Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
46 Hukuman


__ADS_3

Langkah kaki Merelvin gemetar saat melihat efresi diwajah dokter Irwan.


Telinga Merelvin panas mana kala mendengar ucapan dokter Irwan mengenai adiknya, Viena.


"maafkan atas kelancangan saya, tuan. tapi demi kebaikan nona, saya harap jangan biarkan nona Fana berpikir terlalu keras" ucap dokter Irwan mengira ada masalah dalam keluarga Viena apa lagi sudah berapa kali pasiennya itu sakit dan tidak ditemani oleh suamniya.


"sepertinya apa yang dialami nona Fana sekarang mempengaruhi kehamilannya, tapi dapat dipastikan setelah nona Fana sadar besok, untuk sekarang sampai jam satu malam, nona Fana akan tidur. itu kami lakukan agar tidak mengganggu kehamilan nona Fans" jelas dokter irwan panjang kali lebar.


Usai penjelasan dari dokter Irwan, Merelvin keluar dari ruang itu dengan langkah Gontai.


Saat Merelvin menuju ke ruang pasien yang ditepati Viena. Ia melihat Garel memohon-mohon kepada Tomy untuk meminta maaf dan berharap mendapat izin masuk melihat langsung kondisi Viena.


Meski usia Tomy lebih muda dari Garel, Garel tidak peduli hal itu. ia akan memhon dan terus memohon bahkan di depan keluarga Az-Zardan dan Andrian sekalian.


Garel juga mengakui kesalahannya di depan restoran tadi di depan semua orang yang ada disana.


Mama Falisya hanya bisa menangis melihat putranya itu.


Merelvin mendengar penuturan Garel itu,


"Apa kau tahu? perbuatanmu ini Fana harus mengulangi kejadian 15 tahun lalu!!!" ucap Merelvin mendekat dan menatap Garel tajam.


"Maaf" ucap Garel sendu. begitu menyakiti Viena apa yang dia lakukan dulu, itulah pikir Garel.


"Maafmu, tidak bisa membuat Fana baik-baik saja, Garel" ujar Merelvin.


"apa kau sungguh ingin menemui Fana?" tanya Merelvin tiba tiba terdengar datar dengan cepat Garel menganggukan kepalanya.


"aku akan memberimu masuk sampai Fana sadar dari tidurnya" ucap Merelvin, Tomy terkejut dengan keputusan kak Merel tapi tidak dengan Mama Falisya ia merasa khawatir jika kesempatan ini bukan kesempatan yang tepat.


"terimakasih" ucap Garel lirih lalu bergegas masuk tapi Merelvin menghenikannya.


"Tunggu, jika kau mau masuk tingalkan Fana selamanya dan tanpa meninggalkan satu katapun" jelas merelvin dengan tatapan menyusuk.


Merelvin kali ini berusaha tegas dan memberi kesempatan bagi Garel untuk melihat Fana.


Garel dengan tubuh kusut, raut wajah kusam., tenaga yang terkuras. kini ia dihadapi pilihan yang sama sekali bukan pilihan, ia tahu maksud kakak iparnya itu jika Fana sadar ia harus pergi meninggalkan istrinya, menceraikannya dan tidak menjumpai lagi.


jika ia tidak masuk keruang Viena sekarang, akankah ada waktu untuk Garel bertemu, dengan langkah berat Garel memasuki ruang itu seorang diri.


Tomy yang awalnya menentang Garel masuk, sekarang ia yakin jika Kak Merel lebih tahu yang terbaik untuk Fana, jadi ia tidak lagi menghalang Garel masuk.


Mata Garel berkaca-kaca melihat Vuena berbaring diatas ranjang rumah sakit.


"Maaf, maafkan aku. aku salah" ucap Garel lirih disertai air mata yang mengalir deras, berkali kali ia mengucapkan permohonan maaf itu padahal Viena tidak bisa mendengarkan kata permintaan maafnya itu.


Tangan Garel mendekat kearah perut besar Viena, untuk pertama kali Garel mengelus-elus perut Viena dengan perasaan yang amat bersalah.


"Maafkan ayah" ucap Garel dengan tatapan kearah perut Viena.


