
Dimalam hari yang sunyi seorang diri dalam rumah yang cukup kecil, viena mulai memikirkan bagaimana kelangsungan hidupnya selama tinggal didesa terpencil itu.
Viena harus memikirkan bagaimana kedepannya, mungkin kalau untuk waktu satu setengah tahun viena memiliki biaya hidup yang cukup dengan uang tabungannya selama ini, karena memang kenyataannya viena terlahir dikeluarga kaya tapi viena tidak pernah membeli barang yang terlalu mahal seperti kalangan atas pada umumnya.
meski tidak sederhana juga pada intinya viena memang lebih biasa-biasa saja menjadi anak orang kaya.
Tapi jika terus menerus tidak bekerja dari sekarang, uang akan habis dan tidak akan menentu uang yang dipegang sekarang bisa sampai pada tahun yang dipikirkan apalagi viena harus menyediakan biaya persalinanya nanti dan itu harus dipersiapkan dari sekarang mumpung masih bisa bekerja.
Tapi pekerjaan apa yang bisa viena lakukan didesa terpecil itu, ia harus mempertimbangkan segalanya semata mata demi bayi yang ia kandung.
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan viena saat pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Viena keluar dari kamarnya lalu berjalan kearah jendela, digesernya sedikit gorden jendela, dari jendela itu viena bisa mengintip siapa yang mengetuk pintunya.
setelah tahu siapa yang berkunjung vineapun membuka pintu rumahnya.
"ada apa?" tanya viena dengan nada datar. iritnya bicara viena membuat ia terdengar datar dan cuek.
padahal tidak, viena memang dikenal irit bicara tapi ia mudah didekati.
"apa aku tidak boleh berkunjung? aku hanya ingin berbicara santai denganmu" ucap Tomy lalu duduk didepan rumah Viena, yang mana ada kursi untuk bersantai.
Vienapun ikut duduk dikursi yang bersebelahan dengan kursi dekat tomy.
Malas menjawab pertanyaan tomy, viena diam dengan pikirannya sendiri yaitu memikirkan apa yang bisa ia kerjakan.
"Apa yang kau pikirkan, Fan?" tanya Tomy yang matanya tidak berpaling kemana mana selain tertuju kearah wajah viena yang terlihat berpikir itu.
"jaga tatapanmu" ucap viena mulai resah dengan tatapan tomy yang baru tadi siang ia kenal.
"aaa, kau terlalu sia-sia disia-siakan" sahut Tomy yang mungkin bisa menebak-nebak apa yang membuat viena bisa sampai kedesa terpencil itu, ia tidak menghiraukan teguran viena.
"maksudmu?" tanya viena tidak mengerti kenapa pria ini bisa-bisanya bicara sekan sudah lama mengenal viena.
__ADS_1
"Sorry mungkin aku terdengar ikut campur" ucap tomy merasa tidak seharusnya tapi tomy ingin tahu mengenai viena sungguh tomy sangat ingin tahu.
"kenapa dia seperti tahu masalahku" gumam viena dalam hati.
"Kau hamil?" tanya Tomy
Viena diam dengan tatapan mengarah keTomy. yang dikira viena, tomy akan bertanya kenapa ia kedesa terpecil itu? apakah ada masalah dalam keluarga? itulah pikir viena yang sebenarnya juga pertanyaan tomy kali ini juga mengarah kemasalah yang membuat viena ingin tinggal didesa ini, saling berkaitan.
"jangan menatapku begitu, aku hanya melihat perutmu bukan buncit karena kembung" sambung tomy yang merasa kalau viena mencurigainya padahal tomy bukan curiga melainkan penasaran.
"3 bulan" sahut viena lalu menghembuskan nafas keudara.
"Apa kau menyesal meninggalkan suamimu?" tanya tomy dengan pertanyaan yang ia rangaki sendiri. rasa penasaran dengan gadis yang ada didepannya membuat tomy bertanya dengan semaunya.
"aku tidak tahu" jawab viena pada kenyataan viena memiliki suami tapi ia tidak pernah merasakan sosok kasih sayang suami itu seperti apa.
Viena memang sudah mecintai suaminya sendiri maka dari itu viena sempat bertahan melihat kemesraan anasya dengan suaminya samapi pada waktu viena benar-benar ingin merelakan semuanya termasuk hatinya, ia pasrah.
