Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 26


__ADS_3

Semua orang sedang berkumpul dirumah sakit, mendengar tentang Raymond yang mau mendonorkan hatinya untuk Steven, membuat semua orang terkejut. Mereka menentang kemauan Raymond, itu terlalu berlebihan menurut mereka.


Bahkan Steven terkejut mendengarnya, bukannya Raymond membencinya? Lalu kenapa dia mau mendonorkan hatinya? Steven benar-benar bingung dengan jalan fikir ayahnya itu.


Raymond yang dalam kondisi mati otak, membuat semua orang semakin takut. Takut jika sesuatu terjadi, dan semuanya menjadi musibah untuk semua orang. Richard terus berusaha mencari pendonor, agar Raymond tidak perlu mendonorkan hatinya. Namun itu semua tidak mudah, golongan darah milih Steven terlalu langkah. Sangat sulit di dapatkan.


Saat ini mereka semua menemui dokter Rio, hanya dia yang bisa menjelaskan semuanya. Bagaimana Raymond bisa mengenalnya, dan apa hubungan keduanya.


"dokter, kita bisa mencari pendonor lain. Tidak perlu menyetujui permintaan ayah"kata Christy dengan tatapan sedihnya.


"saya maunya seperti itu nona Christy. Tapi Steven terlalu susah di carikan pendonor. Terlalu langkah"kata dokter rio


"masih ada cara lain kan?"tanya Richard.


"tidak ada Richard. Kondisi Steven saat ini sudah memburuk. Hatinya harus segera diganti. Dan ayah kalian, sekarang dia dalam kondisi mati otak. Sangat kecil kemungkinan dia bisa sadar. Kalau dia meninggal, organnya sudah tidak bisa dipakai lagi. Saya harap kalian mengerti"kata dokter Rio yang semakin membuat semua orang frustasi.


Christy dan para sahabatnya semakin sedih, sungguh kondisi yang sangat membingungkan. Mereka harus memilih, antara Raymond dan Steven.


"kalau saya boleh tahu, dari mana ayah kenal sama dokter?"tanya Revano.


"sebelumnya saya minta maaf karena menyembunyikan ini. Semua ini permintaan dari Raymond. Kalian semua salah berfikir soal Raymond. Dia pria baik"kata dokter Rio membuat semua orang menatapnya


"maksud dokter apa?"tanya Richard.


"Richard asal kamu tahu, Raymond yang menyuruh saya menemui kamu dulu. Dia menyuruh saya untuk menjadi dokter yang memeriksa Steven. Dia tahu tentang Steven yang sakit. Kalau bukan karena dia, kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan saya"kata dokter Rio membuat Richard bingung.


"dan kamu Steven, kamu salah kalau berfikir Raymond jahat. Dia yang mati-matian mencari pendonor untuk kamu. Siang dan malam dia terus mendatangi semua rumah sakit. Semua itu dia lakukan untuk mencari pendonor. Kalian seharusnya bangga mempunyai ayah seperti Raymond. Dia rela melakukan semuanya demi kalian anak-anaknya"kata dokter Rio.


Seketika Steven dan Richard terdiam. Fakta apa lagi ini? Apa semua ini? Apa maksud dokter Rio. Christy menangis terisak, Fara dan Tasya langsung menggenggam tangan Christy, merekapun sedih mendengarnya.


"jadi selama ini, ayah tahu tentang saya?"tanya Steven menatap dokter Rio


"iya, dia tahu semuanya. Raymond tidak pernah berhenti mencari tahu tentang kamu. Tapi dia bilang saat kamu berumur 12 tahun, kamu sudah sulit di cari tahu. Karena kamu sudah menjadi mafia. Semua tentang kamu sangat tertutup. Kalian salah kalau berfikir Raymond lepas tanggung jawab. Dia pria yang sangat bertanggung jawab"kata dokter Rio yang seketika terlihat sedih.


