
Hari sudah sore tapi Vira belum di perbolehkan pulang oleh Richard. Gadis itu terus menyumpahi Richard karena terus saja menahannya.
"Yasudah, pulang saja kalau kamu mau pulang. Saya juga mau pergi ke markas" ucap Richard yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vira.
"Gak usah macam-macam kamu! Istirahat susah banget apa? Tinggal tiduran ajah kan" kata Vira yang sudah sangat kesal.
"Terserah".
"Kenapa malah kamu yang marah sih. Aneh banget nih cowok ih" ucap Vira kesal.
"Sini" Richard menarik Vira berbaring di sampingnya.
Vira hanya diam membiarkan Richard mengganggunya. Keduanya hanya saling diam, Richard dengan perlahan mengelus rambut Vira. Rambut gadis itu adalah sesuatu yang ia suka.
"Kamu takut waktu itu?" tanya Richard.
"Takut? Takut sama apa?" tanya Vira yang tidak mengerti maksud Richard.
"Saat kamu melihat isi ruangan yang ada di kantor" ucap Richard yang akhirnya di mengerti Vira.
Vira mengingat kejadian waktu itu, saat dirinya mendapati Arka yang terikat di dalam ruangan dengan keadaan yang sangat parah. Bahkan ia selalu merinding saat mengingat kejadian itu.
"Semua orang pasti takut kalau lihat ruangan itu" ucap Vira sambil menatap wajah Richard yang sangat dekat dengannya itu.
"Maaf karena saya sempat membuat kamu menangis" Richard berbisik di telinga Vira.
"Kenapa kamu gak cerita kalau semua ini rencana kamu? Kamu gak harus berbohong" kata Vira yang selalu penasaran dengan semua yang Richard lakukan.
"Saya tidak ingin melukai siapapun" kata Richard lalu menggenggam tangan Vira.
"Tapi kamu melukai Chris dan melukai diri kamu sendiri. Ini gak baik Richard".
Richard tersenyum lalu mengecup singkat pipi Vira.
"Hanya itu jalan satu-satunya. Saya fikir setelah semuanya selesai, saya tidak akan membuka mata lagi. Tapi ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan hidup untuk saya" Richard menatap lekat mata Vira.
"Jangan buat aku takut. Aku gak mau kehilangan kamu" ucap Vira lalu memeluk Richard seperti bantal guling.
Richard tersenyum melihat tingkah lucu kekasihnya itu. Beberapa kali Vira berhasil membuat jantungnya berdetak sangat cepat, dan selalu menjadi salah tingkah.
Vira meraih tangan Richard, menatap cincin tunangan yang Richard pakai. Pria itu lupa melepasnya.
Saat melihat tatapan Vira yang terlihat sendu, Richard langsung melepas cincin itu lalu membuangnya keluar jendela.
"Saya janji akan menjaga jari manis ini" ucap Richard sambil mengangkat jari manisnya yang terlihat sangat cantik itu. Jarinya terlihat panjang dan sangat mulus.
"Pegang janji kamu" kata Vira lalu tersenyum begitu manis.
"Kita udah pacaran sekarang. Aku mau mengenal kamu lebih jauh lagi, boleh?" tanya Vira dengan tatapan yang terlihat sangat serius.
Richard terdiam sejenak, pertanyaan Vira terlalu sulit untuk di jawabannya. Ia sadar bagaimana dirinya, benar-benar sangat menakutkan.
"Kamu yakin mau mengenal saya? Saya bukan pria baik, saya jahat" ucap Richard yang berterus terang tentang dirinya.
"Memangnya sejahat apa?".
"Bahkan saya selalu merasa takut pada diri saya sendiri. Kamu tidak seharusnya mengenal saya lebih dalam, cukup mengenal saya seperti sekarang. Itu yang terbaik untuk kamu" kata Richard yang terlihat serius.
"Aku mau tahu tentang kamu, aku mau tahu kamu seperti apa. Hanya itu" ucap Vira yang terlihat memohon pada Richard.
Richard bingung harus memulai dari mana. Dirinya bukan orang yang baik, ia adalah monster dari dunia gelap. Tidak seharusnya Vira mengenalnya lebih jauh.
"Saya akan memberitahu satu hal, ingat ini baik-baik. Dan kamu akan tahu orang seperti apa saya" ucap Richard lalu duduk tegap begitu juga dengan Vira.
"Saya selalu membalas kejahatan dengan kejahatan. Saya tidak suka dengan kekalahan, saya selalu ingin menang. Saya tidak suka saat ada orang yang merebut atau menyentuh milik saya" ujar Richard dengan tatapan yang terlihat sangat serius.
"Sifat dan perilaku saya, sama persis seperti Steven dan princess. Hanya satu yang membedakan" ucap Richard yang terhenti sejenak.
"Apa?"
