang ingin melenyapkannya didalam dunia bisnis dan mengganggu kalian secara kejam" jelas kakek pada cucu menantu tersayangnya itu
π±"baiklah kek" sahut Viena tidak mempermasalahkan lagi, memang benar adanya jika pesaing dalam dunia bisnis bisa melakukan apapun untuk melawan lawan.
π±"bagaikan keadaan Garel? apakah dia membuatmu tidak nyaman?" tanya kakek mengkhawatirkan perasaan cucu menantunya.
π±"Masih sama dengan kondisi tadi kek" sahut Viena lembut.
π±" bagaimana apakah dia membuatnya tidak nyaman?" ulang kakek
π±"Tentu iya kek, kan masih sakit, maka Fana juga akan merasa tidak nyaman" canda Viena pada kakek Zirdan.
π±"hahh. sungguh beruntungnya cucu kakek bersamamu" kakek Zirdan tertawa mendengar canda cucu menantunya itu lalu memuji viena diakhir kalimatnya.
π±"sepertinya cucu kesayangan kakek ini mulai banyak bicara" sambung kakek berucap beserta kekehan kecil
π±"ya sudah kakek akhiri" ucap kakek
π±" iya kek, jaga kesehatan" sahut viena
π±" iya"
perbincangan kakek dengan cucu menantu itupun berakhir mana kala 2 pengawal yang dimaksud kakek tiba dikediaman Viena dan Garel.
Tok tok tok
"iya? "
"maaf nnyonya, ada yang mencari nyonya dibawah"
"iya bi" ucap Viena sembari membuka pintu kamarnya.
Viena menuruni anak tangga kamarnya diikuti bibi Ina dibelakangnya.
Lalu ia menyuruh kedua pengawal rumahnya itu untuk masuk kerumah dulu, karena Viena akan menjelaskan berkait seisi rumah ini agar tidak terjadi masalah selama bertugas termasuk ala saja tugas-tugas mereka untuk beberapa hari kedepan.
termasuk jangan sampai menyinggung keluarga Ardian dan Az-Zardan saat mereka berkunjung kekediaman Viena dan Garel.
setelah menyampaikan tugas 2 pengawal itu bibi Ina juga mendapatkan tugas tambahan sebagai urusan bersih bersih dan dapur, ia juga harus memasak untuk dua pengawal itu.
Namun Viena mengatakan pada bibi jika Viena sendiri yang akan turun tangan dalam urusan memasak untuk Garel selama pemulihan ini.
Bibi ina hanya bisa mengangguk apa yang diperintahkan meski dalam hati bibi ina merasa tidak nyaman jika nyonyanya yang harus turun tangan kedapur memasak untuk tuannya.
"bi, bisa bantu saya?" tanya Viena
"bisa nyonya, itu sudah menjadi tugas saya" ucap bibi ina
__ADS_1
"bibi kekamar tuan Garel, lihat apakah dia sudah menghabiskan makanannya apa belum"
"baik nona" ucap bibi langsung menuju kekmar tamu yang ditepati Garel sekarang.
Namun langkah bibi terhenti saat mendengar suara berisik didepan rumah.
"lanjut bi, biar saya saja" ucap Viena menuju depan rumah mengerti jika bibi mengkhawatirkan suara berisik didepan.
"Anasya??? apa yang kau lakukan?" tanya Viena dengan raut terkejut saat melihat siapa yang bikin keributan di depan rumahnya bahkan berminat untuk menerobos dua pengawal rumahnya.
"Fana?" Anasya tak kalah terkejut melihat Viena yang berada dirumah Garel kekasihnya itu bukannya Agelia.
"apa aku salah mengira Agelia istri Garel" gumam Anasya dalam hatinya.
"Bertamulah yang sopan" celetuk Viena yang memang tidak pernah berucap baik jika berbicara dengan Anasya yang selama ini selalu mengganggunya dan sahabatnya Agelia, sehingga bersikap tidak sopan pada Anasya itu wajar wajar saja.
"Apa kau istri Garel? aku ingin menemui suami mu" ucap suara Anasya tinggi dan tanpa malu.
"apa maksudmu?" tanya Viena yang memang tidak tahu apa kaitan Anasya dengan suaminya karena Agelia belum menceritakannya.
Anasya mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Garel.
