
"ternyata kebiasaan mu itu tidak pernah berubah sedikitpun, An" ucap Bram beserta kekehan mengejek teman sekaligus besannya itu.
Dimata Bram, Andrian adalah pria yang sangat suka membuat orang menunggu disituasi dimana orang sedang bersama atau keberadaannya diinginkan.
Tapi Andrian tetaplah Andrian, bahkn Andrian bersikap biasa saja setelah membuat Viena dan Tomy menunggunya hanya untuk berbicara dengan Marlind.
yaa sebelum Andrian keluar dari kerumunan keluarga Andrian dan Az-Zardan
Andrian memberi kode agar Marlind mengikutinya, begitupun Marlind pergi menyusul setelahnya, meski ia enggan untuk berhadapan dengan Andrian.
Sementara Vola diminta Marlind untuk pulang kerumahnya saja.
keduanyapun saling berpandangan cukup lama hingga Marlind membuka pembicaraan.
"Apa yang membuat kau ingin berbicara denganku lagi, An? Tanya Marlind datar.
"Dimana istriku?" tanya Andrian to the point.
"Eme sungguh beruntung, bahkan sampai hari ini kau masih saja bertanya Eme padaku" sahut Marlind .
"Aku tanya dimana Emearlin Zhenes Vens, istriku" tanya Andrian lagi dengan suara rendah tapi dapat dirasakan Marlind jika ada sebuh penekanan dan kemarahan disana.
ya Emerarlin Zhenes Vens adalah Marga yang disandang oleh istri Andrian dan juga Marga asli Marlind.
Tentu wajar jika Andrian menanyakan Eme padnaya selain itu mengingat mereka memiliki masalah di masa lalu memperkuat Andrian memgira Merlind tahu keberadaan Emerarlin Zhenes Vens.
"dia sudah mati bersama Thomas" ucap Marlind tak kalah menekan dikalimatnya.
Rentu Andrian kenal betul pemilik nama Thomas itu karena Thomas merupakan mantan kekasih Eme yang menjadi suaminya Marlind.
"apa maksudmu, Marlind?" tanya Andrian tidak percaya, tidak mungkin istrinya bisa mati bersama dengan Thomas.
Jika begitu bukankah mereka berdua saling bertemu?.
"Andrian, dulu aku pernah mengira akulah yang bodoh telah mencintai orang sepintar dirimu, tapi ternyata kau jauh lebih bodoh dariku Andrian" tegas Marlind sedikit geram dengan Andiran dan memberi senyum penghinaan akan tetapi Marlind memancarkan sinar mata yang iba seolah ia benar benar mengejek Andrian dan menyayangi kepintaran yang Andrian miliki.
Apakah cinta merubah ornag pintar menjadi bodoh.
Namun dalam hati Marlind ialah yang sangat terluka, bagaimana semua dimasa lalu dilimpahkan padanya sehingga membuat Marlind menjadi Marlind seperti ini dan sekarang bahkan orang yang pernah
menjadi permata dalam hidupnya malah bertanya Sosok orang yang paling Marlind percaya dan sayangi sekaligus Marlind benci semenjak kejadian dimasa lalu.
Bukankah semuanya hanya masa lalu bagi Marlind dan Andrian tapi semuanya menjadi teriakat sehingga ujung tali kembali bertemu dengan ujung tali lainnya.
Kemanapun Marlind pergi akan selalu mendapatkan getahnya dari semua perbuatan Eme, seperri sekarang Andrian seakan masih menganggap Marlindlah membuat Eme berjauhan dari Andrian, kejam bukan jika kita merasa tidak bersalah tapi disalahkan.
"jangan bercanda Marlind, katakan yang jelas dan jangan mengungkit masa lalu yang tidak ada kaitan dengan, Eme" seru Andrian, mengira Marlind hanya akan membahas hubungan keduanya di masa lalu.
"Jangan pernah menggangguku dengan pertannyaan yang tidak penting itu lagi padaku andrian, jika kau tidak percaya maka kau cari tahu sendiri" sahut Marlind dingin lalu Marlind bergegas meninggalkan Andrian.
