
Dikamar Richard terlihat Steven yang masih sangat marah, Richard sudah berusaha membuat adiknya itu agar lebih tenang. Namun Steven memang sangat sulit untuk mengontrol emosinya. Richard menjadi serba salah saat ini. Para adik-adiknya saling beradu argumen dan Richard bingung harus membela siapa.
Tok....tok...tok
Suara ketukan pintu membuat kedua pria itu menatap kearah pintu secara bersamaan, wajah Christy terlihat disana. Gadis itu masuk lalu kembali menutup pintu kamar Richard. Dia menatap kedua pria dihadapannya itu cukup lama.
"kenapa kesini? mau ngomong sesuatu?"tanya Richard menatap Christy yang berdiri disampingnya.
"aku cuma mau lihat kalian, hmm bang Steven masih marah?"tanya Christy menatap Steven yang duduk diking size milik Richard.
"hanya sedikit princess"jawab Steven dan mengubah ekspresi marahnya menjadi senyuman indahnya itu.
"abang gak berniat untuk sakitin ayah kan?"tanya Christy yang langsung pada intinya.
"sini duduk disamping abang"kata Steven menepuk king size disampingnya, lalu Christy langsung duduk.
"abang memang benci sama dia, tapi abang gak akan nyakitin siapapun"kata Steven sambil tersenyum menatap Christy.
"lalu untuk apa abang kembali? apa ada urusan lain?'tanya Christy penasaran.
"abang kembali untuk kamu"jawab Steven menatap Christy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"princess, abang antar ke kamar. Ini sudah malam kamu harus tidur. Kamu juga Steven"kata Richard menggenggam tangan Christy lalu membawanya keluar dari kamar.
Richard berjalan dengan tempo yang lumayan lambat, tangan christy yang digenggamnya dia masukan kedalam saku celananya. Christy terus menatap wajah Richard yang sulit di artikan. Namun ada satu yang Christy bisa tangkap dari tatapan Richad. Tatapan pria tampan itu terlihat sangat redup, menandakan dia sedang sedih.
Sesekali Christy mendengar Richard yang menghela nafasnya gusar, Christy merasa Richard sedang banyak fikiran saat ini. Richard seperti orang yang menyimpan banyak masalah di hidupnya. Christy berhenti sejenak membuat Richard ikut berhenti dan menatapnya.
"abang gak apa-apa?"tanya Christy menatap wajah leus Richard.
"memangnya abang kenapa?"tanya Richard membuat Christy menatapnya.
"abang selalu mau tahu semua yang aku alami, tapi kenapa abang terlalu tertutup sama aku?"tanya Christy membuat Richard tersenyum tipis sambil mengacak gemas rambut Christy.
"semua itu karena abang masih bisa menyelesaikannya sendiri"jawab Richard dengan nada santainya.
"abang terlalu tertutup. Bahkan soal bang Steven, aku baru tahu kalau dia anak ayah. Selama ini yang aku tahu bang Steven itu sahabatnya bang Richard. Ternyata dia adiknya abang"kata Christy.
"abang punya alasan kenapa abang gak jujur soal Syeven, sekarang kamu sudah tahu. Jadi gak ada lagi yang abang tutupi dari kamu"kata Richard memeluk Christy.
"abang yakin baik-baik ajah, setelah yang terjadi tadi?"tanya Christy yang dipeluk oleh Richard. Pria itu tersenyum dan perlahan mengelus rambut Vhristy dan berbisik di telinganya.
"abang tidak sepenuhnya baik-baik saja, hati abang juga bisa rapuh princess"bisik Richard dengan suara seraknya membuat Christy merasa sedih. Christy mengeratkan pelukannya sambil mengelus punggung Richard.
"kenapa abang bisa sekuat ini? Sebenarnya terbuat dari apa hati abang?"tanya Christy yang merasa kalau Richard terlalu kuat melewati semua ini. Christy bahkan merasa sangat sedih mendengar semua masa lalu Raymond, yang statusnya hanya sebagai ayah sambung. Christy tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Richard selama ini.
"abang tidak sekuat itu princess, ada saatnya dimana abang akan menyerah dengan semua ini"kata Richard lagi dan lagi berbisik pada Christy.
Dari ujung ruangan terlihat Raja yang mendengar pembicaraan Richard dan Christy. Hatinya terasa hancur mendengar perkataan Richard, ia tidak menyangkan kalau Richard memendam rasa sakit ini bertahun-tahun.
