Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 50


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak kematian Raka, semua berjalan seperti biasanya. Raja semakin hari semakin dingin kepada semua orang, bahkan Christy.


Raja hanya berada di mansion untuk mengganti baju, bahkan biasa pria itu tidak pulang sama sekali. Raja lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.


Seperti saat ini, jam menunjukan pukul 12 malam. Raja baru pulang ke mansion, saat hendak naik ke atas tiba-tiba ia terkejut saat ada Richard yang duduk di ruang keluarga.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Richard yang duduk di dalam kegelapan, sambil mengisap sepuntung rokok.


Raja hanya diam, lalu hendak naik ke atas. Namun Richard tiba-tiba berdiri di hadapannya. Entah kapan pria itu berada di hadapannya.


"Kamu seperti ini, apa Raka bisa kembali? Apa semuanya bisa kembali? Jawabannya Tidak!!" ucap Richard penuh penekanan.


"Abang gak tahu perasaan aku gimana" kata Raja menatap tajam abangnya itu.


"Abang tahu, sangat tahu! Kamu adik Abang, Raja" kata Richard membuat Raja tersenyum sinis.


"Kalau bang Richard tahu perasaan aku gimana. Sekarang balikin bang Raka, bisa?" tanya Raja membuat Richard terdiam.


Raja selalu mengulangi perkataannya itu, dan berhasil membuat Richard terdiam.


"Enggak bisa kan? Jadi gak usah ngomong seolah Abang itu Abang yang baik!" ucap Raja lalu berjalan naik keatas. Meninggalkan Richard yang terdiam seribu bahasa.


Richard menghembuskan nafasnya gusar, mengacak rambutnya frustasi. Raja semakin hari semakin dingin pada semua orang, bahkan dia sangat gampang terpancing emosi.


"Bang" panggil Michel yang berjalan menuruni tangga.


"Kamu terbangun karena suara saya sangat besar? Maaf mengganggu tidur kamu. Princess juga terbangun?" tanya Richard menatap Michel.


"Enggak kok bang, santai ajah. Chris juga masih tidur" ucap Michel membuat Richard mengangguk.


"Oh iya, Raja udah pulang bang?" tanya Michel.


"Baru saja dia naik ke atas" ucap Richard singkat.


Michel terus menatap wajah Richard yang terlihat risau. Ia merasa kasihan melihat Richard seperti ini, pria itu tidak seperti biasanya.


"Bang, Lo gak sakit kan?" tanya Michel menatap wajah Richard yang sedikit pucat dan semakin tirus.


"Saya baik-baik saja" jawab Richard tersenyum tipis.


"Chris bilang, bang Richard gak tidur dua hari ini. Gak baik buat kesehatan Abang, muka Abang juga pucat banget" kata Michel lalu mengambil sebuah kota di lemari TV.


"Kamu mau apakan tangan saya?" tanya Richard saat melihat Michel mengangkat tangannya.


"Biar bang Richard sehat" jawab Michel.


Michel menyuntikan cairan vitamin ke tangan Richard, tidak ada rasa sakit yang Richard rasakan.


"Orang-orang kalau di suntik vitamin, pasti pada rasa nyeri. Yah termaksud gue bang. Tapi Lo, kayaknya santai ajah" ucap Michel sambil merapikan kotak obat-obatannya.


"Saya sudah biasa dengan rasa sakit. Suntikan seperti itu tidak akan membuat saya berteriak" kata Richard yang berniat bercanda, namun terdengar biasa saja.


"Bang Richard bisa sekuat ini?" tanya Michel membuat Richard sedikit bingung.


"Maksudnya kamu apa?".


Michel terdiam sejenak, menatap wajah Richard cukup lama. Entah kenapa, ia merasa ada yang Richard tutupi.


"Dari awal gue kenal sama Lo bang, jujur gue gak pernah dengar Lo ngeluh dikit ajah. Lo juga gak pernah nuntut apapun dari gue atau siapapun itu, tapi Lo selalu bisa nyelesain masalah. Gue gak bisa bayangin, kalau gue di posisi Lo bang" kata Michel membuat Richard tersenyum tipis.


