
..."Setidaknya biarkan raga ku hidup di tubuh malaikat kecil ku ini. Aku mohon Tuhan"...
9 bulan kemudian.....
Kehadiran para malaikat-malaikat kecil membuat semua orang bahagia. Kehadiran mereka membuat banyak kenangan indah.
Anak Tasya yang sudah hampir menginjak umur 1 tahun, sedangkan anak Fara yang baru menginjak usia 6 bulan.
Mereka masih menunggu kehadiran 2 malaikat lagi. Si kembar akan segera lahir dari rahim Christy. Semua orang sangat bahagia, benar-benar bahagia.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di mansion, hanya Richard yang tidak ada. Pria itu sibuk dengan fikirannya sendiri, ia belum ada keberanian untuk menemui Vira.
Bahkan dia tidak tahu jika Vira sudah pergi, gadis itu pergi sangat jauh. Entah bagaimana reaksi Richard jika tahu gadisnya pergi.
"Nih" ucap Zee yang baru saja datang bersama dengan Reza.
Gadis itu memberikan sebuah undangan, mereka semua tersenyum dan memberikan selamat.
Akhirnya Zee dan Reza akan segera menikah, setelah melewati banyak masalah dan konflik.
"Selamat yah" Revano tersenyum sangat tulus.
"Ja, Lo kapan?" Zee bertanya pada Raja yang sangat asik memainkan perut besar Christy.
"Sekarang juga bisa, kalau Sasa mau" tutur Raja santai. Membuat Sasa mencubit perutnya.
"Kamu kira nikah segampang itu. Harus siap Raja. Gak boleh ngasal" cetus Sasa kesal, membuat semua orang tertawa.
"Yah aku udah siap. Aku malah udah siap banget" Raja memeluk erat tubuh kekasihnya itu.
"Ingat di sini masih ada yang jomblo" ucap Fikra yang mengejek Steven, membuat pria itu kesal.
"Bodoh amat!" ucap Steven kesal.
Mereka terlalu asik bercanda, hingga tidak menyadari jika sejak tadi Christy hanya diam. Ia bertarung dengan fikirannya sendiri, dengan semua rencana yang sudah di atur nya.
Beberapa rencana sedikit membahayakan, ia tidak mau mengancam nyawa kedua malaikat kecilnya.
"Hmm besok kita ke mansion ayah yuk. Mau gak?" Christy akhirnya mengeluarkan suaranya.
Mereka semua langsung menyetujui nya, karena sudah lama mereka tidak ke mansion itu.
"Gue juga rindu sama mansion ayah" ucap Dimas yang sibuk menidurkan anaknya.
"Zee, Lo juga ikut yah" Christy tersenyum pada Zee, membuat gadis itu membalas senyumannya.
"Gue ikut kok".
"Cel, aku mau ke kamar" Christy menatap Michel. Suaminya itu langsung membantunya berjalan.
Steven terdiam sejenak, menatap punggung Christy yang perlahan menghilang. Entah kenapa ia merasa ada yang janggal.
Sejak sebulan lalu hatinya merasa tidak tenang setiap ia melihat wajah Christy. Ada yang aneh, tapi ia juga bingung.
"Rev, Abang Lo ke mana?" tanya Steven yang sudah tidak melihat Faris sejak dua bulan terakhir.
"Katanya ada urusan kerjaan di luar negeri" jawab Revano.
Steven yang hendak pergi seketika berhenti, saat merasa tangannya di tahan seseorang. Ia berbalik dan mendapati Siska, wanita itu memegang tangannya.
Steven tersenyum sangat tipis, lalu sedikit menjauh dari Siska.
"Tante mau ngasih kamu sesuatu. Kamu mau ikut Tante sebentar?" tanya Siska yang sangat canggung pada Steven.
Steven yang hendak menolak, langsung mengurungkan niatnya saat melihat wajah Raja. Pria itu seolah menyuruhnya untuk ikut dengan Siska.
"Yaudah".
Siska tersenyum lalu membawa Steven ke kamarnya. Ini pertama kalinya pria itu masuk ke kamarnya ayahnya.
Saat matanya sibuk menjelajahi setiap sudut dari kamar itu, tiba-tiba ada satu objek yang membuat matanya berhenti.
"Ini?" Steven memegang bingkai foto itu, lalu menatap Siska yang berdiri di sampingnya.
"Iya, ini foto kamu dan mama kamu" ucap Siska membuat Steven sedikit terkejut.