"Maafkan ayah, telah menyakitimu dan bunda" ucap Garel berulang ulang,tidak henti-henti mengucapkan kata-kata maaf ia tak tahu harus apa selain mengucapkan maaf itu.


"maaf, maaf. maafkan aku" ucap Garel terus menerus meski Viena tidak menjawab, garel tetap meminta maaf.


Waktupun terus berjalan siang berubah sore sore berubah malam, sementara Garel masih diposisi awal dengab menatap penuh harap pada Viena yang masih terpejam itu.

__ADS_1


Ia senantiasa memegang tangan Viena enggan untuk melepaskannya.


"sayang, kau belum makan. ayo makan dulu, mama bawa makanan buatmu" ucap Mama Falisya seraya memasuki ruang pasien Viena.


"Tidak Ma, Garel tidak lapar" sahut Garel matanya yang tidak berpaling dari Viena sama sekali.


"Makanlah, apa kau ingin melihat Fana semakin sedih melihatmu seperti itu" bujuk mama Falisya pada putranya itu.


Awalnya Garel bersikukuh untuk menolak, tapi apa yang dikatakan mama Falisya ada benarnya.


Ia harus terlihat kuat di depan Viena dan itu juga agar Garel bisa melihat Viena sadar, kalau ia sakit maka ia tidak bisa menemani Viena.


Dengan memaksakan diri ia memakan makanan yang dibawakan mama Falisya.


Makanan yang ia makan terasa hambar itu ia paksa dengan sempurna.


Setelah makan Garel tidak menghiraukan siapa lagi, ia kembali lagi keposisi semula yaitu disebelah Viena.


"Fana, ayo bangunlah" mohon Garel sendu, penantiannya menunggu Viena sadar belum juga kunjung.


Garel tidak tahu jika Viena diberi dokter Irwan obat penenang yang bisa membuat Viena tertidur berjam-jam dan seperti yang dokter Irwan katakam pada Merelvin jika itu berfungsi diperkirakan sampai jam 1 malam.


Garel terus beroceh dengan ucapan maaf itu hingga tidak terasa sudah pukul 1 malam.


Di mana Merelvin lah yang paling menunggu jam itu tiba, ia yang sudah tahu apa yang disampaikan dokter Irwan membuat ia tidak terlalu khawatir seperti yang di khawatirkan Garel, ia hanya khawatir jika adiknya itu mengalami hal yang sama seperti 15 tahun yang lalu.


Merelvin sengaja tidak mengatakan siapapun bahkan Tomy adiknya sendiri tidak Merelvin beritahukan.


Begitupun Tomy tidak bertanya, ia Tomy menyadari jika sang kakak tidak lagi baik-baik saja memikirkan saudari kembarnya, nanti kalau sudah waktunya akan diberitahukan pikir Tomy.


Garel melihat cara dokter Irwan melihat kondisi viena, semakin beroceh panik


"Aku akan pergi, jika memang kehadiranku membuat kau terpejam seperti ini" ucap Gatel lalu ia benar-benar benar beranjak dari tempat duduknya, ia merasa Viena enggan bangun karena tidak ingin keberadaanya.


Agelia yang masih juga berada di sana mengkhawatirkan sahabatnya itu, ia diam disebelah Merelvin, menantikan Viena membuka matanya.


Tapi melihat Garel sedari tadi menangis dan meminta maaf, Agelia merasa iba. apa lagi sekarang Agelia melihat betapa pasrahnya Garel pergi meninggalkan Viena yang masih terpejam itu.


Air mata Agelia ternyata ikut terjatuh, ia tak kuasa menahan tangisan itu sedari tadi.


Agelia menatap Merelvin untuk meminta sesuatu agar Garel dan Viena bisa bersatu.


Tapi Merelvin tidak mengindakhan maksud tatapan Agelia, Merelvin menggeleng gelengkan kepalanya menyatakan mungkin inilah yang terbaik untuk Viena dan Garel.


iya Merelvin sama halnya dengan dokter Irwan merasa penasaran saat jam 1, Viena juga belum membuka matanya.


Ia memperhatikan wajah Viena dengan seksama, barulah Merelvin menyadari ternyata Viena sudah sadar sebelum jam yang dioerkirakan.


