
......***********......
Rasa kesendirian dalam rumah kecil sudah menjadi makanan keseharian-hari viena selama 2 hari ini karena selama ini viena juga merasa sendiri dalam rumah luasnya dengan garel.
Awalnya viena benar-benar akan meninggalkan negara tempat kelahirannya, tapi viena urungkan niat itu dalam-dalam.
percuma, iya percuma jika viena keluar negri jejaknya ada dimana mana termasuk negara mana ia tuju.
maka viena merubah arah tujuannya keperdesaan terpecil yang jauh dari perkotaan, yang pastinya terhindar dari CCTV yang ada dijalanan.
Ia tahu jika keluarganya tahu ia kabru dari rumah kemungkinan besar kuasa akan bertindak, Viena tidak ingin itu terjadi maka ia memilih tetap dalam negara.
Pilihan yang telah ia ambil maka viena harus berusaha menyesuaikan diri untuk lebih mandiri lagi dan lagi, dilingkungan baru dan itu pertama kali bagi viena hidup diperdesaan.
Hidup dikota dengan keluarga kaya memang berbeda dengan hidup didesa terpencil, meski viena hidup dikota dengan mandiri tapi hidup didesa terpecil viena harus lebih ekstra mandiri lagi dan lagi apalagi viena belum kenal sama sekali dengan orang didesa terpencil itu.
Sedangkan hidup didesa terpencil harus padai berbebaur dengan orang disekitar. bukam viena tidak bisa berbaur tapi dengan viena yang notabenenya irit bicara itu membuat ia tidak ingin mendekat orang lain.
Setelah viena datang desa terpencil itu, viena banyak menangis dikamarnya tapi ia tidak tahu itu apa, viena tidak dapat merasakan apa-apa. yang ia tahu ia selalu ingin menangis. mumgkin saja itu bawaan kehamilan karena selama ini viena hanya mengidam ingin melihat seyuman suaminya tapi selama viena didesa itu tidak dapat Viena lihat lagi senyum suaminya.
Hobi viena yang gemar dengan bunga-bunga itu sudah tidak ada lagi dan beralih dengan bersantai didepan rumah.
Tidak bisa dihindari, viena menangis disembarang tempat termasuk depan rumah barunya itu.
Orang yang belum mengenal viena melewati viena begitu saja saat melihat air mata mengalir dipipi cantik viena.
Rasa IBa, heran dan perasaan lainnya, saat orang yang melihat viena tapi viena benar-benar tidak perduli.
"Hei" seorang pria berkulit putih masih terlihat muda, diperkirakan seumuran dengan viena tapi pria itu berpakaian bak preman yang menyeramkan.
Viena tersentak dari suara itu dan segera menghapus jejak butir-butir bening dipipinya lalu mengadah ke pria yang menyapanya.
Bukannya membalas sapa pria itu, viena malah berdiri sedikit menghindar, siapa yang tidak takut melihat penampilan pria yang seperti preman berdiri di deoannya dengan jarak yang dekat.
Memang pria di depan Viena berkulit putih dan tampam, tapi bukan soal ketampanan dan kulit putih bersih hanya saja pakaian itu membuay pria itu tak tertolong malah akan membuat orang takut termasuk Viena yang melihat pria itu sekarang.
Tentu Viena takut karna ia sedang hamil dan tentunya itu akan membuat ia tidak bisa banyak bergerak yang akan membahayakan kandungannya yang masih dibilang hamil muda.
Namun Vien berusaha tenang dan memperhatikan pria didepannya dengan teliti. leher pria itu terpampang jelas tato bergambarkan burung elang yang sedang menggigit ular memilit pada elang itu membuat pria itu semakin seram.
Tak hanya itu aja, pria berkulit putih itu menggunakan kalung besi di lehernya, memang tidak terlalu besar tapi tidak juga kecil.
"kenapa orang ini?" tanya viena dalam hati kecilnya. tubuh viena bergetar, apa yang ia lakukan jika pria didepannya berani macam-macam padanya.
"Hei, jangan takut. aku tidak akan memakanmu" ucap pria berkulit putih itu sepertinya ia mengerti gelagat viena yang seakan mengisyaratkan metakutan padanya.
"apa kau mengenaliku?" tanya viena sepontas, bertanya hal yang tidak penting membuat viena jengkel sendiri.
apakah ini rasanya takut membuat pertannyaan yang tidak penting saja menjadi pertannyaan, selama ini ia tidak merasakan rasa takut pada orang asing.
"Apa kau lupa ingatan?" tanya pria berkulit putih itu dengan menaikkan sebelah alisnya bukanya menjawab pertanyaan viena.
"Tidak" jawab viena singkat.
"kalau begitu aku tidak mengenalmu" sahut pria itu beserta kekehan kecil, viena hanya mengerutkan dahinya mendengar penuturan pria berkulit putih didepannya itu.
"aku, Tomy Amarsyan" ucap pria itu mengulurkan tangannya kearah viena, mengajak berkenalan pada Viena
Viena ragu mengulurkan tangganya pada pria itu atau tidak, bukan karna viena gengsi atau merasa jijik melainkan viena heran saja dengan pria didepannya itu berlagak akrab padanya, dan ia takut di tempat asing ini akan berbahaya bagi dirinya berkenalan dengan sembarangan orang apalagi pria didepannya tamoak menyeramkan.
