
"Hahaha,.. enak aja. ngajak nikah kayak ngajak makan" ujar Agelia tidak serius, ia mengira Merelvin dalam mode bercanda.
"Mentang-mentang kau kakak sahabatku, seenaknya ngajak nikah" lanjut Agelia tidak habis pikir dengan kekasihnya itu, yang candanya tidak lucu sama sekali.
"aaa, lepaskan tanganmu itu, menyakitiku" protes Merelvin seraya menyingkirkan tangan Agelia yang masih melekat dilengannya.
"hehehe..maaf" ujar Agelia dengan deretan gigi putih miliknya.
"tapi aku serius dengan ucapanku tadi" ucap Merelvin kembali serius tapi Agelia kembali merespon dengan tidak serius bahkan kali ini Agelia tertawa mendengar penuturan atau lebih tepatnya lamaran aneh itu.
"hhahaha" Agelia tertawa terbahak-bahak lalu berucap
"apa kak Merel pikir aku percaya dengan lamaran seperti itu?" Agelia tidak menanggapi ucapan Merelvin dengan serius malah Agelia semakin receh saja.
cltak
Merelvin mendaratkan jeltikan jari telunjuk dikening Agelia
"aww" pekik Agelia kesakitan, memang Merelvin melakukannya agak terasa bagi Agelia.
Wajah Agelia menjadi cemberut setelah mendapatkan jelentikan jari dari Merelvin, kekasihnya itu kasar.
"Maaf sayang, aku serius tapi kau tidak menanggapi ucapanku dengan serius" ujar Merelvin merasa bersalah lalu menuntun Agelia melihat kearahnya.
"lihat aku dan lihat mataku, aku serius dengan ucapanmu. jika kau mau menikah denganku, aku akan melamarmu setelah Fana lahiran." ujar Merelvin dengan tatapan mendambakkan Agelia.
Wgelia melihat tatapan mata Merelvin kedalam, tidak ada kebohongan sedikitpun disana. Agelia terdiam apakah ia harus menolak atau menerima segera lamaran yang terasa tawaran itu.
"Tapi kita pacaran baru 3 bulan, kak?" ucap Agelia kemudian, terdengar ragu dengan hubungan mereka yang baru 3 bulan bahkan selama itu juga mereka berdua tidak begitu sering bertemu atau mengenali lebih dalam lagi.
"itu tidak penting, 1bulan cukup untuk mu memikirkannya" ucap Merelvin
"jika aku menolak, Ap..." ucap Agelia terjeda
"kau tahu sendiri, papa tidak suka jika kita berlama-lama pacaran" ujar Merelvin mengingatkan Agelia untuk soal hubungan mereka berdua tidak hanya bisa di bahas oleh mereka berdua saja tapi dua belah pihak keluarga juga ikut serta.
"eeem" deheman Agelia mengisyaratkan jika ia bingung dengan masalah serius ini.
ia ragu, jika harus melangkah lebih serius lagi, apa lagi sahabatnya yang begitu tangguh saja bisa rapuh apa lagi Agelia yang pernah gagal menikah. bukan kah itu semakin membuat ia takut.
Bukan ia tak percaya dengan kekasihnya, tapi melihat banyak yang menimpa pada rumah tangga yang Agelia lihat itu juga terjadi pada kedua orang tuanya yang hancur, bahkan siapapun tahu betapa bucinnya ayah dan ibunya semasa mereka saling mencintai tapi apa semuanya berubah dengab ujian yang sudah menimpa hubungan rumah tangga ayah dan ibunya sehingga menjadikan rumah tangga kedua orang tuanya hancur.
Agelia takut mengingat ia juga pernah hampir menikah dengan pria yang ia cintai yang sekarang menjadi kakak tirinya.
Masa lalu yang masih membuat Agelia banyak mempertimbngkan diri.
Permasalahan dikepalanya tidak cukup yakin untuk mengambil sebuah keputusan yang diyakininya akan beresiko bagi dirinya.
"jangan takut, percayalah padaku. aku tidak akan membiarkanmu merasakan sakit karena cinta lagi" ucap Merelvin tahu jika kekasihnya itu pernah gagal menikah tentu itu dari Viena sang adik tercinta.
Setelah berucap panjang x lebar, Merlvin mengajak Agelia turun untuk segera memasuki Mall, tentunya untuk melihat festival yang ia maksudkan sebelumnya.
Ageliapun mengikuti Merelvin tanpa membantah sampai pada acara Festival lagu. disana Merelvin menggenggam tangan Agelia tanpa minta melepaskan tangan Agelia sedetikpun.
Sedangkan Agelia masih memikirkan ucapan Merelvin yang mengajaknya dalam hubungan serius.
"Apa ini? haruskan?" batin Agelia bertanya tanya.
Tanpa terasa acara festival lagu itu usai sudah, Merelvin menikamti acara itu berbeda hal dengan Agelia ia tidak menghiraukan acara itu sampai selesai. karena sekarang kepalanya dipenuhi rasa ketidak yakinan.
keduanyapun meninggalkan Mall dengan perasan masing-masing.
