
Di JP Morgan Chase, semua karyawan kantor menjadi merinding. Saat melihat kedatangan Richard. Pria itu sangat jarang datang ke kantor, melihatnya datang membuat semua karyawan sedikit takut.
Ada beberapa karyawan perempuan yang diam-diam memuja ketampanan Richard. Rahang kokoh Richard, membuat ketampanan pria itu bertambah.
Vira yang sedang sibuk berbicara pada rekan bisnis. Membuat gadis itu tidak sadar, kalau Richard berjalan mendekat ke arahnya. Richard tersenyum tipis saat melihat wajah cantik Vira, yang terlihat serius berbicara pada rekan bisnisnya.
"pagi tuan Richard"sapa pria paru baya yang Vira temani bicara itu.
Vira yang mendengar nama Richard, langsung berbalik dan mendapati pria itu berdiri tepat di belakangnya. Gadis itu sedikit terkejut saat melihat kedatang Richard.
"pagi"sapa Richard pada pria paruh baya yang menyapanya barusan.
"apa masih ada urusan?"tanya Richard pada pria paruh baya itu.
"sudah selesai tuan"
"untuk rapat selanjutnya. Saya akan memberitahu bapak"ucap Vira dengan sangat berwibawa.
"baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu"kaya pria paruh baya itu. Lalu pergi dari sana.
"masih ada urusan lain?"tanya Richard menatap Vira.
"kalau sekarang udah gak ada"jawab Vira yang masih canggung pada Richard.
"ruangan saya masih ada kan?"tanya Richard.
"masih ada. Memangnya mau dipakai?"tanya Vira.
"kita bicara di ruangan saya saja"ucap Richard menarik Vira. Hingga tubuh gadis itu menempel di tubuhnya.
Richard memeluk pinggang Vira possesive. Semua karyawan menatap mereka. Vira merasa sangat risih saat melihat semua karyawan berbisik tentang dirinya.
"Richard. Ini di kantor, gak enak di lihatin"kata Vira yang hendak melepaskan tangan Richard dari pinggangnya.
"berhenti menatap kami. KEMBALI BEKERJA"bentak Richard membuat semua karyawan seketika takut. Lalu kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Richard kembali berjalan bersama Vira. Gadis itu hanya bisa menunduk. Ia hanya bisa terdiam, saat mendengar beberapa karyawan berbisik tentangnya.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan milik Richard. Semua yang ada di dalam tetap sama sejak dulu. Ruangan itu tidak pernah berubah. Richard tersenyum tipis, melihat foto dirinya bersama Christy. Yang terpajang di meja kantornya.
"mau ngomong apa?"tanya Vira. Membuat Richard berbalik dan menatap gadis itu.
"kemarilah. Duduk di samping saya"kata Richard menepuk sofa di sampingnya. Vira langsung duduk di samping pria itu.
"siang ini. Apa kamu sibuk?"tanya Richard.
"enggak. Hari ini memang ada rapat. Tapi itu sore"ucap Vira membuat Richard mengangguk.
"mau menemi saya?"tanya Richard
"ke mana?"
"bertemu dokternya Steven"jawab Richard singkat.
"yaudah. Sekarang?"tanya Vira.
"jam 11"jawab Richard membuat Vira mengangguk.
"tumben kamu mau di temenin. Biasanya, selalu mau sendirian"ucap Vira menatap Richard.
"sekarang saya punya kamu. Jadi saya tidak akan melalukan semuanya sendiri lagi"kata Richard menatap Vira. Gadis itu menjadi tidak karuan, saat melihat tatapan Richard. Tatapan pria itu, selalu membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
"kamu sebenarnya bisa suka sama aku karena apa? Kamu serius soal hubungan ini?"tanya Vira yang masih ragu tentang perasaan pria dingin itu.
"kamu menyukai saya?"tanya Richard, membuat Vira kesal. Pria itu selalu seperti ini, bukannya menjawab malah bertanya kembali.
"kamu belum jawab pertanyaan aku"kata gadis itu yang terlihat kesal.
"jawab dulu pertanyaan saya. Kamu menyukai saya?"tanya Richard sekali lagi.
"kalau aku gak suka. Gak mungkin aku mau terima kamu jadi pacar aku"ucap Vira membuat Richard tersenyum tipis.
"itu jawaban, dari pertanyaan kamu pada saya tadi"kata Richard membuat Vira bingung.
"maksud kamu apa?"tanya Vira.
