
Pagi hari yang cukup cerah, di mansion yang sangat megah terlihat cukup ramai. Raka dkk dan Christy dkk akan sarapan bersama pagi ini. Reza, Aron, Rahel dan Reyhan juga ada di sana.
Mansion itu terlihat di penuhi kebahagiaan, Christy menatap semua orang sambil tersenyum. Hatinya terasa sangat damai saat mendengar canda tawa yang ada di mansion, suasana seperti ini yang ia inginkan. Meskipun tidak lengkap karena Raymond dan Putri sudah tidak ada.
Michel menghampiri Christy lalu memeluknya, dia tersenyum lalu membalas pelukannya. Pria yang selama ini selalu ada untuknya, pria yang berjuang untuk dirinya. Sekarang sudah menjadi suaminya.
"Aku senang lihat kamu bisa senyum kayak gini. Jangan jadi dingin lagi yah"Michel berbisik ditelinga Christy.
"Selama ada kamu, kebahagiaan aku gak akan pernah hilang"ucap Christy membuat Michel tersenyum.
"Lengantim baru mesra-mesraannya di tunda dulu yah. Sarapannya udah siap nih"kata Revano membuat mereka semua tertawa.
Christy dan Michel langsung duduk bersama dengan yang lain diruang makan, meja itu terlihat di penuhi makanan. Semua maid satu persatu melayani mereka semua.
"Rahel kamu gak dateng ke acara pernikahan kemarin. Padahal Chris nungguin kamu"kata Michel membuat Rahel tersenyum tipis. Gadis itu tidak datang ke acara pernikahan.
"Maaf kak, aku benar-benar lupa. Hari pernikahan kalian bertepatan saat aku ada misi di London"Rahel merasa tidak enak. Ia sudah berjanji pada Christy untuk datang, namun ia mengingkarinya.
"Kak Chris maafin aku yah"kata Rahel membuat Christy tersenyum.
"Gak apa-apa. Yang penting sekarang kamu ada di sini"kata Christy menatap adiknya itu.
"Kamu makan yang banyak yah"kata Christy membuat Rahel tersenyum.
Mereka semua sarapan bersama, sesekali ada candaan yang membuat mereka semua tertawa. Zee merasa sangat nyaman berada di sana, gadis itu merasa ini pertama kalinya dia merasakan hangatnya sebuah keluarga.
"Kamu baik-baik saja?"tanya Reza sedikit berbisik pada Zee. Ia sejak tadi memperhatikan gadis itu, wajahnya sedikit murung.
"Iya aku baik-baik ajah. Lanjutin ajah makannya"ucap Zee tersenyum tipis.
"Princess, setelah ini kamu ada acara apa?"tanya Steven membuat Christy berfikir sejenak.
"Gak ada acara sih. Tapi aku mau ke markas bang. Mau ngecek ajah, udah beberapa hari gak kesana"kata Christy.
"Yaudah, kalau kamu mau kesana kita bareng ajah. Senjata pesanan abang datang hari ini, abang mau memeriksanya"ucap Steven membuat Christy mengangguk.
"Bang Reza sama bang Aron, habis ini mau ke markas atau gimana?"tanya Christy menatap kedua pria tampan di hadapannya itu.
"Ya mau kemana lagi princess. Tujuan kita cuma markas setelah mansion ini"kata Aron mengingat rumah mereka itu adalah markas.
"Abang mau menemani Zee dulu. Setelah itu baru abang kembali ke markas"Reza berkata sambil tersenyum menatap Christy.
"Memangnya kalian mau kemana?"tanya Christy.
"Makamnya kak Alex"jawab Zee membuat Christy mengerti.
"Bang Richard gimana? Hari ini ada acara?"tanya Christy yang beralih menatap pria dingin itu.
"Abang ada urusan bersama Vira, setelah itu baru abang ke markas"kata Richard tersenyum pada Christy.
Dret....dret...dret....
Hp Michel bergetar menampilkan nama dokter Genta. Ia menghembuskan nafasnya gusar, jika dokter Genta yang menelfon itu berarti ada pasien darurat.
"Iya ada apa?"tanya Michel pada dokter Genta yang menelfonnya.
