Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
42 Negara Kebenaran


__ADS_3

......******......


Andrian kembali ke kota setelah perdebatannya dengan Marlind, sementara Tomy tidak jadi menanyakan sesuatu pada ibu Marlind, rasanya waktunya belum tepat saja akhirnya Tomy memilih mendatangi markas tempat yang pasti di sana akan ada Benny dan Arland.


"hai, kalian ada disini?" tanya Tomy pada Arland dan Benny.


"kau datang aku kira kau tidak ada waktu untuk datang ke markas yang tidak sebanding dengan rumah baru mu" kerus Benny namun ucapannya disertai kekehan kecil.


"bahkan pakaianmu sudah berkelas" sambung Arland membumbui ucapan Benny, Arland melihat jas yang dikenakan Tomy terlihat berkelas, Tomy terkesan buru buru hingga ia lupa menggantikan styelnya ke styel biasanya.


"terserah kalian, apa kalian tidak ingin membuat ku secangkir kopi? " pinta Tomy.


"tunggulah" sahut Arland


"eemmhz"


"Tom, gimana kabar kembaran cantik mu itu? " tanya Benny saat Arland bergegas membuatkan kopi.


"kenapa kau bertanya Fana?" tanya Tomy dengan sorotan mata tajam seakan mau menelan Benny hidup hidup.


"hei!!! tenang dulu. aku hanya ingin berniat baik jika anaknya kelak tidak memiliki ayah, biarkan aku saja jadi ayahnya, sebagai menembus kesalahanku" jelas benny percaya diri.


"tunggu dulu, kondisikan mata serammu itu, Tom. kau pikir ada orang sepertiku yang mau menerima anaknya" sambung Benny menjelaskan minatnya tentu apapun alasannya Tomy tidak akan pernah membiarkan saudari kembarannya bersama pria b*jing*n seperti Benny dan Arland, sekalipun keduanya adalah teman dekatnya.


"dia masih punya suami goblok, berhentilah berangan-angan" sahut Tomy ketus.


"heeeeiii Tomy, apa kau kira aku bodoh. suaminya tidak akan memiliki kesempatan dihati saudari kembar mu itu" sahut Benny


"terserah kau mau berkomentar apa bodoh, yang pasti aku tidak membiarkanmu menikahi saudariku" Tegas Tomy, ia lebih tahu jika perasaan adiknya masih untuk suaminya, Garel.


Meski perasaan itu sudah hilang untuk Garel ia akan menjadi penghalang Benny yang ingin menikahi kembarannya itu, bisa kembarannya sakit hati seriap hari ulah kebejagan Benny, tentunya.


Arlandpun kembali kearah Benny dan Tomy dengan membawa 3 cangkir kopi untuk mereka bertiga.


"ada apa dengan kalian berdua?" tanya Arland saat melihat efresi Tomy dan Benny seperti tegang saja.


"terimakasih" ucap Tomy seraya mengambil secangkir kopi yang dibawa Arland yang belum sempat Arland letakkan diatas meja dan Tomypun tidak menggubriskan pertannyaan Arland.


Tidak mendapatkan gubrisan dari Tomy baik benny, Arland pun lebih baik menikmati secangkir kopinya juga.


Dikediaman Garel, ia tampak kesal dengan yang ia lihat beberapa jam lalu.


Garel melihat tomy sedang bicara dengan Casya didepan restoran tadi.


"Fana, kenapa kau harus memilih laki-laki seperti pria itu. dia bukan pria yang cukup dengan satu wanita" ucap Garel kesal, seakan ia lupa jika selama ini Garellah yang menyakiti Viena.


"tuan, nyonyabFalisya berkunjung" ucap bibi ina pada Garel memberitahukan jika Falisya datang kekediaman Garel.


"Baiklah saya akan turun" sahut Garel berada dikamar Viena dengan pintu terbuka.


"baik tuan" ucap bibi ina lalu mendatangi Falisya.


"nyonya, mau minuman apa? biar bibi buatkan" tanya bibi ina hormat setelah turun dari kaamar tuannya.


"Tidak usah dulu bi, nanti saya bisa mengambil sendiri kalau mau minum" sahut Falisya lembut.


"baik nyonya, kalau begitu saya tinggal dulu bu" ucap bibi ina.