"kalau dia bertanggung jawab, kenapa dulu meninggalkan mama saya? Kenapa tidak pernah datang untuk melihat kondisi kami?"tanya Steven berusaha menahan amarahnya.


"Raymond selalu datang kerumah kalian. Tapi dia memang tidak pernah masuk. Kalian mau tahu karena apa? Itu semua karena dia malu. Dia malu menunjukan wajahnya pada kamu Steven. Tidak berani menatap wajah kamu, anak yang ingin digapainya tapi sangat sulit"kata dokter Rio.


"anda tahu semua ini dari mana? Apa hubungan anda dengan ayah saya?"tanya Richard.


"kami bersahabat. Sejak kecil Raymond selalu bermain di rumah saya, karena orangtuanya yang selalu bepergian keluar negeri. Dan hingga sekarang, kami selalu berkomunikasi. Seharusnya kemarin saya sudah meninggalkan indonesia. Tapi saat saya mendengar kondisi Raymond, saya memutuskan stay di sini"kata dokter Rio.


"sebagai sahabatnya, saya sangat berat mengatakan ini pada kalian. Tapi semua ini permintaa Raymond, sebaiknya kita setujui apa yang dia mau"ucap dokter Rio menatap para anak Raymond.


"hiks hiks bang"Christy terisak, menatap Richard. Sungguh saat ini Richard sangat bingung, ini adalah keputusan yang besar. Jika hati Raymond di ambil, tidak ada harapan hidup lagi untuknya.


"apa tidak ada cara agar ayah saya sadar? Banyak hal yang harus saya tanyakan"tanya Richard pada dokter Rio.


"ayah kalian dalam kondisi mati otak. Seluruh sarafnya berhenti bekerja. Membuka mata saja itu tidak mungkin"kata dokter Rio yang sangat berat mengatakan semua itu.


Tok...tok...tok


Suara pintu yang di ketuk, membuat semua orang berbalik. Michel berdiri di sana, dia langsung masuk begitu dokter Rio menyuruhnya. Michel menatap Christy yang terisak di samping Richard. Mereka masih belum saling menegur, tapi Michel khawatir melihat Christy menangis.


"Michel saya mau berbicara pada kamu"kata dokter Rio.


"ada apa dokter?"tanya Michel.


"ini surat terkahir dari Raymond yang dia titipkan pada saya. Dia bilang surat ini akan di berikan pada kamu tepat hari ini. Hari kelahiran Raymond"kata dokter Rio memberikan selembar kertas pada Michel.


"surat apa itu?"tanya Richard.


"Raymond sempat menyuruh saya membacanya. Di sana tertulis, dia mau Michel dan Christy menikah secepatnya, dan dia mau ada di pernikahan itu bagaimanapun kondisinya"kata dokter Rio.


Michel langsung membaca surat itu, sangat hancur rasanya membacanya. Raymond seolah tahu apa yang akan terjadi, dia seperti sudah mengatur semuanya dengan rapi. Seperti ingin pergi dengan damai.


"sebaiknya kalian siapakan pernikahan ini secepat mungkin"ucal dokter Rio sambil menepuk pundak Michel.


"mana bisa ada pernikahan di situasi seperti ini? Ayah pasti bisa bangun. Ayah harus bisa ngelihat aku nikah"kata Christy yang sudah menangis.

__ADS_1


"princess jangan seperti ini"kata Richard menggenggam tangan Christy.


"apa ada yang anda tahu tentang ayah? Kenapa dia seperti tahu semua yang akan terjadi? Dia seperti sudah menyiapkan semuanya"tanya Steven bingung.


"saya dengar, kalian bertiga bisa melihat kejadian di masa depan? Bisa membaca batin seseorang?"tanya dokter Rio pada Christy dan kedua pria mengerikan itu.


"kami memang mempunyai kelebihan seperti itu"jawab Steven.


"Christy mendapatkan kelebihan itu, karena Richard yang mengajari. Dan kalian, bisa mendapatkan itu dari mana?"tanya dokter Rio menatap Richard dan Steven.


