
Hari sudah malam, di RD hospital masih banyak wartawan. Para wartawan itu terus mencoba untuk mencari berita tentang kecelakaan yang menimpa orang terkaya nomor 2 itu.
Operasi ketiganya berjalan dengan lancar, Raka dan Raja sudah sadar sejak sejam lalu. Setidaknya Christy bisa bernafas sedikit lega. Namun keadaan Raymond belum membaik, setelah operasi dia belum juga siuman.
Semua keluarga dan sahabat sudah berkumpul di sana. Mendengar berita kecelakaan itu, membuat mereka semua terkejut dan khawatir.
Richard sangat sibuk mengurus semuanya. Dia harus bolak-balikĀ melihat keadaan para adiknya yang berbeda kamar. Dan sekarang, Richard berada dikamar yang Raka dan Raja tempati. Dia sengaja menempatkan kedua adiknya itu di kamar yang sama.
"abang istirahat dulu yah"kata Christy pada Richard yang ada di sebelahnya.
"abang pasti istirahat princess. Tidak usah khawatir okey"ucap Richard mengelus pipi adiknya itu.
"tapi muka abang pucet banget"kata Christy yang sangat khawatir dengan kondisi Richard saat ini.
"abang hanya mengantuk. Setelah tidur nanti, pasti abang kembali baik"kata Richard. Tersenyum pada Christy.
"Michel, bagaimana keadaan Raka dan Raja?"tanya Richard pada Michel yang juga ada di sana.
"sejauh ini mereka baik-baik saja. Cedera yang ada di kaki mereka, paling lama 3 hari pasti sembuh"jawab Michel membuat Richard mengangguk.
"hmm kalau dia? Apa baik-baik saja?"tanya Richard. Membuat Michel mengerti kalau dia yang Richard maksud adalah, Raymond ayahnya.
"bang, kita bicara di luar saja"kata Michel membuat richard mengangguk. Baru saja mereka hendak keluar, Christy langsung menahan keduanya.
"aku juga anak ayah. Aku mau dengar tentang kondisi ayah!"kata Christy dengan penuh penekanan.
"princess, biar abang bicara dengan Michel dulu"kata Richard membujuk adiknya itu.
"gak? Kalian bicara di sini. Biar kita semua dengar"kata Christy.
"bang, yang Chris bilang itu benar. Kita juga anak ayah, biarkan kita juga tahu kondisi ayah"kata Raja.
"baiklah"ucap Richard pasrah.
"bagaimana kondisi ayah?"tanya Raka menatap Michel.
"kondisi ayah saat ini, bisa di katakan Mati otak."kata Michel membuat mereka cukup terkejut.
"tapi ayah bisa sembuhkan Cel? Iya kan?"tanya Christy menatap sendu kekasihnya itu.
"pasien dengan gejala mati otak, sangat jarang bisa membuka mata lagi. Bernafas sekarang saja, itu karena ada alat yang membantu"kata Michel membuat mereka semua sangat sedih.
Para sahabat Michel dan Christy sangat terpukul. Raymond adalah sosok ayah yang baik untuk mereka semua. Mendengar kondisinya saat ini, membuat semua orang sangat terpukul.
"pasti masih ada harapan untuk dia sadar"kata Richard menatap Michel, berharap pria itu mendapatkan solusinya.
"itu semua kembali pada takdir bang"kata Michel menatap sendu pria dingin di hadapannya itu.
"ayah pasti sadar, Cel. Ayah udah janji sama aku, ayah akan berjalan bersama aku diatas altar pernikahan nanti. Ayah udah janji Cel hiks hiks"kata Christy terisak. Michel langsung memeluk Christy. Ia juga sangat sedih saat ini.
"kalau ayah sudah berjanji, pasti ayah akan menepatinya. Jangan menangis"ucap Michel memeluk erat tubuh Christy.
Richard berjalan perlahan keluar dari sana. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Mendengar kondisi Raymond, membuat hatinya terasa sakit. Sangat aneh, bahkan dia tidak dekat dengan ayahnya itu. Tapi kenapa dia sedih? Sangat aneh.
