
......********......
Pagi yang cerah di kediaman Andrian merupakan suasana pagi yang baru bagi tomy, biasanya tomy membuka matanya dipagi hari kalau tidak di markas ya di rumah ibu Marlind.
Pagi ini Tomy bangun lebih awal dari biasanya, tidur Tomy tidak nyenyak sedikit terganggu oleh pikirannya, memikirkan apa hubungan ibu Marlind dengab Papa Andrian dan pemiliki Ema.
Tok tok tok
suara ketokan pintupun terdengar dari luar kamar Tomy, Tomypun buyar dari pikirannya dan menoleh kearah pintu.
cklek
suara pintu terbuka, ya Viena yang membuka kamar Tomy yang tidak terkunci itu.
"sudah bangun? Maaf mengganggu" Tanya viena yang sudah terlihat lebih segar dan sedikit bersalah.
"emmmh, ada apa?" tanya Tomy dengan suara khas bangun tidur.
"mandi sana, apa kau akan pergi terlambat ke kantor dihari pertamamu?" tanya Viena.
"jam berapa aku harus ke kantor?" tanya Tomy memang tidak tahu jam berapa ia harus berangkat untuk menghindar dari keterlambatan.
"aa itu aku tidak tahu, kau bisa tanya kak Merel dan berangkatlah bersamanya" sahut Viena yang memang lebih baik bagi Tomy seperti itu.
"oke"sahut Tomy lalu menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
Viena hanya tersenyum melihat saudara kembarnya, mereka berdua bisa dibilang cukup dekat untuk berteman.
Viena tidak menyangka orang asing yang bela bela menjaganya ternyata saydara kembarnya yang terpisah, Vienapun tidak menyangka ternyata ia memiliki saudara kembar sungguh ia mengira ia hanya memiliki kak Merel seornag sebagai saudaranya.
Setelah melihat kamar mandi yang Tomy masuki tertutup rapat, sebelum kembali ke kamarnya Vienapun meletakkan satu style pakaian kantor untuk Tomy pakai hari ini.
Viena kembali lagi kekamarnya, ia melihat Agelia masih terlelap dalam dunia mimpinya.
"Li, bangun, ada kak Merel" bohong Viena menjahili sahabatnya itu agar Agelia bangun dari tidurnya.
"dimana?" tanya Agelia sepontan seraya mendudukan tubuhnya diatas kasur dengan raut wajah bingung.
"hahaha, aku berbohong" ucap Viena mentertawakan Agelia.
"Viiiii" pekik Agelia kesal dengan keusilan Viena.
"kak Merel ke kantor" ucap Viena singkat tentu Agelia mengerti maksud perkataan Viena itu.
"Bukankah kembaranmu itu, akan berangkat bersama kak Merel?" tanya Agelia.
"Awalnya begitu, tapi dia berangkat denganku, jadi jangan berharap aku mengantarmu kevilla" tukas Viena ingin mengerjai Agelia.
"Baiklah, aku akan mandi" ucap Agelia apa adanya lalu beranjak ke kamar mandi, Viena meihat itu mengerutkan dahinya.
Jam 05:45 pagi, kelaurga Andrian bertemu dimeja makan untuk menikmati menu sarapan yang telah disediakan bibi Aarah dan putrinya Maren.
Semuanya terlihat baik-baik saja dan melahap makanan dengan tenang.
"Vezan, berangkatlah bersama kakakmu" perintah Andrian pada Tomy dan dianggukan patuh oleh putranya itu.
"Jangan" larang Viena tidak mengizinkan jika Tomy berangkat ke kantor bersama Merelvin.
"kenapa?" tanya Tomy dan Andrian serentak
"biar Tom eeh Vezan berangkat bersamaku, kak Merel harus bertanggung jawab mengantar Agelia dulu" ujar Viena cerewet di depan seluruh keluarganya.
Sementara yang lain memperhatikan dengan senyum senang diwajah mereka melihat Viena lebih banyak bica.
