
"Casya., apa perlu aku ulangi, aku tidak tertarik?" ucap Tomy medominasi.
"Hahahahha, kau jangan merasa pria perjaka, tomy. aku sudah tahu masa lalumu. Bahkan kekasihmu itu tidak seindah tubuhku" cemoh Casya memenuhi seisi ruangan itu, ia mentertawakan Tomy seakan pria sejati.
"Ayolah, jangan jual mahal. aku menawarkan diriku, bukankah itu keuntungan untukmu juga" ujar Casya dengan seuntai senyuman menggodanya.
Sementara Tomy semakin jengah saja dengan Casya, bagaimana bisa ia mengingatkan kekasih masa lalunya yang telah ia sakiti dengan ke khilafannya.
"ingat, Vola adikmu ada ditanganku" dengan liciknya Casya menggunakan Vola untuk mengancam Tomy, merasa Tomy tidak terpengaruh dengan cemohannya maka ia akan pada ancaman yaitu menggunakan Vola.
Dengan lesunya, Tomy menduduki tepi ranjang yang ada di ruang itu.
Melihat Tomy pasrah, membuat Casya tersenyum puas.
Seorang Tomy, bisa lemah hanya dengan keluarga yang nyatanya bukan keluarga kandungnya sendiri.
Untung saja Casya belum mengetahui dari kelurga mana Tomy berasal, kalau tidak Casya akan mengincar Viena terlebih dahulu, yang sedang hamil pasti akan menjadi kelemahan besar bagi Tomy.
Casya mendekat kearah Tomy, lalu duduk disebelah Tomy.
Ia mulai bergerak seperti ulat, tangannya mulai merayap kearah paha Tomy dengan tangan kirinya sedangkan tangan kananya meraba dada Tomy intim.
Tentu tomy pria normal, akan merasakan terang sang apa bila disentuh seperti itu.
Apa lagi Casya memang handal di bidang itu, hanya saja selama ini tidak ada kesempatan Casya untuk menggoda Tomy, Tomy yang selalu menahan diri setelah menyakiti kekasihnya sendiri dimasa lalu.
Termasuk Casya yang disebut gadis paling cantik dan menggoda diantara semua gadis yang ada ditempat para pencarian dan pemuasan pria kesepian itupun tidak bisa menggodanTomy padahal banyak orang tahu jika ia memiliki julukan bajing*an, yaitu karena ia suka bermain perempuan.
"kau tahu aku laki-laki bajingan, jika kau mengikatku dengan apa yang terjadi malam ini, kau kira aku akan bertanggung jawab?" Tanya Tomy penuh penekanan dan matanya menatap tajam kearah mata Casya.
Casya merasa getaran amarah dari sosok Tomy tapi Casya berusaha terlihat tenang dengan sikap Tomy.
"Tenang sayang, aku hanya meminta malam ini saja. bukankah itu sudah jelas untuk menjawab pertannyaanmu?" pernyataan Casya berusaha tenang dan melanjut aksi gatalnya.
Ia tidak butuh oertanggung jawaban Tomy, toh ia sering melakukannya dengan pria lain.
"Kau harus membayar hutang yang tertunda bukan?" tanya Casya mengingatkan hutang pinjam motor di bayar kepu*san.
Dengan cepat Tomy membanting tubuh Casya keatas ranjang dengan posisi Casya dibawah tubuhnya.
"Kau cukup berani menyerahkan milikmu pada sembarang orang, aku memang pria bajingan tapi kau tidak suka bekas orang" sarkas Tomy menohok, ia menatap mata Casya tajam.
Casya memerah karena menahan marah, ucapan Tomy memang benar tapi ia merasa terhina dengan ucapan jujur Tomy.
__ADS_1
"maka aku tidak perlu bermain lembut, bukan?" lanjut Tomy yang sekarang merubah suasana hati Casya kembali percaya diri jika Tomy tertarik padanya itulah yang Casya pikirkan dan tentunya yang Casya nanti nantikan
.
"Tentu" jawab Casya menantang jika Tomy akan bermain lebih mem uas kannya.
Tangan Casya mem buka satu persatu kancing baju milik Tomy dan batin Casya terbang berkelana berharap segera tubuhnya dengan tubuh Tomy akan meny* tu.
Dengan sigap Tomy juga membuka kancing baju Casya yang sedari kedua kancing bagian atas memang sudah terbuka.
"kau harus diberi pelajaran" batin Tomy geram, orang seperti Casya tidak akan bisa ditegur dengan lembut maka dengan kasar ia akan mundur sendiri, itulah yang dipikir Tomy.
Mungkin Tomy tidak begitu keberatan sedikit lancang lagi untuk mengakhiri seorang Casya dalam dirinya.
Melihat tangan nakal Tomy, Casya tersenyum girang aaah ta sabar lagi rasanya Casya mendapat dan merasakan Tomy malam ini, ini menjadi impiannya selama ini.
Bukankah ini yang sudah dinanti-nantikan Casya selama ini, akhirnya tidak hitung detik lagi akan terjadi.
Saat semua kancing baju casya terbuka semua, memperlihatkan lekukan tubuh Casya yang sekhsi dan menggoda disetiap mata pria termasuk Tomy pasti tergoda sebagai pria normal.