"sekarang aku tahu kenapa abang gak pernah mau ada dirumah, ternyata karena ulah ayah. Kenapa abang tidak pernah bilang soal ini? Kenapa hanya abang yang ngerasain kecewa kayak gini? terkadang aku pengen banget nanya ke abang, apa abang sayang sama keluarga ini? tapi berbicara pada abangpun sangat jarang, kita bersaudara. tapi kenapa? kenapa kita seolah seperti orang asing"batin Raja sendu.
"abang sayang sama keluarga ini, terutama kalian adik-adik abang. Tapi cara abang menunjukan kasih sayang berbeda dengann cara orang lain. Abang tidak bisa berbuat lebih selain menjaga kalian dari semua bahaya yang terjadi. Hanya itu yang abang bisa, maaf tidak bisa menjadi abang yang baik untuk kalian semua"batin Richard sendu.
//skip//
Semua orang sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi, suasana mansion masih tidak baik. Sejak pagi tidak ada yang berbicara sedikitpun. Kejadian semalam membuat semua orang merasa sangat terkejut. Para sahabat Christy dan Raja pun memberikan keluarga Raymond waktu untuk menyelesaikan semuanya.
Steven? dia masih ada dimansion Raymond. Richard yang menyuruhnta untuk tetap tinggal bersama keluarganya. Kehadiran Steven memang belum sepenuhnya diterima disana, namun Richard tetap tidak mau jika Steven tinggal ditempat lain.
"princess hari ini mau temenin abang ke mall gak? abang mau beli baju, soalnya abang gak bawa baju banyak"kata Steven menatap Christy yang duduk disampingnya.
"hmm jam berapa bang?"tanya Christy.
"setelah makan siang. Kamu bisa?"tanya steven sambil tersenyum.
"bisa kok. Tapi aku kerumah sakit dulu. Soalnya aku ada janji makan siang bareng Michel"kata Christy sambil tersenyum.
"kalau sudah makan siang, langsung telfon abang biar abang jemput di rumah sakit"kata Steven mengacak gemas rambut Christy.
"sebaiknya kamu tinggal ditempat lain jangan disini"kata Raymond menatap Steven, perkataannya itu justru membuat Dichard tidak suka dan menjadi marah.
"tidak ada yang bisa mengusir Steven dari sini. Termaksud anda!"ucap Richard yang berusaha untuk menahan amarahnya karena takut Christy sedih lagi.
"kenapa kamu sangat keras kepala Richard, dia tidak bisa tinggal bersama kita disini!"kata Raymond menatap tajam kearah Richard.
"kenapa tidak bisa? Apa alasannya? Steven juga anak anda kan?"tanya Richard dengan nada yang terdengar sinis.
"kenapa kamu tidak bisa mengerti posisi ayah? dirumah ini ada Raka dan Raja adik kamu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan mereka jika tinggal bersama dengan anak itu"kata Raymond menunjuk Steven.
"lalu bagaimana dengan perasaanku? apa ayah tidak perduli dengan perasaanku?"tanya Steven dengan tatapan kosongnya, Christy merasa sedih melihat Steven yang terlihat sangat rapuh.
"bang, aku sarapan dimarkas saja. Sampai ketemu di markas"kata Steven lalu berdiri dan memakai jaket KC miliknya dan keluar dari mansion.
__ADS_1
Richard menatapĀ sendu punggung adiknya itu, lalu kembali menatap Raymond dengan tatapan tajamnya. Semua orang hanya diam menyaksikan perdebatan yang terjadi barusan. Raja hanya bisa menghela nafasnya gusar, melihat keluarganya yang sangat hancur.
"aku ke kantor duluan, makasih sarapannya mommy"kata Raja mencium pipi Megan, lalu memakai jasnya dan keluar dari mansion.
"bang tunggu"ucap Christy berdiri lalu menyusul Raja yang berhenti di depan pintu.
"kenapa Chris?"tanya Raja dengan nada lembutnya sambil menatap Christy dan tersenyum.
"kemarin aku baru beli HP, tulis nomor abang yah"kata Christy memberikan hp pada Raja, dengan lincah jarinya mengetik nomornya lalu menyimpannya.
"abang yakin udah mau kekantor? Abang baru sarapan sedikit loh"kata Christy menatap Raja yang tinggi menjulang dihadapannya itu.
"abang bisa lanjut dikantor"jawab Raja sambil terenyum.