"kamu tidak akan menerima saya, kalau kamu tidak suka pada saya. Begitu juga dengan saya. Saya tidak akan menjadikan kamu kekasih saya, kalau saya tidak menyukai kamu"kata Richard.
Seketika Vira menjadi sangat senang, jawaban Richard membuat hatinya senang. Vira menjadi merona, saat melihat wajah Richard yang begitu dekat dengannya. Aroma mint tubuh pria itu membuat Vira semakin jatuh cinta padanya.
"di mana kalung yang saya berikan?"tanya Richard. Saat ia menyadari kalau kalung itu tidak Vira pakai.
"kalung itu terlihat sangat mahal. Aku gak mau, semua karyawan berfikir macam-macam. Kalau mereka ngelihat aku, pakai kalung itu"jawab Vira membuat Richard sedikit tidak suka mendengarnya.
"tidak usah perdulikan perkataan mereka. Kalau itu saya berikan, bukan untuk kamu simpan. Tapi untuk di pakai"kata Richard menatap Vira, membuat gadis itu merinding.
"maaf"ucap Vira menunduk takut.
"jangan menunduk. Kamu takut sama saya?"tanya Richard menarik perlahan dagu Vira. Hingga gadis itu menatapnya.
"enggak kok"jawab Vira menggeleng.
"kalau kamu takut, bilang sama saya. Biar saya, merubah hal yang membuat kamu takut"kata Richard menatap Vira.
__ADS_1
"kamu gak perlu ngerubah apapun. Jadi diri sendiri itu lebih baik. Aku gak takut sama kamu."kata Vira menggenggam tangan Richard.
Richard langsung memeluk Vira, begitu pula dengan gadis itu. Dia membalas pelukan Richard. Perlahan tangan Richard mengelus rambut kekasihnya itu.
"apapun yang terjadi. Jangan pernah tinggalkan saya."kata Richard berbisik di telinga Vira.
"aku gak akan ninggalin kamu. Selamat kamu gak ninggalin aku"kata Vira tersenyum dan mengelus punggung Richard.
"aku masih bingung tentang satu hal. Kenapa? Kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria seperti kamu. Aku takut kehilangan kamu"batin Vira.
"Tuhan. Apapun yang terjadi nanti, jangan biarjan gadisku menangis. Jangan biarkan seseorang terluka lagi"batin Richard.
//skip//
Di RD hospital terlihat Michel dan Christy yang sedang bersantai di ruangan dokter. Sesekali Michel memainkan rambut Christy, dan mencubit pipi kekasihnya itu.
"Cel, kamu ngerasa enggak sih?"tanya Christy. Membuat Michel menatapnya.
"ngerasa apa?"
"kamu ngerasa gak sih, kalau aku tuh makin gendutan"ucap Christy memainkan pipinya. Membuat Michel terkekeh.
"pipi kamu emang agak tembem sih. Tapi, badan kamu enggak kok. Masih sama kayak dulu"kata Michel tersenyum.
"gak bohong kan?"tanya Christy yang terlihat cemberut.
"engga sayang"jawab Michel mengecup singkat pipi Christy.
"besok kemakam Rasya, mau gak?"tanya Michel pada Christy.
"mau. Udah lama gak kesana"kata Christy tersenyum bahagia.
"aku selalu kesana sendiri"ucap Michel Lalu meminum kopi miliknya.
"masa? Ngapain ajah kamu. Sampai sering kesana?"tanya Christy penasaran.
"karena setiap ke sana, aku selalu bisa lebih tenang. Aku selalu cerita di makan Rasya. Cerita tentang kamu. Karena aku rasa hanya Rasya yang bisa dengerin aku"kata Michel menggenggam tangan Christy.
"aku rindu sama Aya"kata Christy menatap sendu wajah Michel.
"besok kita pasti kesana. Kamu bisa cerita semua hal, yang mau kamu ceritain ke Rasya"kata Michel tersenyum pada Christy.
"makasih untuk semua hal yang kamu lakuin untuk aku. Kamu selalu ada buat aku, kamu selalu berusaha yang terbaik buat kamu. Makasih"ucap Christy menatao lekat bola mata Michel.
"itu semua karena aku cinta sama kamu. Aku akan lakuin apapun, kalau itu bisa buat kamu bahagia"kata Michel mengelus pipi Christy.
Mereka berdua bertatapan cukup lama, perlahan Michel mendekatkan wajahnya pada Christy. Ia tersenyum tipis, saat hidungnya sudah tertempel di hidung Christy.