"Tapi kenapa? Kenapa foto ini ada di sini?" tanya Steven yang masih tidak mengerti dengan semua situasi ini.
"Semua yang terjadi, itu salah tante. Seharusnya tante tidak menyuruh suami Tante untuk merusak mama kamu" Siska mencoba menjelaskan semuanya.
Siska tidak tahan lagi dengan semua ini, ia sangat merasa bersalah. Perasaan tidak seharusnya di jadikan objek balas dendam.
"Tante gelap mata, hingga menyuruh suami Tante untuk mendekati mama kamu. Merusaknya lalu meninggalkannya. Tapi justru Tante yang terluka, karena suami Tante ternyata jatuh cinta pada mama kamu" lanjutnya lirih.
Balas dendam yang di rencanakan nya, justru membuatnya sakit. Raymond mencintai orang lain, dan itu membuatnya hancur.
"Ayah mu, dia tidak salah! Dia selalu memperhatikan kamu dari jauh. Dia sayang sama kamu, Steven. Sama seperti anak-anaknya yang lain" Siska terus berusaha membuat Steven sadar, kalau Raymond tidak salah.
Steven menatap sendu wajah mamanya itu, ia sangat merindukannya. Ia tumbuh tanpa kasih sayang orangtua. Hanya Richard, pria itu yang merawatnya dan menyayanginya.
Steven hanya bisa merasakan kasih sayang seorang saudara, bukan orangtua. Tapi menurutnya itu juga sudah cukup, karena Richard sangat sayang padanya. Menjaganya dengan sangat baik.
"Waktu itu dokter Rio juga sudah menjelaskan semuanya. Tapi tetap saja, mama saya yang menjadi korban" kata Steven yang masih belum bisa menerima semuanya.
"Tante mengerti perasaan kamu, Tante hanya ingin meminta maaf. Maaf karena menghancurkan masa kecil kamu. Maaf karena Tante, kamu kehilangan kasih sayang orangtua" Siska berucap dengan nada sendu.
"Kalau soal maaf, saya belum tahu pasti......Apa saya bisa memaafkan anda. Tapi terimakasih.... Terimakasih karena sudah berani mengakui semuanya" ucap Steven lalu pergi dari sana.
Siska tiba-tiba terisak, ia menatap sendu foto almarhum Raymond. Ini semua salahnya, tidak seharusnya ia menyuruh suaminya sendiri untuk merusak orang lain.
"Mas, aku minta maaf. Aku yang udah hancurin keluarga ini, aku minta maaf" ucapnya lirih.
Steven berlari keluar mansion, ia masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan area mansion.
Air matanya tidak bisa berhenti terjatuh, dadanya merasa sesak. Rasa rindunya pada sosok wanita yang melahirkannya itu sangatlah besar.
"AAARGGHH!!"
Steven memukul stir mobilnya berkali-kali, meluapkan emosinya. Menjadi jendral Mafia, tidak cukup untuk membuatnya kuat.
Fisiknya mungkin kuat, tapi mentalnya? Sangat rusak. Benar-benar rusak!
"Ayah, jaga mama di surga. Jangan sakiti dia lagi" ucap Steven lirih.
...✓✓✓...
Di sebuah danau yang cukup besar, terlihat di hiasi banyak lilin. Tahun hingga ke tahun sudah di lewati, tapi tempat ini masih saja sama. Tidak ada yang berubah.
Christy mengajak Michel datang ke danau itu, tempat kenangan indah dan sedih terjadi. Mulai dari perpisahan hingga pertemuan...
"Gak ada yang berubah" ucap Michel dengan mata yang berbinar, menatap indahnya danau itu.
"Dari tempat hingga orang yang datang, semuanya masih sama" lanjutnya.
Michel menggenggam erat tangan Christy, dan sesekali mencium istrinya itu.
"Anak kita harus sering datang ke sini, bermain di sini" ucap Christy sambil mengelus perutnya yang sudah sangat besar.
__ADS_1
Michel membawa Christy ke sebuah kursi yang ada di pinggir danau, mereka duduk berdua di sana.
"Dulu, kita sempat putus dan itu di tempat ini. Kamu juga ngelamar aku di sini. Tempat ini banyak nyimpan kenangan" ujar Christy lalu menyandarkan kepalanya di bahu lebar milik suaminya.
"Dan kita ke sini lagi, bersama dua malaikat kecil ini" kata Michel sambil mengelus perut Christy.
Mereka sama-sama terdiam, bertarung dengan fikiran masing-masing. Christy ingin memberitahu banyak hal pada Michel, tapi entah kenapa ia sangat takut.