__ADS_1
"aakh, tanganku sangat sakit. padahal aku hanya ingin berteman" pekik pria itu dengan suara kecil itu lalu dengan basa-basi yang sudah menjadi kebiasaannya didesa kecil itu.
Siapapun didesa kecil itu sudah mengenal siapa Tomy Amarsyan itu.
Tidak enak hati, vienapun menyambut tangan itu
"Viena Andriana Saffana" ucap viena lalu dengan cepat melepas jabatan tangannya dengan Tomy Amarsyan
"Nama yang bagus, tapi haruskah aku memanggilmu viena? andriana? atau saffana?" tanya Tomy yang memang banyak seribu gaya apalagi ketampanannya sudah jangan ditannya lagi sehingga julukan pria bajingan itu bisa tertolong.
iya orang orang di desa terpecil itu menyebut Tomy Amarsyan dengan sebutan bajingan tapi ketampanannya membuat galar itu hanya berlaku pada sebagian ibu ibu tidak pada anak remaja terutama gadis gadis desa, kelakuan Tomy sudah menyebar luas tapi begitulah tomy masih bisa berada di desa itu dengan baik.
"Amat merepotkan jika aku harus memanggilmu Viena andriana saffana, bukan?" ucap tomy membuyarkan padangan viena yang menatap tomy secara teliti.
"Fana, panggil saja Fana" sahut viena tersenyum melihat tingkah tomy menurutnya lucu tapi viena masih berkata tenang.
"waaah, ternyata kau tidak hanya bisa menangis saja tapi juga bisa terseyum" canda Tomy lalu terkekeh sendiri.
Viena mendengar canda tomy yang lebih mengejeknya itu hanya tersenyum kecut saja dengan apa yang diaktakan tomy.
Viena tidak marah sama apa lagi merasa tersinggung sama sekali dengan apa yang dikatakan tomy malah entah kenapa viena merasa terhibur meski ini awal pertemuan viena dan tomy.
Di awal mungkin Vjena merasa takut tapi entah kenapa Tomy membuat ia menghangat.
"aku akan pergi, mulai sekarang kita akan menjadi teman" ucap tomy percaya diri dan itu tidak menjadi masalah bagi viena.
lagi-lagi viena tersenyum
"Hati-hati disini banyak preman, termasuk aku" ucap tomy sebelum pergi meninggalkan viena tanpa menunggu komentar apapun dari viena.
viena menelan ludahnya dengan kasar saat mendengar ocehan tomy yang terakhir.
......********......
"Dari mana saja kau, tom?" tanya arland teman satu geng dengan Tomy Amarsyan
"memastikan yang lagi viral" jawab tomy enteng, iya dua, tiga hari ini viral gadis cantik kaya yang datangan dan tinggal menjadi penduduk desa mereka, yaitu viena.
Viral, iya viral dimata tiga serangaki odong-odong itu yang suka menggoda gadis-gadis sekitar terutama arland dan benny otaknya selalu kelayapan.
"Cantik dan menggoda bukan?" sambung benny dari dalam markas berjalan kearah tomy dan arland.
"iya, tapi dia bukan gadis yang pantas digoda, tapi dijaga" sahut tomy sembari membayangkan perkenalan singkatnya dengan viena. berkesan ya berkesan pikir tomy.
Entah ada rasa apa, tomy merasa viena tidak layak disakiti tapi dijaga. awalnya tomy mendatangi viena yang sedang duduk didepan rumah itu karena tomy sengaja menginginkan hal yang lebih dari viena meski hanya elusan saja tanpa lebih.
karena arland dan benny selalu menggambarkan viena gadis yang menjadi target utama. dengan rasa penasaran tomy datang dan melihat sendiri.
Sampainya pada perkenalan atau perjumpaannya dengan viena tadi, tomy berubah pikir dan ingin menjaga viena tanpa menyentuh dan tanpa menerima elusan apapun dari viena meski nantinya viena menolak niat baik tomy itu.
"Jangan sok kamu tom, bukankah selama ini kau hanya suka sama tubuh gadis yang indah dan secantik gadis itu" protes arland dengan apa yang barusan ia dengar dari ucapan tomy.
ia merasa tidak percaya pada ucapan tomy yang ingin menjaga gadis itu.
"terserah" sahut tomy singkat. apa yang dikatakan arland selama ini memang ada benarnya tapi itu sebelum ia bertemu dengan viena tadi. itu saja tomy tidak menyentuh gadis-gadis lebih jauh hanya sekedar bermesraan saja.
setelah bertemu dan meihat viena, tomy tidak ingin menyakiti viena sungguh itu murni dari ketulusan hati tomy.
Tomy juga merasa bingung baru kali ini ia ingin menjaga perempuan setelah kelurganya, apalagi ini pada gadis cantik menarik tiba tiba tomy tidak tertarik untuk menarik viena dalam kesesatan dirinya melainkan ia akan menjaga viena.