"kau tidak perlu menanyakan semua tentang masa lalu ku tomy, aku tidak ingin menyesalinya" sambung viena karena kembalipun ia akan menyesalinya jadi lebih baik merelakannya, meski itu berat.
"dengan cara apa?" tanya viena penasaran dengan kesungguhan pria yang sedang menatapnya itu
"Akan aku beritahu besok" sahut tomy semangat, tapi sebenarnya tomy tidak tahu apa, yang terpenting bagi tomy besok cara itu ada.
"Lebih baik cari pekerjaan yang cocok untukku" sahut viena yang mungkin meminta tolong pada tomy lebih baik.
Tomy diam mendengar ucapan viena karena ia sendiri hanyalah pria yang suka datang ke Bar dan menjadi pengelus rambut emak-emak ganjen dan ia merupakan preman pasar.
"kenapa diam?" tanya viena melihat tomy hanya diam saja.
"aku tidak bisa kalau mencarikan pekerjaan yang cocok, bukankah kau sendiri lebih tahu dimana bakatmu" ujar tomy memang baginya kalau masalah pekerjaan itu sesuai kenyamanan jika nyaman menjadi preman ya jadi preman sepertinya.
"sepertinya aku hanya bisa menghabiskan uangku didesa ini dan mati perlahan karena tidak punya penghasilan" keluh viena seperti bercerita dengan sahabatnya sendiri dan viena juga mulai berbicara dengan orang asing lebih rewel, yang ia rasakan bercerita dengan tomy terasa menenangkan dan mengurangi beban di kepalanya.
"Bukankah kau kaya, mobilmu juga tidak murah" ujar Tomy sedikit banyak ia juga kenal dengan merek mobil yang mahal atau tidak.
__ADS_1
"kalau tidak bekerja kekayaan akan habis tomy" keluh viena dan tomy hanya memangut mangut mengiyakan ucapan Viena tanpa bersuara.
"pekerjaanmu?" tanya viena singkat
"aku?" tanya balik tomy merasa pertanyan singkat itu sedikit tidak jelas mau dijelas gimana.
"heeeezm"
"bukankah aku sudah mengataknya diawal perkenalan tadi pagi?" bukanya menjawab tomy malah menyuruh Viena berpikir sendiri.
"maksudmu preman" deg jantung viena berdebar kencang rasanya pengen loncat dari tempatnya bukan karena viena terharu atau apa-apa tapi karena viena mengira tomy tadi hanya bercanda, bagaimana bisa preman dianggap pekerjaan, nanti di rampok oleh tomy.
"Yupss, itulah pekerjaanku" Jujur tomy untuk masalah itu nanti toh orang-orang akan mengatakan siapa tomy kepada viena.
"itu bukan pekerjaan tomy" protes viena
"aku bukan preman biasa fana" sahut tomy enteng
glegek
rasanya air ludah viena terisi pasir pasir mendengar penuturan tomy yang terkesan menakutkan.
"Tenang saja, aku tidak akan merampokmu" sahut tomy menyadari kekhawatiran didiri viena.
Malam yang dilewati Kedua insan yang baru kenal itu lebih terkesan indah, dari pembahasan yang mereka berdua bicarakan dari masalah serius, menegangkan dan lucu, keluar bersamaan malam itu.
viena awalnya mendengarkan tomy berprofesi preman merinding sendiri tapi tidak bisa dipungkiri tomy sangat mudah membawa suasana menajdi nyaman bahkan viena yang irit bicara saja menjadi banyak bicara jika bersama tomy.
bisa dikatakan selama merawat garel sakit viena agak banyak bicara tapi itu hanya semantara saja sampai viena bertemu dengan Tomy Amarsyan ia kembali banyak berbicara.
Tomy Amarsyan memeng memiliki seribu cara dalam mengambil hati lawan bicara, bukan hanya dengan modal ketampanan tapi juga gaya bicaranya yang terlalu melantur keman-mana kadang tanpa filter sama sekali.
Berbeda dengan Garel, kehidpanya mulai lusuh hari ke hari.
Bakhan bi ina saja tidak tahu harus bagaimana lagi menangani majikannya itu.
__ADS_1
bi ina yang awalnya sangat ingin melihat tuannya itu menderita karena telah menyia-nyiakan viena tapi sekarang malah terbalik, bi ina malah kasihan dan menjaga tuannya sesuai permintaan viena semampu bibi ina.