
Akhirnya segala kesedihan yang dirasakan viena ditupahkannya pada bibi ina.
Cukup lama keduanya berpelukan.
"terima kasih bi, sudah memberi tempat bersandar" ucap viena sembari menundukkan wajahnya karena malu, matanya sudah sembab diakibatkan terlalu lama menangis.
"tidak apa-apa nyonya, saya merasa senang jika itu bisa memberi ketenangan bagi, nyonya fana" ujar bi ina tulus dari hati yang paling dalam.
"andai semua orang setulus bibi, betapa indahnya dunia" ujar viena dengan kekekhan kecil
"ah nyonya, bisa aja" sahut bi ina jadi ikut terkekeh.
Meski dalam keadaan sedihan majikannya itu tetap kuat
"ooh ya bi, tolong untuk hendel dulu tentang waktu makan tuan" pinta viena kepada bi ina.
"siap nyonya" sahut bi ina antusias
"tapi jangan ada yang tahu jika aku hamil, bi"
"tapi nyo...."
"enggak usah tapi-tapi bi" potong viena "aku mohon ya bi" sambung viena dengan penuh permohonan lalu mau tidak mau bi ina menganggukkan kepalanya.
"bagai mana kalau tuan garel bertanya?"
"dia tidak akan tahu kalau bibi enggak kasih tahu, kalau alasan aku enggak nganterin makannya kekamar, bibi cukup bilang aja lagi masuk angin. Itu aja kalau dia bertanya" jelas viena.
"nyony, dulu saya kira nyonya seperti majikan yang ada difilm jahat" ujar bi ina mengutarakan apa yang dipikirkannya
Viena terkekeh mendengar pernyataan bibi ina
L"apa karna saya enggak banyak ngomong?" tanya viena.
Bi ina hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya merasa telah salah bicara yang mungkin menyinggung nyonyanya.
"saya aja enggak tahu bi, dulu saya tidak suka kalau banyak bicara, tapi selama ngerawat tuan koma, jadi sering ngomong sendiri, panjang lagi" ujar viena lalu terkekeh mentertawakan dirinya sendiri.
"iya sudah bi saya mau istirahat, jangan lupa utamakan waktu makan tuan, 3 jam sekali" ucap viena mengingatkan bi ina
"baik nyonya, kalau begitu saya tinggal dulu. Selamat beristirahat" ucap bi ina sebelum meninggalkan kamar Viena.
"baiklah bi, terima kasih"
Tak menyangka didalam perutnya sudah tumbuh kehidupan baru.
Apakah kedatangan kehidupan baru didalam perutnya merupakan segala jalan dari semua penderitaan untuk menuju kebahagiaan atau malah membuat viena semakin tersiksa.
karena lelahnya hilang bersama tangisannya viena berjalan kearah balkon kamarnya.
Duduk menatap keindahan awan yang indah ciptaan tuhan.
......******......
Beberapa hari ini viena tidak memasak dan mengatar makanan garel.
Selama itu pula viena banyak menyendiri dikamarnya dan selama itu pula bibi ina berbohong pada garel yang ternyata bertanya kenapa viena tidak pernah kelihatan.
"bi, apa dia benar masuk angin?" tanya garel kepada bibi ina, garel merasa sedikit berbeda hari-harinya mana kala beberapa hari ini tidak melihat viena mengantarkan makanannya seperti biasa.
"iya tuan, nyonya Fana sedang masuk angin" ucap bi ina selalu berbohong, sesuai permintaan nyonyanya.
"apa dokter sudah memeriksanya?" tanya garel tapi yang diajak bicara malah tersenyum.
"bi apa dokter sudah memeriksanya? "ulang garel
"sudah tuan, katanya nyonya Fana hanya masuk angin biasa dan perlu istirahat yang cukup" ujar bi ina.
__ADS_1
"apa tuan mengkhawatirkan nyonya? nyonya sedang tertidur dikamarnya mungkin tuan ingin melihatnya sendiri" pancing bibi ina, karena selama beberapa hari ini viena tidak muncul sama sekali kehadapan garel, membuat garel terus bertanya kepada bibi ina. dalam hati bi ina merasa bersyukur setidaknya tuannya menayakan keadaan nyonya Fana.
Apalagi sekarang keadan garel sudah jauh membaik dari sebelumnya, maka tidak dipermasalahkan lagi jika garel turun naik tangga, untuk melihat keadaan Nyonyanya di lantai atas.
"keluarlah" ucap garel tidak menggubris penuturan bibi ina.