Maka dari itu Merelvin memilih membiarkan Garel pergi, Viena belum bisa menerima Garel berarti ia juga belum bisa menerima Garel, ia harus mendukung adiknya itu sampai dimana adiknya itulah yang sudah menerima Garel.


Butiran bening kecil dipipi Viena mengalir tanpa disadari orang lain selain dokter irwan dan Merelvin.


Situasi yang sama menyedihnya dibandara, dimana papa Andrian sudah kembali dari negara C.


Dengan rasa bersalahnya pada Marlind, Andrian bergegas ke desa Scarla.

__ADS_1


Dulu ia sangat mencintai Marlind ternyata ia sendiri yang menghancurkan cintai itu karena dengan mudaj tertipu dan tidak mau mempercayai kekasihnya.


Ia ingin segera berjumpa dengan Marlind ia ingin meminta maaf secara langsung pada Marlind.


Ia sangat bersalah pada Marlind, mungkin perminta maafan Andrian tidak bisa menghapus luka yang Marlind rasakan selama 32 tahun lamanya itu.


Tepat jam 3 pagi, Andriam sudah berada didepan rumah Marlind.


Andrian berusaha menggedor-gedor pintu rumah itu agar orangnya terbangun untuk membukakan pintu.


Tapi hasilnya nihil, sekuat-kuat Andrian menggedor gedor pintu itu, ia tetap tidak mendapatkan sahutan dari dalam rumah itu.


"apa yang kau lakukan di rumah orang, sepagi ini?" tanya tetangga Marlind yang terbangun akibat suara berisik Andrian, memang Andrian keterlaluan berkunjung ke rumah orang di jam sepagi itu.


"Maafkan saya, saya ada perlu dengan Marlind" sahut Andrian merasa bersalah pada tetangga Marlind.


"Marlind sudah pergi" ucap tetangga itu kesal, ia masih mengantuk tapi kedatangan Andrian mengganggu tidur nyenyaknya.


"pergi ke mana?" tanya Andrian heran ia belum mengerti makaud dari tetangga itu jika Marlind pergi karena pindah.


"aku tidak tahu, tapi dia tidak tinggal disini lagi" ujar tetangga Marlind itu tetap memberi tahukan Andrian jika Marlind tidak kembali ke rumah lama itu.


"terima kasih" ucap Andrian lalu meninggalkan tetangga Marlind itu, ia tidak bertanya ke mana Marlind pergi.


Sekarang Andrian sadar jika Marlind akan terus menghindarinya, ia segera menghubungi nomor Tomy.


📱"Vezan, kamu di mana?" tanya Andrian saat panggilan itu terhubung.


📱"Pa, Fanaa sakit. Jadi kita masih di rumah skait" ucap Tomy yang tidak tahu sekarang Papa Andrian bagaikan disambar geledek di pagi gulita.


Iya Andrian rasakan sama halnya dengan apa yang dirasakan mlMerelvin saat mendengar Viena sakit.


ya Viena orang yang tidak pernah jatuh sakit, selain 15 tahun lalu itulah seingat Andrian.


📱"Pa?" sapa Tomy menyadarkan keterkejutan Andrian, ia khawatir terjadi apa apa pada papanha itu.


📱" iya, papa akan ke rumah sakit" ucap Andrian langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


Padahal Tomy masih ingin bertanya apakah sang papa sudah kembali dari Negara C atau belum.


Andrian melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, karena perjalanan yang sepi mempermudah perjalanan Andrian dari desa scarla ke kota bisa melaju dengan aman.


Ia melupakan urusan Marlind untuk sementara waktu, putrinya lebih utama.


di rumah sakit, Andrian langsung memasuki ruang pasien yang ditepati Viena di ruang VVIp tentunya.


ia langsung merangkul putrinya yang hanya terdiam itu.


yaa setelah Garel pergi, Viena membuka matanya dan menangis tersedu sedu.


Viena diam mengabaikan semua yang hadir di ruangnya itu termasuk dokter Irwan yang bertanya kondisi pada Viena tidak mendapatkan jawaban apa apa.


Andrian memeluk erat putrinya itu lalu membatin merutuki dirinya sendiri.


"Tuhan apakah ini hukuman untuk ku yang telah menyakiti Marlind selama ini" ucap Andrian dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2