Richard mencerna baik-baik perkataan Michel, memang benar kata Michel. Ia tidak pernah mengeluh, selalu menyelesaikan masalah hingga tuntas.


"Saya tidak sekuat itu. Saya memang jendral Mafia, tapi saya juga manusia sama seperti kamu dan yang lain. Saya bisa sedih, menangis, berteriak, bahkan mengeluh. Tapi saya sadar, dunia tidak selalu bisa bersahabat dengan siapapun. Ada saatnya, kita harus kuat dan melawan kejamnya dunia ini" ucap Richard mencoba memberikan Michel wawasan, yang menurutnya itu berguna untuk Michel.


"Tapi sekuat bang Richard, gue rasa gak ada yang bisa" kata Michel yang lagi-lagi membuat Richard tersenyum.


"Kamu terlalu sering memuji saya".


"Michel, saya bisa meminta sesuatu?" tanya Richard yang langsung di angguki Michel.


"Jujur, saya sangat percaya sama kamu. Saya percaya kamu bisa menjaga princess dan keluarga ini. Saya hanya minta satu hal, jaga mereka semua. Jaga Raja, jaga bunda, jaga keluarga ini. Terutama princess" ucap Richard yang terlihat sangat serius.


"Tanpa bang Richard suruh, gue pasti jaga keluarga ini. Mereka semua penting buat gue bang" ujar Michel.


"Saya tahu kamu pasti bisa" kata Richard lalu berdiri dan pergi meninggalkan Michel.


Entah kenapa Michel merasa ada yang janggal dari Richard, mulai dari perilaku hingga perkataan. Ia mencoba membuang jauh-jauh fikiran buruknya.


"Tuhan, jaga keluarga ini" batin seseorang.


//Skip//

__ADS_1


Jam menunjukan pukul 8 pagi, banyak wartawan berkumpul di RD Company. Pagi ini Raja akan melakukan konferensi pers, banyak wartawan menyiapkan camera untuk merekam semua yang akan terjadi nanti.


Hari ini Raja tidak sendiri. Ada Fikra, Dimas, Revano, Steven dan juga Faris. Mereka duduk di kursi yang sudah di siapkan.


Cahaya dari camera satu persatu mulai menyala, setiap gerakan dan suara di ambil dengan sangat bagus.


"Pegang ini" ucap Steven lalu memberikan sebuah cincin berwarna hitam. Cincin itu adalah cincin yang selalu Raka pakai di jari telunjuknya.


"Ini..." Raja sedikit terkejut melihat cincin itu.


"Hari ini semuanya harus selesai. Demi Raka" kata Steven lalu memberikan cincin itu pada Raja.


Raja menghembuskan nafasnya gusar, menggenggam erat cincin kembarannya itu. Masalah yang terjadi harus di selesaikan hari ini juga.


"Selamat pagi semua" Raja akhirnya membuka acara konferensi pers hari ini.


Ia mencoba lebih tenang, agar pagi ini semua cepat selesai. Sudah cukup semua permainan gila itu.


"Sasa" panggil Raja lalu memberikan sebuah kode pake sekretaris nya itu.


Sasa langsung menekan sebuah remot, hingga ada layar besar yang menampilkan beberapa gambar. Para wartawan terus merekam semuanya, harus sangat detail.


"Seperti yang kalian tahu, berita yang beredar di seluruh saluran TV tentang foto-foto ini" kata Raja menunjuk layar besar di dekatnya.


"Konferensi pers ini saya lakukan, agar kalian semua tahu kalau semua berita itu tidak benar. Dan orang yang ada di foto itu, bukan saya!!" tegas Raja membuat semua wartawan terkejut, mereka saling berbisik.


"Lalu kalau bukan anda, siapa pria di foto itu?"


"Mana mungkin itu bukan anda. Itu sudah jelas wajah anda!"


"Tidak ada orang di dunia ini yang bisa semirip itu. Kenapa anda masih mengelak!"