Richard terduduk di lantai, mengacak rambutnya frustasi. Dia sangat ingin berteriak saat ini, ingin melepas bebannya saat ini. Tapi sangat sulit baginya.
Vira yang hendak melihat keadaan Raka dan Raja, seketika berhenti sejenak melihat ada Richard yang terduduk di lantai. Vira langsung mendekat ke arahnya, dan membantu pria itu berdiri. Richard menatapnya, baru kali ini Vira melihat tatapan kosong milik kekasihnya itu. Benar-benar kosong, sangat hampa tatapan pria itu.
"kamu baik-baik ajah kan?"tanya Vira, menatap wajah Richard.
"boleh saya jujur?"tanya Richard menatap Vira. Gadis itu langsung mengangguk, Richard memeluk tubuh kekasihnya itu. Menempelkan dagunya, pada bahu milik Vira.
"kalau saya boleh jujur, saat ini saya tidak baik-baik saja."ucap Richard, membuat Vira sangat sedih. Richard berbicara dengan suara yang sangat terdengar sendu. Dia benar-benar tidak baik-baik saja saat ini.
Vira mengelus perlahan punggung pria itu, saat ini ia hanya perlu di sisi kekasihnya itu. Vira yakin, melewati hari ini akan membuat Richard sangat rapuh. Dalam sehari ayah dan kedua adiknya mengalami kecelakaan. Itu pasti sangat berat.
"kamu gak sendiri. Ada aku disini"kata Vira membuat Richard mengeratkan pelukannya.
"kamu pria terhebat yang aku kenal. Dalam kondisi seperti ini, kamu selalu terlihat kuat untuk semua orang. Sampai semua orang tidak menyadari kalau kamu juga terluka"kata Vira, menatap leher Richard yang terdapat bekas darah.
__ADS_1
Vira melepaskan pelukannya, lalu membawa Richard duduk di kursi yang ada di dekatnya. Ia mengeluarkan sebuah perban, betadin dan juga alhokol pembersih luka.
Sejak tadi ia mengingat Richard yang terluka akibat kecelakaan tadi pagi. Mengahantam trotoar membuat kepala dan beberapa badan Richard terluka. Dan benar saja, pria itu tidak mengobatinya sama sekali. Padahal dia berada di rumah sakit.
"jangan terlalu sering mengabaikan luka yang ada di tubuh kamu"kata Vira sambil membalut lengan Richard dengan perban.
Vira terus membersihkan dan membalut luka Richard dengan perban. Sungguh Vira sangat sedih saat melihat keadaan kekasihnya saat ini. Richard menatap wajah Vira, dia terkejut melihat Vira menangis. Ia langsung menahan tangan Vira yang sedang mengobati lukanya.
"kenapa kamu menangis?"tanya Richard menatap wajah gadis cantik itu.
"aku nangis karena kamu. Aku gak tahan lihat kamu kayak gini."ucap Vira menatap senduh wajah Richard.
"jangan menangis karena saya"kata Richard, menghapus air mata Vira. Dan menatap wajah gadis itu.
"sekarang kamu ada aku, apapun yang terjadi jangan lalui sendiri lagi. Aku ada untuk kamu, semua luka yang kamu alami, harus kamu bagi sama aku. Kita obati sama-sama"kata Vira mengelus pipi Richard, dan menatap wajah pria itu.
Richard mendekat lalu memeluk tubuh Vira. Ia memejamkan matanya, sambil mengelus rambut gadis itu. Saat membuka matanya, secara bersamaan air mata itu jatuh.
Pertahanannya hancur, air matanya jatuh begitu saja. Pria itu menangis, tidak kuat menghadapi semuanya. Vira mengelus punggung Richard perlahan. Hatinya terasa hancur saat merasakan air mata Richard yang membasahi pundaknya.
"kamu pasti kuat"ucap Vira mengelus kepala Richard.
