
Garel langung mengecup kening Viena sekali dengan kasih sayang untuk pertama kali lalu beralih ke bibir sekhsi Viena.
Namun sebelum malakukannya Garel menatap bola mata sang istri, seakan meminta izin pada pemiliknya, karena mendapatkan anggukan Garelpun melakukannya dengan cinta.
Cup
Garelpun mengecup pelan bibir itu lalu melu matnya, sama hal dengan Viena membalas lum*tan itu, mengikuti naluri yang ada didirinya, ini kedua kalinya bagi Viena melakukan kontak fisik dengan lawan jenisnya.
Ditengah luma tan, Viena menjatuhkan air matanya ia teringat di mana Garel menyesali telah menyetu buhinya, ternyatan ikhlas dan memaafkan itu akan tetap meninggalkan luka.
"kenapa menangis?" tanya Garel lembut mentap lekat Istrinya.
"apa aku mengakitimu?" tanya Garel takut lum*tannya menyakiti Viena.
"apa kau bisa berjanji? untuk tidak meninggalakanku seperti dulu dan tidak membiarkan ku pergi lagi?" tanya Viena dengan nada manjanya, padahal ia sedang bertanya serius.
Garel faham apa yang dipikirakan istrinya, wajar saja Iastrinya itu bertanya demikian.
"Tidak akan, tidak akan aku biarkan itu terjadi lagi" ucap Garel dengan wajah serisunya kemudian tersenyum manis pada viena setelah melihat wajah Viena meyakinkan untuk percaya pada suaminya itu.
Garel menuntun Viena pelan duduk ke atas ranjang.
"bayi kita, apakah laki-laki atau perempuan?" tanya Garel yang belum mengetahui jenis kel*min bayi yang dikandung Viena, sedari dulu ia sangat ingin tahu tapi ia tidak punya nyali bertanya ditengah tengah masalah mereka.
"aku tidak tahu" ucap Viena, memang ia meminta dokter untuk tidak mengatakan jenis kel*min bayi yang ia kandung.
Mendengar pebuturan Viena, Garel hanya bisa mengangkat sebelah alisnya.
"Bagaimana bisa? apa selama ini tidak pernah periksa rutinan?" tanyaGarel sedih, ia merasa bersalah tidak menemani istrinya dalam keadaan hamil besar seperti ini bahkan tidak lama lagi istrinya akan melahirkan.
"bukan begitu, bayi kita baik-baik saja. hanya saja sebelumnya aku takut..."jelas Viena terpotong
"maafkan aku" ucap Garel seraya menunduk lalu mencium perut Viena, karena kesalahnya bayi yang dikandung istrinya ikut menjadi korban.
"Bagaimana kita pergi sekarang?" tanya Garel ia sangat ingin tahu apakah bayinya perempuan atau laki-laki.
Begitupun Viena sangat penasaran, tapi ia tak cukup berani jika tahu tapi sekarang Viena tidak perlu merasa takut lagi karena ada Garel yang akan menemaninya.
Viena mengaggukkan kepalanya mengisyaratkan jika ia menyetujui keinginan Garel.
Keduanyapun pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan Viena.
Berbeda situasi di villa Merelvin, Agelia kesal dengan kedatangan Merelvin yang datang hanya untuk menggodanya saja.
"sayang, ayolah, duduk disini" bujuk Merelvin dengan nada dibuat-buat menggoda Agelia.
Tentu Agelia kesal dengan prilaku Merelvin seperti itu, untung kekasih kalau tidak sudah ia lempar dengan benda keras.
Agelia kesal dengan yang tidak henti-henti dibaut ia salah tingkah sekaligus malu oleh kakasihnya itu.
"jangan sembarangan" kesal Agelia.
"hanya melakukan yang sederhana saja, sayang" pinta Merelvin tapi masih mendapatkan tanggapan yang sama dari Agelia, Agelia tidak akan mau terperangkap oleh laki laki, apa lagi Agelia ingat pesan calon papa mertua, ya anggap saja sudah calon papa mertua jika ia tidak diperkenankan untuk percaya laki laki termasuk anak dari calon papa meruanya.
"jangan sembarangan, kalau kak merel macam-macam akan aku adukan pada om Andrian" ancam Agelia.
Sebenarnya Merelvin tidak takut dengan ancaman Agelia, malah Merelvin memikirkan perasan Agelia yang mungkin masih ingin menikamti masa muda, ia juga hanya sekedar menggoda kekasihnya tidak ingin lebih, setidaknya sekarang belum meminta lebih.
