
Andrian mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berucap
"Lakukan yang terbaik dok, aku mohon" pinta Andrian penuh permohonan.
"akan kami usahakan, tuan" sahut dokter itu
...******...
3 hari sudah Marlind dirumah sakit, dan iapun sudah melewati masa kritis dan komanya.
Namun seperti yang diprediksi dokter sebelumnya jika Marlind akan mengalami gangguan pada otak dan juga ada kelumpuhan dalam saraf otot kakinya, hal itu perlunya pengobatan Ekstra.
Dokter juga menyarankan untuk membawa Marlind ke Negara lain untuk melanjutkan pengobatan setelah perawatan seminggu full di rumah sakit tersebut.
Sementara kehidupan Viena dan Garel, sejak hari itu Garel benar-benar tidak membiarkan Viena bersedih ataupun kelelahan.
Hal sekecilpun Garel lakukan untuk istrinya itu.
Untuk masalah perusahaan keluarga Az-Zardan, terpksa papa Bram yang turun tangan atas permintaan putra semata wayangnya, kerena Garel tidak biaa mwnyerahkan tugas perusahaan pada Tony yang ia dapatkan kabar dari asistennyan itu sedang terkena musibah pada ibunya.
Mama Falisya, ia senantiasa mengunjungi Papa Bram ke perusahaan atas permintaan suaminya, jika lau tidak suaminya akan mengabaikan perusahan itu, setelah itu barulah ia berkunjung kemenantu tersayangnya, Viena. jika Ada waktu luang setelah dari perusahaan.
Meski Garel sudah baik-baik saja dengan kembalinya Viena tapi Garel ingin memanja Viena walau Viena sendiri kerap kali meinta Garel tidak terlalu memanjakannya.
Viena memang lebih suka mandiri tapi melihat Garel menyayanginya dengan tulus juga membuat Viena bahagia.
Untuk memperbaiki hubungan keduanya yang sempat retak, Mama Falisya dan Papa Bram mendukung penuh atas cuti Garel dari perusahaan.
Untuk Tony, Garel biarkan Tony lebih fokus ke ibu Marlind terlebih dahulu, setelah itu ia akan menanyakan lagi apa yang dimaksud aaisten pribadinya itu.
Berbeda halnya dengan Merelvin yang tidak tahu mengenai kecelakaan yang menimpa ibu Marlind, ia kerap kali meminta Tomy kembali keperusahaan untuk membantunya.
Ia sudah bosan dari usia yang masih remaja sampai diusianya yang sudah menginjak 31 tahun ini, ia lebih banyak menghabiskan waktu di perusahaan dan ia sedikit sekali menghabiskan waktu dengan kekasihnya.
Papa Andrian memang sengaja meminta Tomy tidak memberitahu Merelvin dulu tentang apa yang terjadi pada ibu Marlind, kalau tidak tentang Emearlin, ibu kandung dari anak-anaknya akan diketahui Merelvin.
Bagi Andrian waktunya tidak pas untuk memberitahu Merelvin sekarang.
Vola, Tony, Tomy dan Andrian selalu ada untuk Marlind di rumah sakit.
Meski Marlind tidak berkomunikasi sama sekali dengan mereka, tapi mereka setia menjaga Marlind.
Selama Marlind di rumah sakit, Vola juga tidak kuliah, ia juga tidak mengabari temannya Maren untuk perihal itu.
Maren tampak khawatir sudah 3 hari ini Vola tidak masuk kuliah, bahkan Vola melewati kelas favotirnya yaitu paraktek.
Itu membuat Maren merasa Ada yang aneh dengan ketidak datangnya Vola ke kampus.
__ADS_1
Namun pagi ini, Maren terus menghubungi ponsel Vola, yang selalu sama. sama tidak Ada kabar sama sekali.
Bahkan nomor Vola tidak aktif lagi.
Maren harap temanya itu baik-baik saja. karena Maren hidup di bawah majikan ibunya, ia berusaha menyampingkan pikirannya tentang Vola.
Ia harus membatu urusan ke kediaman Andrian itu sebelum berangkat kuliah.
iya, semenjak kecelakaan itu Vola mengabaikan ponselnya Dan fokus dirumah sakit sehingga dia tidak mengecek ponselnya bahkan Vola tidak tahu ponselnya itu sudah tidak Ada batreynya lagi.
"Vola, kamu harus kuliah, untuk ibu biar kita yang jaga" ucap Tomy membujuk, ia hafal betul jika sang adik memiliki kelas dan sudah 3 hari ini Vola tidak masuk kuliah.
Vola diam menatap kearah ibunya, lalu beranjak dari duduknya.
Vola meninggalkan ruang rawat snag ibu tanpa menggubris ucapan Tomy, tapi tindakan Vola mengindahkan ucapan Tomy.
