
Menjalan tiga minggu Garel berbaring diatas ranjang rumah sakit dalam keadaan terpejam alias koma.
Bahkan tanda-tanda kehidupan lainya tidak pernah terlihat sama sekali dari diri Garel.
Dan selama tiga minggu itu pula Viena semakin tekun mengurusi Garel, Viena juga telah melenyapkan pikiran buruknya terhadap Garel tiga minggu lalu, setelah ia bercerita dengan Agelia.
Viena rela cuti yang diambil olehnya untuk senantiasa berada disisi Garel tanpa meninggalkan Garel seharipun.
Bahkan tidak hanya itu Viena memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, alih-alih Pak Deffan sang pemimpin perusahan Oskar dapat mencari sekretaris baru ketimbang berharap ia kembali bekerja seperti bisa yang entah kapan itu terjadi?
Viena memandangi setiap sudut wajah yang ia perhatikan setiap hari dan setiap malamnya itu enggan membuka mata hingga tanpa balasan dari pemilik wajah, perlahan Viena menumbuhkan akar-akar bunga dihatinya.
Viena tidak berpikir apa yang ia dapatkan setelah Garel sadar, apakah pria itu akan sama dengan apa yang dirasakannya? atau masih menganggap dirinya lah yang telah menggoda suaminya itu dan semacamnya?, atau semakin menjauh darinya?
Tidak adalagi pikiran seperti itu dalam hati Viena, Viena hanya berharap dengan tulus pada pria yang ada didepanya itu untuk segera sadar dari komanya dan tidak lupa Vkena selipakn do'a agar suaminya bisa menerima kehadirannya nanti, meski mustahil.
dreet
📥"Vi...mau dibeliin apa? aku mau kesana" pesan masuk dari Agelia.
📤"entahlah" Viena pun membalas pesan Agelia karna ia tidak selera untuk makan entah karna terlalu kelelahan atau berlebiha. Memikirkan kesehatan Garel.
📥"🙄" balas Agelia dengan emoji
Melihat balasan Agelia hanya sebuah emoji, Viena meletakkan kembali ponsel miliknya enggan untuk menggubris emoji yang dikirim Agelia.
Selang beberapa menit langkah kaki mengarah keruang pasien yang ditepati Garel, viena tersenyum manis mengira jika yang datang Agelia sahabatnya, namun mana langkah kaki yang Viena dengar semakin berat lebih cocoknya suara langkah kaki pria.
Viena menoleh kepalanya mengadah kerah pintu masuk mana kala pria yang ingin mengetuk pintu. senyum manis Viena berubah menjadi kaku begitupun pria itu terkejut mana kala melihat orang yang ia lihat adalah seorang yang sangat dipuja-puja selama ini.
"Apa Fana istri Garel, Fana yang aku kenal?" batin pria itu menerka nerka.
__ADS_1
"Pak Raffa" sapa Viena berusaha menegur terlebih dahulu agar tidak terasa kaku pada orang yang disebut Viena dengan sebutan Pak.
iya Raffa Evansyah lah dosen pengganti di kelas Viena dibangku kuliah semasa Viena masih menjadi mahasiswi di kampus dulu.
"Fana,..? apa ini benar ruangan Pasien atas nama Garel Gebriel Az-Zardan?" tanya Raffa memastikan jika ia tidak salah ruangan. karena semenjak incident menimpa sahabatnya itu ia belum pernah sama sekali berkunjuk kerumah sakit.
"iya pak" sahut Viena lalu mempersilahkan Raffa masuk
"masuk saja pak" pinta Viena hormat, bagaimanapun Raffa pernah jadi dosenya meski hanya dosen pengganti.
"terimakasih" sahut Raffa lalu tersenyum
"Garel beruntung sekali kamu bisa menikah dengan perempuan seperti Fana. keterlaluan kamu Garel, jika menyakiti perempuan sebaik Fana setelah ini" ujar Raffa dalam hatinya sembari melirik kearah perempuan yang ia kagumi selama ini bahkan rasa suka dan kagim itu masih ada.
Namun orang yang dipuja-puja tidak pernah melirik sekalipun kearah Raffa, meski Raffa pernah mengutarakan perasannya dengan tulus tapi Viena menolak dengan berkata "pak, bapak orang baik" itu lah yang dikatakan Viena yang memang irit bicara.