Michel pun ingin menanyakan banyak hal, tapi ia juga bingung harus memulainya dari mana.
"Hari ini kamu ada urusan di rumah sakit?" Christy tiba-tiba bertanya, Michel hanya menggeleng dan tersenyum.
"Kita jalan-jalan yuk. Udah lama gak ngehabisin waktu berdua" kata Christy membuat Michel tersenyum.
"Boleh".
Christy tersenyum lalu menarik Michel pergi dari sana. Michel merinding melihat istrinya yang terlalu aktif, ia takut kedua anaknya pusing di dalam sana.
Christy terlalu bersemangat, ia seperti seorang gadis remaja. Michel terus menahannya agar tidak terlalu banyak goyang, takut jika kedua anaknya itu tiba-tiba keluar.
"Sekarang kamu maunya ke mana hmm?" tanya Michel yang baru saja duduk di samping Christy, selepas membantunya duduk.
"Aku pengen makan sate langganan kita waktu SMA dulu. Kamu masih ingat kan?" Christy menatap Michel.
"Masih Chris" ucap Michel sambil mengacak gemas rambut istrinya itu.
"Jadi tuan kita ke mana sekarang?" tanya supir yang sudah bersiap menjalankan mobil.
"Bapak jalan saja dulu. Nanti saya arahkan jalannya" kata Michel yang langsung di turuti supirnya itu.
Di sepanjang jalan Michel dan Christy terus bercanda bersama. Mereka bercerita tentang masa lalu. Mulai dari awal mereka bertemu, perjuangan Michel untuk mendapatkan Christy, dan banyak hal lain lagi.
Semua itu terlalu sulit untuk di lupakan. Banyak kenangan indah yang mereka buat. Walaupun banyak rintangan dan masalah yang terus berdatangan.
"Sekarang aku makin yakin, kalau kamu memang di takdir kan Tuhan untuk aku" ucap Michel sambil menggenggam tangan Christy.
"Kok bisa mikir gitu?".
"Dulu aku relain kamu buat Rasya, tapi ternyata aku kembali sama kamu lagi. Aku hampir kehilangan kamu, tapi Tuhan ternyata masih memberi aku kesempatan untuk hidup bersama kamu" kata Michel membuat Christy tersenyum.
Christy merasa sangat beruntung bisa mendapatkan Michel, pria yang selalu mau menunggunya.
"Pak, pertigaan di depan nanti belok kiri yah. Ada penjual sate di pinggir jalan, berhenti di situ" ucap Michel yang langsung di turuti supirnya itu.
Mereka akhirnya sampai di tempat itu. Christy sangat gembira membuat Michel ikut gembira melihatnya.
Michel membantu Christy keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam warung sate itu. Mereka terkejut saat melihat si penjual sate yang masih sama seperti dulu.
Bahkan penjual sate itu terdiam, ia bingung harus berkata apa lagi. Christy dan Michel adalah langganannya sejak dulu.
"Kalian ke mana saja? Mamang kira kalian lupa dengan tempat ini" ucap si penjual sate.
"Mana mungkin kita lupa tempat ini, mang. Sate paling enak di Jakarta" kata Michel membuat penjual sate itu tersenyum.
"Mamang tidak salah, kalian memang berjodoh" ucapnya sambil menunjuk perut Christy.
"Duduk dulu, biar Mamang bikinin sate kesukaan kalian" lanjutnya dengan penuh semangat.
Michel langsung membawa Christy ke tempat yang masih kosong, mereka duduk berdua dan bercerita bersama.
Michel tidak hentinya tersenyum saat melihat tempat ini. Banyak sekali kenangan di sini. Ia selalu membawa Christy untuk makan sate di sini.
"Aku harap kita bisa menua bersama" ucap Michel yang tiba-tiba terlihat sangat serius.
"Aku janji akan sama kamu sampai tua nanti" kata Christy lalu mengelus lembut pipi Michel.
Christy mengangguk lalu meraih tangan Michel, menggenggam dengan penuh kasih sayang dan ketulusan
"Cel, kita makan malam di luar ajah yah. Jangan di mansion" ucap Christy membuat Michel sedikit merasa bingung.
"Emangnya kenapa?"
"Aku lagi pengen makan malam berdua sama kamu" kata Christy sambil tersenyum.
Michel pun tersenyum dan mengangguk, menyetujui kemauan istrinya itu.
"Nanti aku hubungin orang mansion, supaya mereka gak usah nungguin kita" kata Michel.