"ouh iya, itu benar" ucap Andrian kemudian ia baru ingat dan membenarkan ucapan Viena jika anak pertamanya harus bertanggung jawab mengantar Agelia dengan selamat.
Dalam hati Merelvin berosorak ria, tentu Merelvin tidak keberatan bila berkaitan dengan kekasihnya, agelia.
Namun bukan berarti ia keberatan dengan adik laki-lakinya, hanya saja siapa yang tidak senang diberi kesempatan bersama kekasihnya meski hanya sekedar mengantar.
Setelah sarapan di meja makan keluarga, Viena mengajak Tomy pergi meninggalkan kediaman Andrian menggunakan mobil milik Viena.
Diperjalanan menuju kantor, sebenarnya ada banyak yang Viena ingin tanyakan pada Tomy, sausara kembarnya itu, dengan itu Viena sengaja ingin mengantar Tomy ke kantor.
"Semenjak kapan kau tahu?" tanya Viena setelah keduannya sempat menikmati pikiran masing-masing.
"tahu apa?" tanya Tomy tidak mengerti maksud pertannyaan saudari kembarnya sembari mengangkatkan sebelah alisnya.
"kita kembar?" ucap Viena singkat.
"semenjak kita beretemu mereka di rumah sakit" jawab Tomy apa adanya.
"apa kau tidak suka jika aku kembarmu?" tanya Tomy membuat Viena jengah saja.
"awww" pekik Tomy saat cubitan Viena mendarat diperutnya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu Vezan Andrianada Saffran" seru Viena kesal dengan kembarannya yang mengira dirinya tidak menerima kehadiran Tomy dikeluarganya.
"Aku hanya bercanda, Viena Andriana Saffana" sahut Tomy tak kalah menyebut nama lengkap Viena dan diiringi kekehan geli melihat saudari kembarnya sensisitif bawaan kehamilan yang dapat Tomy mengerti.
"lalu bagaimana kau bisa bersama ibu Marlind?" tanya Viena serius, ia sangat penasaran dengan saudara kembarannya itu, selama ini Viena tidak pernah mendengarkan jika ia memiliki saudara kembar sama sekali baik itu dari papa andrian maupun kak merelvin.
"Aku tidak tahu, aku tahu ibu Marlind bukan ibu kandungku. itu saat aku tidak sengaja mendengarkan percakapan ibu Marlind dengan kak Tony" jelas Tomy
"Tony?"
"iya, Tony Amarsyan. putra pertama ibu Marlind" sahut Tomy yakin begitulah yang Tomy tahui.
"Astaga Aku baru inget" seru Viena jika asisten pribadi Garel adalah Tony Amarsyan
"kau mengenalnya?" tanya Tomy penasaran.
"tentu, dia asisten pribadi Garel" ucap Viena datar setelah menyebut nama suaminya itu.
......******......
Di perusahaan keluarga Andrian, Viena mengajak Tomy memasuki gedung memuncak tinggi itu dan memasuki ruang yang akan ditepati Tomy selama menjadi sekretaris kak Merel nantinya.
Viena meninggalkan Tomy diruang itu menuju ruang kak Merelvin, disana Merelvin sudah duduk dikursi kebesarannya.
Setelah mengantarkan Agelia dan memastikan Agelia memasuki Villa dengan selamat, Merelvinpun langsung pergi menuju perusahaan tanpa melakukn drama apapun.
Sehingga Merelvin lebih awal datang keperusahaan sebelum Viena dan Tomy tiba.
tok tok tok
l
"masuk" pinta Merelvin
Viena memasuki kantor sang kakak dengan raut wajah sedih, tapi Viena tidak memperdulikan kak Merel yang memperhatikannya yang bermuka menyedihkan itu.
Viena mengambil posisi rebahan diatas soffa kantor kak Merel, mengisi kedua kakinya diatas lengan soffa, dilepasnya tas yang ia bawa dan mengambil selembar foto yang menjadi rutinitasnya.
