
Di depan ruang operasi, semua keluarga Raymond berkumpul. Para sahabat Raka dan Christy juga ada disana. Bahkan Tristan dan Vani juga ada disana. Omah dan opah Christy, langsung datang dari LA. Setelah mendengar keadaan anak mereka, Raymond.
Perasaan mereka belum bisa tenang sampai sekarang, mereka menunggu dengan hati yang gusar. Operasi baru berjalan tiga jam, masih sangat lama. Richard sangat gelisah, terlihat dari gerak-geriknya. Dia tidak bisa tenang sejak tadi, selalu mondar-mandir, lalu duduk dan berdiri lagi.
"Richard"panggil Vira, penepuk punda pria itu membuatnya sedikit terkejut.
"iya, kenapa?"tanya Richard sambil mengusap keningnya.
"kamu jangan kayak gini, kasihan Chris. Kalau kamu gelisah kayak gini, pasti Chris juga ikut gelisah"kata Vira membuat Richard berbalik menatap Christy. Gadis itu juga terlihat gelisah, Richard menghembuskan nafasnya gusar.
"aku tadi beliin kamu minum. Minum ajah dulu, biar perasaan kamu enakan"kata Vira memberikan Richard sebotol air mineral.
"terimakasi"kata Richard lalu meminum air mineral itu.
"kamu kenapa tidak ke kantor?"tanya Richard menatap kekasihnya itu.
"mana bisa aku ngantor, kalau fikiran aku penuh sama kamu. Aku gak bisa tenang, waktu tahu ternyata hari ini operasinya di lakukan"kata Vira membuat Richard tersenyum sangat tipis. Bahkan senyuman itu hampir tidak terlihat.
"terimakasih sudah mengerti kondisi saya"kata Richard lalu mengggenggam tangan Vira.
"Chris, lo gak apa-apa?"tanya Fara saat melihat Christy sangat pucat.
Richard dan Vira langsung mendekat, dan melihat kondisi Christy. Gadis itu terlihat sangat pucat, Michel langsung mengecek denyut nadi gadis itu.
"Michel apa ada yang salah?"tanya Richard lalu duduk di samping Christy. Merangkul pundaknya.
"denyut nadinya melemah"kata Michel khawatir.
"princess, apa ada yang sakit hmm? Bilang ke abang"kata Richard menggenggam tangan Christy.
"aku cuma pusing ajah bang. Aku gak apa-apa kok"kata Christy tetap tersenyum di hadapan Richard.
Siska hendak menghampiri Christy. Namun Raja langsung menahannya. Wanita igu menatap Raja sendu, dia ingin melihat keadaan Christy saat ini.
"bunda, mau lihat Chris"kara Siska.
"aku ngerti perasaan bunda. Tapi kalau bunda muncul di hadapan Chris, itu hanya akan memperburuk keadaan"kata Raja membuat Siska semakin sedih.
"semua ini salah bunda"kata Siska berusaha menahan isakannya.
"berhenti nyalahin diri sendiri bun. Semua sudah terjadi. Lambat laun, semua akan membaik. Percaya sama Raja"kata Raja lalu memeluk Siska.
Sedangkan Christy, dia di gendong Michel ke ruang UGD. Kondisi gadis itu tidak baik saat ini, tubuhnya sangat lemah. Denyut nadinya sangat lemah, wajahnya pucat. Michel sangat khawatir saat ini.
Michel memasangkan infus pada Christy, setidaknya itu berguna saat ini. Christy terbaring diatas brankar, matanya tertutup rapat. Michel perlahan menghapus keringat yang ada di wajah gadis cantik itu.
Michel sangat khawatir saat ini, Christy membuatnya khawatir. Sama juga seperti Richard, dia sangat khawatir pada Christy. Dia ingin menjaga Christy di UGD, tapi dia harus tetap di depan ruang operasi bersama yang lain.
Richard mengacak rambutnya frustasi, kondisi saat ini membuatnya hampir gila. Semuanya sangat sulit, ia bingung harus bagaimana lagi.
Tristan menghampiri cucunya itu, lalu duduk di sampingnya. Richard melirik kearah opahnya, Tristan mengerti arti tatapan Richard saat ini.
"kamu harus kuat Richard"kata Tristan menggenggam tangan cucu kebanggan nya itu.
"apa Richard bisa bertanya sesuatu pada opah?"tanya Richard membuat Tristan mengangguk.
