Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
18 Rencana Anasya


__ADS_3

Hari ini Anasya akan melancarkan rencananya selama ini, sesuai seperti yang pernah ia katakan pada suami tercintanya, Reonal.


Makanya Anasya menggunakan hari sebelumnya untuk datang setiap pagi harinya kerumah garel hanya demi mengambil hati garel agar terlihat tulus dan mulus.


Seperti yang akan dilakukan anasya pagi ini ia akan datang pagi-pagi sekali kekediaman garel dan viena.


"Sayang? kapan ini akan selesai? tanya reonal lembut tapi tersemat kehawatiran disana. tapi keserakahan dunia mebuat ia rela istri tercinta bermanjaan dengan pria lain.


"Tunggu sayang, hari ini akan kupastikan dia terjebak dalam perangkap kita" jelas anasya dengan senyum liciknya.


"Benarkah?" tanya reonal senang


"Tentu sayang, apa kau pikir aku sudi terus menerus bersamanya" ucap anasya sembari menatap mata suaminya.


kedua netra itu saling bersitatap ada kejujuran di mata licik anasya dan ketulusan pada sang suami.


"kalau begitilu, berangkatlah sayang" suruh reonal


"Baiklah, pus*kamu harus kau tidurkan sendiri" tunjuk anasya kebalik celana reonal yang dimana sudah menegang.


Reonal hanya tersenyum menggoda istrinya tapi demi rencananya, anasya menepis tangan nakal suaminya itu.


Dikediaman viena dan garel


"sayang apa kau tidak bisa bolos kerja hari ini?" tanya anasya tidak lupa gelagat manja yang sengaja dibuat-buat.


"Tidak bisa, sayang. kau tahu sendiri pekerjaanku menumpuk" jelas garel pada kekasihnya itu.


"apakah seorang boss, tidak bisa menyerahkan tugasnya?"


"Kasihan Toni, jika harus mengerjakan seorang diri" ujar garel yang tidak memungkinkan membiarkan toni asistensi itu bekerja sendiri.


"Bagaiman kamu minta yang lain saja?" bujuk garel setelah melihat raut wajah kekasihnya itu mulai mayun.


"sayang kata kamu mu nikah sama aku, itu serius?" tanya anasya sengaja mengalih topik pembicaraan.


"iya, tapi kamu tahu kita hanya bisa nikah siri. Apa kau tidak keberatan? " tanya balik garel, tentu garel ingat jika ia pernah mengajak anasya menikah siri sebelum kecelakan mobil, karna garel bukan kehilangan ingatan.


"tidak apa-apa, tapi ada syaratnya, Ceraikan cewek planet itu" ucap anasya sudah tahu jika jawabnya tidak mungkin menceraikan viena.


"enggak bisa dooong, kamu kan tahu sendiri jika kakek tahu dia akan marah"


"terus kalau gitu aku punya syarat kedua" ujar anasya manja.


"apa itu? "

__ADS_1


"aku mau warisan sebelum kita nikah, emm?"


"sayang kalau kita udah nikah aku akan kasih harta aku buat kamu semua sayang, Jadi jangan khawatir itu" ujar garel.


Viena yang tidak sengaja ingin mendengar pembicaraan keduanya hanya mematung dibalik pintu, meski pintu tertutup rapat viena dapat mendengarkan pembicaraan dari dalam kamar, karna kamar garel memang tidak mengunakan kedapan suara.


Viena sengaja hari ini mencegah bi ina memanggil garel untuk sarapan pagi karena viena berencana ia sendiri yang akan melakukanya.


Tapi viena malah diberikejutan, meski viena sudah menyangka jika ini akan terjadi bukankah lebih baik keduanya menikah meski hanya nikah siri dari pada berbuat dosa dengan kemesraan mereka yang hampir tidak wajar lagi. tapi untuk rasa keterkejutan itu pasti ada bagi viena.


"ya udah kalau enggak mau terima syarat kedua, kita putus aja" ancam anasya dan viena masih berdiri didepan pintu tanpa berniat mengganggu obrolan sepasang kekasih itu.


"loh putus, kan katanya mau nikah"


"akunya mau nikah kalau kamu udah ngasih warisan ke aku dulu sebelum menikah" anasya berucap sembari ngambek dibuat -buat.


"iya-iya, Minggu depan kita nikah. Sehari sebelum menikah aku kasih warisan yang sudah ditangani aku atas nama kamu semua." ucap garel gampangan masuk dalam bujuk rayuan anasya.


"kamu bodoh suamiku, anasya enggak pernah tulus sama kamu. Dia cuma mau harta aja" ujar viena dalam hati.


"dia sudah punya suami, Tapi percuma aku kasih tahu kamu, bahkan berbicara denganku saja tak sudi" ucap viena dalam hatinya.