Merelvin hanya melihat Viena dari kursi kebesarannya, merasa iba dengan adik perempuannya itu, perutnya sudah bucit tapi hubungan Viena dan Garel belum ada kemungkinan sama sekali.
Hati Merelvin merasa terluka saat melihat Viena hanya diam menahan segala luka yang ia rasakan, adiknya itu selalu berusaha kuat semenjak kecil.
"apa yang kau lihat Fana sayang? boleh kakak lihat?" Tanya Merelvin memang tidak tahu apa yang viena lihat, ia berusaha mendekat.
Andai Merelvin tahu Viena menangis gara-gara selembar foto Garel dan senyum difoto itu, bahkan bukan diberikan Garel pada adiknya, sudah dipastikan Garel akan mendapatkan pukulanya Merelvin lagi.
"Berapa bulan?" tanya Merelvin tiba-tiba sudah didekat Viena, Vieena langsung mengambil posisi duduk.
"5 bulan" sahut Viena
"Boleh kakak memelukmu? eem?" izin Merelvin pada adiknya itu, ia tidak bisa berbuat apa apa, ingin rasanya Merelvin menyeret Garel kehadapan adiknya dan menyiksa Garel habis habisan jika itu bisa membuat adiknya bahagia.
Tapi Merelvin tahu dari sorotan mata Viena telah menumbuhkan cinta pada adik ipar kurang ajanya itu.
"eemmh" sahut Viena dengan deheman, Merelvinpun langsung memeluk Viena yang sedikit berjarak oleh perut buncit Viena.
"Apa kau tidak ingin memberi kesempatan untuk suamimu?" tanya Merelvin lembut, ia restu Viena kembali pada suaminya jika memang Viena yang menginginkan itu.
Bagaimanapun Merelvin sangat menyayangi keponakannya tanpa orang tua yang lengkap seperti yang ia rasakan selama ini, bahkan mama kandungnya tidak mementingkan anak anaknya.
Namun jujur dihati Merelvin yang paling dalam ada rasa rindu pada sosok mamanya.
Apa lagi setelah Tomy bergabung dikeluarga Andrian, Merelvin berpikir jika mamanya juga akan kembali bersama mereka, ia merasa tidak percaya jika mamanya telah tiada.
Hal itulah membuat Merelvin bertanya baik-baik pada adiknya itu jangan sampai keponakannya nanti tidak mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya.
Melihat penyesalan Garel dari sebelumnya membuat Merelvin berpikir jika hubungan adiknya dan Garel bisa diperbaiki.
Namun semua keputisan itu ada di Viena, Merelvin tidak akan memaksa Viena untuk kembali kesisi Garel jika itu memang tidak diinginkan Viena lagi.
"eemmm?" deheman amerelvin meminta jawaban dari Viena.
Viena hanya diam, ia tidak tahubsepenuhnya ia inginkan, ia seakan menginginkan Gaarel tapi disisi lain Viena masih sama tidak ingin merasakan sakitnya diabaikan dan dianggap tidak ada, apalagi dimadu.
"Baiklah, jika kau masih perlu berpikiri. pikirlah baik-baik untuk kau dan anakmu kelak. apakah kalian berdua bisa berjauhan dengan Garel, semua ada dikelutusanmu" nasehat Merelvin seraya mengelus puncak kepala Viena dengan kasih sayang.
"kak aku pulang, ajak vezan pulang bersamamu nantinya" ucap Viena sembari meleraikan pelukannya dengan Merelvin.
"pasti, hati-hatilah, perhatikan kondisi kehamilanmu" nasehat Merelvin mendapatkan anggukan dari Viena.
Di ruang Tomy, tomy mendapatkan tugas dari skretaris kakaknya sebelum Tomy menjadi sekretaris sungguhan dan merangkak menjadi pimpinan nantinya.
selama mengerjakan dokumen-dokumen penting Tomy kepikiran tentang apa yang dibicarakan papa Andrian melalui panggilan masuk semalam.