"kami memang seperti itu sejak lahir"kata Steven.


"kelebihan seperti itu adalah bawaan seseorang. Kalian seperti itu, karena ayah kalian juga sama"kata dokter Rio.


"maksud dokter?"tanya Christy bingung.


"Raymond punya kelebihan sama seperti kalian. Itu juga ada bawaan dari kakek kalian. Dia bisa melihat batin seseorang, bisa tahu apa yang akan terjadi"kata dokter Rio membuat mereka sangat terkejut.


Kenapa mereka tidak tahu soal ini? Bahkan Richard dan Steven tidak tahu. Mereka sangat terkejut, terlebih lagi Richard yang baru mengetahuinya.


"kenapa hanya bang Richard dan bang Steven? Kenapa kami tidak?"tanya Raka m


"karena kalian mengikuti watak bunda kalian itu. Apa kalian tidak menyadari? Richard dan Steven memilik watak yang sama seperti Raymond. Kalian itu keras, tidak suka di bantah. Sedangkan Raka dan Raja, kalian sama seperti Siska. Watak kalian lebih lembut dan penyayang"kata dokter Rio.


Mereka semua kembali terdiam, mengingat semuanya. Benar kata dokter Rio, sifat ke empat bersaudara itu berbeda. Ada yang sama seperti Raymond dan ada yang sama seperti Siska.


Richard semakim bingung harus bagaimana, situasi apa lagi yang di hadapi kali ini. Kenapa dia tidak mengetahuinya, kenapa raymond tidak memberitahunya.


Michel menatap wajah christy, sungguh michel tidak tega melihat kekasihnya itu menangis. Michel mengesampingkan egonya, lalu menarik perlahan christy dan memeluk gadis itu. Tangisan christy pecah seketika, pelukan michel yang dibutuhkannya saat ini, michel mengelus lembut rambut christy.


"jangan menangis aku mohon"kata michel dengan suara yanh parau. Hatinya sakit melihat christy menangis, terlalu menyakitkan buatnya.


"kondisi mati otak Raymond sudah memasuki hari ke-5, kalau sampai 2 hari ke depan dia tidak sadar. Saya sarankan kita lakukan pencangkokan hati"kata dokter Rio lalu keluar dari ruangannya meninggalkan semua orang.


Mereka semua sedih? Sudah pasti. Ini adalah hari terburuk bagi mereka. Raymond dalam kondisi mati otak, sedangkan Siska entah kemana wanita itu. Mereka semua berharap Siska kembali, mungkin saja Raymond bisa sadar karena kehadiran wanita yang dia cintai.


"abang yang akan ambil keputusan soal ini."ucap Richard menatap para adiknya.


"jangan bilang, abang setuju soal pendonoran ini?"tanya Raka.


"setuju atau tidak biar abang yang urus. Abang yang paling tua di antara kalian"kata Richard menatap Raka.


"ini bukan persoalan siapa yang paling tua. Ini menjadi keputusan bersama. Kami juga anak ayah, abang tidak bisa seperti ini!"kata Raka marah.


"bang lo tenang dong, lo gak bisa kayak gini. Yang bang Richard bilang itu benar. Sebaiknya dia yang mengambil keputusan"kata Raja pada kembarannya itu.


"dia gak punya hak sama sekali ngerti lo!"kata Raka mendorong Raja. Richard langsung menarik Raja kebelakangnya dan menatap tajam kearah Raka.


"sebenarnya apa yang ada diotak kamu Raka hah? Fikiran kamu masih labil. Selalu berfikir kamu yang paling benar"kata Richard yang mulai marah, Christy menjadi was-was takut jika mereka berkelahi.


"Raka udah lah, lo ngalah ajah. Berantem gak nyelesain masalah"ucap Revano menatap Raka.


"gue kayak gini buat ayah, Rev. Apa kalian mau melihat ayah meninggal hah?"tanya Raka marah.


"lalu sekarang kamu mau apa? Berteriak di hadapan ayah? Menyuruh dia bangun? Apa itu mungkin?"tanya Richard menatap Raka.


