
"Tuhan apakah ini hukuman untuk ku yang telah menyakiti Marlind selama ini" ucap Andrian dalam hati.
Andrian kini sadar jika yang dirasakan Marlind sesakit yang dirasakan oleh Viena, mungkin itu lebih menyakitkan.
Tanpa dijelaskan Andrian sudah tahu apa yang terjadi pada putrinya itu, tanpa menunggu penjelasan apa yang menengrnai putrinya.
Andrian menatap sedih kearah Viena, tapi Viena tidak bergeming sama sekali dengan tatapan sedih yang diberikan padanya itu, ia kalut dalam pikiranya dan kesedihannya sendiri.
Viena tidak peduli apa yang orang ucapkan tentangnya itu, yang Viena rasakan tak jauh dari 15 tahun lalu dimana ia merasa kehilangan dan sampai sekarang yang ia ketahui jika ibunya meninggal dunia.
Apakah sepahit itu yang dirasakan Viena, tiada akhirnya. dan apakah Gebriel kecil akan ada diusia dewasa Viena datang Gebriel versi dewasa untuk menyembuh lukanya.
Mungkin itu sangat sulit, karena nyatanya sekarang yang membuat Viena terluka adalah Gebriel versi dewasa alias Garel lah orangnya.
Pagi hari sekitaran jam 6 pagi, Viena menarik alat rumah sakit yang menempel ditangan kirinya, disaat mata orang tidak bisa terkendali karena kelelahan menunggu Viena dari siang kemaren hingga ke pagi hari.
Viena melangkah keluar, menuju lorong-lorong hendak meninggalkan rumah sakit, untung saja dari semua orang yang terlelap ada Tomy yang tidak terlelap.
ia berusaha untuk membuka matanya saat dilihat semua orang tidak adalagi yang sanggup membuka mata.
"Fana? kenapa kau ada disini?" tanya Tomy terkejut tapi Tomy berusaha lembut pada Viena, ia melihat Viena tidak seperti biasa yang ia kenal.
Viena tidak menggubris pertanyaan Tomy sama sekali bahkan Viena terus saja melanjutkan langkah kakinya.
"tunggu" ucap Tomy lembut lalu menggenggam pergelangan tangan Viena.
Viena mengibas tangan Tomy masih enggan merespon.
"apapun yang terjadi, kau harus memikirkan bayimu saudariku, kau harus ingat dia membutuhkanmu sebagai ibu yang kuat" Tomy membujuk lalu memeluk viena dengan paksa.
Viena memberontak ingin melepas pelukan Tomy
.
"aku mohon demi anakmu Fana, kembalilah keruangan" ucap tomy lirih, ia tifak tega melihat Viena seperti ini.
Sesaat Viena terdiam setah mencerna ucapan Tomy,
ia menatap kedalam mata Tomy dengan tatapan lurus.
"Aku baik" ucap Viena singkat seakan menggambar dirinya baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkannya.
Tomy bingung harus bagaimana membuat Viena mendengarkan ucapannya seperti biasanya, apalagi Merelvin memang belum menceritakan apapun pada Tomy mengenai Viena 15 tahun lalu yang tidak jauh beda dengan apa yang dialami Viena sekarang.
Mungkin defresi, frustasi berlebihan membuat Viena bersikap datar.
__ADS_1
Di dalam ruang pasien, Marelvin panik saat melihat tidak melihat Viena dengan kondisi infus yang telah dilepas, dengan kepanikan Merelvin sehingga membangun semua yang ada di ruang.
"Fana, di mana Fana?" pekik Merelvin panik, saat melihat Viena tidak ada.
Merelvin berlari keluar dan orang-orang mengikut menyusul Merelvin.
"Fana. " sapa Merelvin lega, setidaknya ada atomy di sana bersama Viena.
Merelvin mendekat kearah Viena dan Tomy lalu berucap.
"mau pulang bersama siapa?" tanya Merelvin lembut, semua orang melihat reaksi dua saudara itu bicara
Viena menggeleng menandakan tidak, tapi Merelvin berusaha untuk menanyakan kembali apa yang diingibkan sang adik.
kali ini Merelvin harus semakin memnyetok stok sabar yang lebih banyak lagi untuk ujian ini.
"Fana mau apa?" tanya Merelvin lembut, yang lainhanya memperhatikan dengan tatapan penuh tanya.
kenapa pertanyaan itu berkesan ditanyakan pada anak kecil? itulah pikir orang. tapi Merelvin dan papa Andrian tahu.
Maka dari itu Andrian membiarkan Merelvin saja untuk menangani Viena sang putri.
jika tidak maka Viena akan melakukan hal yang diluar dugaan entah itu apa.
"jalan-jalan" ucap viena menatap Merelvin memohon.