Seperti biasa jika bersamaan seperti ini, Merelvin mengantar Agelia dengan selamat sampai Villa hingga Agelia menutup pintu rapat.
Merelvin, kembali melajukan mobilnya setelah memastikan Agelia masuk keVilla dengan aman.
Sesampainya dikediaman Andrian, kedatangan Merelvin disambut oleh papa Andrian yang sedang melihat siaran di televisi diruang tamu.
"Sudah pulang?" tanya papa Andrian
"sudah pa, tadi habis ajak Agelia jalan-jalan" ujar Merelvin jujur-jujur saja lalu duduk disebelah sang papa
"jalan-jalan?" tanya papa Andrian membulatkan matanya, lalu jika Agelia tidak ada ditempatnya kemana Viena pergi?
"iya pa" sahut mmerelvin singkat dan santai pula
"Cepat tanya Agelia, apa Fana ada ditempat nya" titah papa Andrian dengan raut wajah yang panik.
__ADS_1
"maksud papa, Fana tidak ada dirumah?" tanya balik Merelvin pada sang papa.
"iya, cepat" tintah papa Andrian sekali lagi.
Merelvin cepat meraih ponselnya disaku
panggilan suarapun terhubung kenomor Agelia.
π±"apa ada Fana disana?" tanya Merelvin langsung saat panggilan terhubung.
π±"tidak ada kak, apa Vie tidak ada di rumah?" tanya Agelia balik, Ia merasakan kepanikan Merelvin.
π±" iya. tidak ada" sahut Merelvin
lalu keduanya menutuskan panggilan.
"Bagaimana ini, pa?" tanya Merelvin pada papanya yang hanya ditanggapi sang papa bingung sekaligus sedih.
"Putri papa, dimana kamu nak" ucap Andrian lirih.
Merelvin lanngsung menepuk pundang papanya agar tenang meski ia sendiri saja tidak bisa tenang sebenarnya.
"lalu di mana Vezan, pa? apa dia sudah tahu? tanya Merelvin.
"dia tahunya Fana ditempat Agelia, Fana sendiri yang memberi tahu" ujar papa Andrian semakin membuat Merelvin khawatir.
"Fana, di mana kau" ujar Merelvin dan jarinya mencari kontak Viena.
ia menghubungi nomor Viena, yang tidak ada tanda-tanda diangkat.
iya, bagaimana tidak. Viena dan Garel sudah terelap dalam tidur karena hari mereka dihabiskan untuk menangis.
kini keduanya menikamti tidur mereka dengan posisi di mana tangan garel diatas perut viena yang tadinya mengelus perut viena.
karena tidak mendapat jawaban dari Viena, Merelvin menghubungi Tomy.
Sedangkan Romy puas membuat Casya kesal padanya.
"kurang ajar kau, Tomy! b*jingan" gerutu Casya marah.
Bagaimana tidak marah ia diperlakukan kasar oleh Tomy yang berangnya Tomy menggigit ****** bulatan milik Casya.
"Sudah aku katakan Casya, aku akan bermain kasar dan untuk betapa b*jingannya aku, itu kau tahu sendiri" ujar Tomy santai lalu mengancingkan kembali kemejanya yang tadinya sengaja ia biarkan Casya membuknaya.
"aku akan melaporkanmu kepolisi" ucap Casya
"aku tidak takut, apa kau tahu yang malu sendiri itu kamu bukan aku" ujar Tomy masih diposisi santainya.
Ia sedikit memberi peringatan pada Casya sebelum bertindak.
dreet drett
Mendengar suara ponsel berdering dibalik saku celannaya. Romy langsung merogoh sakunya dan mengangkat panggilan masuk dari Merelvin sang kakak.
π±"ada apa kak?" tanya Tomy.
π±"Fana, Fana tidak ada di rumah Agelia" ucap Merelvin dari seberang sana.
π±"bagaikan bisa,? Fana mengatakan sendiri padaku" ujar tlTomy tidak percaya, selama ini meski sekalipun Viena sangat kacau tapi Viena tidak pernah berbohong sama sekali padanya.
π±" apa kau tahu kira-kira kemana Fana pergi?" tanya Merelvin merasa jika Tomy lebih banyak tahu dari pada dieinya tentang Viena sekarang.
π±" aku belum bisa memastikannya, aku kan pulang segera" ujar Tomy lalu meninggalkan ruangan dan meninggalakan Casya sendiri tentunya.
Keluar dari kamar itu, dua pasang mata menatap Tomy heran. bagiman tidak mereka berpikir jika habis enak-enakan maka setidaknya cerah sedikit tapi berbeda dengan Tomy, ia terlihat sangat khawatir.
Arland dan Benny saling bertukaran pandangan. dan begitpun Tomy tidak menghiraukan tatapan kedua temannya itu.
ia bergegas keluar dari tempat itu, lalu menghampiri motornya.
Dengan kecepatan rata-rata Tomypun akhirnya sampai dikediaman Andrian.
"apa Fana tidak bisa dihubungi?" tanya Tomy langsung saat ia berlalari memasuki rumah itu.
Baik Merelvin maupun papa Andrian menggelengkan kepalanya menanda jika tidak ada kabar apa-apa.