"masih banyak cara yang bisa di lakukan. Kita tidak harus menyetujui kemauan ayah yang tidak masuk akal itu"kata Raka membuat Richard semakin marah.


"bagaimana caranya? Kamu jangan membuat saya marah. Keputusan ada ditangan saya! Saya anak pertama keluarga Raymond"kata Richard menarik baju Raka, membuat semua orang terkejut.


Christy menahan Richard, sedangkan yang lain berusaha melerai keduanya. Sungguh mereka sangat keras memegang pendirian masing-masing.


"kenapa baru sekarang abang ngaku anak pertama keluarga Raymond HAH? kemana abang selama ini? Selalu mengabaikan ayah, berperilaku kasara pada ayah, tidak mendengarkan perkataan ayah. Seolah abanglah yang paling berkuasa"kata Raka mendorong Richard, membuat pria itu sedikit mundur. Sungguh Raka mencari mati saat ini


"kenapa kalian bertengkar seperti ini? Seharusnya kalian membicarakan persoalan ayah! Jangan seperti ini"kata Christy yang sudah menangis, dan berdiri di tengah karena takut kedua abangnya itu saling memukul.


"dan bang Raka, abang gak boleh ngomong gitu. Bang Richard gak seperti yang abang fikirkan. Bang Richard sayang sama ayah"kata Christy menatap sendu wajah Raka.


"princess sudah"kata Richard menarik Christy perlahan lalu memeluknya.

__ADS_1


"hiks hiks abang jangan hanya diam. Abang harus ngomong, biar bang Raka tahu kalau abang gak jahat"kata Christy menangis di pelukan Richard.


"sudah jangan menangis, abang bisa selesaikan semuanya. Abang sudah janji sama kamu"kata Richard melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Christy.


"Michel tetap bersama princess. Saya mau keluar sebentar"ucap Richard lalu keluar dari sana.


Steven menatap tajam ke arah Raka, sungguh pria itu tidak bisa mengontrol mulutnya. Selalu membuat seseorang sakit hati karena ucapannya. Dulu Christy, dan sekarang Richard.


"lo seharusnya bersyukur punya abang kayak bang Richard. Kalau dia gak ada, lo udah mati."kata Steven mendorong Raka.


"lo fikir selama ini bang Richard jahat hah? Lo coba ingat semuanya. Apa pernah dia mukul ayah? Apa pernah dia ngasarin ayah? GAK PERNAH? Bukan berarti bang Richard ngomong kasar ke ayah, lo bisa bilang bang Richard jahat. Buka mata lo lebar-lebar, lihat seberapa besar rasa sayang bang Richard ke keluarga Raymond. Terutama lo sama Raja, adik kembar yang paling bang Richard sayang"kata Steven marah.


"lo adiknya, seharusnya lo sadar gimana bang Richard kalau sedih. Apa lo fikir tadi dia marah hah? Lo bodoh banget! Bang Richard seperti itu karena dia sedih. Dia sedih ngelihat lo kayak gini. Selalu keras kepala, selalu mau mukul Raja, seharusnya lo sadar tadi itu bang Richard sedih bukan marah. Sekali ajah, lo lihat baik-baik mata bang Richard, gue yakin lo hanya akan lihat ketulusan"kata Steven.


"kalau sekali lagi lo buat bang Richard sedih. Itu tandanya lo siap mati ditangan gue!"kata Steven lalu keluar dari sana.


"abang harus ngomong sama bang Richard hiks hiks, bang Richard gak jahat"kata Christy pada Raka. Ia menangis tersedu-sedu membuat mereka semua sedih.


Keluarga Raymond benar-benar hancur saat ini. Siska pergi entah kemana, Raymond tidak sadar, sedangkan Raka dan Richard malah bertengkar. Christy sangat tidak suka situasi seperti ini, dulu semuanya berjalan mulus. Tetapi sekarang, semuanya hancur.