"Ada pasien darurat di UDG. Departement bedah saraf sangat kacau. Banyak dokter yang cuti, saya harus bagaimana dokter Michel"kata dokter Genta yang terdengar sangat kawalahan.
"Dari sekian banyak dokter, apa harus saya yang anda telfon? Saya juga dalam masa cuti saat ini!"Michel terlihat marah.
Ia sudah meminta cuti agar bisa menghabiskan waktu bersama Christy. Tapi lihat lah sekarang, ia terus saja di ganggu.
__ADS_1
"Anda bisa marah dok.tapi tidak untuk sekarang! Pasien darurat sangat banyak, saya tidak bisa mengurus semuanya"dokter Genta terdengar sangat panik.
"10 menit syta sampai di sana"kata Michel lalu mematikan telfonnya.
"Ada pasien darurat yah?"tanya Christy menatap wajah Michel yang terlihat tidak begitu baik saat ini.
"Maaf Chris.....Seharusnya aku gak kerja sekarang"Michel merasa bersalah.
"Gak usah minta maaf. Ini udah kewajiban kamu. Kamu siap-siap, nanti aku nyuruh supir manasin mobil"kata Christy yang menggenggam tangan Michel, agar suaminya itu bisa lebih tenang.
"Ysudah, aku ngambil barang dulu dikamar"kata Michel.
//skip//
Saat ini Richard dan Vira sedang di perjalanan menuju cafe, tempat janjian mereka dengan mantan pacar Vira. Richard memperhatikan wajah tegang gadisnya itu.
"Kamu tegang sekali. Kiita hanya mau bertemu mantan pacar kamu. Bukannya mau berperang"ucap Richard yang tetap fokus menyetir.
Sejak tadi ia memperhatikan wajah kekasihnya itu. Dia terlihat sangat tegang, bahkan wajahnya terlihat pucat.
"Nanti aku ngomongnya gimana yah? Aku bingung"ucap Vira yang seperti orang linglung.
"Kamu hanya perlu berbicara saja. Apa sesulit itu?"tanya Richard dengan nada yang terdengar sedikit lembut.
"Turun. Kita sudah sampai"kata Richard membuat Vira sedikit terkejut.
"Lah udah nyampe?"tanya Vira membuat Richard tersenyum tipis. Gadisnya itu memang menggemaskan.
"Iya,Vira. Kita sudah sampai! Kurang jelas?"tanya Richard membuat Vira terkekeh.
Mereka berdua langsung turun dari mobil, Vira menghembuskan nafasnya gusar. Richard langsung menggandeng tangan gadis itu, lalu berjalan masuk ke dalam cafe. Vira mencari sosok pria yang akan di temuinya.
"Iti dia"Vira menunjuk seorang pria tampan yang memiliki postur tubuh yang sama dengan Richard.
"Farel"panggil Vira membuat pria itu berbalik dan langsung tersenyum.
"Aku kira kamu gak akan datang"kata Farel tersenyum sangat manis.
"Sorry buat kamu nunggu"ujar Vira tersenyum tipis. Dia sedikit merasa canggung.
"Gak apa-apa. Yaudah kamu duduk yah"kata Farel menggeser kursi agar Vira bisa duduk. Farel tidak menyadari jika pria dis samping Vira sedikit lagi meledak.
"Richard duduk"ucal Vira yang menyuruh Richard duduk.
"Vira kita pernah pacaran, tapi kamu gak pernah bilang kalau kamu punya abang"kata Farel menatap Richard. Perkataan Farel berhasil membuat pria dingin itu menatapnya.
"Bukan, dia bukan abang aku"kata Vira yang sangat canggung.
"Bukan abang kamu? Terus siapa?"tanya Farel bingung.
"Saya pacarnya"ujar Richard dengan nada dinginnya.
"Kamu udah punya pacar Vir? Aku kira putus dari aku waktu itu kamu belum pacaran lagi"Farel tersenyum tipis, membuat Richard menatapnya sinis.
"Memangnya laki-laki di dunia ini hanya dia"ucap Richard berbisik pada Vira. Membuat gadis itu terkekeh di buatnya.
"Farel, kenali ini Richard pacar aku. Dan Richard, kenalin ini Farel"kata Vira.
"gue Farel, mantannya Vira"kata Farel tersenyum. Sedangakn Richard hanya menatapnya dengan tatapan datarnya.
