
Pertunangan Elsa dan Richard akan di lakukan hari ini, keadaan benar-benar menjadi sangat kacau. Kabar pertempuran antara Christy dan Richard, sudah tersebar di seluruh kalangan mafia.
Banyak geng mafia yang terkejut, saat mendengar Leader dan Jendral KC itu akan bertempur. Terlebih lagi, para mafia dari penjuru dunia baru tahu kalau Christy adalah twins mafia.
Michel berusaha membuat Christy membatalkan pertempuran itu, namun tidak semudah yang ia fikirkan. Christy sangat menjunjung tinggi keputusannya untuk berperang dengan Richard.
Richard benar-benar akan membuat Christy marah, kalau pertunangan itu di langsungkan hari ini. Kehadiran Elsa di mansion, sudah cukup membuat jiwa iblis Christy muncul.
"Keluar kalian semua!!" tegas Christy pada para pendekor yang Elsa bawa, untuk mendekor mansion.
"Mereka mau mendekor mansion ini. Lo lupa? Hari ini gue sama Richard mau tunangan" kata Elsa dengan sombongnya.
"Gue tahu lo mau tunangan. Tapi lo dapat izin dari mana mau dekor mansion ini?" tanya Christy sambil berjalan mendekat ke arah Elsa.
"Lo gak punya hak untuk ngelarang gue!" ucap Elsa sarkas lalu mendorong Christy. Revano yang hendak membantu, justru di larang oleh Christy.
"Sekarang mending lo fikir, yang gak punya hak itu gue atau lo. Mansion ini, tempat keluarga gue tinggal, lo bukan siapa-siapa!" kata Christy, lalu menendang kaki Elsa. Hingga membuat gadis itu berteriak kesakitan.
"Anak pungut ajah belagu lo!!" ucap Elsa yang berhasil membuat Steven dan Faris naik pitam.
Faris seperti tak pandang bulu, tidak perduli jika yang diseretnya itu adalah seorang gadis. Elsa berusaha melepaskan tangan Faris dari rambutnya, namun tidak semudah itu.
"Sekarang, biar kita perjelas siapa yang di pungut" tegas Faris lalu mendorong Elsa cukup keras.
"Faris sudah" Wijaya langsung menahan putra sulungnya itu.
"Banci lo, berani banget mukul gue" ucap Elsa sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Gue laporin ke Richard, baru tahu rasa lo!" lanjutnya lagi, yang justru menjadi candaan untuk Christy dan yang lain.
"Kita lihat, Richard bakal belain lo atau gak. Kalau dia tahu, lo ngatain princess anak pungut" ucap Steven lalu merangkul Christy.
"Kalian semua keluar!" kata Faris pada para pendekor, mereka semua langsung keluar karena takut terkena amukan Faris.
Tiba-tiba Richard datang dengan wajah yang sedikit mengerikan, Elsa langsung berlari ke arah Richard dan memeluk pria itu. Richard hanya diam, hingga Elsa melepaskan pelukannya.
"Richard, mereka semua jahat sama aku. Mereka mukulin aku" ucap Elsa dengan wajah yang sengaja di buat sesedih mungkin.
Richard dengan kasar melepaskan genggaman Elsa pada jaketnya. Christy dan yang lain tersenyum sinis, saat melihat Richard menunjukan rasa tidak sukanya pada Elsa.
"Sebaiknya, jaga mulutmu itu! Jangan sampai saya membuat kamu tidak bisa berbicara untuk selamanya" ucap Richard sarkas lalu pergi dari sana.
Namun Richard sempat memegang tangan Christy, membawanya naik ke atas. Elsa mati-matian menahan emosinya, sedangkan Steven dan yang lain tertawa terbahak-bahak.
"Sebaiknya mulai dari sekarang, nikmati setiap nafas yang lo hirup. Karena sebentar lagi, lo bakal MATI!" kata Steven lalu menampilkan smirk andalannya.