π±"sayang" sapa Anasya saat nomor yang dituju terhubung lalu meloudspiker agar suara Garel bisa didengar langsung oleh Viena.
π±"iya, sayang" jawab seorang lembut terdengar oleh Viena, tentu Viena mengenal suara itu dengan baik.
JDERrr
Hati Viena seperti disambar petir mendengar suara suaminya menyambut dengan lembut panggilan sayang itu dan dengan nada mesra dan membalas panggilan sayang.
π±"sayang, pengawalmu melarangku masuk termasuk istrimu juga" ucap Anasya manja.
π±"pengawal?" ulang Garel yang tidak tahu jika dirumahnya ada pengawal, karena hanya Viena saja yang dikabari oleh kakek sekan kakek sudah tahu jika pengganggu yang dimaksud kakek Zirdan adalah Anasya.
π±"iya, mereka melarangmu masuk" ucapnya dnegan berpura pura sedih.
π±"berikan ponselmu pada wanita planet itu" ucap Garel meninggi, Viena hanya melongo mendengarkan suaminya memanggil mesra kekasihnya terang terangan didepannya bahkan tidak itu Garel menghinanya tanpa ada rasa sedikitpun bersalah atau tidak nyaman.
π±" iya," lalu Anasya menyerahkan kepada Viena, Anasya mengerti jika wanita planet yang dimaksud Garel adalah Viena
Dengan senang hati ia memberikan ponsel miliknya kepada Viena dan tersenyum licik.
π±"emmmh?" Viena hanya berdehem
π±" suruh aAnasya MASUK!!!!" bentak Garel, tanpa memikirkan perasan Viena, siapapun yang ada disana pasti akan terkejut mendengar bentakan Garel apalagi Viena yang memegang ponsel itu.
Enggan rasanya Viena membiarkan Anasya untuk menginjakan kaki dirumahnya, bukan kah sama saja memberi lampu hijau pada plakor apalagi Viena tahu dengan jelas status Anasya sekarang adalah istri Reonal, mantan kekasih Agelia yang tak lain sekarang menjadi kakak tiri Agelia, sahabatnya.
Tapi apakah semuanya bisa viena cegah? ... ini pertama kali Viena dibentak oleh laki-laki dan itu adalah suaminya sendiri.
Rasa keterkejutan itu menyat hati Viena melebihi sakit saat Garel mengatainya jangan pernah penggodanya lagi.
Melihat regresi keterkejutan Viena, dengan cepat Anasya mengambil kesempatan itu untuk menerobos masuk dari genggaman dua pengawal itu lalu mengambil ponsel miliknya yang masih berada ditangani Viena tak itu saja Anasya sengaja menyenggol Viena.
Untung Bibi Ina datang diwaktu yang tepat dan cepat menahan tubuh Viena yang hampir terjatuh
"nyonya apa nyonya baik-baik saja? " tanya bibi ina yang berada di belakang Viena dalam posisi menompang tubuh Viena.
"ia bi, apakah tuan Garelnya sudah makan?" tanya Viena merubah topik lalu kemabli keposisi tegak
"belum nyonya, apakah perlu diantar nasi dan lauk baru, nya? tanya bibi ina dengan nada prihatin pada nyonya itu.
"Tidak bi, biarkan dulu" ucap Viena lalu meninggalkan bibi Ina dan kedua pengawal itu dengan raut wajah yang sama seperti hari sebelumnya terlihat tenang dipermukaan namun sudah keruh didalam sana, Viena melangkah kekamarnya.
Andai waktu bisa kembali pada malam pernikahan, Viena berharap ia lebih memilih untuk mengamuk tidak peduli apa yang dikatakan orang tentang dirinya asal bisa membatalkan pernikahanya dengan Garel, bahkan Viena berharap jika waktu bisa diputar kembali ia tidak ingin berjumpa dengan kakek Zirdan.
Dikamar Viena memukul dadanya sendiri, rasa ngilu didadanya membuat Viena lemas tapi air mata Viena tidak sedikitpun menetes.
Berlarut dalam sakit kesakitan tubuh Viena tiba-tiba merasa lemas dan merasa mual, segera Viena berlari kekamar mandi
__ADS_1
BrRUuuK
Namun belum sampai depan pintu kamar mandi Viena jatuh tidak sadarkan diri.