Ia melangkah keluar ruang tempat ibunya dirawat.
Tomy berpamitan pada Tony Dan Papa Andrian lalu menyusul Vola.
"Biar kakak yang antar" pinta Tomy
"iya" sahut Vola pasrah.
Tomypun mengantar Vola sampai rumah tempat ia dan ibu Marlind tinggal.
Sampainya di rumah, Vola meminta Tomy tidak menunggunya karena ia akan berangkat sendiri ke kampus
"yakin?" tanya Tomy mengerutkan dahinya
"yakin" sahut Vola lalu memaksa tersenyum.
Tomy merasa Vola ingin sendiri, Tomy memilih meninggalakn Vola lalu pulang ke kediaman Andrian.
Di dapur keluarga Andrian.
"awww" pekik Maren yang terjatuh dan menumpahkan air minum kecelana Tomy.
lagi-lagi keduanya bertabrakan, tapi kali ini Maren dikacaukan oleh pikirannya sehingga ia ngoceh dan memarahi Tomy.
Ia lupa jika sekarang dia bukan bersama Vola di kantin kampus atau semacamnya tapi di kediaman Andrian.
"apa matamu tidak digunakan dengan baik" ucap Maren kesal, ia tidak mengatakan maaf pada Tomy yang sudah membasahi celana Tomy itu.
"kau membuat ku telat" lanjut Maren spontan dan masih dengan nada kesalnya dan Tomy masih diam menatap Maren heran.
Bukankah seharusnya yang marah dia bukan Maren? dan Tomy mengangkat alisnya tidak percaya jika Maren anak dari bibi di kediaman Andrian cukup berani juga batin Tomy.
__ADS_1
"telat?" batin Maren baru ingat jika dirinya masih berada di kediaman majikan sang ibu.
Maren mendongak ke atas, matanya langsung bertemu dengan mata Tomy yang menatap Maren heran.
"kenapa dia menatapku seperti itu?" gumam Maren kecil namum masih dapat didengarkan Tomy.
"bukankah seharusnya aku yang bertanya?" tanya Tomy
"aah, maaf tuan muda" ucap Maren pada akhirnya
"bukan begitu maksud saya tuan, saya... saya" lanjut Maren beralasan. tapi Maren tidak bisa mengucapkan alasannya itu.
"Vola, mikirin kamu yang enggak masuk kuliah buat aku enggak fokus begini" batin Maren menggerutu dalam hati
"saya?" ucap Tomy memincingkan matanya, mengisyaratkan Maren untuk meneruskan ucapannya tadi.
"maaf tuan, saya harus pergi" ucap Maren berlari kencang meninggalkan Tomy di dapur dengan membawakan segelas air putih yang setengahnya sudah habis akibat tumpah barusan.
Maren melupakan jika ia tadi sebenarnya hendak sarapan.
Tomy belum sempat mengatakan tunggu, tapi Maren sudah lebih dulu menghilang.
Melihat ada sepiring nasi yang sudah dihidangkan membuat Tomy berpikir jika itu milik Maren.
"sudahlah". Ucap Tomy pada dirinya sendiri lalu Maren membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
Tomy duduk disoffa memikirkan bagaimana agar ibu Marlindnya cepat sembuh dan bisa kembali seperti biasanya.
Namun di tengah pikiran Tomy, Tomy terpikir jika Maren belum sarapan.
Ada rasa cemas dalam diri Tomy jika mengingat Maren belum sarapan.
Tomy meninggalakn rumah itu lalu masuk menaiki motornya keluar dari pagar kediaman Andrian
sedangkan Maren menjadi geram sendiri kenapa ia selalu berulah pada tuan muda, Maren takut tindakannya akan membuat masalah pada ibunya.
Tapi disisi lain, Maren jadi kesal saja pada Tomy, kenapa ada tuan muda yang aneh di tempat ibunya bekerja.
Rasa kesalnya Maren meneguk air yang tersisa digelas yang Maren pegang.
karena ia merasa tidak mungkin sarapan dikediaman Andrian lagi untuk pagi ini, Maren berisiap berangkat ke kampus lebih awal karena ia tidak terbiasa jika tidak sarapan.
Maka Maren berencana singgah di warung.
Sudah siap dengan urusan diri dan perlengkapan kuliah.
Maren membuka pintu kamarnya pelan, ia lirik kiri kanan, apakah Tomy sang tuan muda terlihat atau tidak.
__ADS_1
Saat memastikan Tomy tidak terlihat, Maren keluar dari kamarnya dan dengan tenangnya Maren melangkah keluar rumah itu.
di depan kediaman Andrian, Maren hendak mengetik aplikasi untuk menghubungi taxsi online.