"baik tuan, jangan lupa dimakan" lalu bi ina keluar dari kamar setelah berucap
Didapur bi ina membatin "apa tuan sudah mulai merasa kehilangan? semoga aja apa yang saya pikir benar adanya"
Seorang melangkah menaiki anak tangga menuju kamar atas dengan gelagat seperti orang yang ingin mencuri harta karun.
Bi ina yang tidak sengaja melihatnya hanya tersenyum dan berdo'a jika hati tuannya dibuka untuk melihat betapa tulusnya Viena terhadap Garel.
Orang yang sedang diperhatikan ialah garel, tapi ia tidak menyadari jika tindakanya dilihat oleh bibi ina.
perlahan ia membuka kamar viena, memang ada benarnya yang diktakan bibi ina jika viena sedang terlelap dalam tidur.
perlahan garel melangkah masuk kekamar itu agar tidak membangunkan pemilik kamar.
viena memang tertidur nyenyak jadi ia tidak menydari kedatangan Garel,
Semenjak kehamilan viena suka tidur kebo alias banyak tidur.
garel reflek menyentuh kening viena untuk memeriksa apakah demam atau tidak tapi nyatanya kening viena tidak panas sama sekali.
Ia mengkerutkan keningnya, setelah memeriksa suhu tubuh Viena dengan telapak tangannya.
Ditatap lekat wajah viena, seuntai senyum terlihat dibibir garel yang menghiasi wajahnya. mata garel juga melihat kesekeliling kamar dipenuhi bunga hiasan yang indah-indah.
"Cantik, seperti orangnya" ucap garel
Tapi garel cepat menepis perasaan bahagianya itu lalu seketika wajahnya berubah datar.
Garel melangkah keatah bunga bunga, lebih tertarik dengan setangaki bunga mawar putih yang asli didalam vas bunga kecil.
"apa kabar gadis kecil itu? aku jadi teringat dia, apakah dia selalu menulis surat-surat" ujar garel pelan namun dalam penyampaian kalimat itu terdengar jika garel merasa bersalah.
garel melirik lagi kearah pemilik kamar sebelum ia benar-benar keluar dari kamar itu sebelum ia ketahuan memasuki kamar itu.
sepeninggalan garel mata yang tadi pejam membuka perlahan, isi kepala viena dipenuhi pertanyaan yang membuat dirinya penasaran.
ya viena sudah sendiri tadi bangun, namun saat mendengarkan pintunya hendak dibuka viena memilih memejamkan matanya kembali pura-pura tidur.
karna bi ina tidak pernah langsung membuka pintu dengan lebar, bi ina selalu membuka pintu dengan kecil lalu mengetuk pintu agar terdengar jika bi ina akan memasuki kamar atau lebih tepatnya bi ina hanya akan memanggil nyonyanya sebelum diizinka masuk.
maka sudah dipastikan viena mendengarkan gumaman kecil garel.
"gadis kecil? surat-surat? apa dia Gebriel kecil yang aku tunggu-runggu" kepala viena sungguh penuh dengan ucapan garel barusan.
"tidak mungkin, gebriel kakak yang baik. mereka hanya memiliki nama yang sama saja" gumam viena masih ingat nama pria kecil itu adalah gebriel sementara nama di tengah tenga suaminya juga Gebriel.
"apakah aku harus tanya kakek?" tanya viena pada dirinya namun hatinya menolak untuk itu, tidak mungkin tidak mungkin. ya itulah tepatnya dalam hati viena untuk menerima suaminya adalah gebriel kecil.
setelah bertentangan dengan pikirannya sendiri keluar dari kamarnya, karena perutnya terasa lapar mungkin bawa kehamilan jadi rasa laparpun tidak menentu kapan ia mau.
Tap tap tap
surara langkah viena menuruni anak tangga, ya ini mungkin hari dimana viena keluar kamar setelah berita kehamilannya. ia sengaja berdiam diri dklamar dan jika lapar ia hanya mengubungi nomor bi ina untuk mengantar apa yang ia mau, tapi untung viena tidak mengidam yang aneh-aneh bahkan kondisi viena baik-baik saja. jadi bisa dipastikan bi ina juga tidak akan kerepotan.
seiring langkah kaki viena sepasang mata melihat viena lekat dari arah soffa ruang tamu sekan tidak ingin berpaling dari Viena.
Viena tidak menghiraukan itu karena tanpa dihiraukan saja sudah membuat viena malas sendiri apalagi si plakor datang tidak diundang.
bahkan pengawal rumah saja tidak berguna untuk mencegah makhluk tersayang suaminya itu.
"Sayang. kok kamu disini, enggak lelah?" tanya anasya lalu duduk berdampingan dengan garel.
__ADS_1
kalau dibilang mata viena sudah kotor melihat sepasang kekasih itu tidak tahu malu mungkin sudah banyak sampah dimana viena.