"maafin abang yah, seharusnya mansion ini buat kamu lebih nyaman. Tapi terlalu banyak problem akhir-akhir ini"kata Raja sambil mengelus rambut Christy.
"abang gak perlu minta maaf"kata Christy sambil tersenyum.
"hmm abang ke kantor dulu. Setelah sarapan lebih baik kamu ajak bang Raka ngobrol berdua. Dia pasti masih takut untuk ngomong duluan ke kamu"kata Raja mengecup singkat kening Christy, lalu keluar dari mansion.
Christy hanya tersenyum mendengar perkataan Raja, jika difikir-fikir lagi Raka memang belum berbicara pada Christy sejak gadis itu kembali ke mansion. Christy memaklumi itu karena ia tahu pasti Raka merasa tidak enak jika memulai pembicaran duluan.
Christy langsung kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapan bersama yang lain. Sesekali christy menatap Raka yang fokus pada sarapannya. Christy sangat rindu dengan Raka yang selalu perduli padanya, Christy sudah sangat lama tidak berbicara berdua dengan Raka.
//skip//
Ditaman belakang terlihat Raka yang sedang duduk santai sambil memainkan hp nya, Christy perlahan mendekat lalu duduk dibangku taman bersama dengan raka. Raka sedikit terkejut saat melihat ada Christy di sampingnya, dia merasa sangat canggung.
"nih buat bang Raka"kata christy memberikan minuman kaleng untuk raka, dia langsung mengambilnya sambil tersenyum tipis.
"makasih"kata Raka yang terdengar sangat canggung.
"bang raka gak nyaman kalau ada aku yah? apa aku kedalam ajah?"tanya Christy membuat Raka terbatuk saat sedang minum, lalu menggeleng yang berarti tidak.
"bukan gitu Chris"kata Raka menatap Christy dengan wajah yang sulit untuk diartikan.
"terus kenapa? sejak aku balik ke mansion, abang gak pernah ngomong sama aku. Nyapa ajah enggak"kata Christy dan lagi-lagi membuat Raka menggeleng.
"abang hanya bingung harus mulai pembicaraan dari mana sama kamu, dan juga abang rasa kamu marah sama abang"kata Raka tersenyum tipis dengan raut wajah sendu.
"aku memang kecewa sama abang, tapi bukan berarti aku ngejauhin abang"kata Christy dengan nada lembutnya.
Christy dan Raka kembali terdiam, mereka berdua bingung harus berkata apa lagi. Suasana terlalu canggung untuk keduanya, Raka pun merasa seraba salah sekarang. Raka terlalu malu untuk menatap mata Christy, perbuatannya 3 tahun lalu sudah merubah semuanya.
"abang minta maaf atas semua yang terjadi dulu, abang sudah mengingkari janji. Seharusnya abang tidak menyakiti kamu, abang gagal menepati janji"kata Raka menunduk sendu dan berusaha agar air matanya tidak terjatuh.
"sekarang abang tahukan kenapa aku tidak suka jika ada orang yang selalu menggunakan kata janji? Itu semua karena aku takut terluka, aku takut berharap dengan janji yang sudah diucapkan. Bahkan Aya mengingkari janjinya, dan setelah dia abangpun begitu."kata Christy menatap sendu wajah Raka sosok abang yang sangat dia sayangi.
"seharusnya dulu kamu biarkan saja Alex membunuh abang, kamu tidak perlu datang kesana untuk menyelamatkan abang."kata Raka dengan nada yang terdengar sangat sedih.
"kalau abang mati bagaimana denganku? bagaimana dengan keluarga ini? semua orang akan sangat kehilangan"kata Christy.
"lalu kalau waktu itu kamu yang mati karena menyelamatkan abang bagaimana? apa kamu tidak berfikir? semua orang sangat menyayangi kamu, sekalipun abang mati tidak akan ada yang perduli"kata Raka.
"aku perduli, sangat perduli!"kata Christy dengan penuh penekanan.
"tapi kenapa? bahkan abang bukan saudara kandung kamu Chris. Kamu gak seharusnya berkorban nyawa demi abang"kata Raka menatap sendu wajah Christy.
"aku seperti itu karena abang sudah aku anggap saudara kandung aku, selama ini bang Raka yang sangat perduli sama aku. Bang Raka yang selalu ada buat aku"kata Christy menghapus kasar air matanya.
"jangan menangis karena abang lagi, abang gak pantas kamu tangisin Chris. Abang udah buat kamu kecewa"kata Raka menunduk sendu sambil menggenggam erat tangan Christy.