Pada hal ancaman Agelia sesungguhnya menguntungkan bagi Merelvin, karena Merelvin tahu dengan ancaman itu akan membuat Agelia segera menjadi istrinya.
Ia tahu betul mengenai sang papa yang tidak akan membuat orang lain rugi atas perilaku bejat keluarganya.
Tapi Merelvin tidak mau menekan Agelia untuk terburu-buru meski sebenarnya Merelvin sudah tidak sabar lagi menunggu di mana ia dan Agelia akan menjadi sepasang suami istri.
__ADS_1
"Oke-oke, tapi kita pergi ya sore ini?" pinta Merelvin.
"Bagaiman dengan, Vie?" tanya Agelia balik.
Ia tahu selama 3 bulan hubungan mereka berdua, tidak seperti sepasang kekasih lainnya yang sering bertemu dan berpergian dengan kekasihnya.
itu semua hanya demi Viena, Viena memang sering mengajak Tomy, tapi ia juga sering melakukan secara tiba-tiba menggunakan waktu Merelvin dan papa Andrian untuk meneuhi keinginan sahabatnya itu.
Sehingga 3 bulan ini membuat Merelvin sedikit meluangkan waktu untuk Agelia.
Maka sekarang Agelia tetap memikirkan Viena, ia tidak ingin egois bagaimanapun Viena membutuhkan dujungan keluarga sekitar sehingga Agelia tidak pernah keberatan.
Sedari dulu ia memang selalau memproritaskan Viena ketimbang dirinya sendiri.
"Sebentar saja, sayang. emmmh?" bujuk Merelvin memelas, sigoda tidak mempan di ajak keluar berdua juga tidak mau.
"Janji bentar?" tanya Agelia meyakinkan Merelvin.
"lihat kondisi, yaaa" rayu Merelvin membuat Agelia berdecak kesal dengan ucapan Merelvin yang baru saja minta sebentar lalu berubah lagi.
Dasar laki laki
Kembali lagi Di rumah sakit, Garel dan Viena merasa malu karena ini pertama kalinya mereka berdua seperti suami istri untuk mendatangi dokter kandungan, yaitu dokter Nanda.
Dokter Nanda menatap kagum kearah Garel dan Viena,
kedatangan sepasang calon orang tua itu, sudah lama dinantikan dokter Nanda. akhirnya diusia 8 bulan kehamilan Viena, keduanya bisa datang secara bersama.
"Nyonya, tuan muda..." sapa dokter Nanda hormat lalu mempersilahkan Garel dan Viena untuk mengikutinya.
Garel dan Vienapun mengikuti langkah dokter Nanda kearah ruang periksa.
iya sebelum tiba ke rumah sakit mereka sudah mengatakan jika mereka akan memeriksa kandungan sekakigus jenis kel*min bayi.
Dokter Nanda memaklumi, karena pertama kali maka akan terlihat seperti orang bodoh.
keadaan bayi yang sangat sehat dan aktif di dalam sana, tak lupa sekarang dokter Nanda juga menceritakan jika calon buah hati mereka berjenis kel*min laki-laki.
Mendengar penuturan dokter Nanda, membuat Viena bersyukur jika buah hatinya laki-laki.
Selama ini Viena takuti perempuan dan akan bernasip sepertinya, ia takut itu jujur saja Viena trauma.
Rasa takut yang menjadi trauma itulah membuat Viena tidak ingin mengetahui jenis buah hati.
Malampun tiba, di mana Tomy dibuat khawatir saja dengan kondisi Viena yang sedang hamil besar, semenjak Viena pergi saudari kembarnya itu tidak ada mengabari kemana ia pergi dan sampai sekarang juga belum kembali.
Tomy takut terjadi apa apa pada Viena apa lagi ia sedang hamil.
"Tomy, dimana Fana?" tanya papa Andaian sedari tadi tidak melihat keberadaan Viena.
"Fana pergi pa" sahut Tomy sendu
"sama kakakmu?" tanya Andrian lagi mengira jika Viena pergi bersama Merelvin, kebetulan anak pertamanya itu tidak ada di rumah.
"kak Merel pergi sendiri" sahut Tomy
"maksudmu, Fana pergi sendiri?" tanya Andrian dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya karena panik bukan maksud menyalahkan Tomy.
"apa dia berangkat dengan kondisi kacau?" lanjut Andrian dengan pertanyaan, ia tidak ingin terlalu panik nanti semua akan ikut panik ulahnya.