"terimakasih Tuhan. Saat ini saya benar-benar membutuhkan seseorang, dan gadis ini adalah orang yang tepat"batin Richard.
Berbeda dari semua orang, saat ini Steven sedang duduk di depan ruang ICU. Tempat di mana Raymond berada sekarang. Dia merasa sangat sedih, melihat keadaan Raymond saat ini. Mengingat tubuh Raymond yang di penuhi darah, membuatnya sangat takut. Takut kehilangan sosok ayah.
Steven tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, sangat bingung harus berbuat apa lagi. Dia takut kehilangan ayahnya itu, walaupun Raymond tidak menganggapnya. Namun Steven sangat menyayangi sosok Raymond.
"Steven"panggil seorang dokter yang datang menghampirinya. Steven menatap dokter itu bingung.
"kamu lupa sama saya?"tanya dokter itu lalu duduk disamping Steven.
"saya dokter Rio"kata dokter itu membuat Steven mengangguk.
"maaf. Sudah lama tidak bertemu, saya lupa"ucap Steven tersenyum tipis pada dokter Rio.
"tidak usah minta maaf. Ini sudah kewajiban saya sebagai dokter"kata dokter Rio dengan sangat ramah.
"di mana abang kamu itu?"tanya dokter Rio.
"tadi dia pergi untuk melihat keadaan adik kembar saya"jawab Steven.
"pasti kalian sangat syok, dengan apa yang terjadi hari ini"kata dokter Rio prihatin.
"sampaikan terimakasih saya, pada adik anda. Operasi ayah saya berjalan lancar"kata Steven sambil tersenyum tipis.
"Renal yang mengoperasi ayah kamu?"tanya dokter Rio.
"iya dok"jawab Steven.
"saya harus ke UGD. Sebaiknya kamu jangan terlalu lama di sini. Kondisi kamu belum sepenuhnya membaik Steven"kata dokter Rio berdiri lalu menepuk pundak Steven.
"iya dok saya tahu"kata Steven tersenyum tipis.
Saat dokter Rio sudah pergi, Steven berdiri dan melihat Raymond dari pintu. Ia menghembuskan nafasnya gusar, lalu berjalan pergi dari sana. Tujuannya saat ini adalah, ruangan VVIP yang Raka dan Raja tempati.
Namun belum sempat Steven sampai di sana, matanya berhasil melihat seseorang yang sedikit misterius. Ia berjalan perlahan, mendekat kearah orang itu. Namun orang itu berbalik, dan mendapati Steven di belakangnya. Baru saja orang itu hendak lari, tendang Steven berhasil membuat orang itu jatuh.
Steven menarik jaket pria itu, matanya berhenti di lengan kanan pria itu. Ada lambang mafia di sana. Lambang milik GDM. Steven yang lengah, di dorong cukup kuat hingga menghantam dinding. Pria itu lari meninggalkan Steven yang terduduk menahan sakit yang dirasakannya dibagian punggung.
"aarghh"Steven meringis kesakitan, dorongan pria itu cukup kuat.
Christy dan Michel yang baru lewat disana, terkejut melihat Steven terduduk di depan ruang VVIP milik Raka dan Raha. Mereka langsung membantu Steven berdiri.
"abang kenapa bisa gini?"tanya Christy khawatir.
"masuk ke ruang Raka dan Raja sekarang"kata Steven berusaha menahan sakitnya, sambil menatap Christy.
"maksud abang?"tanya Christy bingung.
__ADS_1
"Michel, bawa princess masuk kedalam. Sekarang!"kata Steven beralih menatap Michel.
"gue anter lo keruangan lo dulu"kata Michel menatap Steven, yang terlihat menahan rasa sakit.
"gue bisa sendiri. Lo jaga princess ajah"kata Steven mendorong Michel dan Christy perlahan. Agar masuk ke dalam ruangan milik VVIP itu.
"tapi kenapa bang? Sebenarnya ada apa?"tanya Christy khawatir dan juga bingung.