"aku memang kecewa sama bang Raka. Tapi rasa sayang aku ke abang lebih besar dari pada rasa kecewa bang"kata Christy mengelus lembut pipi Raka.
"maaf gak bisa nepatin janji untuk jadi pria kedua setelah ayah yang gak akan biarin kamu terluka. Abang gagal"kata Raka lalu memeluk Christy dan mengusap kepala Christy.
"semua itu hanya masa lalu. Sekarang kita bisa membuka lembaran baru, kita bisa membuat kebahagiaan baru lagi bersama yang lain"kata Christy memeluk erat tubuh Raka.
"pasti princes, kita akan memulainya dari awal. Hanya ada kebahagiaan kali ini"kata Raka sambil tersenyum.
"i miss you princess naughty"kata Raka mengacak gemas rambut christy membuat Christy tersenyum.
"tuhan aku janji akan menjaga Chris sebaik mungkin,aku akan membalas semua hal yang sudah dia perbuat untukku. Terimakasih telah mengembalikan malaikatku"batin Raka bahagia
//skip//
Christy baru saja sampai di RD hospital, hari in Cjristy akan makan siang bersama dengan Michel. Terlihat Michel yang menunggu Christy di lobby rumah sakit, Michel berlari kecil kearah Christy lalu memeluknya dan mengecup singkat keningnya.
"udah lama nunggunya?"tanya Christy mengelus lengan Michel.
"enggak kok, yuk udah waktunya makan siang"kata Michel lalu memegang tangan Christy dan membawanya menuju keruangannya.
Christy langsung mengeluarkan kotak makan yang disiapkannya sebelum kerumah sakit, Michel sudah tidak sabar merasa masakan yang Christy buat sendiri. Michel dengan manjanya menyuruh Vhristy menyuapinya membuat gadis itu terkekeh lalu mengabulkan permintaan kekasihnya.
__ADS_1
"habis makan siang kamu ada kerjaan lagi?"tanya Christy sambil menyendokan makanan ke dalam mulut Michel.
"cuma keliling ajah ngecek pasien"jawab Michel lalu meminum air dingin agar menyegarkan tenggorokannya.
"habis makan siang, aku antar kamu pulang dulu baru aku balik lagi kerumah sakit"kata Michel membuat christy menggeleng.
"gak usah Cel. Aku di jemput sama bang Steven dia ngajakin aku kemall"kata Christy membuat Michel sedikit tidak suka mendengar nama Steven.
"ngapain sih ke mall bareng dia?"tanya Michel dengan nada judesnya membuat Christy menggeleng melihat Michel yang sangat cemburuan itu.
"bang Steven mau beli baju, Cel. Aku cuma nemenin doang. Boleh yah?"tanya Christy meminta izin terlebih dahulu pada Michel.
"yaudah boleh. Tapi kalau ada apa-apa langsung telfon aku"kata Michel dengan wajah seriusnya itu.
"iya sayang"kata Christy mencubit pipi Michel, membuatnya merasa sangat senang karena untuk pertama kalinya Cristy menggunakan kata sayang padanya.
"ulang sekali lagi dong yang kamu bilang tadi"kata Michel mendekatkan wajahnya pada Christy membuat gadis itu menarik gemas hidungnya.
"emang aku bilang apa tadi?"tanya Christy berpura-pura lupa membuat Michel menjadi kesal.
"gak usah marah-marah mulu, nih makan lagi"kata Christy kembali menyuapi Michel.
Christy terus menyuapi Michel hingga makanannya habis, pria itu terlihat sangat suka dengan masakan Christy membuat gadis itu merasa senang. Setelah makan, Michel menyandarkan kepalanya disofa dan memijat pelipis kepalanya.
Christy langsung membantu Michel untuk memijat pelipisnya, Michel tersenyum tipis lalu menutup sebentar kedua matanya. Christy merasa sepertinya Michel sedang kelelahan. Menjadi dokter adalah hal yang sangat sulit, dokter harus siap siga jika ada pasien darurat terlebih lagi jika harus dioperasi.
Christy berhenti sejenak memijat pelipis Michel, membuat Michel membuka matanya karena merasa Christy yang berhenti memijatnya. Christy berjalan mendekat kearah meja kerja Michel. Michel terkejut saat Christy memegang puntung rokok bekas miliknya.
"kamu masih ngerokok?"tanya Christy dengan nada yang terdengar sangat marah.