//Skip//
Di perusahaan JP Morgan Chase terlihat sudah lumayan sepi. Banyak karyawan yang mulai pulang. Richard akhirnya memberanikan diri untuk menemui Vira.
Ia tidak menemukan gadis itu di ruangannya, di ruang rapat pun tidak ada. Richard sedikit bingung, biasanya Vira akan pulang larut malam. Tapi gadis itu sudah tidak ada.
"Pak Richard" panggil seorang gadis berpakaian lumayan formal.
Richard berbalik saat merasa ada yang memanggilnya, ia merasa asing dengan wajah gadis itu.
"Kamu siapa?"
"Saya sekretaris bapak yang baru. Karena sekretaris yang lama sudah berhenti" tutur gadis itu membuat Richard terkejut.
"Berhenti? Tapi saya tidak menerima surat pengunduran diri dari siapapun" ucap Richard yang terlihat marah.
"Tapi pak, dia sudah tidak bekerja di sini selama 8 bulan. Saya yang menggantikannya" kata gadis itu yang merasa takut.
Richard langsung berlari keluar dari sana, tujuannya adalah rumah Vira. Ia hanya berharap semoga gadis itu masih ada di sana.
Sepanjang jalan ia terus menelfon Vira. Tpi sialnya nomor gadis itu sudah tidak aktif.
Tidak perlu waktu lama, akhirnya Richard sama di rumah Vira. Ia terus memencet bel bahkan mengetuk pintu dengan sangat keras. Tapi tidak ada yang keluar sama sekali.
"Vira, saya mohon" Richard terus mengetuk pintu, berharap ada jawaban dari gadis itu.
"Mas nyari siapa?" tanya seorang wanita paruh baya, membuat Richard langsung menghampirinya.
"Gadis yang punya rumah ini, dia kemana?" tanya Richard yang terlihat sangat cemas.
"Oh si Vira, dia udah gak tinggal di sini mas. Kalau gak salah udah sekitar 8 bulan dia pindah" tutur wanita itu membuat Richard mengacak rambutnya frustasi.
"Anda tahu dia pindah ke mana?".
"Maaf mas, saya juga kurang tahu" ucap wanita itu lalu pergi dari sana.
Richard terduduk di depan pintu rumah itu. Terus mengetuk hingga tangannya berdarah. Ia hanya berharap ada jawaban walau hanya sekali.
Sudah 8 bulan Vira meninggalkannya, tapi ia baru menyadarinya sekarang. Sangat bodoh! Ia kehilangan gadisnya.
"Butuh waktu lama saya menyadari perasaan saya sendiri" ucapnya lalu terhenti sejenak, memegang dadanya yang terasa sesak. "Dan di saat saya ingin memperjuangkan kamu lagi.... Kamu pergi ninggalin saya" lanjutnya lirih.
Sedetik kemudian air matanya terjatuh, ia terus memukul dadanya yang terasa sakit. Ia terlalu lama bertarung dengan perasaannya sendiri, hingga akhirnya ia kehilangan cintanya lagi.
"Saya seharusnya sadar diri. Saya harusnya tidak menemui kamu lagi, saya sudah menyakiti kamu. Maaf" ucapnya lalu pergi meninggalkan rumah itu.
//Skip//
Pagi ini mansion Raymond kembali ramai. Mereka semua datang untuk menghabiskan waktu liburan akhir tahun.
__ADS_1
Semua maid yang menjaga mansion itu merasa senang, saat mereka bisa kembali mendengar suara ramai di sana. Bahkan suara bayi pun terdengar.
Richard yang juga ada di sana, hanya duduk di ruang keluarga. Pria itu duduk tanpa ada suara sama sekali, terlihat sangat tenang.
Hingga matanya melihat sosok Christy yang berdiri tidak jauh darinya. Adiknya itu berbicara pada seseorang yang terlihat sedikit misterius.
Saat ia berniat untuk acuh, tiba-tiba terkejut saat melihat Christy menyimpan sebuah senapan kecil di balik bajunya.
Tanpa fikir panjang Richard langsung menarik Christy menjauh dari sana. Ia membawa adiknya itu ke kamarnya.
"Apa lagi ini princess?" tanya Richard lalu merebut senapan yang Christy sembunyikan.
"Aku mau membunuh mereka" ucap Christy singkat, namun terdengar sangat mengerikan.
Richard mengacak rambutnya frustasi, ia bingung harus berkata apa lagi. Kepribadian Christy memang sangat aneh, dia berbeda dari orang lain.