Deru nafas Michel bisa Christy rasakan, keduanya sangat dekat. Michel hendak mencium bibir kekasihnya itu namun.
BRAK
"astaga. Maaf, saya kira hanya ada dokter Michel"kata seorang dokter tampan. Yang tidak lain adalah dokter Genta.
"lalu kalau hanya saya, kamu mau masuk tanpa mengetuk?"tanya Michel kesal.
"kita kan temen"kata dokter Genta terkekeh.
"mengganggu saja"kata Michel kesal. Karena dokter Genta merusak moment nya bersama Christy.
"Cel, jangan kayak gitu"kata Christy menegur kekasihnya itu.
"aku kesel Chris. Dokter satu ini, selalu ngerusak momen bagus kita"kata Michel menunjuk dokter Genta.
"yasudah, saya keluar lagi. Kalian berciuman dulu saja. Kalau sudah selesai, panggil saya lagi"kata dokter Genta terkekeh.
"yaudah keluar sana"usir Michel.
"Cel, apaan sih"kata Christy mencubit perut Michel.
"dokter Genta, bicara ajah sama Michel. Saya juga mau keluar sebentar"kata Christy.
"mau kemana? Aku temenin ajah?"kata Michel.
"mau ngelihat bang Steven. Aku sendiri ajah, lagian dokter Genta mau ngomong sama kamu"kata Christy, lalu memeluk Michel sebentar.
"dokter saya keluar dulu"kata Christy pada dokter Genta.
Christy langsung keluar dari sana, membiarkan kedua dokter itu berbicara. Michel terus menyumpahi Genta, karena selalu merusak moment nya bersama Christy.
"sebaiknya anda mencari pacar. Supaya tidak mengganggu saya terus"kata Michel kesal. Membuat Genta terkekeh.
Berbeda dengan kedua dokter itu yang sedang berbicara. Christy berjalan menyusuri lorong rumah sakit, hendak pergi keruangan milik Steven.
Saat asik berjalan, matanya menangkap sosok Richard yang berjalan bersama seorang gadis. Gadis itu adalah Vira, sekretarisnya. Christy tersenyum tipis, melihat tangan Richard yang menggenggam tangan Vira.
"seharusnya dari dulu abang mencari kekasih. Melihat abang seperti ini, buat aku senang. Akhirnya abang bisa menemukan gadis, untuk mengisi hati abang"kata Christy tersenyum tulus.
Christy langsung masuk ke dalam raung VVIP milik Steven. Steven yang sedang memainkan hp nya, langsung mengalihkan pandanganya dan menatap adiknya itu. Steven tersenyum manis, saat melihat ada Christy di sana.
"princess kamu datang"ucap Steven tersenyum manis pada Christy.
"udah gak marah?"tanya Christy. Mengingat Steven yang sempat marah .
__ADS_1
"maaf soal kejadian tadi. Abang di luar kendali"kata Steven menyesal.
"abang gak perlu minta maaf sama aku. Abang, harus minta maaf ke bang Richard"kata Christy membuat Steven menghembuskan nafasnya gusar.
"abang hanya tidak mau, kalau bang Richard berharap lebih soal kesembuhan abang ini"kata Steven menatap Christy.
"bang Steven gak boleh ngomong gitu. Abang harus mikirin, gimana usaha bang Richard selama ini. Kasihan dia bang"ucap Christy menatap wajah Steven.
"sekarang di mana bang Richard?"tanya Steven.
"bang Richard menemui dokter. Sepertinya membahas tentang keadaan bang Steven"jawab Christy.
"princess, bantu abang menemui bang Richard"kata Steven yang seketika terlihat sangat serius.
"abang mau ketemu bang Richard? Tunggu ajah. Pasti bang Richard ke sini"kata Christy.
"setelah menemui dokter. Dia tidak akan ke sini"kata Steven membuat Christy menatapnya.
"maksud abang apa?"tanya Christy bingung.
"princess, batin kamu tidak melihat apapun?"tanya Steven menatap Christy.
"tidak ada apa-apa"jawab Christy yang merasa tidak melihat apapun melalui batinnya.
"bantu abang dulu menemui bang Richard. Soal batin kamu, kita bahas nanti"kata Steven hendak turun dari brankarnya.
"tunggu dulu. Abang harus pakai kursi roda"kata Christy mendorong kursi roda yang ada di sana.