"kenapa opah gak pernah bilang, kalau ayah juga bisa membaca batin seseorang? Kenapa Richard baru tahu itu sekarang?"tanya Richard membuat Tristan terdiam sebentar. Menghembuskan nafasnya gusar, lalu kembali menatap cucunya itu.
"opah juga tidak tahu, apa alasan Raymond menyembunyikan soal itu. Tapi opah yakin, pasti dia pernah mau mengatakan itu pada kamu. Tapi sikap kamu sudah sangat dingin padanya"kata Tristan membuat Richard semakin bingung.
"Richard seperti ini, ada alasannya opah. Opah tahu itu"kata Richard membuat Tristan mengangguk.
"Richard, dengarkan opah baik-baik. Setiap manusia, pasti pernah melakukan kesalahan. Mau itu kecil, ataupun besar. Salah satunya ayahmu itu. Opah tahu dia membuat kesalahan yang sangat besar. Menghamili seorang wanita, hanya untuk membalas dendam. Tapi itu sudah berlalu Richard. Ayahmu juga tidak melepas tanggung jawahnya, dia selalu menjaga Steven dari kejauhan"kata Tristan membuat Richard terdiam.
"tapi opah, karena perbuatannya itu. Seorang anak tidak bersalah, di hina habis-habisan. Selalu mendapat julukan anak haram. Seharusnya ayah bertanggung jawab"kata Richard menatap sendu wajah Tristan.
__ADS_1
"ayahmu juga tidak bisa apa-apa. Niatnya adalah membalas dendam, tapi dia malah terjebak cinta dengan wanita itu. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Dia mencintai dua wanita secara bersamaan. Dan dia harus memilih"kata Tristan mengingat bagaimana masa lalu Raymond anaknya itu.
"dan Raymond dia lebih memilih Siska bundamu itu. Karena dia berfikir, Siska adalah istri sahnya. Sedangkan wanita itu, hanya objek balas dendamnya. Namun rasa cintanya muncul. Membuat dia bimbang"kata Tristan membuat Richard mengacak rambutnya frustasi.
"opah, bagaimana Richard bisa menerima semua ini? Keluarga ini hancur. Orang yang Richard banggakan, malah melakukan kesalahan yang sangat fatal."kata Richard.
"kamu harus memaafkan ayahmu, Richard. kasihan dia. Sudah bertahun-tahun kamu bersikap dingin padanya. Richard kamu harus tahu, kamu adalah satu-satunya yang sangat mirip seperti ayahmu. Mulai dari sifat, hingga perasaan"kata Tristan yang berhasil membuat Richard sedikit bingung.
"maksud opah apa?"tanya Richard menatap bingung ke arah Tristan.
"soal perasaan, kalian berdua sangat mirip. Terjebak dengan cinta. Kalian sama-sama mencintai dua orang yang berbeda. Di waktu yang sama"kata Tristan mengecilkan suaranya.
"Richard tidak mengerti maksud opah"kata Richard ambigu, ia berusaha memutuskan kontak matanya dari Tristan.
"opah tahu, kamu masih mencintai gadis itu. Tapi sekarang, kamu juga mencintai gadis lain. Yang menjadi kekasihmu saat ini"kata Tristan membuat Richard menghembuskan nafasnya gusar.
"opah salah. Aku sudah tidak mencintainya lagi"kata Richard membuat Tristan tersenyum tipis.
"mulutmu itu, memang bisa membohongi opah. Tapi hatimu, tidak bisa berbohong Richard"kata Tristan dengan tatapan yang sangat serius.
"kamu harus bisa memilih Richard. Opah tidak mau, kamu berakhir sama seperti Raymond ayahmu"kata Tristan Richard menatap opahnya itu.
"Richard harus bagaimana, opah?"tanya Richard menatap Tristan.
"katakan yang sejujurnya, jangan membohongi perasaanmu sendiri. Dan gadis yang mencintaimu saat ini. Kasihan dia. Kenyataan pahit sekalipun, harus kamu katakan"kata Tristan sambil menepuk pundak cucunya itu
"jangan menjadi lemah. Opah tahu kamu bisa melewati semua ini"kata Tristan lalu memeluk Richard begitu pula sebaliknya.
Tristan sangat menyayangi Richard. Ia tahu, cucunya ini adalah yang paling kuat. Selalu bisa melewati semua masalahnya. Mau itu sulit atau tidak. Tristan tahu pasti Richard bisa.