"Cukup princess! Abang tidak ingin melihat ada lagi yang mati. Sudah cukup!!" kali ini Richard terlihat sangat serius.
Sudah cukup Raka dan Raymond yang mati, jangan bundanya juga. Christy sudah terlalu jauh, tanpa sadar dia sudah menyakiti banyak orang. Meski caranya terlihat sangat halus dan hampir tak nampak sama sekali.
"Mereka berdua harus mati! Mereka merusak hidupku" tegas Christy lalu merampas balik senapannya dari Richard.
"Lalu setelahnya bagaimana? Mereka membenci kamu? Itu yang kamu mau?" tanya Richard membuat Christy tersenyum.
"Mereka tidak akan membenciku. Tapi mereka akan membenci diri mereka sendiri!" ucap Christy.
"Mereka akan menyesalinya seumur hidup. Mereka gak akan pernah tenang!" Kata Christy penuh penekanan.
"Sebenarnya apa rencana kamu princess?"
"Membuat mereka semua tersiksa!" ucapnya lalu pergi dari sana.
"AARRGGH!!"
Teriakan Richard menggema di kamar, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Bahkan batinnya tidak bisa tahu, apa yang sebenarnya adiknya itu rencanakan.
"Kamu memang tidak pernah membenci mereka, princess. Kamu tidak mungkin tega menyakiti mereka semua, Abang yakin itu".
Semua orang yang sedang asik menyiapkan beberapa makanan, seketika terkejut melihat kedatangan Christy.
Christy memegang sebuah senapan, ia menggenggamnya dengan sangat kuat. Michel ingin mendekat, tapi Christy langsung mengarahkan senapan itu padanya.
"Hey, Chris. Kamu kenapa sayang hmm?" Michel berusaha bertanya pada istrinya itu, berharap Christy memberitahu.
"Jangan mendekat!" ucap Christy penuh penekanan.
Semua orang menjadi sangat tegang, Christy terlihat sangat aneh saat ini. Ia seperti orang gila.
"ABANG!" Steven berteriak dengan sangat kencang, hingga Richard berlari turun ke bawah.
Ia menatap Christy, adiknya itu terlihat sangat kacau saat ini.
"Princess, Abang tahu kamu marah. Kamu pasti bisa kendalikan diri kamu sendiri, Abang mohon" Richard berusaha membuat Christy sadar, namun tidak di dengarkan sama sekali.
"Dulu aku di buang, dan untuk kedua kalinya aku di buang lagi. Kalian memang tidak punya hati!" ucap Christy sambil menunjuk semua keluarganya.
Wijaya dan Megan menatap putri mereka itu. Mendengar perkataan Christy, membuat mereka mengingat masa lalu itu.
"Karena kalian, aku sampai harus memilik kepribadian ganda. Di sangka gila sama orang, kalian fikir itu gak sakit hah!" Ucap Christy marah.
Michel menatap sendu wajah Christy, sehancur itu kah dia? Serapuh itu kah dia? Jawabannya iya! Christy Walton Raymond, sosok orang yang sangat hancur bahkan rapuh.
"Apa kalian tahu sebahagia apa aku, saat aku bisa memiliki keluarga baru. Saat seorang pria yang tidak aku kenal sama sekali, tiba-tiba menyuruhku untuk memanggil dengan sebutan ayah. Tapi dia.... Dia mengusirku lagi!" Christy menunjuk wajah Siska.
Wanita itu hanya bisa menunduk, ia tahu betul kesalahannya. Semua orang terdiam, membiarkan Christy mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini.
"Dan dia, dia berusaha merebut semua yang aku punya. Dia merebut bunda, bang Raka, lalu dia mau merebut Michel. Dia mau merusak hidupku!" Christy pun beralih pada Zee.
Gadis itu hanya bisa terisak, ia fikir Christy sudah memaafkannya. Namun itu salah, Christy dendam padanya, sangat dendam!
"Princess cukup! Kamu hanya menyakiti dirimu sendiri kalau seperti ini" Richard berusaha membuat Christy mengerti, namun tetap saja tidak di dengarkan.
"Kalian fikir aku lemah? Hah! Gak ada leader mafia yang lemah, gak ada!" ucapnya lalu menarik Zee kehadapan nya.
Christy mencekik gadis itu dengan sangat kuat, ia bahkan tersenyum seolah perbuatannya adalah hal yang paling membanggakan.
"Kalian sudah mengusik hidupku, lalu kalian fikir aku hanya diam? Aku hanya menangis seperti orang lemah? Kalian salah besar!"