"aku mohon jangan marah okey, tadi aku capek habis operasi jadi ngerokok bentaran kok CHris"kata michel berdiri di dekat Christy dan menatap Christy dengan wajah bersalahnya.
"aku udah pernah bilang Michel, aku gak suka kalau kamu ngerokok! Kamu malah ngerokok kalau aku gak ada"kata Christy membuang puntung rokok itu di tempat sampah.
"okey aku ngaku salah, please jangan marah"kata Michel menggenggam tangan Christy.
"ini terakhir kalinya aku ngelihat ada rokok di ruangan kamu! Malau sampai kamu ketahuan ngerokok lagi, aku gak mau ngomong sama kamu!"kata Christy membuat Michel mengalah.
"iya aku gak ngerokok lagi"kata Michel mengelus pipi Christy lembut.
Christy langsung beralih dari Michel dan memakai tas kecil miliknya, Michel mendekat lalu menahan gadis itu dan menatapnya.
"kamu mau kemana?"tanya Michel menatap Christy.
"udah selesai waktu makan siang, pasti bang Steven udah nunggu dibawah"kata Christy membuat Michel menghela nafasnya gusar.
"kamu gak ngerasa aneh sama dia apa?"tanya Michel membuat christy menatapnya bingung.
"maksud kamu?"tanya Christy yang bingung dengan arah pembicaraan Michel saat ini.
"yah dia aneh, dia selalu merhatiin kamu. Dan tatapannya itu sama kayak tatapan aku ke kamu. Kamu pernah pacaran sama dia yah? atau pernah deket gitu?"tanya Michel.
"maksud kamu bang Steven suka sama aku? gak mungkin Cel. Aku sama bang Steven itu deket sama kayak aku deket ke bang Richard. Karena kepribadian mereka berdua hampir sama"kata Christy.
"chris aku ini cowok, jadi aku tahu gimana gerak-gerik cowok kalau suka sama cewek. Walaupun kamu anggap dia abang kamu, belum tentu dia kayak gitu. Mungkin ajah dia suka sama kamu tapi kamu gak tahu"kata Michel membuat Christy semakin bingung.
"gak mungkin Cel, lagian bang Steven itu abang aku. Jadi gak mungkin dia suka sama aku"kata Christy yang mashi.tidak percaya dengan apa yang Michel katakan.
"udah yah, aku mau kebawah dulu takut bang Syeven nunggu"kata Christy.
"yaudah aku antar"kata Michel .
"gak usah Cel, katanya kamu mau ngecek pasien"kata Christy menolak perkataan Michel.
"masih 10 menit lagi, aku gak mau kamu jalan sendirian. Dirumah sakit ini banyak dokter lajang, nanti mereka godain kamu. pa lagi kalau kamu ketemu sama dokter Renal"kata Michel mengingat betapa kerasnya usaha dokter Renal untuk mendekati kekasihnya itu.
"yaudah yuk"kata Christy menggandeng tangan Michel dan keluar dari ruangan itu.
Mereka berjalan berdampingan dengan Christy yang menggandeng tangan Michel. Semua perawat yang menjadi fans Michel seketika sakit hati melihat sang pujaan hati sudah memiliki kekasih. Dan juga banyak yang merasa iri dengan Christy yang memiliki wajah cantik dan juga body goals.
Saat sampai di lobby, mata Vhristy menangkap sosok Steven yang berdiri di dekat lobby. Christy memanggil Steven membuat pria itu berbalik lalu tersenyum pada Christy, membuat Michel merasa kesal.
"bisa kita pergi sekarang princess?"tanya Steven dengan nada yang terdengar sangat manis membuat Michel tidak suka.
"bisa bang"jawab Christy ramah.
"cel aku pergi dulu"kata Christy memeluk Michel dan dibalas pria itu, lalu Michel mengecup singkat kening Christy.
"kalau udah nyampe telfon aku yah"kata Michel mengelus rambut Christy, lalu gadis itu mengangguk mengiyakan perkataan Michel.
Steven langsung meraih tangan Christy dan membawanya pergi, Michel merasa tidak suka dengan prilaku Steven. Michel berusaha untuk tidak berfikir yang aneh-aneh karena Christy sudah menjelaskannya tadi. Steven hanya abangnya dan tidak lebih.
"gue gak mungkin salah, pasti dia suka sama Chris"kata Michel menatap punggung Steven yang perlahan menghilang bersama Christy.
__ADS_1