__ADS_1
berbeda dengan arland dan benny, mereka berdua tidak sepemilih Tomy. jadi mau jelek atau cantik bagi arland dan benny semua sama asal mereka lagi mau-maunya dan yang menjadi target bisa mengangkat gelora mereka.
membayangkannya saja arland dan benny bagaikan pria bajingan yang ingin segera menyicipi tubuh viena.
Maka mereka memang geng yang bejat, bajingan dan perusak gadis -gadis muda.
Tapi sebenarnya tomy tidak sebejad dan sebajingan arland dan benny.
karena selama ini tomy hanya tergoda dengan satu cewek, dan ia perusak sendiri itu karena hasil kebejatan yang ia sendiri tidak sadar, kenapa waktu itu ia sampai merusak gadis yang sangat ia cintai.
berteman dengan arland dan tomy membuat tomy selulu dikenal sebagai pria bajingan, hal itu tidak tomy bantah.
malah ia masih suka melirik pada gadis yang cantik-cantik saja tapi ia hanya bercumbu mesra tanpa melakukan yang lebih seperti yang dilakukan arland dan benny.
tapi hal itu ia sembunyikan dari arland dan benny, jadi tidak heran jika temannya itu menaggap tomy juga suka merusak gadis gadis cantik dan menggoda seperti viena yang sudah menjadi target kedua temanya itu.
Gelora hasrat tomy memang tinggi dan pilih-pilih sehingga hanya ada satu dan dua didunia yaitu cinta masa lalu dan gadis entah dari mna nantinya.
viena orang yang sudah membangun gelora setiap lelaki yang melihatnya, tubuh viena sangat bagus, wajah cantik dan kulit putih bersih.
cukup sekali tomy melakukan kesalahan yang ia sembunyikan, biar kata orang desa terpencil itu jika tomy telah banyak merusak gadis-gadis yang pada kenyataan tomy tidak melakukannya selain pada cinta pertamanya sendiri, malah arlandlah dan bennylah pelaku selama ini..
Tomy merasa sudah tidak perlu lagi membenarkan atau mempermasalahkan apa yang ia lakukan, mungkin itu balasan dan julukan yang cocok saat dimana ia sudah menghancurkan gadis masa lalunya.
bodohnya arland dan benny juga tidak tahu selama ini tomy tidak tertarik pada gadis yang selalu dekat dengan tomy itu sendiri.
tomy memang pemilih dan susah untuk menyukai orang lain sehingga orang ingin ia jaga hanyalah viena seorang sekarang.
viena mampu membuat tomy ingin menjaganya hanya dengan perkenalan singkat tanpa berbuat apa-apa.
"tomy, bawalah gadis itu bermain kesini" pinta benny mulai aneh aneh pikirannya.
Dan cara mudah membawa gadis yang diinginkan itu dengan ketampanam tomy amarsyan.
Tomy amarsyan memang ketampannnya kelewatan bahkan kulitnya putih bersih bagai orang bule blasteran padahal itu tidak ada.
keluarganya tomy semuanya berasal dari desa terpencil itu, tapi takdir yang tomy miliki dari wajah tampan ala bule bule blasteran itulah yang menjdikan tomy hidup seperti apa adanya yang ia ada termasuk julukan itu ia terima apa adanya.
"aku tidak bisa" sahut tomy rendah tapi aura kedinginan nya terpancarkan.
"oke, aku akan membawanya sendiri" ucap benny memang tidak suka menunda terlalu lama, apa yang sudah menjadi target maka akan menkadi target.
"jangan sekali-kali menyentuhnya, maka aku tidak akan segan menyakitimu" ketus tomy benar benar tidak terima jika viena disentuh siapapun bahkan temannya sendiri.
rasa ingin menjaga viena sepertinya sudah melekat dihatinya dan akan terjadi untuk selamanya.
"kau sudah gila, tom. semenjak kapan kau menjadi penjaga gadis-gadis. apalagi kau baru kenal. atau kau ingin menikmatinya sendiri" protes arland membantu benny memenangkan keinginannya yang sama dirasakan benny. dan malah menuduh tomy bermain curang.
"aku pulang dulu" ucap tomy meninggalkn arland dan benny, ia malas berdebat pada kedua temannya itu, bukan karna tomy takut tapi ia tidak ingin pertemanan merka hancur.
Tomy tidak ingin berdebat lama dengan kedua temannya meski bejad dan bajingan tetap teman selamanya.
tomy juga bingung dengan sendirinya sendiri, akankah pertemanan mereka akan hancur demi mempertahankan kehormatan gadis yang baru ia temui.
Dalam hati tomy bingung temannya itu selalu mencapai apa yang mereka inginkan jika sudah bersangkut gelora.
disisi lain tomy tidak rela jika viena harus menajdi target mereka atau orang lain.
Entah kenapa tomy merasa viena merasa melihat tomy sebagai dirinya sendiri.
__ADS_1
Tentu siapapun akan menyayangi dirinya sendiri begitulah perasaan tomy pada viena ia akan menjaga viena seperti ia menjaga dirinya sendiri bahkan lebih.