"kenapa mama datang?" tanya Garel sembari berjalan kearah mama Falisya yang sedang duduk disoffa.


Falisyapun menoleh kearah putra malangnya itu.


"mama hanya rindu sama putra mama, apa mama tidak boleh datang?"


"boleh ma" sahut garel lalu ikut duduk disoffa.


"mama bawa makanan kesukaan kamu, tadi sudah mama isi kedapur jadi harus dimakan" pinta Faisya, ia merasa kasihan dengan putranya itu, khawatir yang memuncak mmebuat ia datang untuk memastikan sendiri keadaan putrNya itu.


Garel yang Falisya kenal sangat menjaga kesehatan dan kerapihan, kini tidak ada lagi dalam diri Garel, Garel terlihat tidak terurus.

__ADS_1


"Sayang, mama ngerti, jika Fana butuh waktu untuk memaafkanmu. tapi jangan biarkan Fana terlalu lama" Nasehat Falisya penuh harapan pada putranya untuk tidak menyerah begitu saja untuk perasaan putranya pada Viena.


"Ma, mama tahu sendiri jika tidak ada lagi harapan bagi Garel" ucap Garel sendu, terngiang-ngiang diingatan Garel jika viena selalu tersenyum bila bersama Tomy, kebahagian itu nyata.


"Tidak sayang, Fana selalu mengharapkanmu. percayalah mama" sahut Falisya meyakinkan Garel jika menantunya Viena itu masih mengharaplan putranya.


"Ma, Garel sungguh menyesali, andai Garel lebih cepat sadar mungkin Fana tidak akan pergi seperti ini" lirih Garel dengan mata yang berkaca-kaca.


Falisya langusung memasukkan Garel dalam pelukannya, hati Falisya terluka meligat putranya bersedih. tapi Falisya tahu jika semuanya berawal dari putranya sendiri, kesalahan putranya itu memang sangat keterlaluan ia juga sempat kecewa tapi hati siapa yang bisa melihat keterpurukan putranya sehingga ia tidak bisa kecewa lama-lama.


"Tolong Garel, ma. tolong" lirih Garel, ia tidak tahu harus apa lagi semuanya tercekat dan tidak ada yang mendukungnya kembali pada Viena.


"apa yang harus mama lakukan, sayang? mama akan usahakan" ucap Falisya ikut berkaca-kaca.


"Aku tidak tahu ma, tapi aku tidak bisa melepaskan Fana ma" ucap Garel tidak bisa membendungkan tangisannya lagi, ia juga tidak harus melakukan apa agar Viena kembali padanya, selama ini keduanya memang tidak pernah berintraksi sehingga sulit bagi Garel mengenal Viena.


Garel bagaikan anak kecil yang ingin mendapatkan permen dari sang mama, ia menangis meohon bantuan mamanya.


ia sungguh menagis dalam dekapan mama Falisya.


cukup lama Garel berada dalam pelukan Falisya, akhirnya Garel meleraikan pelukan ittu, setelah ia mendapatkan sedikit ketenagan.


"Ma, mama pulanglah. nanti papa mencari mama" usir Garel halus yang memang Garel tahu jika papanya tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan mama Falisya.


"tapikan mama belum lama disini, Garel" protes mama Falisya tidak terima jika ia harus segera meninggalkan putranya.


"Tidak apa-apa, nanti Garel yang akan main kesana" jelas Garel, mau tak mau mama falisya mengiyakan maksud putranya meski berat hati.


Mama falisya sudah meninggalkan kediaman Garel, karena merasa iba dengan putranya mama Falisya mengarahkan mobilnya menuju kediaman Andrian.


Sesampainya dikediaman Andrian, Flisya disambut hangat oleh bibi sarah.


"nyonya Falisya, silahkan masuk nyonya" sapa bibi sarah hormat dan mempesilhkan Mama Falisya masuk kekediaman Andrian.


"iya bi, terima kasih" ucap Falisya sopan.


"apa ada tuan Andrianmu?" tanya Falisya, pikir Falisya sesama orang tua mereka harus membahas masalah anak mereka sampai Flisya lupa jika kedatangannya kekediaman Andrian tanpa adanya suami disisinya.