"kamu disini? " tanya balik garel saat melihat anasya tiba tiba datang lalu berdampingan dengannya.
"iya, kan kamu sakit. jadi aku harus selalu nemenin kamu" ucap anasya manja yang sengaja dibuat-buat.
Bi ina yang mendengarnya rasa pengen muntah, siapa saja yang denger itu hanya ngedumal saja, toh anasya datang kesini bukannya bener bener mau nemenin garel tapi ada maunya.
Tapi kayaknya hati garel sudah dibutakan sama rayuan maut anasya sehingga tidak ada celah kebaikan viena masuk dalam pikiran garel.
"diminum bi" tutur viena yang melihat gaya bi ina seakan mau muntah dengan menyodorkan segelas air putih yang ia tuang
"makasih, nyonya Fana baik deh" ucap bi ina
"emmmz"
"nyonya, ini cemilanya" bi ina pun beralih kecemilan untuk nyonya.
"terima kasih" ucap viena.
awlanya viena pengen kekamar dan makan cemilan dikamarnya, tapi tiba tiba viena beralih kedua insan disoffa, pengin rasanya viena mengganggu, diluar esfektasi viena, bawaannya suka berubah tak penentu.
"apa ini kemauan mu?" tanya viena sembari mengelus perut yang masih rata itu.
Dengan sepiring camilan ditangani dan segelas air minum, viena mendekat kerah sofia dan duduk disoffa yang berhadapan dengan garel dan anasya.
viena mengambil alih remot TV yang berada digenggam Garel tanpa berucap sama sekali tapi sedikit kasar jika diperhatikan.
Garel dan anasya saling bertukaran pandang, apa yang baru mereka saksikan hal yang baru dari viena Andriana Saffana.
viena yang biasanya langsung menjauh jika melihat garel dan anasya bermesraan tapi kali ini berbeda, malah viena sendiri yang menghampiri mereka.
viena mencari film kesukaannya yang tak lain film china, volume TV sengaja viena besarkan sampai anasya merasa risih karena ia ingin bicara dengan garel tapi percuma saja viena semakin membesarkan volume TV seiringan anasya ingin bicara.
"Hai cewek planet!!!" triak anasya kearah viena, viena tidak menggubriskan teriakan anasya, veina memfokuskan melihat film kesukaannya itu sedangkan tangannya tidak henti memasukkan cemilan kedalam mulutnya.
Garel memperhatikan viena dengan tatapan heran, tidak biasanya viena banyak makan dan bertingkah tidak biasa.
"sayang, lihatlah istri mu itu, enggak tahu malu" ucap anasya geram mengadu ke garel
Brraak
viena mengangkat gelas yang berisi air putih itu lalu meletakkan kembai kata meja dengan hentikan keras, garel yang tadinya ingin menurut perkataan anasya jadi diam.
"anasya, kau tahu sendiri yang tidak tahu malu disini aku atau kamu?" viena angkat bicara dengan nada tinggi dan tersirat kalimat terakhirnya ada sebuah penekanan.
"ini rumahku, jadi wajar saja mau ngapain dirubah sendiri, tapi kau benalu dirubah ini" sambung viena dengan kata kata kasar yang ia tuturkan dengan tatapan tajam keviena.
"FANAAaa!!!" bentak garel tidak terima jika kekasihnya dihina oleh viena, senyum diwajah anasya girang karena garel dipihaknya.
"hahahhah... hahahhaha, demi dia kau membentakku, istrimu" tawa viena memenuhi ruang tamu itu lalu berucap menunjuk kearah anasya.
"ini rumah ku juga, jadi aku berhak atas rumah ini, jadi sudah pasti aku tidak sudi rumah ini diinjak sama orang yang amat menjijikan" kali ini viena menekan kalimatnya serangan ejekan tertuju pada anasya.
"kau...." ucap anasya terhenti mana kala tangan garel melayang kearah wajah viena.
plakk
wajah viena langsung terpaling dan piring camilan yang viena pegang jatuh kelantai karena tamparan yang diberikan garel amat keras.
"Tampar lagi, sampai puas. dan aku akan janjikan penyesalan setelah tamparan kedua itu" ucap viena sudah melebihi batas emosinya.
emosi ya emosi yang juga dirasakan viena, itu melebihi emosi viena pada hari biasanya.
garel mematung melihat sorot mata viena yang paling dalam jauh disana ada luka yang viena pendam sendiri, tapi raut wajah viena tidak ada kesedihan sama sekali melainkan raut wajah yang dipenuhi amarah.
viena pergi meninggalkan garel dan anasya dengan kondisi piring tergeletak diatasi lantai dan camilan yang berhamburan.
__ADS_1