"Saya sudah tahu"ucap Richard dengan nada dinginnya.
__ADS_1
"Mita pesan makanan yah"kata Vira mencoba mencairkan suasana.
"Aku udah mesanin kamu makanan. Bentar lagi datang"kata Farel tersenyum manis pada Vira.
Tiba-tiba pelayan datang membawa beberapa pesanan makanan, semua makanan itu tersusun rapi di meja mereka.
"Aku pesanin makanan kesukaan kamu"kata Farel yang terus tersenyum seolah tidak merasa jika Richard sudah sangat tidak suka.
Sikap pria itu membuat Richard.
"Terus tersenyum, berkata manis dan bahkan memesankan makanan favorit. Apa alasannya?"Richard langsung pada intinya. Ia tidak suka dengan semua yang Farel lakukan.
"Maksud lo?"tanya Farel bingung.
"Richard udah"tegur Vira, lalu memegang tangan kekasihnya itu.
"Asal kamu tahu, saya tidak suka membuang-buang waktu. Sebaiknya perjelas saja apa tujuan pertemuan ini"ujar Richard menampilkan smirk andalannya.
"Gue cuma mau ketemu sama Vira. Emangnya salah?"tanya Farel dengan nada sinisnya.
"Yskin?"tanya Richard dengan tatapan elangnya.
"Emang gue punya alasan apa? Lo jangan asal ngomong. Emang lo bisa baca fikiran orang?"tanya Farel tertawa sinis.
Pria itu benar-benar meremehkan Richard. Ia tidak tahu apa akibat jika berurusan dengan jendral Mafia gila yang satu ini.
"Saya memang bisa membaca fikiran orang. Bahkan saya tahu nasib kamu setelah pulang dari tempat ini"ujar Richard tersenyum sinis.
"Richard please udah yah"Vira kembali menegurnya, membuat Richard menatapnya.
"Saya pergi sendiri.....Atau kamu mau ikut?"tanya Richard lalu berdiri dari duduknya.
"Aku ikut kamu"kata Vira lalu ikut berdiri begitu juga Farel.
"Vir, aku belum ngomong sama kamu"kata Farel hendak menggapai tangan Vira, namun dengan cepat Richard menarik Vira kebelakangnya.
"Jangan sentuh milik saya"ucap Richard dengan aura pembunuhnya yang sudah keluar.
"Malau lo mau pergi, yaudah pergi ajah sendiri. Gak usah bawa Vira, gue mau ngobrol sama dia"Gatel beradu tatap dengan Richard.
"Yang kamu mau ajak ngobrol itu pacar saya, orang yang mau kamu pegang tangannya juga pacar saya. Dan saya tidak suka, kalau milik saya di ganggu orang lain. Mengerti kamu!"kata Richard mendorong Farel cukup keras.
Richard langsung membawa Vira keluar dari sana. Gadis itu merinding saat merasakan aura Richard yang sangat berbeda. Ia merasa Richard seperti monster.
"Saya tidak tahu bagaimana nasib kamu saat masih berpacaran dengan pria itu. Pria brengsek!"ucap Richard yang masih terlihat marah.
"Farel gak se brengsek itu Richard. Aku tahu dia salah dulu. Tapi dia yang selalu bantuian aku dulu, selalu suport aku"ucap Vira membuat Richard tersenyum tipis.
"Kamu masih mencintai dia?"tanya Richard membuat Vira dengan cepat menggeleng.
"Sekarang aku punya kamu. Aku gak ada alasan buat cinta sama Farel"kata Vira menggenggam tangan Richard.
"Sekarang mau kemana?"tanya Richard membuka pintu mobil untuk Vira.
"Kalau kamu mau kemana?"tanya Vira menatap Richard.
"Saya mau ke markas. Ada princess dan Steven di sana"ucap Richard.
"Aku boleh ikut?"pertanyaan Vira kali ini membuat Richard menghembuskan nafasnya gusar.
"Kamu boleh ikut ke manapun saya pergi. Tapi tidak ke markas"kata Richard membuat Vira tersenyum tipis.
__ADS_1
"Markas saya bukan tempat yang bagus"kata Richard.
"Iya aku ngerti. Yaudah anterin aku pulang ajah, terus kamu ke markas deh"kata Vira tersenyum.