"lalu kenapa Vezan bisa kau yang merawatnya?" tanya Andrian menghentikan langkah kaki Marlind.
Marlind membalikkan tubuhnya berbalik kerah Andrian lalu berucap.
"bukankah aku sudah mengatakannya, jika kau tidak percaya maka cari tahu sendiri" Marah Marlind lalu benar-benar meninggalkan Andrian.
Marlind tidak pernah ada niat apa-apa pada Tomy kecil waktu itu, tapi semuanya diluar dugaannya ia harus selalu menjadi pelaku disetiap kesalahan yang disengaja dibuat oleh Eme untuknya.
Bahkan Tomy kecil terseret kedalam kehidupan Marlind oleh Eme sendiri yang mengorbankan putranya untuk semua keinginannya serakah Emerarlin istri sah Andrian.
"apa maksudmu Marlind?apa kau hanya ingin aku tersakiti dengan mengatakan istriku mati" batin Andria dipenuhi tanda tanya.
Marlind meninggalkan Andrian dan milih pulang kerumah, Andrianpun dengan wajah yang sudah tidak terlihat khawatir atau semacamnya lagi, ia berusaha tenang.
Andrian harus kembali kearah putra putri kembarnya yang pastinya sedang menunggunya.
__ADS_1
Acarapun telah usai, Andrian meminta Tomy dan Viena ikut bersama mereka kekota malam ini..
Seperti yang telah dijanjikan Viena pada Agelia, ia akan kembali kekota begitupun Tomy ia akan ikut kekota jika saudari kembarnya juga kekota.
Malam itupun keluarga Andrian dan Az-Zardan kembali kekota, menggunkan mobil masing-masing.
Tomy mengikuti Viena menggunakan mobil Viena, papa Andrian bersama sopir pribadinya sedangkan Merelvin berasama dengan Agelia sang kekasih.
Dan juga kakek Zirdan, mama Falisya dan papa Bram menggunakan satu mobil kekediaman Az-Zardan.
2 jam perjalanan yang ditempuh akhirnya sampai dikediaman masing-masing.
sampainya dikediaman Andrian, Andrian mengajak ketiga anaknya dan juga Agelia yang ingin melepas rindu dengan putrinya.
Andrian juga mengajak Agelia bergabung untuk keruang keluarga sebelum beristirahat kekamar masing-masing.
"Ada yang ingin papa berikan untuk kalian berdua" tunjuk Andrian pada anak kembarannya
"dan kalian berdua, ada yang ingin papa bicarakan" sambung Andrian melirik kearah Merelvin lalu kearah Agelia.
Agelia rasa kedatangannya kali ini tidak tepat, seperti mau sidang paripurna saja batin Agelia gugup.
Agelia menjadi gelisah, itu tidak luput dari pandangan Merelvin.
"papa, biarkan Wgelia istirahat, jangan bawa-bawa urusan keluarga kita. kan capek pa" bujuk Merelvin pada sang papa dengan sopan.
"ikuti saja papa, Merel" sahut papa Andrian tidak mau dibantah.
"tidak apa-apa kak" sambung Agelia agar Merelvin tidak membantah papa Andrian.
"kau benar tidak apa-apa?" tanya Merelvin, Agelia hanya menganggukkan kepalanya kecil.
Viena melihat Agelia berpindah ke Merelvin lalu kembali lagi ke Agelia.
"apa lagi yang kalian tunggu" seru Andrian pada anak-anaknya.
Sesampainya diruang keluarga Andrian mengeluarkan apa yang ingin diberikan untuk Viena dan Tomy sebagai hadiah ulang tahun, tapi untuk Tomy lebih tepatnya sebagai hadiah Tomy kembali sebagai putra Andrian yang tersembunyi.
Viena menatap kagum pada sang papa yang memberikan hadiah tidak cuma-cuma untuk Tomy..
"Pa." ucap tTmy canggung saat memanggil Andrian dengan sebutan papa.