Sedangkan di kamar, Richard sedang berbicara serius bersama Christy. Kabar pertempuran itu sudah tersebar di seluruh kalangan mafia, itu berdampak buruk untuk KC.
Peperangan antar twins mafia, membuat sebagian geng mafia lain berniat untuk memperkeru suasana.
Banyak geng mafia yang mencoba membuat suasana semakin panas, bahkan ada yang terang-terangan mau mengambil Christy sebagai leader mereka.
"Princess, kamu tidak serius kan tentang peperangan ini hmm?" tanya Richard mencoba untuk tetap bersabar menghadapi Christy.
"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Christy dengan nada yang terdengar sangat sinis.
"Princess, abang mohon mengertilah kondisi saat ini. Kita tidak bisa bertempur, kamu twins dan abang juga twins. Sangat beresiko" Richard terus mencoba membuat Christy mengerti.
Namun Christy tidak mau mengerti, karena amarahnya benar-benar tidak bisa terkontrol.
"Abang mikir gak sih? Sekeras apa aku untuk coba ngerti situasi saat ini. Batin aku gak bisa berfungsi sama sekali, aku harus gimana sekarang? Cuma pertempuran salah satu caranya, supaya aku tahu jawabannya" kata Christy.
Richard mengacak rambutnya, bingung harus mengatakan apa di situasi seperti ini. Jika ia salah mengambil langkah, semua akan hancur. Benar-benar hancur.
"Tapi princess, kita tidak bisa bertempur. Salah satu dari kita bisa mati!" tegas Richard.
Christy tersenyum tipis lalu menatap abangnya itu.
"3 tahun lalu, semua itu seharusnya sudah terjadi. 3 tahun lalu, seharusnya salah satu dari kita mati. Tapi itu gak terjadi. Sekarang waktunya" ucap Christy menampilkan tatapan yang terlihat sangat mengerikan.
"Abang gak mungkin nyakitin kamu!" tegas Richard sambil memegang bahu Christy.
"Aku gak tahu apa rencana abang, aku hampir gila buat nyari tahu apa sebenarnya yang mau abang lakukan. Kalau semua ini demi keluarga kita, gak harus abang yang berkorban" kata Christy lalu menjauh dari Richard.
Richard menghembuskan nafasnya kasar, ia bingung harus menjelaskannya bagaimana.
Yang Richard mau hanya ketenangan untuk keluarganya.
"Princess, abang mohon jangan seperti ini. Abang tidak mungkin hanya diam, saat keluarga kita seperti ini" ucap Richard yang terus mencoba membuat Christy mengerti.
"Lalu apa selanjutnya? Abang mengorbankan nyawa? Ninggalin kita semua, gitu mau abang? SADAR BANG, KITA SEMUA BISA BANTUIN ABANG!!" teriak Christy dengan emosi yang benra-benar meluap.
"PRINCESS SEMUA INI DEMI KALIAN!!" bentak Richard dengan suara yang tidak kalah besar dari Christy.
Steven dan Faris yang mendengar suara Richard, langsung berlari naik ke atas. Namun sialnya, kamar itu di kunci dari dalam.
Mereka terus mengetuk, berharap Richard dan Christy keluar.
"Ini yang buat aku bingung ngadepin abang. Semua masalah, harus selalu abang urus sendiri. Lalu keluarga ini apa gunanya, bang? Kita keluarga, gak mungkin biarin abang berjuang sendiri. Mending sekarang abang mikir, gak selamanya abang mau menyelesaikan semua ini sendiri" kata Christy lalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Steven dan Faris langsung mengecek keadaan Christy, mereka takut jika Christy dan Richard saling menyerang.
"Sebaiknya kalian bersiap, malam ini pertempurang di mulai" ucap Christy lalu pergi dari sana.
Faris dan Steven langsung menghampiri Richard yang terdiam seribu bahasa. Perkataan Christy berhasil membuatnya sadar, kalau semua masalah tidak harus di selesaikannya sendiri.
"Bang, malam ini kita benar bertempur?" tanya Steven dengan tatapan yang sedikit terlihat takut.
