Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
60 Ruang Oprasi


__ADS_3

Tepat pada posisi kepala Marlind besi itu terjatuh sehingga Marlind tertimpa tidak sadarkan diri.


Tidak hanya itu saja, besi yang tadinya menimpa kepala Marlind kembali menghantam kaki Marlind.


Seandainnya besi itu jatuh dengan posisi lurus, maka sudah dipastikan kepala dan organ kepala Marlind hancur.


Hanya saja tuhan mungkin masih ingin mencoba seberapa kuat Marlind menjalani hidup di bawah cobaan selama ini.


Maka besi itupun jatuh dengan cara miring, sehingga diilihat dari luar Marlind tidak mendapatkan luka apa-apa.


Tapi tidak tahu apakah di dalam sana ada yang luka fatal.


Tony dan Tomy menghampiri Marlind yang sudah tergeletak di depan mereka, sedangkan papa Andrian tidak mungkin meninggalkan Vola yang sudah pingsan duluan itu.


Segera mereka membawa Ibu Marlind dan Vola ke rumah sakit.


Sementara kuli bangunan yang tidak sengaja menjatuhkan besi tadu sudah panik bukan main, apalagi besi yang jatuh bukan besi yang kecil ataupun ringan.


Mereka mengabaikan betapa panik dan bersalahnya kuli bangunan itu dan Mereka menghubungi pihak rumah sakit segera, untuk mempersiapkam tempat untuk Vla dan terutama ib Marlind tentunya.


Setibanya di rumah sakit, pihak rumah sakitpun menyambut kedatangan mereka dengan baik.


Tidak lupa mereka tidak diperbolehkan masuk ke ruang UGD.


Mereka mendapatkan jika ibu Marlind harus menjalankan oprasi dadakan karena peredaran darah disaraf kepalanya terjadi pembekuan darah beku yang harus segera diselesaikan dengan operasi.


"maafkan kami bu" ucap Tony dan Tomy bersamaan meski kecil keduanya saling mendengar.


Andrian hanya bisa diam, ia menganggap semua ini bermula darinya.


Rasanya tidak mungkin Marlind mengalami kecelakan dramatis seperti ini batin Andrian.


Penuh harapan bagi keluarga yang berkaitan itu, untuk keselamatan Marlind.


Mereka saling diam tidak mengeluarkan kata-kata, pikiran mereka teralihkan pada pikiran masing-masing.


Di Negra C, deddy Marjones dibuat khawatir bukan karena ia tahu mengenai kecelakaan Marlind.


Tapi karena sedari tadi ia menghubungi ponsel milik Marlind tapi masih sama, sama belum ada jawaban.


Pada hal ponsel milik Marlind dibilang aktif, hanya saja tidak ada yang mengangkatnya.


Daddy Marjones khawatir akan Marlind yang sudah seperti putrinya itu.


Tidak biasanya putri angkatnya itu tidak mengangkat panggilan masuk meski sesibuk-sibuk apapun.

__ADS_1


Tak kala ditengah kesibukan, biasanya Marlind akan mengirimkan pesan jika Marlind benar-benar tidak bisa mengangkat panggilan masuk darinya.


Tapi apa sekarang, meski Daddy Marjones sudah menghubungi ponsel milik Marlind berkali-kali, masih tidak ada jawaban.


"Putri daddy, kenapa kau tidak mengangkatnya?" ucap daddy Marjones lirih, sedati tadi ia mengkhawatirkan putri angkatnya itu hingga ia memilih untuk menghubungi Marlind.


Hati Daddy Marjones seperti tak karuan saja memikirkan yang tidak-tidak akan diri Marlind.


Dulu ia selalu mengerahkan bawahannya untuk mengikuti sekaligus menjaga Marlind di negara yang lain darinya itu.


Tapi seiring tahun Marlind meminta unthk tidak melakukan itu lagi, ia menghargai keinginan putri angkatnya.


Sekarang Daddy Marjones bingung harus menghubungi siapa untuk menanyai kabar Marlind.


"apa aku harus ke sana mencari tahu sendiri apa yang membuat Marlind tidak mengangkat panggilan dariku" ujar Daddy Marjones pada dirinya sediri.


"aggk tidak, itu akan menyita 12 jam sampai di Negara kurang ajar itu, apalagi jika Marlind baik-baik saja ia akan mengomelku" ucap Daddy Marjones pada dirinya sendiri.


Daddy Marjones sungguh tidak suka jika mendapatkan omelan dari Marlind, putri angkat kesayanganyan itu.


Baginya omelan Marlind, membuatnya bersalah karena tidak bisa menjaga Marlind dengan baik.


di rumah sakit, Vola sudah sadar dari syoknya tapi oprasi Marlind belum juga selesai. pada hal sudah satujam setengah oprasi Marlind dimulai.