"Kalian fikir selama ini aku melindungi kalian semua? Hah! Jangan bodoh kalian. Leader mafia tidak pernah memiliki perasaan. Sekalinya musuh, akan tetap jadi musuh!" lanjutnya dengan penuh penekanan.
"Chris, kita bisa bicarakan ini kan hmm?" Michel berusaha membuat istrinya itu mengerti.
Christy mati-matian untuk tidak menatap Michel, ia tidak ingin menyerah lagi. Hidupnya sudah terlalu melelahkan, ia ingin bebas dengan cepat. Hanya itu.
"Seharusnya yang mati itu kalian, bukan ayah! Kenapa harus orang baik yang pergi duluan, kenapa bukan manusia sampah seperti kalian hah!" Christy mendorong Zee hingga gadis itu terlempar cukup jauh.
Christy sangat marah saat ini, ia marah karena kehilangan ayahnya. Christy tidak mau kehilangan Raymond, tidak pernah mau!
"Andai nyawa kalian semua bisa membuat ayah kembali hidup, akan aku bunuh kalian semua! AAARRGGHH!" Christy menjadi histeris.
Michel bingung harus berbuat apa, ia tidak mau melihat Christy terluka. Istrinya itu memegang sebuah senapan, dia bisa saja nekat menembak orang.
"Chris, Daddy minta maaf....Maaf karena menelantarkan kamu waktu itu, semuanya hanya kesalahan. Daddy mohon" Wijaya pun berusaha membuat Christy tenang, tapi tidak ada gunanya.
"Apa permintaan maaf itu bisa membuat semuanya kembali? Apa aku bisa kembali menjadi gadis biasa? Apa kepribadian ganda itu bisa hilang? Apa mental aku bisa membaik? GAK BISA? GAK AKAN PERNAH BISA!!"
Christy terus berteriak, menodongkan senapannya ke semua orang yang ada di hadapannya.
"Hari ke hari aku hanya duduk di ruangan gelap, berusaha berdamai dengan diriku sendiri. Tapi sangat sulit. Aku terus di ganggu, mereka terus berusaha menguasai tubuhku, mereka membuatku terlihat gila. Apa kalian bisa membuatku membaik hah!".
Semua orang hanya terdiam dan menunduk, mereka tidak bisa melakukan apa yang Christy minta.
"Princess, Abang janji akan membuat kamu kembali seperti dulu. Tapi Abang mohon, berhenti sekarang okey" Richard hendak mengambil senapan itu, tapi Christy langsung mengiris tangannya sendiri menggunakan belatih.
"JANGAN MENDEKAT!!" Christy menunjuk semua orang, darah di tangannya terus berjatuhan.
"Chris! Please jangan kayak gini" Michel pun semakin khawatir.
"Di saat semua anak-anak menikmati masa kecilnya, aku justru berkeliaran membunuh banyak orang. Di saat semua orang bersenang-senang di luar sana, aku hanya duduk di kamar di alam kegelapan. Apa kalian tahu? TIDAK ADA YANG TAHU! Karena kalian semua sibuk dengan urusan masing-masing!"
"Kalian semua melakukan banyak kesalahan, tapi setelah mengatakan kata maaf....Kalian seolah lupa dengan semuanya. Kata maaf kalian gak akan pernah bisa membuat mental aku membaik!" Lanjutnya tegas.
Michel mengacak rambutnya frustasi, ia sangat khawatir melihat tangan Christy yang tidak hentinya mengeluarkan darah.
"Chris, aku mohon sama kamu. Tangan kamu berdarah sayang, kita obatin yah. Please" ucap Michel dengan sangat lembut.
"Cel, luka ini gak sebanding sama hati aku. Gak sebanding sama mental aku yang udah hancur." Kata Christy sambil tersenyum lebar.
"AKU KHAWATIR SAMA KAMU! AKU MOHON BERHENTI!" Michel akhirnya mengeluarkan suara yang sangat besar.
Ia benar-benar khawatir saat ini, tangan Christy terus saja berdarah dan tidak berhenti sejak tadi.
"Kalian semua sudah menghancurkan hidupku, tapi bodohnya aku gak bunuh kalian sejak dulu" kata Christy menatap semua keluarganya.
"Kalian mau tahu kenapa?" ia tersenyum sinis, lalu mengangkat senapannya. "Itu semua karena aku mau kalian menderita seumur hidup. Melihat aku mati di hadapan kalian".
DOR
__ADS_1
BRUK