"Richard, ini terlalu berbahaya. Lo dan princess bisa terluka" ucap Faris yang juga sangat takut.
"Princess tidak akan terluka" kata Richard membuat Steven dan Faris menatapnya.
"Maksud lo apa?" Faris bingung dengan ucapan Richard barusan.
"Jangan bilang, abang mau ngalah? Abang mau biarin princess nyerang abang?" tanya Steven yang berharap mendapat jawaban tidak dari Richard.
Richard menatap adiknya itu cukup lama, ia semakin bingung harus menghadapi situasi ini.
"Tidak ada pilihan lain" ujar Richard yang berhasil membuat Steven marah.
"Abang mau sampai kapan kayak gini sih?" tanya Steven lalu mendorong Richard cukup kuat.
Faris langsung menarik Steven menjauh dari Richard, situasi bukannya membaik justru semakin menggila.
Steven sudah lelah menghadapi Richard yang hanya diam saja, di saat situasi sangat tidak terkendali.
"Batalin pertunangan ini bang!! Apa sesusah itu hah" ucap Steven dengan emosi yang meluap.
"Aku mati-matian usaha, supaya tahu apa rencana abang. Apa untungnya sih nutup batin aku bang" lanjutnya yang hendak memukul Richard, namun Faris menghalangnya.
"Steven tenang dulu!" Faris berusaha keras menahan Steven.
"Kalau semua ini demi Raja, kita bisa cari cara lain. Gak harus abangĀ nikah sama gadis gila itu, dan gak harus ada pertempuran" Steven kembali berbicara.
Ia sudah cukup diam selama ini, tapi diamnya tidak membuat Richard sadar.
"Hanya ini cara satu-satunya, Raja sudah kehilangan Raka. Abang tidak mungkin membiarkan dia hidup di hantui rasa bersalah dan cemohan semua orang tentang dia. Abang hanya mau meluruskan semuanya!" tegas Richard yang mencoba membuat Steven mengerti.
"Aku tahu abang sayang sama Raja, tapi kita bisa selesain semuanya sama-sama. Gak harus ada pernikahan, bang" Steven pun mencoba menurunkan emosinya.
Raja berjalan masuk ke dalam kamar, niatnya untuk pulang ke mansion justru berujung seperti ini. Raja mendengar semua perkataan para abangnya itu.
"Raja, kamu keluar dulu. Nanti abang bicara sama kamu okey" kata Faris namun tidak di dengarkan Raja.
"Abang mau nikah sama dia, karena mau ngebersihin nama aku?" tanya Raja dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Abang kayak gini, demi aku?"
"Raja, abang mohon mengerti maksud abang. Setelah ini, nama kamu akan bersih" ucap Richard namun itu tidak membuat Raja tenang.
Raja tersenyum sinis, ia mengacak rambutnya frustasi.
"Nama aku bersih, terus bang Richard gimana? Ninggalin gadis yang abang cintai, dan hidup bersama gadis yang gak pernah abang cintai. Itu mau abang?" tanya Raja, lalu mendorong tubuh Richard.
"Batalkan pernikahan abang. Aku bisa menyelesaikan masalah aku sendiri!" tegas Raja dengan tatapan elangnya.
"Raja..." ucap Richard yang seketika berhenti, saat Raja mendorongnya sangat kuat hingga menghantam dinding kamar.
"Batalkan pernikahan ini, atau abang akan kehilangan adik abang lagi!!" tegasnya lalu keluar dari sana.
Faris membantu Richard berdiri, sedangkan Steven hanya diam. Bingung harus bereaksi seperti apa.
Richard langsung mendorong Faris menjauh darinya, lalu dia berlari menyusul Raja.
"Biarin mereka ngobrol berdua" ucap Steven menahan Faris yang hendak menyusul Richard.
Richard tepat waktu untuk menahan Raja, sebelum pria itu masuk ke dalam mobilnya. Richard menutup pintu mobil Raja, lalu menarik adiknya itu masuk kedalam mansion.