"Cara membalas kejahatan. Saya dan Steven menunjukan dengan sangat rasa tidak suka kami pada seseorang. Tapi princess, dia menyembunyikannya dengan sesuatu yang selalu di sebut 'rasa sayang'." ucap Richard membuat Vira sedikit bingung.
Apa lagi ini? Otak Vira tidak bisa bekerja sama sekali. Terlalu membingungkan.
"Maksud kamu? Chris gak ngebalas orang jahat karena dia sayang sama orang itu?" tanya Vira yang langsung mendapat gelengan dari Richard.
__ADS_1
"Princess tidak menunjukannya secara jelas. Kamu pasti tahu kalau princess tidak suka di usik. Dia tidak membalas karena rasa sayang, itu adalah kebohongan. Dia pasti membalas, tapi dengan caranya sendiri" kata Richard yang semakin membuat Vira bingung.
"Apa Chris sangat berbahaya?".
"Semua orang yang mempunyai kepribadian ganda pasti berbahaya. Princess memang terkesan lebih tenang, tapi tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam hati dan fikirannya" ucap Richard.
"Seperti apa cara Chris membalas kejahatan?"
"Kamu pasti tidak menyadarinya. Tapi sudah banyak yang princess lakukan untuk membalas dendam. Salah satunya kemunculan Steven dan kematian Raka" kata Richard membuat Vira bingung.
"Tiba saatnya nanti, kamu akan melihat siapa princess sebenarnya" lanjutnya.
...🎞️🎞️🎞️🎞️...
Di perusahaan RD company terlihat Raja yang baru saja selesai rapat. Ia memilih untuk beristirahat di kamar yang ada di ruangannya.
Sebelum masuk ke ruangannya, ia melihat Sasa yang baru saja keluar dari lift. Matanya tidak lepas dari setiap pergerakan Sasa, gadis itu berhasil menarik semua perhatiannya.
"Sasa" panggilnya yang langsung membuat Sasa menghampirinya.
"Iya pak. Bapak butuh sesuatu?" tanya Sasa dengan sangat sopan.
"Masuk keruangan saya" kata Raja lalu masuk lebih dulu.
Sasa hanya mengikuti perintah Raja, gadis itu berdiri tepat di hadapan Raja. Dia mulai risih saat Raja menatapnya dari atas hingga bawah.
"Pak Raja kenapa lihatin saya seperti itu?" tanya Sasa yang merinding melihat tatapan Raja.
"Kamu berpakaian seperti ini setiap hari?".
Rok pendek sedikit ketat, dan juga baju lengan panjang yang sedikit tipis. Membuat Raja kesal melihatnya.
Sasa bingung harus menjawab apa, karena ia memang berpakaian seperti itu sebagai sekretaris.
"Iya pak, memangnya kenapa? Saya salah yah pak?" tanyanya dengan sangat polos.
"Mulai besok pakai rok dibawah lutut. Dengar kan saya baik-baik, rok di bawah lutut!" ucap Raja dengan sangat tegas.
"Baik pak, saya minta maaf" Sasa takut melihat wajah amarah Raja.
Raja memberikan pertanyaan gang sedikit aneh menurut Sasa, tidak biasanya dia bertanya seperti itu.
"Tidak pak. Memangnya ada apa yah?".
"Saya boleh suka sama kamu?" tanya Raja yang seketika membuat Sasa diam terpaku.
Pertanyaan macam apa itu? Jantung Sasa terasa hampir terlepas dari tempatnya. Raja memberikan pertanyaan yang membuatnya hampir gila.
"Maksud pak Raja apa?".
"Saya tanya sama kamu, saya boleh suka sama kamu atau tidak?" tanya Raja yang mengulang pertanyaannya itu.
"Itu haknya pak Raja. Tapi kenapa harus saya pak? Saya tidak pantas di sukai oleh pria seperti bapak" ucap Sasa menunduk.
"Maksud kamu, saya bukan pria baik untuk kamu?" tanya Raja membuat Sasa dengan cepat menggeleng.
"Bukan begitu pak. Saya hanya sekretaris di perusahaan ini, tidak seharusnya pak Raja suka sama saya. Apa kata karyawan nanti pak" ucap Sasa membuat Raja menariknya, hingga ia menabrak dada bidang Raja.
"Saya tidak perduli dengan perkataan mereka. Perasaan ini saya yang punya, mereka tidak punya hak untuk berkomentar"tegas Raja dengan tatapan yang membuat Sasa terdiam.
Tatapan Raja terlihat sangat indah, Sasa berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Berarti jawaban kamu, iya. Tutup hati kamu untuk semua pria, kecuali saya. Saya akan mencoba memenangkan hati kamu" kata Raja berbisik di telinga Sasa.
"Pak Raja serius?" tanya Sasa yang memberanikan diri menatap mata Raja.
"Perlu bukti?" tanya Raja lalu meraih dagu Sasa, dan sedikit membungkuk agar bisa menatap wajah Sasa.