"jangan khawatir. Opah ada disini untuk kalian"kata Tristan berbisik di telinga Richard.
"terimakasih opah"ucap Richard.
"kembali kasih jendral"kata Tristan tersenyum. Memanggil Richard, dengan sebutan jendral.
12 jam sudah berlalu, dokter Rio baru saja keluar dari ruang operasi. Keadaan dokter Rio singguh berantakan. Terdapat beberapa percikan darah di baju dokternya. Richard langsung mendekat, dan menatap dokter Rio.
Tanpa berkata apapun, dokter Rio langsung memeluk Richard. Semua orang menjadi bingung karena tiba-tiba dokter Rio menangis. Perasaan semua orang menjadi campur aduk saat ini.
"apa yang terjadi?"tanya Richard melepaskan pelukan dokter Rio. Menatapnya penuh tanya, sedangkan dokter Rio dia justru menunduk.
"Rio, katakan apa yang terjadi"kata Tristan yang juga mengenal Rio.
"apa, ayah sudah pergi?"tanya Richard dengan sangat sulit. Lidahnya terasa sangat keluh.
"manusia tidak bisa hidup tanpa hati, Richard"kata dokter Rio yang tidak bisa lagi menahan air matanya.
Siska terduduk lemas, hatinya serasa sangat hancur. Raka dan Raja langsung memegang kuat bunda mereka. Semua orang sangat sedih saat ini.
Christy yang baru muncul, langsung terdiam saat mendengar perkataan dokter Rio. Gadis itu menatap Michel sendu, dengan cepat Michel memeluknya. Berharap itu bisa menenangkannya.
"dad"panggil dokter Rio pada Tristan ayah Raymond. Sejak dulu ia selalu memanggil Tristan dengan sebutan daddy. Sama seperti Raymond.
"makasih selalu menemai Raymond selama ini. Bahkan hingga akhir hayatnya"kata Tristan memeluk dokter Rio. Keduanya terisak.
Vani ibunda Raymond pun menangis. Fara dan Tasya berusaha menenangkannya. Semua orang sangat terpukul, sama halnya dengan kedua orangtua kandung Christy. Megan dan Wijaya sangat sedih mendengarnya.
Richard hanya bisa terdiam, bingung harus bereaksi seperti apa. Hatinya hancur? Itu sudah pasti. Sosok yang di banggakannya, pergi untuk selamanya. Tidak mungkin kembali lagi.
Sebuah brankar di dorong keluar dari ruang operasi. Dia tas brankar terlihat seseorang yang tertutup sebuah kain putih. Richatd menahan brankar itu, perlahan membuka kain putih yang menutupi wajah orang itu.
Saat di buka, wajah Raymond terlihat di sana. Terlihat sangat pucat. Richard merasa kakinya sangat lemas. Dia menggenggam erat tangan Raymond. Menatap lekat wajah ayahnya itu. Memohon di dalam hatinya, berharap ini hanya mimpi buruk.
"maaf.....maaf karena selalu bersikap buruk selama ini. Saya tahu, saya salah selama ini. Saya mohon.....saya mohon bangunlah. Bangun lalu pukul saya hingga puas. Saya rela di pukul hingga anda puas, asal jangan pergi dari sisi saya"ucap Richard menggenggam erat tangan Raymond. Menciumnnya berkali-kali. Berharap ayahnya itu membuka matanya.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, semua orang melihat Richard bersikap seperti itu. Tidak ada wajah dingin yang terlihat, tidak ada tatapan tajam yang terlihat. Hanya ada tatapan sendu, wajah sedih dan permohonan.
"Richard, kita harus mengurus pemakaman ayahmu"kata Tristan memegang pundak Richard.
Richard menggeleng, dan menatap kembali wajah Raymond. Terus memohon, agar ayahnya itu bangun. Membuka matanya, melihat bahwa Richard menangis, dan itu karenanya.
"Chris, hanya kamu yang bisa"kata Tristan menyuruh Christy berbicara pada Richard.
"bang"panggil Christy membuat Richatd berbalik. Menatap adik kesayangnnya itu.
"princess"kata Richard dengan suara yang sudah sangat serak.
"abang harus kuat. Kasihan ayah. Pasti dia sedih lihat abang kayak gini"kata Christy yang berusaha menahan tangisannya.
