Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
06 Sorotan Tajam Mata Viena


__ADS_3

Lalu meninggalkan Garel seorang diri di rumah luas itu.


"aaaarghk" teriak Garel kesal setelah kepergian Viena.


Garel yang selalu hidup dalam kemewahan, adapun yang ia inginkan selalu ia dapatkan. Tapi pagi setelah aksi di dalam kamar Viena, viena malah mengabaikan Garel.


Padahal yang dilakukan Viena hanya sesuatu yang sederhana tapi sudah membuat kemarahan Garel memuncak.


"aku harus cepat nikahkan, Anasya. Aku akan buat cewek planet itu tersiksa dengan kemesraanku dengan Anasya" gerutu Garel yang tak lain Anasya yang dimaksud adalah kekasihnya sendiri.


Sedangkan Viena sudah tiba di tempat ia akan bertemu dengan Agelia.


"hay vi" Sapa Agelia ramah


"hay Li," Vienapun menyambut sapa Agelia dan tidak lupa membalas senyuman Agelia dengan senyuman miliknya.


"Vi, tumben telat? Biasanya aku yang ditungguin" ujar Agelia yang tidak biasanya hari ini ia yang malah lebih awal tiba ketimbang Viena.


"sorry " sahut Viena singkat, barulah ia ingin melupakan sesaat apa yang terjadi tapi mendapat pertanyaan dari Agelia, viena jadi teringat andai tadi Garel tidak menggempurnya mana mungkin ia terlambat malah Viena ingin membeli kebutuhan dapur untuk dimasaknya sebelum berjumpa Agelia, tapi untuk ke pasar, Viena sudah tidak memiliki selera lagi.


"ah aku lupa, kalau sahabatku ini udah menjadi istri orang" sambung Agelia antusias


"hemm" Biena membalas ucapan Agelia dengan deheman memang pada kenayataan nya hari ini Viena telat karena sudah menyandung status istri orang.


"udah makan Vi? Atau sudah makan sama suami, nih? " goda Agelia yang belum tahu kebenaran dari kehidupan rumah tangga Viena yang baru dalam hitung hari itu.


Namun respons Viena membaut Agelia menjadi menciut serta bergidik ngeri yang mana mata yang selalu terpancarkan kasih sayang sahabat pada sahabat untuk agelia tenggelam entah kenapa.


Pertama kali, ini pertama kali Agelia melihat tatapan tajam dari diri Viena Andriana Saffana.


Bahkan kepada orang lain Viena tidak pernah menatap seseorang dengan tajam seperti yang Agelia lihat sekarang tapi ini pertama kali Agelia lihat dan itu tertuju padanya.


"cukup Li, ucap Viena dengan nada datar" jangan sebut pria itu lagi" sambung Viena masih dengan sorot mata mendominasi.


"i...iy iya, vi. maaf aku enggak tahu apa-apa" sahut Agelia terbata bata yang mana Agelia memang tidak tahu apa-apa tentang cerita kehidupan baru Viena yang seharusnya Agelia dapatkan hari ini.


Niat hati Agelia ingin mendengarkan cerita kehidupan baru yang sahabatnya agar dapat menghilangkan rasa kekecewaannya kepada Viena tapi sekarang malah sebaliknya Viena yang marah pada Agelia.


Mendapatkan tatapan yang mendominasi itu membuat Agelia menciut dan ia mengurungkan niatnya yang biasa KEPOaKUT


"sorry" ucap Viena singkat memecahkan keheningan setelah permintaan maaf Agelia yang seharusnya Vienalah yang seharusnya meminta maaf pas Agelia.


"iya enggak apa, Vi" Ucap Agelia mengerti dari kata sorry yang di ungkapkan sahabatnya ada rasa bersalah.

__ADS_1


Maka Agelia juga harus mengerti jika sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


"kamu mau pesan enggak? aku belum makan" Sambung Agelia bertanya dan ia memang belum makan apapun sebelum bertemu Viena.


"samain aja Li, aku juga belum makam" ujar Viena berusaha menalisir perasaannya agar tidak terbawa suasana kesalnya.


"tunggu dulu ya, aku pesan sekarang" pinta Agelia yang hanya dianggukan Viena.


Tidak lama dari itu Agelia kembali ketempat Viena menunggu.


"Vi? Kamu inget eggak sama gosip, pak Deff?" tanya Agelia untuk mengalihkan pembicaraan, sedikit aneh jika seperti tadi terjadi pada mereka berdua yang banyak orang bilang Agelia dengan Viena sudah ditakdirkan jadi jangan salah jika keduanya sulit untuk tidak akur apalagi berpisah.


Orang orang bilang nama merka saja sudah terikat Andriana & Andrin.


"kenapa?" tanya viena memang tidak begitu menahu jika bukan sahabatnya itu yang kepo akut maksimal maka Viena tidak akan pernah tahu selain urusan kerja yang Viena tahu saat berada di kantor.


"cewek yang ditaksir pak Deff itu kamu, Vi" ujar Agelia antusias.


Entah kenapa Agelia merasa bahagia aja sosok Deffan yang selama ini Agelia dambakan malah menyukai sahabatnya sendiri.


Bagi Agelia apapun untuk Viena ia lakukan meski orang yang ia cintai sekaligus apalagi sahabatnya lebih sering bertemu dengan sosok Deff yang tak lain Deffan Oskar pemilik perusahaan Oskar tempat Agelia dan Viena bekerja.


Jabatan Viena sekretaris Deffan Oskar maka wajar saja Deff tertarik pada Viena yang setiap harinya selalu bertemu langsung setiap harinya selain hari weekend dan tidak itu saja Viena sangat cantik dan penyayang, maka sudah wajar Deffan menyukai Viena.