"Raja, abang hanya akan menikah. Semua masalah akan selesai setelah itu, percaya sama abang" kata Richard yang berusaha tidak emosi, agar Raja bisa mengerti maksud dan rencananya.
"Banyak cara untuk menyelesaikan kekacauan ini. Abang gak harus ngorbanin perasaan abang, dan hubungan persaudaraan abang bersama Chris" ucap Raja.
"Abang tidak mengorbankan perasaan atau persaudaraan abang, Raja!" Tegas Richard yang tidak di mengerti Raja sama sekali.
"Abang tidak sebodoh itu, kamu pasti kenal abang orang yang seperti apa" lanjutnya lalu memegang kedua bahu Raja, menatap lekat mata adiknya itu.
"Apa rencana bang Richard sebenarnya?"
//skip//
Di markas KC terlihat Christy yang sibuk berlatih, keadaan di markas jauh lebih menegangkan dari sebelumnya. Pertempuran yang akan di lakukan malam ini, sangat membuat seluruh anggota KC ketakutan.
Bukan takut mati di pertempuran, tapi mereka takut jika leader dan jendral mereka terluka. Reza dan Aron sudah berusaha untuk berbicara pada Christy, namun gadis itu sangat keras kepala.
Rahel juga terlihat sibuk latihan bersama Reyhan, kepalanya terasa akan pecah karena memikirkan yang terjadi saat ini.
Ia bingung kenapa Christy dan Richard harus bertempur, keduanya sama-sama tidak pernah saling menyakiti. Lalu sekarang, justru keduanya terlibat aksi pertempuran yang mungkin akan menghilangkan nyawa salah satu di antara mereka.
"Kak" panggil Rahel membuat Christy berhenti berlatih lalu mendekat kearah adiknya itu.
__ADS_1
"Iya kenapa?" tanya Christy dengan nada yang sangat lembut.
"Kakak yakin tentang pertempuran malam ini?" tanya nya yang berhasil membuat Christy terdiam.
Christy bingung harus menjawab apa, hatinya terasa gusar saat memikirkan pertempuran malam ini.
Ia mungkin akan menyakiti Richard, yang lebih parahnya mungkin bisa membunuh Richard.
"Sebelum terlambat, sebaiknya batalkan semua ini kak. Kakak tahu ini sangat berbahaya, aku gak mau kehilangan kakak atau bang Richard" ucap Rahel yang terlihat sangat khawatir.
"Kakak janji, tidak akan ada yang terluka" kata Christy sambil menggenggam tangan Rahel.
"Princess" panggil Reza yang membuat Christy berbalik menatap abangnya itu.
Saat Christy hendak bertanya kenapa Reza memanggilnya, matanya justru berubah menjadi sangat mengerikan. Kedatangan Richard dan Elsa di markas, sudah cukup membuatnya marah.
Reza langsung memegang tangan Christy, setidaknya itu bisa membuat kemarahan Christy sedikit terkontrol.
"Apa lagi sekarang?" tanya Aron berbisik pada Richard.
"Richard kamu pernah ke sini sama Vira?" tanya Elsa yang langsung mendapat gelengan dari Richard.
"Berarti aku yang pertama. Makasih sayang" lanjutnya lalu memegang tangan Richard.
"Ngapain lo bawa dia ke sini?" tanya Reza yang terlihat tidak suka dengan kehadiran Elsa.
"Tanpa alasan" ucap Richard singkat.
Christy hanya acuh, lalu kembali fokus berlatih. Richard duduk dan memperhatikan Christy yang sibuk berlatih.
Elsa mau tidak mau mengikuti Richard, markas itu memang terlihat mewah namun rasanya sangat menyeramkan untuk Elsa.
"Kalau kamu udah jadi suami aku, kamu gak boleh ke sini lagi. Nyeremin tempatnya" ucap Elsa yang langsung mendapat tatapan tajam dari seluruh anggota KC.
Perkataan Elsa cukup membuat seluruh anggota KC marah, mana bisa gadis gila itu melarang jendral mereka untuk datang ke markas.