"Seharusnya anda mengakuinya!!"


"Lalu kalau bukan anda, dia siapa? Yang kami tahu kembaran anda itu sudah meninggal. Apa anda mau menyalahkan kembaran anda?"


Dari sekian banyak pertanyaan, Raja menjadi emosi saat mendengar pertanyaan terkahir dari salah satu wartawan.


Raja hendak turun dan memukul wartawan itu, tapi Steven menahannya dengan sangat kuat. Ini tujuan Steven datang, karena dia tahu kalau Raja tidak akan bisa menahan amarahnya.


"Kita disini untuk menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah" kata Steven menggenggam kuat lengan Raja.


Raja mati-matian menahan emosinya, mencoba membuat dirinya lebih tenang.


"Maksud Lo apa? Jangan bercanda Fikra, ini lagi serius" kata Dimas berbisik pada sahabatnya itu.


"Gue gak segila itu mau bercanda di situasi kayak gini" kata Fikra lalu berdiri.


Fikra memberikan sebuah flashdisk pada Sasa, lalu Sasa memutar sebuah vidio di layar putih itu.


Kejadian malam itu ternyata di rekam oleh Fikra, semua wartawan semakin terkejut. Raja lemas ketika melihat kembali saat Raka tertusuk malam itu.


Raja mati-matian menahan air matanya, menatap layar besar yang menampilkan kejadian malam itu. Semua sangat cepat, benar-benar cepat.


"Bang, kenapa Lo harus datang malam itu" ucap Raja lirih. Menatap wajah Raka yang berada di vidio itu.


"Lo kuat, Lo harus kuat demi Raka. Dia pasti senang kalau Lo berhasil nyelesain masalah ini" ucap Steven mengelus punggung Raja.


Semua wartawan terus mereka Vidio yang di putar itu, mereka sangat terkejut. Wajah Raja dan Levin benat-benar mirip, tidak ada bedanya sama sekali.


"Kalau begitu, dimana pria itu?"


"Benar, dimana pria yang ada di Vidio itu?"


"Ini bisa saja editan!"


"Dimana pria itu? Apa anda bisa menunjukannya?"


Benar-benar gila semua wartawan itu, bahkan mereka masih tidak bisa percaya. Steven langsung menarik Raja pergi dari sana.


Saat turun dari panggung, salah satu wartawan menahan Raja dan Steven. Wartawan itu sudah berhasil membuat Steven marah.


"Minggir dari hadapan saya!" tegas Steven yang terlihat mengerikan.


"Konferensi pers belum selesai. Masih banyak pertanyaan yang harus di jawab" kata Wartawan itu.


"Kalau saya bilang minggir, berarti minggir!!" kata Steven lalu mendorong wartawan itu hingga terlempar sangat jauh.


"Konferensi pers sudah selesai. Berhenti bertanya kalau tidak mau bernasib sama dengan orang itu!!" ucap Steven membuat semua wartawan ketakutan.


Steven membawa Raja pergi, diikuti Fikra dan yang lain.

__ADS_1


"Saya akan menyelesaikan semua masalah ini. Saya janji" batin seseorang


//skip//


Di perusahan JP Morgan Chase terlihat para karyawan yang sangat sibuk, hampir setiap hari perusahaan menerima tawaran kerja sama dari perusahaan-perusahaan besar yang ada di dunia.


Kedatangan Richard yang tiba-tiba, tidak lagi membuat karyawan terkejut. Semua karyawan tahu, tujuan Richard hanya 2 jika datang ke perusahaan.


Jika bukan karena Christy, berarti Richard datang untuk Vira. Hari ini Richard memakai baju yang lumayan formal, kemeja berwarna putih dan jas hitam yang di pegang nya.


"Kamu" Richard menunjuk salah satu karyawan. Lalu karyawan itu dengan cepat mendatangi Richard.


"Ada yang bisa saya bantu, pak Richard?" tanya karyawan itu membuat Richard menatapnya.


"Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak suka di panggil pak. Banyak panggilan lain, selain PAK!!" ucap Richard memperjelas perkataannya.


"Maafkan saya tuan" ucap karyawan itu membuat Richard mengangguk.


"Sekarang, kamu siapkan ruang rapat yang ada di lantai 7. Satu jam lagi, saya akan menggunakan ruangan itu" ucap Richard.


"Tapi tuan, hari ini anda tidak ada jadwal sama sekali. Dan lagi, ruang rapat di lantai 7 sudah lama tidak terpakai" kata karyawan itu yang sedikit bingung dengan apa yang Richard perintahkan.


"Kerjakan saja apa yang saya perintahkan. Sekarang!" tegas Richard.


"Baik tuan".


Karyawan itu langsung meninggalkan Richard, entah apa lagi rencana pria dingin ini.


"Richard" terdengar dua orang gadis memanggil Richard, secara bersamaan.


Richard menoleh mendapati Vira dan Elsa. Kedua gadis itu yang memanggilnya.


"Pagi" sapa Richard lalu menghampiri Vira, mengecup kening kekasihnya itu.


Itu sudah cukup membuat Elsa terbakar api cemburu. Richard mengabaikannya.


"Kamu kenapa gak bilang kalau mau ke sini?" tanya Vira sambil tersenyum menatap Richard.


"Saya ada urusan mendadak" jawab Richard tersenyum tipis.


"Elsa, kamu tunggu di ruangan saya" kata Richard yang akhirnya menatap Elsa.


"Tapi aku lupa ruangan kamu di mana, kita barengan ajah. Sekalian kan" kata Elsa dengan senyuman yang sangat lebar.


"Baiklah" kata Richard membuat Vira sedikit kesal.


"Kita makan siang bersama. Tunggu saya di ruangan kamu" ucap Richard memeluk Vira sebentar. Lalu pergi bersama Elsa.


"Tuhan, jaga hati Richard" kata Vira menatap punggung Richard yang perlahan menghilang di balik pintu lift.


Elsa terus tersenyum saat bisa melihat wajah Richard sedekat ini. Gadis itu benar-benar terpikat dengan wajah tampan Richard, dia benar-benar ingin memiliki Richard.


Lift berhenti di lantai 10, mereka berdua langsung keluar dari lift. Richard berjalan lebih dulu memasuki Ruangannya.


"Duduklah" ucap Richard yang langsung di turuti Elsa.


Elsa melihat semua foto yang ada di ruangan Richard. Foto Richard bersama seorang gadis, siapa lagi kalau bukan Christy adik kesayangannya itu.


"Kayaknya kamu sayang banget yah sama cewek ini" kata Elsa memegang salah satu bingkai foto.


"Christy, namanya Christy" kata Richard yang sedikit tidak suka, saat mendengar Elsa mengatakan 'cewek ini'.


"Oh iya, Christy. Aku lupa namanya" Elsa terkekeh.


"Jadi, apa alasan kamu ingin bertemu saya hari ini?" tanya Richard yang duduk di hadapan Elsa.


Elsa mengeluarkan sesuatu dari tasnya, ada beberapa kertas dan juga foto. Richard langsung melihatnya, membaca setiap baris dengan sangat teliti.


"Lalu?" tanya Richard membuat Elsa tersenyum.


"Aku bisa bantuin kamu untuk mencari kedua pria yang merusak nama Raja, adik kamu." kata Elsa yang sangat percaya diri.


"Kamu yakin?" tanya Richard menatap mata Elsa.


"Aku yakin, lagi pula menangkap mereka bukan hal yang sulit. Aku punya banyak kenalan, jadi sangat mudah untuk menangkap mereka".


"Baiklah kalau begitu, saya percayakan ini ke kamu" kata Richard lalu kembali membaca semua berkas-berkas itu.


"Tapi aku punya syarat" ucap Elsa membuat Richard menatapnya.


"Apa syaratnya?" tanya Richard.

__ADS_1


"Kamu harus nikah sama aku".


__ADS_2