"Iya Viena Andriana Saffana" jawab Agelia


'"udah-udah, tu pesanan kita udah datang" kilah Viena untuk tidak membahas Pemimpin perusahaan tempatnya bekerja itu apalagi Viena juga tahu betul jika Agelia mendambakkan Deffan Oskar.


Untung saja ada pelayan yang hendak mengantarkan pesanan mereka maka dengan cepat Viena mengalih pembicaraan yang menurutnya juga tidak penting.


"iya aku udah leper banget " ujar Agelia kemudian dengan mata berbinar tak tahan lagi untuk melap makanan favoritnya itu.


Kedua sahabat itu memang sering berkunjung ketempat itu sampai pelayan di sana sudah hafal dengan wajah Agelia dan Viena.


Tidak itu saja salah satu pelayan di sana samapi mencari tentang pribadi Viena dan Agelia seperti asal dari keluarga mana dan sifat keduanya.


Awalnya pelayan di sana sangat terkejut saat mengetahui anak orang kaya seperti Viena dan Agelia mau bersinggah ditempat makan mereka apa lagi dengan status Viena dikeluarganya adalah putri tuggal orang kaya raya, yang tak lain adalah salah satu keluarga terpandang dikota.


Tapi pribadi Agelia dan Viena tidak menonjolkan mereka anak orang kaya raya meski keduanya juga terlihat seperti orang yang kaya pada umumnya.


Pelayan disana sangat kagum dengan Viena dan Agelia yang selalu akrab tahun lamanya. Padahal siapapun yang tidak tahu dengan keduanya pasti akan mengatakan kalau keduanya sangat tidak cocok untuk bergaul.


Tapi orang tidak tahu dibalik dua kepribadian yang berbeda jauh, mereka bisa saling menjaga satu sama lain dan dibalik tempat yang menjadi favorit itu Viena dan Agelia bisa menjadi teman dekat.

__ADS_1


Apalagi tempat makan yang terlihat sederhana ini memiliki menu lengkap dan lezat untuk semua kalangan khususnya bagi orang yang berkunjung ketempat makan itu.


Yang mana tempat itu tidak memperlihatkan orang yang berkunjung kesana berstatus tinggi atau rendah.


Tak hanya itu saja pemandangan yang ada ditempat itu sangat enak dipandang seperti nama tempatnya Dapur Pesona.


bisa dibilang tempat makan sekaligus tempat tongkrongan yang membuat orang akan terpesona.


itulah yang menjadi alasan Viena dan Agelia tempat ternyaman untuk mereka berdua.


"Li... Nanti temenin aku ketoko bunga, ya?" pinta Viena kepada sahabatnya setelah selesai menghabiskan makannya.


"boleh, apa ada koleksi baru lagi?" tanya Agelia yang biasanya pemilik toko bunga yang dikunjungi Viena itu akan mengirimkan pesan pada Viena jika ada koleksi bunga yang baru, baik bunga nyata atau pun hanya bunga hiasan.


Viena merupakan langganan setia ditoko bunga besar yang ada dikota mereka.


"enggak Li, kamar barunya kosong" jelas Viena.


"oke,.. mau berangkat sekarang atau nanti?" tanya Agelia melupakan niat awal ia bertemu hari ini dengan sahabatnya itu untuk menanyakan perihal pernikahan dadakan yang dimaksud Viena.


Tapi jauh dalam hati Agelia mengurungkan niatnya itu sampai Viena sendiri yang akan menceritakannya sendiri, entah itu kapan terjadi.


Karena memang Viena memiliki kepribadian santai, mandiri tidak mau ambil pusing.... Yang pastinya Viena tidak banyak mengeluarkan kosa kata dalam setiap kata-katanya, apalagi pada pembahasan yang enggak penting sama sekali bagi Viena.


Maka apapun Agelia tunggu sehingga Viena sendiri yang akan menceritakan sesuatu yang ia alami pada orang yang dipercayai meski itu mungkin membutuhkan waktu yang lama.


Tapi Agelia sangat menyayangi Viena maka apapun pilihan Viena, Agelia akan mendukung. jika ada sesuatu yang mengganjal pada temannya maka Agelia yang akan mencari tahu sendiri.


semua yang Agelia lakukan untuk Viena murni karena ketulusannya apalagi Agelia hanya memiliki 1 orang didunia ini yang benar benar peduli padanya yaitu Viena seorang bahkan ayah kandungnya sendiri hanya peduli dengan ibu tirinya saja, tanpa memperdulikan Agelia.


"heeem" jawab Viena hanya dengan deheman.


"aku bayar makanan kita dulu ya, Vi" ucap Agelia seperti biasanya yang sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya saling straktir satu sama lain.


"biar aku aja" pinta Viena pada sahabatnya itu karena Viena masih merasa bersalah ia menatap tajam sahabatnya sendiri yang mana itu murni salah Viena belum menceritakan kehidupan barunya.


"baiklah" sahut Agelia mengiyakan Viena.


Melihat ada yang aneh dengan Viena, Agelia sontak berpikir banyak apa yang sebenarnya terjadi menimpa sahabatnya itu.


"apa yang terjadi pada mu, Vi?" gumam Agelia dalam hati "apakah begitu sulit untukmu menceritakannya?", "apa kamu tidak mau aku ikut terluka? ", "apa aku harus mencari sendiri apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?, aku rasa pasti ada kaitannya dengan si cucuk kakek itu" pertanyan itu mengisi kepala Agelia sembari memperhatikan punggung sahabatnya berjalan kearah kasir dan tak lupa Agelia membawa bawa Garel dalam pikirannnya karena sudah jelas saat Agelia menyebut kata kata suami, Viena menjadi sangat marah.


"Tunggu saja cucu kurang ajar"

__ADS_1


__ADS_2