"Ini yang mau lo jadiin istri? Kehidupan lo ajah dia gak tahu gimana, terus udah berani ngelarang lo ke markas. Gila!" ucap Aron sarkas dan menatap sinis gadis itu.
Reza terkekeh saat melihat Aron yang berhasil membuat Elsa kesal, Reza akui jika Aron sangat pandai untuk membuat seseorang kesal setengah mati.
"Pertempuran malam ini, benar-benar akan di lakukan?" tanya Reza yang berhasil menarik perhatian Elsa.
"Pertempuran apa?" tanya Elsa.
"Pertempuran bang Richard dan kak Chris" jawab Rahel yang berjalan mendekat ke arah Elsa.
"Eh lo bocah ngapain di sini?" tanya Elsa dengan telunjuk yang mengarah ke wajah Rahel.
Dengan cepat Rahel memutar telunjuk Elsa, hingga membuat gadis itu berteriak kesakitan. Untung saja Reyhan langsung menarik Rahel.
"Kamu tenang okey" ujar Reyhan yang tahu jika Rahel sedang sangat marah.
"Karena kamu, bang Richard dan kak Chris akan bertempur. Kalau sampai salah satu di antara mereka terluka, kamu akan berhadapan dengan saya" kata Rahel dengan tatapan tajam yang sama persis seperti Christy.
"Cara Rahel berbicara, sama seperti Richard" bisik Aron pada Reza, namun ia tidak sadar kalau Richard mendengarnya.
"Richard, bocah itu siapa sih? Kasar banget sama aku" adu Elsa yang bergelayut manja di tangan Richard.
"Dia adik saya" jawab Richard yang membuat Elsa terkejut.
"Adik kamu? Kenapa gak bilang sih?" tanya Elsa yang seketika berubah menjadi sangat lembut.
"Malam ini aku sama Richard akan bertunangan, kamu datang yah" kata Elsa pada Rahel, dengan nada yang sangat lembut.
"Kami pasti datang, tapi kami datang untuk melakukan sesuatu yang sangat keren" ucal Reza lalu menarik Rahel pergi dari sana.
Tiba-tiba Christy menghampiri Elsa dan Richard. Secara tiba-tiba ia memeluk erat tubuh Richard. Bahkan terasa begitu nyaman.
"Aku gak pernah nyangkan, kalau kita akan bertarung" ucal Christy lalu melepaskan pelukannya, tersenyum tipis untuk abangnya itu.
"Kita bisa batalkan semua itu" kata Richard dengan nada yang terdengar sangat lembut.
"Termaksud pernikahan abang?" tanya Christy yang berhasil memancing kemarahan Elsa.
"Gak ada yang bisa batalin pernikahan kita!" tegas Elsa lalu menarik Richard menjauh dari Christy.
"Sampai bertemu di pertempuran nanti malam" ucap Christy menatap Richard, lalu ia pergi dari sana.
Richard menatap punggung Christy yang perlahan menghilang, hingga matanya berhasil melihat semua anggota KC yang menatapnya.
Ratapan mereka seolah mengatakan, kalau mereka tidak ingin jika Richard atau Christy terluka.
Bahkan Richard bisa melihat tatapan kecewa dari mata seluruh anggota KC. Benar-benar terlihat sangat kecewa.
"Saya janji, tidak akan ada yang terluka" ucap Richard pada seluruh anggota KC.
"Jendral harus menepati janji. Kalau salah satu di antara kalian terluka, kami akan sangat merasa bersalah. Karena tidak bisa menjadi anggota yang baik untuk jendral dan leader" kata salah satu anggota KC, yang memberanikan diri untuk mengelurkan semua yang di pendamnya.
"Kami semua tahu, orang seperti apa jendral. Kami yakin, jendral pasti bisa menyelesaikan semuanya" kata anggota KC yang lain.
__ADS_1
"Saya janji" ucap Richard lalu menarik Elsa pergi dari sana.
"Saya tidak salah memilih kalian" batin Richard.