"terimakasih princess"kata Steven yang di bantu duduk di kursi rodanya.
Christy langsung mendorong kursi roda Steven, keluar dari ruangan itu. Tujuan mereka adalah ruangan dokter yang dulu mengoperasi Steven.
Untung saja ruangan dokter itu berada dilantai yang sama dengan ruangan VVIP milik Steven. Jadi Christy tidak terlalu susah untuk membawa Steven.
Baru saja tangan Christy ingin mengetuk pintu, dengan cepat Steven menahannya. Christy menatapnya bingung.
"kita jangan masuk. Kita tunggu disini"kata Steven membuat Christy bingung.
"bukannya bang Steven mau ketemu bang Richard?"tanya Christy bingung.
"kita tunggu bang Richard keluar"kata Steven membuat Christy semakin bingung.
"kamu benar-benar tidak melihat sesuatu, lewat batinmu itu?"tanya Steven menatap Christy.
"enggak ada apa-ala, bang. Memangnya akan terjadi sesuatu yang buruk?"tanya Christy yang merasa benar-benar kosong saat mencoba melihat apa yang akan terjadi melalui batinnya.
"tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, kalau kita tetap disini"kata Steven membuat Christy semakin bingung.
"hal buruk apa? Siapa yang akan terkena hal buruk?"tanya Christy yang sudah tidak mau bingung lagi.
"bang Richard"jawab Steven. Seketika Christy menjadi sangat takut.
"bang Richard kenapa? Akan terjadi apa sama bang Richard?"tanya Christy yang sudah sangat takut.
"mendengar tentang kondisi abang saat ini, dia akan sangat frustasi. Bang Richard akan mengalami kecelakaan, saat meninggalkan rumah sakit"kata Steven. Seketika Christy menjadi tidak karuan, batin Steven sama seperti dirinya. Itu bisa saja terjadi jika mereka mencoba untuk mengulur waktu.
"kapan?"tanya Christy panik.
"5 menit dari sekarang"jawab Steven.
Baru saja Steven selesai berbicara, Richard dan Vira tiba-tiba keluar. Mereka semua sama-sama terkejut. Richard menatap wajah kedua adiknya itu.
"kenapa kalian di sini? Steven kembali ke ruangan kamu"kata Richard menatap Steven yang duduk di kuris roda.
"kita harus bicara bang"kata Steven.
"nanti saja. Abang mau pergi dulu"kata Richard lalu hendak pergi. Namun Steven menarik sedikit baju Richard, membuat pria itu berhenti.
"bang harus sekarang"kata Steven memaksa.
"Steven kamu bukan anak kecil! Kiita bisa bicara nanti. Lepaskan baju abang"kata Richard berusaha melepaskan bajunya dari genggaman Steven.
Richard langsung pergi dari sana, Christy menatap Steven. Steven terdiam sejenak. Sedangkan Vira, gadis itu bingung harus bagaimana.
"princess kita ikuti bang Richard"kata Steven
"tapi bang Steven gimana?"tanya Christy, melihat kondisi Steven.
"princess tidak ada waktu. Kita harus ikuti bang Richard"kata Steven mendesak Christy.
"sebenarnya kalian kenapa? Richard hanya mau ke markas"kata Vira membuat Steven menatapnya.
"dia memang mau ke markas. Tapi tidak akan pernah sampai di sana, kalau kita tidak mengejarnya"kata Steven membuat Vira semakin bingung.
"princess cepat"kata Steven membuat Christy langsung mendorong kursi roda itu.
Mereka masuk ke dalam lift, Vhristy berusaha cepat menekan tombol lift itu. Mereka berdua semakin gelisah. Saat sampai di lobby rumah sakit, mereka tidak mendapati sosok Richard.
"princess kita keluar"kata Steven.
Mereka bertiga langsung keluar dari rumah sakit, mata Christy dan Steven terus mencari keberadaan abang mereka itu. Hingga Christy melihat sosok abangnya itu. Richard berdiri di sebrang jalan.
Christy dan Steven bernafas lega, saat melihat Richard masih baik-baik saja. Baru saja mereka bernafas lega, Christy dan Steven terkejut melihat ada mobil yang melaju sangat cepat. Mobil itu malaju ke arah Richard yang hendak menyebrang jalan.
__ADS_1
"BANG AWAS"teriak Christy membuat Richard menatapnya dan melihat ke arah samping. Mobil dengan kecepatan tinggi itu, sudah sangat dekat dengannya. Dan
BRAK