Tik tok tok


vien pun mengetuk pintu kamar suaminya setelah obrolan sepasng kekasih itu berhenti.


"aku akan turun" kali ini garel berucap dengan rendah setelah mendengar siapa yang menjadi lawan bicaranya.


Mungkin sudah seminggu garel tidak mendengar viena berbicara dan memanggilnya untuk makan atau menyuruhnya makan.


Tidak sadar garel tersenyum mendapatkan perhatian sederhana itu dari istri yang dia abaikan itu.


Garel merasa bingung dengan perasannya sekarang ia mulai menginginkan viena istrinya tapi ia amat mencinta anasya dan tidak mungkin menyakitinya.


Rasa ingin kedua-duanya, begitu serakah tanpa memikirkan perasaan salah satu dari pasangannya.


Garel dan anasyapun keluar dari kamar, dilihatnya sosok yang tadi mengetuk kamarnya tidak ada di arah meja makan.


Hanya bi ina saja berdiri disana sedang menunggu majikannya.


"apa dia masih menghindariku?" garel membatin dimana, dilubuk hatinya garel kecewa yang ia kira ia dapat melihat viena dari jarak dekat jika makan bersama dimeja makan.


Akhirnya pagi garel hanya ditemani anasya.


usai makan seperti biasa garel harus berangkat kekantor bersama asisten Toni sedangkan anasya akan pulang sendiri.

__ADS_1


namun hari ini ia membiarkan garel berangkat dulu sampai mobil yang membawa garel mulai tak kelihatan.


Dreeettt Dreettr


"Kenapa sayang? untung saja dia sudah berangkat" ucap anasya kesal kepenelpon yang tak lain reonal.


"Aku tidak sabar, apakah kau berhasil, sayang?" tanya reonal diseberang sana.


"tentu sayangku, suamiku, kita perlu menunggu seminggu lagi sehari sebelum pernikahan itu, surat yang kita impikan akan diserahkan padaku. hahaa" ucap anasya bangga.


ia tidak menyadari disana ada yang mendengar semua percakapannya dengan suami tercintanyan itu.


tak hanya itu saja bahkan semua yang mereka ucapkan sudah diabadikan.


usai mencurahkan kebahagiaannya kepada suami tercinta anasya mengakhiri panggilan itu dan meninggalkan kediaman viena dan garel.


dan sudah waktunya viena yang akan mengisi kekosongan perutnya.


Kali ini viena mengajak bi ina makan bersamanya lagi dan mulai membuka percakapan.


"Bi, kalau aku pergi jangan lupa jaga tuan, ya" ucap viena sembari melahap makanannya, ia tidak menoleh pada bi ina.


"tentu nyonya, itu sudah menjadi tugas saya, memang nyonya mau kemana?" tanya bibi ina


"belum tahu bi," sahut viena tidak ingin mengatakan kemana ia akan pergi.


"berapa hari nyonya berpergian? " tanya bibi ina yang belum tahu kemana arah bicara majikannya itu, ia hanya mengira majikannya itu hanya ingin berlibur.


"mungkin 2-3 tahun bi, sampai anak saya bisa jalan atau mungkin selamanya bi" jelas viena sembari mengelus perutnya yang sudah membuncit, tapi tidak kelihatan karena viena selalu mengenakan pakaian yang agak longgar.


"nyonya.. " ucapan bi ina terpotong, sekarang ia tahu kemana arah ucapan majikannya itu.


"sudah bi, ini sudah keputusan saya" potong viena


"tapi nyonya, tidakkah kasihan jika anak nyonya nantinya tanpa kasih sayang ayahnya?" tanya bibi ina untuk memikirkan kembali niat majikannya itu.


"mungkin sudah waktunya bi aku pergi, suami aku juga mau nikah minggu depan sama anasya jadi sudah pasti anakku tidak diinginkan kehadirannya" ucap viena memperlihatkan wajahnya yang mulai memerah akibat menahan kesedihan dan bersalah pada bayinya karena ia mengatakan kehadiran yang tidak diinginkan, itu sangat menyayat hatinya sendiri.


"Apa saya boleh ikut nyonya?" tanya bibi ina yang tak tega membiarkan nyonyanya sendirian dan bibi ina juga merasa tidak sudi jika menggantikan nyonyanya dengan anasya maka lebih baik ia ikut dengan viena saja.


"Tidak bi, bibi harus janji jaga ayah bayiku untukku, aku mohon bibi jaga dia dengan baik" tolak viena cepat.


"Tapi nyonya, bibi ti... "ucap bi ina terpotong oleh viena.


"jika bibi sayang fana, jaga ayah anak aku dan jangan sampai dia kelaparan" jelas viena lalu jatuh dalam pelukan bibi ina.

__ADS_1


isak tangis keduanya memecahi keheningan seisi rumah.


__ADS_2