"kak, ibu di mana?" tanya Vola pada Tomy


ia tahu adik angkatnya itu butuh dukungan agar lebih tegar.


"maksud kakak..."


"iya, ibu sedang menjalani oprasi" potong Tomy dan memeluk Vola seperti ia memeluk Viena saudari kembarnya, penuh kasih sayang seperti saudari kandungnya sendiri.


Baginya meski Viena saudari kembarnya tapi Vola akan tetap menjadi adiknya.


"apa ibu baik-baik saja?" tanya Vola lirih


Tomy diam dan terus mendekap Vola agar Vola tenang begitupun dirinya, ia butuh ketenangan untuk menghadapi apa yang terjadi.


Di kediaman Garel, Viena sudah sadarkan diri, ia lihat disekitar kamarnya hanya ada suaminya seorang, yaitu Garel.


Viena mencari keberadaan Tomy, apa yang terjadi sebelumnya benar atau tidak dan apa yang dikatakan asisten pribadi suaminya itu benar? mengenai mamanya.


"sayang, kau sudah bangun" tanya Garel lembut, ia mengelus-elus rambut istrinya dengan kasih sayang.


" Vezan?" tanya Viena menyebut nama saudara kembarnya.

__ADS_1


"Semuanya baik-baik saja" ucap Garel, ia tahu jika istrinya itu sangat mengkhawatirkan Tomy yang seharusnya istrinya itu mengkhawatirkan dirinya sendiri bukan orang lain.


Viena menatap ke dalam netra Garel, lalu Viena merubah posisi tidurnya dengan membelakangi Garel.


Air mata Viena jatuh, saat mengingat mama yang ia cintai dan Viena tidak tahu perasaannya sekarang apakah harus membenarkan ucapan asisten suaminya itu.


Viena juga baru ingat sekarang jika nama belakang Tony dan tomy memilki nama yang sama, sudah dapat Viena tebak jika Tomy tinggal bersama keluarga Tony selama ini.


Maka wajar bagi Tony mengatakan jika mamanya orang yang tidak baik, bagaimanapun Tony lebih tua 4 tahun darinya jadi lebih tahu apa yang terjadi dimasa lalu.


ntuk menebak samapi ke arah sana itu hal yang tidak mustahil bagi Viena, karena realitanya Viena orang yang pintar.


Ia mengis membelakangi Garel dan ia menahan suara tangisannya agar tidak terdengar oleh suaminya itu.


Ia tidak mau dilihat lagi oleh Garel betapa lemahnya dia, sebenarnya Garel menyadari Viena menangis, tapi ia sengaja membiar Viena menangis dulu agar lebih tenang.


Untuk asistennya, ia akan bertanya langsung apa sebenarnya masalah Tony dan Tomy yang membuat istrinya juga berkaitan di dalamnya.


Garel tidak mau lagi bersikap gegabah dan pada akhirnya membaut ia menyesal lagi.


Di rumah ruang oprasi, akhirnya dokter yang melakukan porsi Marlind merasa lega, oprasi yang dadakan akhirnya berjalan dengab lancar meski membutuhkan waktu 2 jam.


Selama oprasi ada kendala yang tak terduga, tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan sebelum oprasi.


Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lega tapi juga sedih akan pasien yang ia tangani.


"Dok apa kabar ibu saya, dok?" tanya Tony menghampiri dokter tersebut begitupun Andrian, Tomy dan Vola.


Mereka juga mendekat ke arah dokter yang menangani ibu Marlind tersebut


" Maafkan saya tuan, tuan muda dan nona, untuk oprasi atas nama ibu Marlind lancar tapi untuk kondisi pasien perlu adanya tindakan lanjut" ucap dokter itu, ia juga merasa bersalah akan pasiennya kali ini.


Seandai data penting kendala dialami ibu Marlind tertulis dengan baik, mungkin oprasi tidak sefatal sekarang meski sebenarnya juga kondisi pasien tidak baik-baik saja di organ dalamnya.


"Maksud dokter,?" tanya Andrian berusaha tenang


"Pasien perlu istirahat yang banyak, mungkin bisa jadi setelah masa kritis pasien. pasien akan mengalami gangguan pada otaknya dan juga ada kelumpuhan dalam saraf kakinya" jelas dokter itu jujur.


jedeeeerrr


Mendengar penjelasan dokter bagaikan petir menyambar mereka bersamaan.


"Dok, dokter tidak bercandakan?" tanya Vola tidak ingin mempercayai dokter tersebut.


"maafkan saya nona, tapi jika pasien sudah sadar pihak kita akan bisa bertindak lebih lanjut" ucap dokter itu lagi.

__ADS_1


Andrian mengusap wajahnya dengan kasar


"Lakukan yang terbaik dok, aku mohon"


__ADS_2