"apa aku ke desa saja, aaakh, tapi bagaimana pekerjaan ini sungguh menyusahkanku" bantin Tomy kesal dengan berkasi di depannya, ia tidak terbiasa berhadapan dengan pekerjaan perusahaan.
__ADS_1
"tapi aku bisa izin ke kakak jika Vola menangis di desa ingin bertemu denganku, itu ide yang bisa membuat kak Merel merasa kasihan" ucap Tomy dalam hatinya.
Setelah membulatkan pikirannya, Tomy langsung bergegas ke ruangan sang kakak.
Tok tok tok
"masuk" pinta Merelvin
"kenapa? apa ada yang sukit diselesaikan?" tanya Merelvin saat melihat Tomylah yang memasuki ruangannya.
"iya, tapi bukan itu yang ingin aku katakan sekarang kak" jawab Tomy jujur, ini memang baru pertama kali berurusan dengan dokumen-dokumen penting, tapi ada yang lebih penting bagi Tomy yaitu tentang ibu Marlind dan papa Andrian.
"katakan" ucap Merelvin berjalan kesoffa seakan mengajak Tomy untuk duduk disoffa juga, agar lebih enak bicara, ia tidak ingin terlihat seperti bos bagi saudaranya sendiri.
"aku mau..." ucap tomy terpotong
"duduklah, barulah bicara" peinta Merelvin lembut, ia tidak mau jika adiknya itu canggung dengannya, Merelvin lebih suka jika Tomy seperti Viena yang suka main ke ruangannya seperti biasanya tanpa ada batasan status.
Padahal Merelvin tidak tahu saja bagaimana sikap Tomy yang lain, Tomy sebenarnya hanya bersikap lebih sopan saja kepada kakaknya, rasa canggung membuat ia lebih berhati hari takut menyinggung kakakknya jika sudah hilang canggungnya sudah dipastikan Merelvin akan menjadi tempat penyaluran senjata seribu cara milik Tomy yang handal selama ini.
Tomy pun menurut dan duduk disooffa satunya lagi.
"kak, bisakan aku izin tidak menyelesaikan dokumen-dokumen sulit itu?" tanya Tomy memmbuat Merelvin tertawa
"hahaha.. okeh-oke, kakak akan selalu memberi waktu untuk mu. terus kau mau kemana jika tidak ingin menyelesaikannya?" tanya Merelvin kemudian, sepertinya adiknya itu ingin menghibur diri dari pekerjaan yang Merelvin bisa pikirkan membosankan bagi adiknya itu.
"aku mau berkeliling" bohomg Tomy tidak jadi membawa nama Vola dalam alasannya.
"oke, kakak temenin?" tawar Merelvin yang dikira Merelvin, Tomy tidak tahu sekitaran kota V yang sebenarnya sudah menjadi kunjungan Tomy dan kedua temanya disetiap malam senin.
"Tidak usah kak, aku akan berkeliling sendiri" tolak Tomy
"yakin? kakak tidak keberatan berjalan dengan bocah" canda Merelvin dengan diringi kekehan kecil.
ya jarak usia mereka berdua 6 tahun, tapi dari postur tubuh keduanya tidak begitu terlihat jauh.
"Yakin kak, dan untuk bocah seperti ku tidak akan membuat kakak malu, nyatanya karyawan kakak tadi terpana melihatku" ucap Tomy percaya diri beserta kekehan kecil membalas candaan kakaknya itu.
Benar sekali siapa sih yang tidak terpana melihat Viena dan Tomy memasuki perusahaan bersaman pagi ini.
pagi ini semua karyawan dibuat dua sekaligus keterpanaan, melihat Viena yang memang memoersona dan melihat Tomy sebagai sosok baru yang tak kalah menawan di mata karyawan.