"katakan" perintah Andrian pada Tomy saat Tomy tidak melanjutkan ucapannya
"aku rasa ini semua tidak perlu" ucap Tomy ragu takut menyinggung perasaan papa Andrian.
Tomy tidak terbiasa dengan segala yang diberikan Andrian padanya, fasilitas yang sangat besar baginya.
lemitid credit card, 2 kunci mobil import dan jabatan diperusahaan Andrian merasa itu tidak perlu.
"kenapa? apa Vezan tidak menyukainya?. papa akan menggantikan dengan sesuatu yang Vezan suka" ucap Andrian antusias akan memberikan yang terbaik pada putranya itu.
"ambil saja, kau juga putra papa, maka wajar jika papa memberikan semua itu padamu" jelas viena pada saudara kembarnya itu, ia mengerti penolakan Tomy brusan.
"pa, Merel tidak setuju jabatan itu" protes Merelvin dengan wajah serius, membuat suasana menegang.
"apa maksudmu Merel?" tanya Andrian pada Merelvin dengan menaikkan nada suaranya.
Tomy merasa tidak enak melihat epresi papanya terhadap kakaknya Merelvin, Tomy merasa dengan keberadaannya membuat keluarga yang harmonis ini menjadi hancur saja, Kehadirannya akan menjadi masalah.
"aah papa, jangan salah faham dulu, Merel hanya mau Vezan jadi pemimpin diperusahaan itu bukan jadi sekretaris Merel, pa" kesal Merelvin mendapatkan aura mencengkrm dari sang papa.
Andrian yang awalnya mulai terbawa suasa sekarang mereda, ternyata anak pertamanya diaituasi seperti ini masih saja semlat mengerjai dirinya.
"Kau benar benar kurang ajar" kesal Papa Andrian merasa dikerjain anak sendiri dan anak anaknya beserta Agelia tertawa ulah anak dan papa itu.
__ADS_1
"Merel, tapi itu juga tidak bisa, Vezan harus belajar denganmu dulu cara bagaimana mengelola perusahaan itu" jelas Andrian kemudian dengan seirus, ia tidak begitu setuju mengenai pendapat putra pertamanya yang kerpa sekali mengerjainya itu.
"berarti, jika Vezan sudah bisa diandalkan. Vezan bisa menggantikan posisiku?" tanya Merelvin girang, bagaimana tidak girang Merelvin sebenarnya tidak suka bekerja diperusahaan.
Tomy yang melihat intrkasi papa Andrian dan Kak Merel jadi bingung saja di mana mana orang dikeluarga berebutan harta tapi disini berbeda malah menyerahkan harta dan kekuasaan begitu gampang.
Apa lagi melihat Merelvin begitu girang ingin segera melepas jabatan pimpinan di oerusahaan keluarga itu begitu ketara, selama ini Merelvin mengalah demi Viena yang juga tidak berminat bekerja diperusahan keluarga bahkan malah memilih kerja di perusahaan orang lain dengan alasan tmandiri dan ingin merangkak dari bawah.
Maka sekarang kesempatan bagi Merelvin mengalihakan tanggung jawabnya pada Tomy dengan menjadikan Tomy lebih pandai darinya.
"itu terserah kau dan Vezan saja" ucap Andrian pada akhirnya.
"Vezan, ayolah bantu kakak" pinta Merelvin beralih pada Tomy yang sebenarnya enggak menjadi pimpinan diperusahaan, ia tidak terbiasa berada dijabatan tinggi apa lagi sebagai pimpinan.
Tomy menatap pada netra milik merelvin lalu Tomypun menganggukan kepalanya untuk menyetujui jika ia akan menerima keputusan kakaknya itu.
"bagus" puji Merelvin.
"Sekarang kamu Merelvin?" ucap Andrian merasa urusan Tomy sudah selesai malam ini.
"aku? kenapa dengan ku?" tanya Merelvin tidak peka, ia tidak tahu saja kalau Agelia sedari tadi takut jika hubungan mereka tidak direstukan oleh papa Andrian.
"apa kau dengan Agelia pacaran?" tanya Andrian dengan nada mendominasi.