"dengarkan abang baik-baik, apapun yang terjadi jangan keluar. Tetap di dalam. Jaga Raka dan Raja baik-baik."kata Steven menggenggam tangan Christy.
"sebenarnya ada apa ini? Kenapa lo kayak gini?"tanya Michel bingung.
"bang Steven kesakitan. Abang harus diobati"kata Christy khawatir.
"princess abang baik-baik saja. Abang harus mencari bang Richard sekarang"kata Steven.
"apa terjadi sesuatu? Bang Richard kenapa?"tanya Christy yang sudah sangat khawatir.
"anggota GDM ada disini"ucap Steven membut Christy sangat terkejut.
"masuklah. Cepat"kata Steven lalu berlari pergi dari sana.
Steven berlari melewati lorong rumah sakit, mencari keberadaan Richard saat ini. Steven turun ke lantai dasar rumah sakit, akhirnya ia melihat sosok Richard dilobby rumah sakit. Richard sedang berbicara dengan 2 orang polisi. Steven berlari mendekat kearah abangnya itu. Richard terkejut melihat ada Steven disana.
"kenapa kamu turun?"tanya Richard menatapnya. Steven berusaha mengatur nafasnya, dan berusaha menahan sakit di punggungnya.
"kamu kenapa? Ada yang sakit?"tanya Richard khawatir, melihat Steven yang menahan sakit.
"anggoya GDM ada disini bang"kata Steven, membuat Richard menatapnya.
"kamu yakin?"tanya Richard
"mereka mengawasi Raka dan Raja"kata Steven, membuat Richard naik pitam.
"tadi anda bilang, punya bukti dari orang penyebab kecelakaan tadi pagi. Bisa saya lihat?"tanya Richard pada polisi dihadapannya itu.
"bagian belakang mobil ayah anda, di tabrak sangat keras dengan 2 mobil sekaligus. Dari CCTV jalan, berhasil menangkap kedua mobil itu. Ini fotonya"kata polisi itu memberikan beberapa lembar foto.
Seketika amarah Richard benar-benar meledak. Mobil itu sangat di kenalnya. Kedua mobil itu yang menyebabkan kecelakaan kedua adiknya dan ayahnya menjadi korban. Semuanya sudah di rencanakan, Richard tahu dalang dari semua ini.
"tutup kasus ini"kata Richard, memberikan foto itu pada kedua polisi..
"apa anda yakin? Ini kecelakaan yang di rencanakan. Ini tindak kriminal"kata polisi itu, membuat Richard menatapnya.
"tutup kasus ini! Atau kalian mati ditangan saya"kata Richard, membuat kedua polisi itu menjadi tegang.
"saya bisa mengurus masalah ini sendiri. Sebaiknya kalian pergi"kata Richard dengan tatapan tajamnya. Kedua polisi itu langsung pergi begitu saja.
"jadi semua ini, karena GDM?"tanya Steven menatap Richard
"mereka sudah di lusr batas"kata Richard dengan rahang yang menguat, karena terlalu marah.
"biar abang yang urus semua ini"kata Richard menatap Steven.
"enggak. Kita harus sama-sama! Abang gak boleh sendiri melawan GDM"kata Steven menatap abangnya itum
"Steven mengertilah.... kondisi kamu saat ini tidak baik. Abang bisa sendiri. Lagi pula ada anggota KC yang lain"kata Richard mencoba membuat Steven mengerti.
"GDM setara dengan kita, bang. Aku gak mungkin biarin abang melawan mereka sendiri"kata Steven.
"Steven abang bisa"kata Richard.
"abang bisa, kalau kita berdua. Mereka harus tahu, kalau jendral twins in the world sudah kembali"kata Steven menatap lekat wajah Richard.
"baiklah kalau itu mau kamu. Tapi ingat baik-baik, mereka tidak sama seperti musuh-musuh kita. Kamu harus berhati-hati"kata Richard.
"pasti bang"kata Steven sangat yakin.
"jendral twins in the world sudah kembali"batin Richard dan Steven.
__ADS_1