Bibir Raja yang sedikit lagi menyentuh bibir Sasa, justru terhenti saat pintu itu terbuka secara tiba-tiba.
Fikra, Dimas, dan Revano yang tadinya tertawa cukup keras. Seketika terhenti saat melihat Raja dan Sasa.
Dengan cepat Sasa menjauh dari Raja, lalu gadis itu berlari keluar dari sana. Revano menutup pintu lalu menguncinya, Raja langsung di paksa duduk oleh Fikra dan Dimas.
"JELASIN!" teriak ketiga pria itu membuat Raja melotot karena terkejut.
__ADS_1
"Apanya sih?!"
"Tadi apaan? Lo mau nyosor sekretaris? Wah parah nih anak, bre**sek Lo!!" ucap Fikra yang langsung mendapat tendangan dari Raja.
"Gak usah ngatain gue bre**sek!" tegas Raja.
"Jangan bilang Lo pacaran sama dia" kata Revano menatap curiga pada Raja.
"Proses" jawab Raja dengan santainya.
Seketika mereka bertiga saling menatap, lalu terdiam cukup lama.
"RAJA NORMAL" teriak ketiganya yang kembali membuat Raja kesal.
"Keluar. KELUAR SEKARANG!" teriak Raja sambil mengarahkan pistol yang berlambang KC itu ke arah ketiga sahabatnya.
Mereka langsung berlari keluar karena ketakutan, Raja mengusap telinganya yang terasa sakit karena suara teriakan ketiga sahabatnya itu.
"Gue emang normal bego" ucap Raja lalu menembak pintu ruangannya.
...✓✓✓...
Christy dan Michel terlihat asik bersama. Michel terus menatap wajah Christy yang terlihat sangat cantik saat tertawa lepas.
Pria itu selalu mengingat bagaimana wajah datar Christy saat mereka pertama kali bertemu.
Bahkan tidak ada senyuman sama sekali, tapi sekarang istirnya itu tertawa lepas di hadapannya.
"Aku suka suara tawa kamu" ucap Michel meraih tangan Christy lalu menggenggamnya.
"Aku suka kalau kamu yang jadi alasan aku tertawa" kata Christy tersenyum begitu manis.
"Jangan tidur lagi yah" kata Michel dengan suara yang terdengar seperti menahan tangis.
Christy perlahan memeluk Michel, mengelus perlahan rambut suaminya itu. Michel menjadi pria yang paling di cintainya, pria yang membuatnya bahagia.
"Aku cinta sama kamu Cel" ucap Christy lalu mengecup singkat leher Michel.
"Aku juga Chris" ucap Michel yang tersenyum bahagia.
Christy melepaskan pelukannya lalu menatap lekat wajah tampan Michel. Ia suka saat melihat mata Michel yang tertutup ketika tertawa lepas.
"Aku gak mau jauh dari kamu" ucap Christy singkat.
"Aku gak akan jauh dari kamu. Kita menua bersama" kata Michel lalu mengecup singkat bibir Christy.
"Makasih karena selalu ada untuk aku. Kamu selalu mau pertahanin aku, kamu selalu mau nunggu aku. Makasih Cel" kata Christy yang tidak bisa lagi menahan air matanya.
Michel yang menjaganya selama ini, membantunya bangkit dari semua masalah. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai pria sebaik dia.
"Kamu dunia aku, kamu wanita aku, kamu kebahagiaan aku. Aku gak bisa kehilangan kamu..... Gak akan pernah bisa" kata Michel lalu menghapus air mata Christy.
Christy menarik baju Michel lalu mencium bibir suaminya itu, ciuman itu benar-benar menggambarkan perasaan keduanya saat ini.
Christy melepaskan ciumannya, lalu mengelus lembut wajah Michel.
"Happy birthday sayang" ucap Christy membuat Michel tersenyum.
Michel fikir Christy tidak mengingat hari spesialnya itu, ternyata ia salah. Christy tidak pernah melupakan hari ulangtahun pria yang paling di cintainya itu.
"Kamu mau hadiah apa dari aku?" tanya Christy.
"Tetap ada untuk aku, itu sudah sangat cukup" ucap Michel membuat Christy tersenyum.
"Tanpa kamu minta, aku selalu ada untuk kamu".
"Ada satu lagi yang aku mau" ucap Michel membuat Christy menatapnya penuh tanya.
"Aku ingin di sini ada nyawa malaikat kecil" ucap Michel mengusap perut datar milik Christy.
Christy tersenyum manis saat mendengar permintaan Michel, itu juga hal yang di inginkan ya.
Mengandung sosok malaikat kecil yang akan menyempurnakan hidupnya dan Michel.
"Beri kami kepercayaan untuk merawat sosok malaikat kecil, Tuhan. Kami berjanji akan merawatnya, akan menyayanginya dengan tulus" Michel dan Christy sama-sama berdoa pada Tuhan.
__ADS_1