Tidak hanya Agelia saja yang gemetaran disana tapi Tomy, Viena dan Merelvin juga ikut gemeteran, setelah pertannyaan Papa Andrian terdengar mendominasi itu.
Ya Andrian sangat sensitif jika putra putrinya pacaran apalagi tidak ada keseriusan maka dari itu Viena dinikahkan ketika ada yang datang melamar putrinya itu tanpa harus membiarkan putrinya itu berpacaran.
"i.. iya Pa. tapi.... " sahut Merevin terbata-bata, Viena membulatkan matanya dengan sempurna, kakak kandungmya memacari sahabatnya sendiri.
Ia melirik Agelia sekan meminta penjelasan.
"tapi apa Merel? apa kau mau bilang kau tidak ingin serius dengan Agelia? apa kau lupa jika papa tidak akan mengizinkan kalian berpacaran terlalu lama" tukas Andrian.
"Pa, bukan begitu, tapi Merel dan Agelia baru jadian tadi pagi" jelas Merelvin yamg sedark tadi ia katakan agar sang papa tidak banyak berpikir.
"okeh, papa beri waktu 3 bulan, jika selama 3 bulan kau pernah menyakiti Agelia. maka akhiri hubungan kalian berdua" titah Andrian dengan tegas, Agelia hanya bisa menundukan kapalanya seraya menelan ludahnya dengan kasar. meski semuanya diarahkan pada Merelvin tapi Agelia merasa tidak tahu berkutik apa-apa.
"dan kau Agelia, jika pria tidak serius, jangan mau meski Putra om" sambung Andrian berucap penuh peringatan pada Agelia.
Ia tidak ingin Agelia di sakiti oleh putranya sendiri, apa lagi Pap Andrian mengenal Agelia dengan baik bahkan sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
"iya om" sahut Agelia patuh, iapun merasa senang papa Andrian memberikan semuah nasehat untuk tidak begitu percayan pria termasuk putranya sendiri.
"yaa sudah, pasti kalian lelah jadi istirahatlah" suruh Andrian iapun juga ada banyak teka teki yang harus ia cari tahu sendiri, yang tidak ingin ia libatkan dengan putra putrinya apalagi Agelia.
Viena dan Agelia memasuki kamar Viena yang berada dilantai 3 begitupun kamar Merelvin dan Tomy mereka memasuki kamar mereka masing-masing yang berada dilantai 2.
dikamar yang telah dipersiapkan untuk Tomy, Tomy teringat jika ada yang didembunyikan ibu Marlind dan papa Andriannya.
Tomy merasa terganggu, mungkin belum mengenal bagaimana papa Andriannha tapi Tomy tahu jika ibu Marlindnya tidak pernah memancarkan sorotan mata seperti saat Tomy melihat diacara ulangtahunya tadi.
Diruang keluarga, Andrian masih disana dengan mememegangi ponselnya sedang berbicara dibalik benda itu.
π± "apa kau sudah menemukannya?" tanya Andrian pada seseorang diseberangan sana.
π±"sudah tuan, ternyata nyonya Marlind saudari tiri nyonya Eme, tuan" ucap pria suruhan Andrian.
π±"Apa? saudari tiri? bukan kah mereka kembar?" tanya Andrian tidak mengerti laporan dari suruhannya itu, yang ia ketahui Marlind dan Emerarlin adalah saudara kembar yang tidak edentik..
Itulah yang dikatakan istrinya Eme dan Marlind selama ini padanya.
π±" iya tuan, saya sudah mengirim data lengkapnya ke email, tuan" sahut pria dibalik telpon itu.
"kenapa papa menyebut nama ibu Marlind dan siapa yang bernama Eme, itu?" batin tomy yang tak sengaja mendengarkan percakapan papa Andrian saat Tomy hendak tutun untuk mengambil air minum akibat kehausan saat mata dan pikiran Tomy terasa menjajah tentang ibu yang selama ini menjaganya dan papa kandungnya.
__ADS_1
......********......
Hayoouuha dukung author dengan like, favorit dan coment karya author selalu.πππ€©