Tapi Raffa mengerti maksud dari kata itu adalah sebuah penolakan yang entah diperhalus atau memang itu cara menolak pria ala Viena yang dibilang perempuan irit.
Viena beranjak dari kursi mengambil kursi lain untuk mengisyaratkan Raffa untuk duduk.
Tanpa menunggu suara perintah dari Viena, Raffa mengambil alih kursi didepannya lalu mendekat kearah sahabatnya Garel dan meletakkan buah diatasi meja yang berdekatan dengan ranjang pasien.
Raffa sadar sekarang bukan waktunya lagi untuk mengagumi istri orang lain terlebih dari itu adalah istri sahabatnya sendiri.
lama hening keduanya, akhirnya datang seorang yang ditunggu viena sendari tadi untuk memecahkan keheningan antar viena dan Raffa.
"Sorry lama, tadi kak Merel telpon aku suruh balik keVila" tutur Agelia ngos-ngosan dengan membawa dua keresek dikedua tangannya.
"ini dari kak Merel" ujar Agelia sembari menyodorkan pesanan dari kakaknya Viena yang berisikan nasi goreng buatan kak Merel saat berkunjung ke Vila mililnya yang sekarang ditepati oleh Agelia sahabat Viena.
Iya, selama beberapa minggu ini Agelia mengindahkan tawaran Viena untuk tinggal di vila kak Merel, kebetulan kak Merel hanya berkunjung 2 minggu sekali dan kali ini adalah yang pertama kalinya kakaknya Viena itu mengunjungi vila miliknya selama Agelia tinggal disana itu saja hanya untuk memasak nasi goreng kesukaan Viena seorang.
__ADS_1
modus nih kak Merelvin Andrianada. ups gantengnya sudah pasti ganteng kan adiknya juga cantik pasti sudah dipastikan sempurna dua bersaudara yang saling mengerti.
"Cek, ngerepotin kamu aja" decak viena kesal karena kakaknya merepotkan Agelia sahabatnya.
"enggak apa-apa kali Vi, toh kak Merel ganteng" sahut Agelia yang benar-benar fokus pada Vkena seorang sampai dia tidak sadar kalau ada sang dosen pengganti mereka dulu disana.
"emmh" Raffa berdehem mengisyaratkan jika ada dirinya disana.
sontak mata Agelia mencari sumber suara dan membulatkan mata seketika jika orang yang berdehem ada disampingnya bahkan tidak hanya itu Agelia kenal orang yang ia liat yang tak lain juga dosen pengganti kelas kuliah Agelia dulu.
"Pak Raffa, iyakan pak Raffa?" tanay Agelia meyakinkan.
sedangkan Viena hanya tersenyum melihat efresi sahabatnya itu
"iya, kalau boleh kalian jangan panggil saya bapak. lagian saya juga semuran dengan Garel" ujar Raffa dengan sedikit penekanan, Raffa merasa resah terpaut usianya yang tidak jauh dengan usia Viena dan Agelia.
"saya pulang dulu," sambung Raffa tidak mau berlama-lama.
"Terima kaish banyak" ucap Viena atas kedatangan Raff dan tampa ambal amban sebutan pak lagi.
Lalu Viena dan Agelia hanya mengangkat kedua bahu mereka masing-masing dengan mengarahkan kedua tangan mereka keatas mengisyaratkan jika tidak memangami dari sikap Sang dosen pengganti.
Karena sosok Raffa menghilang dari ruangan itu membuat Viena tidak bisa menahan rasa ingin melahap habis nasi goreng bikinan kakak tersayangnya, yang mana harumnya keluar dari tempat dan memasuki indra penciuman Viena.
setelah melahap habis nasi goreng dan dibantu Agelia yang penasaran apa rasa nasi goreng yang dimasak oleh kak Merel. Viena dan Agelia memilih untuk ngobrol diluar ruang Garel ditempat kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan Garel.
Asyik berbincang kedua sahabat itu sampai lupa kalau mereka sudah menghabiskan banyak waktu.
Dan tanpa sadar pula keduanya tidak tahu keadaan di dalam ruang pasien, jari -jari pria yang koma 3 minggu lamanya mulai menggerakkan jarinya perlahan lalu membukakan matanya.
Namun sayangnya yang menyambut mata itu membuka mata bukanlah Viena, istrinya Garel Gebriel Az-Zardan.
__ADS_1