"princess, coba pegang tangannya"kata Richard. Menarik perlahan tangan Christy, lalu menaruhnya di atas tangan Raymond. Christy, mati-matian menahan tangisannya.
"apa yang kamu rasakan?"tanya Richard menatap wajah Christy.
"tidak ada kehidupan lagi"ucap Christy menggigit bibir bawahnya.
"sama seperti abang saat ini. Hidup abang, hampir menghilang. Perasaan abang hancur, hati abang sakit dan batin abang terluka. Tidak ada yang baik hari ini"kata Richard lalu air matanya jatuh begitu saja.
"bang, aku mohon jangan kayak gini. Aku butuh abang sekarang"kata Christy menatap sendu wajah Richard.
"abang juga butuh kamu sekarang"kata Richard menatap sendu wajah Christy.
"ayah"kata Raja menatap sendu wajah Raymond yang sudah pucat.
"ayah harus bangun. Udah ada bunda di sini. Kenapa ayah masih nutup mata"kata Raka seolah tidak percaya, kalau Raymond sudah tidak ada.
"Raka, Raja, kalian harus sabar, kalian pasti bisa"ucap Dimas menatap kedua sahabatnya itu.
"lo gak sendiri bro. Ada kita"kata Fikra berusaha menahan air matanya.
"kalian kuat"kata Michel menggenggam tangan Raka dan Raja.
"Cel, ayah udah gak ada. Gue harus gimana? Apa gue harus jadi dokter? Supaya bisa nyelamatan ayah. Sama kayak lo nyelamatain Chris"kata Raja menatap sendu wajah Michel. Sungguh Michel sangat sedih mendengar perkataan Raja.
"Cel, lo dokter. Lo pasti bisa nyelamatin ayah"ucap Raka memohon pada Michel.
Michel berbalik membelakangi Raka dan Raja, sangat sakit rasanya. Saat mendengar perkataan kedua sahabatnya itu. Richard perlahan mendekat kearah kedua adik kembarnya. Perlahan Richard memeluk kedua adiknya itu.
Richard mengelus kepala Raka dan Raja, memeluk keduanya erat. Richard tahu pasti kedua adiknya merasa sangat sedih saat ini. Karena dia juga merasakannya.
"bang, ayah udah gak ada"kata Raka dengan isakan kecil.
"abang masih ada untuk kalian. Anggap saja, abang adalah pengganti ayah"kata Richard mencium kepala Raka dan Raja.
"putra-putra ayah, seharusnya kuat. Jangan menangis. Kalian bukan anak kecil lagi"kata Richard melepaskan pelukannya. Menggenggam erat tangan Raka dan Raja.
Richard beralih pada Siska, ia langsung memeluknya. Tangisan Siska semakin pecah, pelukan putranya itu sangat di rindukannya. Siska memeluk erat tubuh Richard, menangis sejadi-jadinya.
"tidak usah khawatir. Ada Richard di sini, bunda"kata Richard untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun. Dia memanggil Siska dengan sebutan bunda.
"hiks hiks.....semua ini salah bunda. Semua yang terjadi, itu karena bunda"kata Siska terisak.
"semuanya sudah berlalu. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri"kata Richard melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Siska.
"opah, bantu aku urus pemakaman ayah"kata Richard yang langsung di angguki Tristan.
"kemarilah"kata Richard menatap Raka, Raja dan juga Christy. Mereka langsung mendekat, Richard memeluk mereka semua. Keluarga ini, sekarang menjadi tanggung jawab besarnya. Raymond sudah tidak ada, sosok kepala keluarga sudah pergi untuk selamanya. Richard sangat hancur rasanya.
"saya janji.....saya akan selalu menjaga kalian. Tidak ada seorangpun, yang bisa melukai kalian"kata Richard.
"kenapa ada pria sekuat kamu. Hati kamu terlalu kuat, selalu terlihat kuat di hadapan semua orang. Terkadang aku bingung, kamu itu terbuat dari apa? Kenapa bisa sekuat ini? Sejak awal hubungan kita, aku selalu mau jadi orang pertama yang buat kamu bahagia"batin Vira.
__ADS_1
"maaf, bila nanti saya menyakiti kamu. Saya terlalu bodoh, tidak bisa mengerti dengan perasaan saya sendiri. Apapun yang terjadi nanti, maaf jika saya menyakiti kamu"batin Richard.