"Negara C?" tanya Viena tiba-tiba muncul dari atas tentunya ia baru turun dari kamarnya.


"iya nona" sahut bibi ina, Viena hanya menatap bi ina bingung, tidak biasanya sang papa pergi keluar negri secara tiba-tiba apa lagi terkesan diberi tahu ketika keberadaan sang papa sudah ditempat.


Setahu Viena, sang papa akan menyuruh Merelvin untuk mengurus semua yang harus diselesaikan di luar negri, karena sang kakak sudah diberikan tanggung jawab penuh akan perusahaan oleh papa selama ini.


Melihat keberadaan Mama Falisya, Viena mengeurungkan niatnya bertanya lebih lanjut pada bibi Sarah mengenai sang papa.


"Ayo duduk ma" ajak Viena dan ikut duduk bersebelahan dengan mama mertuanya itu.


"terima kasih sayang" sahut Falisya lembut dan mengelus rambut Viena dengan kesedihan, ia merasa bersalah telah membuat Viena hadir dekhidupan putranya hingga wajah Viena terlihat banyak beban yang ia pikirkan.


"iya ma, mama sudah lama?" tanya Viena seperti biasa seakan tidak ada masalah apapun.


"belum sayang," sahut Falisya jadi tidak tega melihat Viena, apakah ia harus merelakan menantu sebaik Viena agar ia bahagia tanpa adanya Garel.


"ada apa cari papa,? nanti Fana bisa sampaikan pada papa" tanya Viena sopan pada mama mertuanya itu.


"tidak ada apa-apa sayang" sahut Falisya tidak mungkin ia mengatakan pada Viena tentang keinginan Garel tidak ingin melepaskan Viena, ia ingin membahas ini semua dengan Andrian dulu agar bisa mengambil keputusan bersama.


"Berapa bulan sayang" sambung ffalisya penasaran dengan perut buncit milik Viena.


"5, ma" ucap Viena lirih, ia teringat nasehat sang kakak tadi.


"boleh mama mengelusnya?" tanya Falisya meminta izin, ia takut jika Viena merasa tidak enakan jika Falisya mengelus perut buncit Viena.


"Tentu ma" sahut Viena tentu mengizinkan mama mertuanya itu untuk mengelus bayi yang berada didalam rahimnya itu.


Siang, sore... malampun tiba mama Falisya menghabiskan waktunya dengan Virna hingga malam hari tanpa mengungkit sedikitpun tetang hubungan Garel dan Viena.


Merelvin dan Tomy pulang kerumah diwaktu yang sama sedangkan mama Falisya memilih untuk pulang dengan alasan papa Bram, mama Falisya cukup lama meninggalkan papa Bram dirumah.

__ADS_1


Meski Viena sudah menawarkan untuk makan bersama, mama Falisya menolaknya beralasan sudah cukup lama ia pergi.


Maka sudah dipastikan si tua bucin alias papa Bram akan mencarinya dan gelisah.


Viena tidak bisa memaksa jika mama Falisya ingin pulang, Viena hanya mengindahkan alasan mama mertuanya itu tanpa berkomentar apa-apa lagi.


ketiga saudarapun sudah merapat kemeja makan.


"dimana papa?" tanya Merelvin melirik kearah Viena sedari tadi hanya Viena yang dirumah.


"papa kenegara C" sahut Viena sesuai yang dikatakan Bibi Sarah.


"negara C?" tanya Merelvin dengan nada tidak percaya. sedangkan Tomy tidak menggubriskan percakapan kedua saudaranya itu. tomy sudah tahu jika sang papa Andrian datang ketempat yang dimaksud ibu Marlind tadi, yang ternyata negara C.


"Negara sejauh itu menjadi tempat yang biasa dikunjungi ibu dan papanya" batin Tomy berpikir jika sudah pasti kedua orang tua itu memilki hubungan di masa lalu.


"hemm" sahut Viena hanya dengan deheman saja.


"berapa hari papa disana?" tanya Merelvin lagi


"tanya bibi saja" jawab Viena memang tidak tahu karna ia ia juga belum sempat bertanya.


Dinegara C, Andrian baru saja tiba selama menempuh perjalanan 12 jam.