"tidak juga" jawab Tomy sedikit ragu,.Karena selama 3 bulan ini nyatanya Viena sudah amat kacau di mata Tomy.
"syukurlah" ucap Andrian lega.
__ADS_1
Tling
Suara pesan masuk ke ponsel milik Tomy
segera Tomy meraih ponsel miliknya itu di atas meja.
📥" Aku tidak pulang, aku akan menginap ditempat Agelia" pesan Masuk dari Viena berbohong, rasanya canggung bagii Vena mengatakan ia tinggal di rumah ia dan suaminya, Garel.
Apa lagi mengingat di taman tadi, Tomy melihat jika Garel dan Viena tidak baik-baik saja.
Rasanya Viena malu saja pada saudara kembarnya.
📤"oke, baik-baik di sana" balas Tomy lega jika saudari kembarnya bersama Agelia, sudah dipastikan jika bersama Agelia, Viena akan aman.
Agelia akan selalu mengawas dan memperhatikan kemanan Viena.
Di kamar yang dulu ditepati Viena, Garel mengelus-elus perut buncit Viena dengan senyum mereka-reka. ia begitu bahagia ternyata tidak lama lagi statusnya akan berubah menjadi ayah.
Begitu pun Viena sangat bahagia, ia tidak perlu lagi melihat foto Garel tersenyum sekarang ia dapat melihat senyum Garel secara langsung, melihat secara langsung itu lebih indah dan memuaskan.
Berbeda keadaan di kediaman Andrian. Andrian sangat ingin sekali menyai di mana Marlind berada, anak buah Qndrian tidak bisa menemukan keberadaan Marlind sama sekali.
Tapi tomy setelah mengatakan jika viena akan menginap ditempat Agelia ia meninggalkan papanya yang berusaha untuk memberanikan diri itu.
"pa. aku pergi dulu" ucap Tomy lalu meninggalkan Andrian yang baru saja hendak bertanya.
Tapi Tomy telah berkali-kali mendapat pesan masuk dari Casya. akhirnya pergi dengan terburu-buru.
Tomy meninggalkan kediaman Andrian dengan menggunakan motor baru yang diberikan Merelvin.
Dengan kecepatan diatas rata rata Tomy menuju tempat yang sudah lama tidak ia datangi.
Ini malam senin, Arland dan Benny pasti ada di sana.
"hai kawan, akhirnya kau datang" sapa Aland dan benny bersamaan.
"sorry, aku sedikit ada masalah" ucap Tomy
"duduklah" pinta Arland
"di mana Casya?" tanya Tomy dengan wajah panik
"aku disini Tomy sayang. akhirnya kau datang setalah kau mengingkar janji mu itu" ujar Casya sedikit mengejek Tomy.
"apa dengan kehadiran adik manismu, Vola. menjadi kelemahanmu" ucap Casya dengan senyum licik sedangkan Tomy menahan geram.
Ia salah langkah saat meminjamkan motor dan tidak menpati janji untuk mengantar sendiri motor itu di malam senin setelah itu.
Bukan Tomy tidak ingin menjumpai Casya yang telah meminjamkan motor padanya hanya saja hari itu bertepatan dengan Viena pingsan 3 bulan lalu.
Tapi rasa ancaman Casya mengunakan Vola bukan main main, membuat Tomy hadir dan kebetulan Vien tidak ada di rumah sehingga ia bisa hadir.
Casya memang sudah lama menggilai Tomy dengan kesempatan ini ia memiliki sesutu yang bisa ia gunakan pada Tomy, Tomy salah memilih dalam berusurusan kali ini karena Casya bukanlah wanita yang mudah, sesuatu bagi Casya harus ada imbalan.
"jangan banyak bicara kau Casya, langsung pada intinya?" Cetus Tomy.
"tentu, mari ikuti ku" ajak Casya lalu melangkah terlebih dahulu ke sebuah ruang yang biasanya tempat ia menerima segala bela ian.
Tomy sunggu geram dengan segala ini, sudah Tomy katakan pada Casya dari dulu jika ia tidak akan pernah lagi menyentuh yang bukan miliknya sekalipun laj*ng seperti Casya, yang memang tidak akan menuntut pertanggung jawaban darinya.
Saat langkah Tomy memasuki ruang itu, dengan cepat Casya menarik tangan Tomy dan mengunci pintu.
"Casya, apa perlu aku ulangi, jika aku tidak tertarik?" tukas Tomy medominasi
__ADS_1