Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
69 Kekompakan Tony dan Tomy


__ADS_3

"puas kalian, buat ibu pergi fan sekarang kenapa kalian tidak tinggalkan Vola juga" sarkas Vola pada dua kakaknya itu.


"Tidak akan" jawab Tomy dan Tony serentak.


Keduanya saling lirik satu sama lain setelah serentak berucap, tiba tiba sebuah ide muncul dibenak kepala kedua saudara tak sedarah dengan Vola.


Keduanya langung meraih tangan Vola, Tomy berada disebelah kanan Vola sedangkan Tony berada disebelah tangan kiri Vola.


Vola menatap bingung kearah Tomy dan Tony secara bergantian.


"Kenapa kedua orang ini, tiba-tiba sehalu" tanya Vola dalam hatinya.


Baginya hal yang langka melihat keduanya bisa kompak gitu, jangankan untuk komopak akurpun merrka berdua tidak pernah.


"Cepat jalan" pinta Tony dan Tomy lagi-lagi serentak.


"apa yang kalian lakukan, membuat aku takut saja" ujar Vola masih menatap bingung pada saudara laki-lakinya itu.


Serasa mimpi bagi Vola dikejutkan dengan kepergian ibu yang sebelumnya saja Vola tidak tega harus meninggalkan ibunya selama 24 jam, bagaimana dengan sekarang ibunya akan pergi berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun dan entah mungkin selamamnya.


Malah sekarang dalam waktu singkat kedua saudara laki-lakinya itu bersikap tak seperti biasanya.


"tetap jalan, jika kau ingin bertemu ibu lagi" ancam Tomy.


"itu semua salah kalian berdua, seharusnya kalian harus mencegah Grenfa membawa ibu begitu saja" oceh Vola masih kesal pada Tomy dan Tony


Tony menghembuskan nafas kasar, lalu berucap


"makanya, sekarang pulang belajar yang giat. jangan buat ibu menunggumu lama" timpal Tony lalu tersenyum pada Vola.


Vola yang mendapat senyuman dari Tony merasa senang sekaligus merasa aneh, karna baru pertama kalinya ia melihat senyum tulus Tony padanya.


Tony merasa ia telah melewatkan kebersamaannya dengan vola selama ini.


"mulai sekarang kau tinggal bersama kak" tutur Tony yang terdengar tidak ingin dibantah


"tidak, aku tidak akan meninggalkan rumah ibu" tolak vola.


"Oke, kakak akan ikut kamu" sahut tony mengalah.

__ADS_1


"apa kau yakin?" tanya Tomy dan Vola serentak, keduanya merasa itu hal baru bagi Tony mau tinggal dengan Vola. karna sedari dulu saja Tony sangat tidak mau berlama-lama.


"yakin" sahut tony, itu sudah bulat dalam pikiran Tony. mungkin Tony tidak bisa berbakti kepada Marlind maka ia akan menembus keslaahannya dengan hmelakukannya melalui vola, yaitu dengan memberi kasih sayang dan menjaga Vola.


lama kelamaan Volapum mau melangkahkan kakinya tanpa harus ada paksaan dari tony dan tomy.


Sementara Diperjalanan menuju Villa Merlvin, Merelvin uring-uringan dan ugal-galan. perasaannya sangat kusut saja, sudah 5 hari ini pula ia diabaikan Agelia.


Jadi merelvin menyempatkan diri untuk mendatangkan Villanya yang ditepati Agelia itu sebelum keperusahaan begitupun sebelum jam kerja Agelia tentunya.


Akan tetapi sesampainya Merelvin divilla ia tidak mendapatkan Agelia disana.


Bukankah seharusnya sekarang Agelia masih divilla dan belum jam kerja juga.


Merelvin mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai Agelia yang sudah 5 hari ini tidak mendapatkan kabar apa-apa dari Agelia, kekasishnya itu.


Bahkan berkali-kali Merelvin menghubungi Agelia selalu saja tidak dijawab dan malah sekarang Agelia tidak berada diVilla pula.


Disisi lain, Agelia menangis kesegukan didalam ruang yang gelap nan sempit itu.


didalam ruang itu Agelia selalu memohon-mohon meminta agar ia bisa dikeluarkan dari tempat itu.