Tibanya Andrian di Negara C sekitaran jam 1 malam.


karena sudah malam, Andrian mencari hotel terdekat dengan tujuanya yaitu tempat dimana ia dengan Marlind bertemu satu sama lain sehingga saling jatuh cinta dimasa lalu.


Tapi pikiran Andrian dipenuhi oleh istrinya Eme, yang selama ini dikiranya Marlind lah dalang kenapa ada drama dalam rumah tangganya.


Malam Andrian dihotel seungguh tidak tenang dan tidak nyaman., Andrian tidak sabaran lagi untuk mendatangi tempat yang sudah lama tidak Andrian datangi.


Berbeda keadaan didesa Scarla, Marlind pergi lagi membawa Vola, pergi meninggalkan desa Scarla tapi kali ini Marlind tidak bersembunyi didesa melainkan dikota V sendiri.


Marlind yakin jika ia bersembunyi ditempat yang dekat dengan orang yang tidak menginginkannya maka itu akan menjadi tempat aman bukan?


Apalagi Marlind juga memikirkan Vola yang harus kuliah di kota V, begitupun dengan Tomy dan Tony, sama-sama berada di kota V.


Marlind sungguh tidak ingin ada hubungan papun dengan Andrian, yang selalu menyakitinya bahkan Andrian tidak sekalipun percaya dengan apa yang Marlind katakan semenjak menikah dengan Eme.


Di kota V, tidak sulit bagi Marlind untuk mendapatkan tempat tinggal baru.


Vola yang diajak secara mendadakan hanya bisa menuruti ibu mmarlind tanpa membantah apapun, Marlind juga memberi alasan agar lebih mudah bagi Vola untuk pulang pergi kuliah.


Volapun merasa senang bisa tinggal di kota V ada kak Tomynya yang berada dikota V, maka bukan kah semakin mudah ia bertemu dengan sang kakak dengan jarak tempat satu kota itu.


"Vola, jangan pernah beritahu siapapun temapt tinggal baru kita" ucap Marlind pada Vola.


"kenapa bu, apa itu juga berlaku untuk kak tomy?" sahut Vola lalu bertanya dengan raut wajah sedih jika larangan itu termasuk untuk kak tomynya.


Marlind merasa kasihan jika mengatakan iya, iya jika Tomy juga tidak boleh tahu, jika Tomy tahu bukankah Andrian akan tahu juga nantinya pikir Marlind.


"Tidak Vola, sayang. ibu tidak melarang kak Tomy datang" Marlindpun berusaha untuk tidak egois, kebahagiaan Vola hanyalah sosok tomy selama ini bahkan Tony saja tidak sebanding dengan Tomy dimata Vola, ia harus memproritaskan Vola.


"Terima kasih, bu. tapi kak Tony apakah akan sering datang jika kita tinggal di. kota V ini?" tanya Vola tiba-tiba bertanya tentang Tony bahkan Marlind saja terkejut jika Vola menanyai Tony.


Selama ini Vola tidak pernah bertanya Tony bahkan Tony dan Vola bertemu seperti orang yang dilahirkan tidak sedarah.


"kak Tony mu sangat sibuk, nanti jika Vola sudah memiliki pekerjaan maka akan jarang pulang" jelas Marlind pada putrinya itu.


...******...


Pagi hari Andrian sudah mendatangi pantiasuhan yang dulu sering ia datangi bersama Marlind, sudah lama Andrian tidak datang kesana semenjak Menikah dengan Eme.


Saat Andrian ingin memasuki gerbang pantiasuhan yang berada di Negara C, Andrian bertemu dengan Deddy Marjones.


"Akhirnya kau datang juga, Andirian" suara rendah milik Deddy Marjones masih terdengar beraura dingin.


"Deddy" sapa Andrian yang lebih tua 10 tahun dari Andrian.

__ADS_1


"Benar kata Marlind kau akan datang untuk Emearlin Shenes Vens, bukan?" ucap Daddy Marjones yang ingat pesan Marlind 32 tahun lalu.


Pesan dimana Andrian akan bertemu dengan Marlind hanya untuk Eme seorang maka sudah waktunya Andrian datang ke Negara C tempat pantiasuhan yang menyembunyikan semua kebenaran dan semua perbuatan Emearlin Shenes Vens dan Thomas dimasa lalu.


__ADS_2