Malam sudah mulai larut, ke3 insan itu masih duduk disoffa dengan pikiran kacau. malam sudah tepat pukul 12 malam tepat.
__ADS_1
"mau kemana?" tanya papa Andrian saat melihat Tomy hendak pergi.
"ketempat suaminya, Fana" ujar Tomy membuat papa Andrian dan Merelvin saling lempar pandang.
Kenapa Tomy malah kepikir kesan, bukankah Tomy sudah tahu sendiri jika Viena tidak akan pergi mendatangi Garel. itu mustahil pikir mereka.
"kenapa kau malah terpikir kesana? itu tidak mungkin" komentar Merelvin.
"aku hanya merasa begitu, Fana mulai berusaha menerima suaminya" ujar Tomy juga terpikir saat ditaman, Viena berubah suasana sebelum mereka kembali kekediaman Andrian.
"baiklah, kita kesana" ujar papa Andrian lebih baik memastikannya langsung.
"baiklah" ucap Tomy ia juga sebenarnya tidak tahu dimana rumah yang akan dituju.
"pakai mobil ku aja" ajak Merelvin meraih kunci mobilnya yang tadinya diletakkan diatas meja dekat soffa.
Andrian dan Tomypun masuk kedalam mobil Merelvin.
Merlelvin mempercepat kelajuan mobilnya agar segera tiba ditempat tujuan, kebetulan sekali jalan sangat sepi tidak seramai jam biasanya karena sudah larut.
Tibanya di kediaman Garel, mereka bertiga langsung menggedor pintu rumah Garel itu dan melupakan jika di sana ada bell rumah.
karena merasa berisik diluar sana bibi ina memaksakan diri untuk bangun dari tidurnya, sedangkan Viena dan Garel sama-sama tidak mendengarkan kegaduhan diluar
karena kebetulan posisi kamar Viena itu berada dilantai dua.
Tapi vieba terbangun dari tidurnya, ia merasa lapar karena ia dan Garel memang melewatkan jam makan malam.
"kenapa?" tanya Garel saat ia merasa tangannya dipindahkan oleh Viena, ia membuka laksa matanya untuk memastikan lergerakan Viena.
"aku lapar" ujar Viena malu-malu, mungkin ini pertama kali ia dan Garel berkomunikasi dengan baik.
"maafkan aku" ucap Garel merasa bersalah karena membuat Viena dan bayi yang dikandung Viena melewatkan waktu makan malam mereka.
"kamu tunggu disini saja, kamu mau makan apa?" tanya Garel lembut.
"apa ada yang bisa aku makan, apapun itu akan aku makan" ujar Viena tidak mau merepotkan Garel.
"ya sudah aku akan lihat apa yang bisa dimakan didapur" ujar Garel kemudian.
Vienapun menganggukan kepalanya dengan patuh, ia merasa terharu ini pertama kalinya baginya mendapat perhatian dari Garel, suaminya.
Garel melihat Viena dengan patuh seperti itu merasa bersyukur, akhirnya perjalanan 8 bulan ini membuahkan hasil di mana Viena mau memberikan kesempatan untuknya.
Tidak ingin membuat Viena semakin lama menahan lapar, Garelpun langsung turun dari kamar menuju dapur tapi sebelum ia sampai didapur ia bertemu dengan bibi ina.
"ada apa bi?" tanya Garel pada bibi ina
"tidak tahu tuan, tadi saya mendengar ada suara yang berisik dari luar" ujar bibi ina.
"ya sudah bibi pastikan dulu" ucap Garel lalu menerus langkahnya kedapur.
cklek
Pintu terbuka yang dibukakan bibi ina, memerlihatkan papa Andrian, kak Merelvin dan Tomy.
"Tuan" sapa bibi ina, bibi ina terkejut kedatangan keluarga Andrian dengan serentak di jam tengah malam seperti ini.
"dimana Fana?" tanya Merelvin.
"nYonya Fa.. "belum sempat bibi ina menyelesaikan kalimatnya Merelvin sudah dulu memasuki rumah itu.
"ada apa bi?" tanya Garel dengan membawa sepiring nasi beserta lauknya dan segelas air putih.
"dimana Fana?" tanya Merelvin
dan dilanjut pertannyaan papa Andrian "di mana putriku?" tanya papa Andrian khawatir seraya mengoncangkan tubuh Garel.
Merelvin dan papa Andrian berpikir jika Garel telah membawa Viena dengan paksa.
Papa Andrian terus menggoncangkan tubuh Garel yang mematung itu agar Garel tidak diam saja.
Dengan goncangan itu, air yang dibawa Garel meloncat dari gelasnya, ia belum sempat menjawab tapi sudah dicerca pertannyaan-pertannyaan dari papa Andrian dan Merelvin.
Sementara Tomy ia diam tidak mau bertanya apa-apa. ia mengamati epresi Garel lebih baik dari sebelumnya.
Tomy sudan dapat memastikan, jika Viena dan Garel sudah saling menerima satu sama lain.
__ADS_1
"apa kalian akan menumpahkan makananku!!!"