Namun sebisa mungkin Tomy mengontrol dirinya, sekarang tubuh bagian atas Casya hanya tertinggal bra saja karena Tomy sudah melempar pakaian itu kesembarangan arah.
Sengaja, Casya membusungkan dadanya dan mengangkat tubuhnya sedikit agar Tomy bisa membuka bra miliknya dengan mudah.
Bra yang tadinya tertutup akhirnya terbuka tidak menutupi dua benda kembar itu yang memperlihatkan dengn jelas.
Tomy menatap lekat mata Casya yang merupakan wanita yang sengaja menawarkan dirinya sendiri pada Tomy.
Dalam hati Tomy, ia malah frustasi kenapa ia malah menggunakan cara seperti ini untuk membuat Casya jera dengannya dan berhenti menggodanyadan tentu kejadian ini ikut serta menyiksa dirinya.
"sudahlah, aku sudah membukanya" Batin Tomy
"sayang kenapa kau lama sekali?, apa perlu aku yang menuntun?" tanya Casya lembut dengan sura menggodanya.
"Tidak, biarkan aku yang melakukannya, sayang" ucap Tomy tidak mau kalah menggodanya ia harus handal dalam berekting.
Tangan Tomy yang tadi tidak lagi berkegiatan sekarang meraih benda ken yal itu dengn satu tanganya dan satunya menahan agar tidak menindih Casya terlalu kuat.
"aa...aah sa,..yang,... jangan bermain terlalu santai itu membuat aku tidak tahan menunggu" ujar Casya seraya mendes*h saat benda bulatannya disentuh pria yang selama ini dinantikannya.
"apa kau ingin aku bermain lebih kasar?" tanya Tomy lalu mendapat anggukan dari Casya, Casya memang agresif dibidang seck.
Casya mengira jika kasar yang dimaksud Tomy sesuatu yang memuaskannya.
__ADS_1
"aakkkkhhh" pekik Casya kesakitan saat mulut Tomy mendekat kearah benda kecil yang ada dibukakan miliknya.
Berbeda situasi dengan keadaan Merelvin dan Agelia, Aagelia sedari tadi mengajak Merelvin kembali ke villa dengan segera, ia khawatir jika sahabatnya Viena akan mencari Merelvin dan ingin mengajak Merelvin berpergi tapi malah kecewa saat Merelvin tidak ada.
Membayangkan wajah kecewa sahabatnya membuat Agelia tidak ingin berlama lama dengan kekasihnya.
.
"kakkkk, bukankah tadi bilangnya bentar" ucap Agelia kesal, pasalnya Merelvin berbohong padanya.
"sayang, sekali ini saja kita berlama-lama. apa kau tidak rindu padaku?" bujuk Merelvin yang memang sangat merindukan kekasihnya itu.
"kitakan selalu melakukn Video Call, kak" ujar Agelia masih kesal. bagaimana bisa ia berpacaran dengan orang yang tidak mau mengalah apalagi demi kepetingan adiknya sendiri. itu semakin membuat Agelia kesal saja.
"sekali ini, plieesss" mohon Merelvin terus menerus, memamg selama ini waktu Merelvin selalu dihabiskam untuk memperhatikan Viena sang adik tersayang meski masih bisa dikatakan Tomylah yang selalu ada untuk Viena.
Ia tahu jika kekasihnya itu tidak keberatan, tapi rindulah yang membuat Merelvin ingin berlama lama kali ini.
"terus mau kemana lagi?" tanya Agelia dengan wajah cemberutnya. didalam hatinya Agelia malah merasa kasihan pada sang kekasihnya itu.
"kita ke Festival lagu yang ada di aula Mall" ucap Merelvin tersenyum lalu menggandeng tangan Agelia menuju mobil.
"apa itu menyenangkan?" tanya Agelia, selama ini Agelia tidak pernah mengikuti atau melihat festival lagu yang diadakan dikota-kota.
Jadi Agelia benar-benar tidak tahu mengenai hal itu.
"Tentu" jawab Merelvin lalu melajui mobilnya dengan pelan.
diperjalanan menuju Mall Merelvin dan Agelia sama-sama menikmati perjalanannya, Agelia berusaha untuk membuat kekasihnya nyaman dengan berusa menurut saja.
keduanya saling bercerita tentang apa yang belum mereka ketahui satu sama lain, agar lebih saling mengenal lagi.
sesampainya didepan Mall mobil yang dikemudi Merelvin berhenti tepat depan Mall.
Tapi Merelvin tidak langsung turun, ia masih duduk ditempatinya seraya menatap kekasihnya, Agelia.
"Agelia Andrin, Apa kau mau menikah denganku?" tanya Merelvin pada Agelia dengan wajah seirus.
Tapi apa reaksi Agelia, membuat Merelvin membeku, bukan karena ia terkesima apalagi bahagia melaikan ia sungguh diejek kekasihnya sendiri.
sresst
Agelia mencubit lengan Merelvin dengan tenaga kecil.
__ADS_1
"Hahaha, enak aja. ngajak nikah kayak ngajak makan di warung" ucap Agelia merasa lucu.