"bang Richard gak sejahat yang lo fikir"kata Raja menatap sendu wajah kembarannya itu.


"maafin abang"ucap Raka lalu memeluk Raja dan Christy bersamaan.


"turuni ego lo Rak"kata Fikra menepuk pundak Raka.


"seharusnya lo gak kayak tadi Rak. Di situasi kayak gini seharusnya kalian saling dukung. Kalian bersaudara, seharusnya lo hargai keputusan bang Richard"kata Dimas membuat Raka semakin merasa bersalah.


"abang keluar dulu"ucap Raka pada Taja dan Christy. Lalu dia keluar dari ruangan dokter Rio.


"lo harus sabar Chris"kata Fara menggenggam tangan Christy.


"lo gak sendiri, kita ada buat lo"kata Tasya tersenyum pada Christy.


Christy langsung memeluk kedua sahabatnya itu, dan menangis sejadi-jadinya. Hari ini adalah hari yang sangat berat bagi semua orang, keputusan besar akan diambil.


"Dimas, Fikra, hmm bawa istri kalian keluar dulu yah. Gue mau ngomong sama Chris"bisik Michel pada kedua sahabatnya itu.


"kita keluar sebentar yuk"kata Dimas membuat Tasya dan Fara melepaskan pelukannya.


"mau kemana?"tanya Fara pada Fikra


"Michel mau ngobrol berdua sama Chris"bisik Fikra membuat Fara mengerti.


Mereka semua langsung keluar, Christy pun hendak keluar. Namun Michel menahannya, Christy hanya menunduk dan menangis. Michel menghembuskan nafasnya gusar, lalu memeluk kekasihnya itu.


"kalau kamu kayak gini, siapa yang akan selesain masalah hmm? Kamu harus kuat. Dulu kamu selalu kuat untuk selesain masalah. Kenapa sekarang gak bisa? Mana Chris cewek dingin yang aku kenal itu hmm?"tanya Michel, sambil sesekali mengecup kepala Christy.


"aku harus gimana Cel? Hiks hiks"tanya Christy sambil terisak.


"kamu harus kuat, jadi Chris yang dulu. Selalu bisa selesain semuanya, gak nyerah sedikitpun. Demi semua orang yang kamu sayang"kata Michel.


"kamu gak sendiri, ada aku di dekat kamu. Kita selesain sama-sama. Kita pasti bisa"ucap Michel mengelus kepala kekasihnya itu


"maafin aku karena gak bisa jadi apa yang kamu mau"kata Christy yang masih terisak.


"kamu gak perlu ngerubah diri hanya demi aku. Maaf karena aku terlalu egois, aku seharusnya gak nyuruh kamu untuk berhenti jadi mafia, itu kehidupan kamu. Aku minta maaf karena nyuruh kamu milih, aku gak akan ngelarang kamu lagi, semua itu adalah keputusan kamu. Tapi aku mohon berhati-hati, aku takut kamu terluka"kata Michel .


"makasih udah ngertiin aku. Aku minta maaf Cel"kata Christy memeluk erat tubuh Michel.


"kamu gak salah, aku yang salah. Aku akan nerima semua yang kamu mau, kalau tetap menjadi mafia adalah kemauan kamu, aku akan hargai itu. Tetap ingat jangan sampai terluka, aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku cinta sama kamu Chris"kata Michel melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Christy.


"makasih"kata Christy menatap Michel.


Michel menarik Cjristy mendekat padanya, melingkarkan tangan kirinya dipinggang gadis itu. Menarik tengkuk gadis itu lalu menciumnya, Michel merasa bersalah membuat gadisnya sedih. Tiga hari tidak menegurnya, menelfonpun tidak.


Michel merindukan gadisnya, mencium gadis itu adalah hal yang di inginkannya saat ini. Christy meremas kecil jas dokter milik Michel, menikmati ciuman yang kekasihnya itu berikan.


"i love you"kata Michel disela-sela ciumannya

__ADS_1


__ADS_2