"Iya iya, adik kakak memang tempan" ucap Merelvin membenarkan itu.
"kalau gitu kau pakai mobil kakak saja" tawar Merelvin yang tidak tahu jika Tomy tidak bisa mengemudi mobil
"aku sudah pesan taxsi online, kak" bohong Tomy tidak mau mengakui jika ia tidak bisa mengemudikan mobil.
"ya sudah" sahut Merelvin
Tomypun pergi dari perusahaan kesebuah restoran dan Tomy menghubungi kenalannya Casya Alicia untuk datang meminjamkannya motor.
Tidak perlu lama Casya datang dengan temotor besar miliknya.
"hai Tom, Sepertinya sangat penting. seorang Tomy Amarsyan menghubungiku. malam senin akan aku tunggu sebagai balasannya" ucap Casya tersenyum licik pada Tomy lalu meninggalkan tomy.
Tomy tahu resiko jika harus berhubungan dengan Casya semuanya tidak ada gratisan.. apalagi semua dikalangan mereka sudah mengetahui jika Casya sangat menginginkan Tomy.
Maka ini menjadi kesempatan bagi Casya untuk menekankan Tomy berada didekatnya meski hanya bisa ditepati malam senin yang akan datang.
Tomypun tidak menunda menunda lagi, ia menggunkan motor dengan kecepatan tinggi menunju desa Scarla.
sampainya di Scarla, Benar saja apa yang Tomy prasangka jika ibu Marlind dan papa Andrian berkaitan di masa lalu dan lagi-lagi Tomy tidak sengaja mendengarkan nama Eme dalam perdebatan ibu Marlind dan papa Andrian kali ini.
Alangkah terkejutnya Tomy, ternyata pemilik nama Eme adalah ibu kandungnya.
Iya sekarang Tomy menguping lembicaraan Ibu Marlind dan papa Andrian, yang mana secara kebetulan Andrian mendatangi Marlind dan sedang berdebat.
"Berhenti Andrian menggangguku, apa kau tidak puas selama ini menyakitiku" tukas Marlind pada Andrian
"istrimu Eme sudah mati bersama Thomas, itu tidak ada kaitan denganku. mereka mati saat berliburan bersama, mereka hidup bahagia bahkan matipun bahagia diatas segala penderitaanku" jelas Marlind berkaca-kaca, marlind ingat sekali saat Eme dan Thomas saling berpegangan tangan saat penghembusan nafas terakhir dan meninggalakan semua kesalahan atas pada Marlind hingga Marlind menghilang dari keluarga Zhenes Vens dengan membawa Tony, Vola serta Tomy bersamanya.
Rasanya ingin Tomy merangkul ibu Marlind tak tega ia melihat mata yang berkaca-kaca dan suara serak menahan tangis itu, tapi Tomy tahan agar ia dapat mendengarkan suamua percakapan kedua orang tua yang sama-sama penting baginya.
"kau jangan menjelekan Eme, Marlind. aku tahu kau iri dengan Eme yang hanya saudari tirimu tapi ia mendapatkan segalanya" ketus Andrian.
Marlind tidak terkejut lagi jika hubungannya dengan Eme hanya sebatas saudari tiri akan diketahui oleh Andrian.
Eme begitu beruntung menurut Marlind telah mati dalam keadaan bahagia namhn meninggalka. Beban dan luka untuknya bakan selamanya.
"aku rasa percuma aku menjelaskannya, datanglah ke tempat yang dulu sering kita jumpai Andrian maka kau akan tahu yang sebenarnya. Tapi harap setelah itu jangan datang untuk menggangguku lagi" sahut Marlind lalu masuk kekamarnya, Marlind membiarkan Andrian berada dirumahnya.
Andrian dibuat bingung lalu meninggalkan rumah Marlind, Romy bersembunyi agar tidak diketahui oleh sang papa keberadaanya.
...like, hadiah dan tidak jangan lupa favoritkan😍😘😘😘😍...
__ADS_1