"sama kak?" tanya Metelvin mendapatkan anggukan dari viena.
Viena sungguh seperti anak kecil yang membutuhkan kasih sayang penuh dari keluarga.
layak bayi bersikap kekanak-kanakan tapi wajahnya datar tidak berefresi sama sekali.
Merelvin langsung menuruti keinginan Viena yaitu berjalan-jalan, sebelum itu ia menghampiri Agelia.
"sayang, apa kau tidak keberatan jika aku suruh Vezan yang antar kamu?" tanya Merelvin berbisik pada Agelia.
Agelia pun tersenyum sebelum berucap "Agelia bisa pulang naik taxsi kak" Agelia mengerti jika ia tidak bisa menuntut Merelvin bersamanya dan Agelia tentu menolak diantar Tomy yang ia tebak tidak bisa menggunakan mobil.
"yakin?" tanya Merelvin lembut
"iya kak, agelia baik-biak saja. sana kakak bawa Fana jalan-jalan" pinta Agelia melihat Viena sudah mulai gelisah menunggu, ia tidak tega melihat Viena seperti itu.
Merelvinpun menurut dan membawa Viena berjalan-jalan, untuk Tomy biarkan sang papa saja yang akan menjelaskannya.
Selama berjalan-jalan Viena meminta berpergian kepantai.
__ADS_1
Di pantai Viena diam menatap ombak air laut ditemani Merelvin disebelahnya.
Viena terus menatap ombak itu hingga 15 menit lamanya tanpa berkedip sedikitpun, itu membuat Merelvin khawatir dengan kondisi Viena yang sedang hamil tentunya akan bahaya bagi Viena terlalu lama terkena angin pantai.
"Fana, perutnya harus diisi, kita cari makan ya" ajak Merelvin lembut, viena tidak menggubris ucapan Merelvin sama sekali.
"dengarkan kakak, Fana sudah punya bayi disini" tunjuk Merelvin kearah lerut Viena.
"Jadi Fana senantiasa mengisi perut Fana jangan sampai kelaparan ya" jelas Merelvin dengan sabar.
Viena menatap kearah perutnya dengan tatapan menggila.
"Hahaha, kenapa?" tawa Viena sembari berucap kenapa, tak lupa air mata yang sedari tadi tidak turun lagi sekarang kembali mengalir seiring tawanya.
Orang-orang dipantai menatap heran kearah Viena dan Merelvin.
Bahkan ada yang menyangka Merelvin tidak menuruti istrinya yang sedang mengidam aneh itu.
amerelvin berusaha memeluk vaviena tapi Viena melakukan yang sama seperti Viena lakukan pada Tomy, memberontak. ya tomy saja ditolaknya apa lagi Merelvin.
"Kenapa? kenapa pergi?" ucap Viena semakin terisak dalam tangisannya.
"kenapa? apa Fana nakal?" tanya Viena memukul kepalanya.
Sekarang merelvin bingung siapa yang dimaksud Viena, Garelkah atau mama Eme, apa yang ia lihat sekarang adalah Viena kecil.
"apa fana nakal?" tanya Fana sedih dan memukul mukul kepalanya, Merelvin menggelengkan kepalanya menyatakan jika Viena tidak nakal ia berusaha menutup kepala Viena dengan lengan kekarnya agar Viena tidak bisa memukul kepalanya sendiri.
"apa kau ingin dia kembali padamu?" tanya Merelvin berhati-hati.
"Tidak" ucap Viena tiba tiba tegas, perkataan dan perasaan Viena memang semakin tidak sejalan.
Sedangkan dikediaman Garel ia baru tiba dengan wajah kusutnya diantar oleh Raffa Evansyah.
"tuan, Raffa" sapa bibi ina panik saat tuanya bersama Raffa dengan keadaan kacau.
"Bi, Garel tidur dimana?" tanya Raffa di mana tempat Garel beristirahat.
"dikamar nona Fana, tuan" ucap bibi ina langsung menuntun Raffa menuju kamar Viena.
iya, dulu Garel tidak sanggup memasuki kamar itu, merasa bersalah pada pemilik kamar.
Tapi hari demi hari semakin membuat Garel sangat merindui keharuman tubuh Viena yang pernah ia rasakan sekali, sehingga ia menepati kamar itu untuk beristirahat.
Garel sungguh kacau, ia tidak tahu harus mengapa dan mengapa lagi.
__ADS_1
"kau benar, Raffa" ucap Garel saat sudah tiba di kamar Viena, Garel ingat dengan nasehat Raffa yang menagtakan jangan sia-siakan istrinya sebelum ia benar-benar menyesal.
Ia sudah menyia nyiakan istri sebaik Viena dan baru menyesali kesealahannya setelah ia kehilangan.