"Apa salahku" ucap agelia lirih seraya menahan sesak dan memukul-mukul dadanya yang sesak itu.


Dalam ingatan agelia hanya ada satu orang yang bisa membantunya, yaitu Merelvin.


Tapi Agelia tidak tahu dengan cara apa agar sang kekasih bisa tahu apa yang ia alami sekarang.


"siapapun diluar? tolong lepaskan aku" teriak Agelia dengan suara kencang.


Dengan bodohnya Agelia berteriak meminta tolong, pada hal ruang itu tidak memiliki celah sedikitpun udara keluar, maka sudah dipastikan jika teriakan Agelia tidak akan terdengar dari luar sana meski Agelia mengeluarkan suara sekencang-kencang mungkin.


Setelah cukup lama Agelia berteriak iapun merutuki dirinya sendiri dengan suara dingin.


"Bodoh, mana mungkin ada yang mau menolongmu selain dirimu sendiri" ujar Agelia pada dirinya sendiri


"apa kau akan menghabiskan tenagamu dengan berteriak terus. hah?" lanjut Agelia pada dirinya.


"Bodoh, lemah. Kau harus keluar sendiri kalau tidak kau akan mati sia-sia" hardik agelia menyemangati diri snediri.

__ADS_1


Rasanya wujud ceria agelia dan super kepo akut pada dirinya hilang saat ia terdekap dalam ruang itu.


Agelia tiba-tiba diam setelah puas menghardik dirinya sendiri, ia berusaha berpikir cara apa yang bisa membuatnya keluar dari sana.


Matanya melilirik sekeliling ruang sempit itu, namun tidak ada jalan di sana karena ruang itu tidak memberi celah sedikitpun untuk angin masuk apalagi membuat agelia bisa kabur dari sana.


"aku harus cari cara,.aaaaghhkkk" ucap agelia lalu memekik seraya tangan kirinya memegangi perutnya.


agelia meringis kesakitan, menahan rasa sakit diperutnya, yang tiba tiba terasa ngilu.


sakit yang diakibatkan bekas tendangan dan begitupun perutnya dalam keadaan lapar.


iya Agelia didekap dalam ruang itu sudah 5 hari ini, terakhir kali Wgelia juga tidak makan pagi karena terlambat keperusahan Oskar dan hanya makan siang saja malamnya Agelia lupa karena menghabiskan waktunya diperusahaan alias lembur.


Sepulangnya dari perusahaan, Agelia pulang sendiri, iya tidak mungkin bagi dirinya pulang bersama sang pemimpin yang sudah memberinya waktu lembur itu.


Rencnanya Agelia akan masak mie instan sesampainya diVilla.


Tapi sayang hari tenang untuk agelia tidak begitu ingin datang padanya.


seseorang datang padanya dan menyeret agelia dengan paksa memasuki mobil yang bukan mobil agelia.


agelia bukan tidak melawan, ia sudah melawan sekuat tenaganya, hanya saja tenaga agelia tidak sebanding dengannya.


sampai sekarang agelia hanya dikasih makan roti saja. dan hanya sekali dikasih air minum selama lima hari disana.


tentu hal itu membuat agelia lemas dan kesakitan karena tenaga agelia terus berkuras.


Bahkan perut agelia sangat sakit menahan lapar dan tendangan yang dilakukan saat ia meronta-ronta tidak ingin ikut orang yang membawanya.


agelia tidak mengerti ada dendam apa orang itu padanya, orang itu belum menampakkan hidungnya sama sekali padanya.


Namun tidak lama dari itu suara seorang membuka kunci pintu terdengar, ya itu pintu ruang yang ditepati agelia. pintu mana lagi selain itu, karena tidak mungkin agelia mendengar suara apapun dari ruang itu.


Cklek


pintu ruang agelia terbuka, agelia langsung melihat kearah orang yang sedang berdiri tegak diarah pintu masuk itu.


betapa terkejutnya Agelia saat melihat orang yang tersenyum licik itu adalaah orang yang agelia kenal.

__ADS_1


"kau... "


__ADS_2