
Sudah 3 hari sejak Christy dan Richard koma, keduanya berada di kamar yang sama atas perintah Steven.
Michel lebih banyak menghabiskan waktunya di mansion, itu semua untuk melihat perkembangan kondisi Christy dan Richard.
Kabar koma leader dan jendral Mafia itu, membuat musuh KC berlomba-lomba untuk menghancurkan markas KC.
Bahkan mereka berusaha merebut status leader dan jendral terkuat di dunia.
Tapi itu tidak mudah selama Steven dan Rahel masih hidup.
Steven lebih banyak menghabiskan waktunya di markas, entah kenapa ia tidak kuat melihat kondisi Richard dan Christy.
Dan ada satu hal yang membuat Steven betah di markas. Ada tiga tahanan yang membuatnya begitu bersemangat.
Malam pertempuran waktu itu membuatnya berhasil menangkap Elsa, Levin dan juga Arka. Nasib mereka tidak perlu di pertanyakan lagi, sangat buruk.
Saat ini Steven sedang berdiri tepat di hadapan Elsa gadis ular itu. Kabar hilangnya Elsa sudah menyebar di seluruh penjuru kota.
Tapi menemukan Elsa bukan hal mudah, terlebih lagi gadis itu berada di markas KC.
"Gadis bodoh! Udah gue peringatin ke Lo waktu itu, Lo bukan tandingan gue!" ucap Steven berjongkok di depan Elsa, lalu menjambak rambut gadis itu.
"Ups rontok" Steven memainkan rambut Elsa yang berhamburan di tangannya.
Steven sedikit terkejut saat Rahel yang baru saja datang tiba-tiba menendang Elsa, hingga gadis itu terlempar cukup jauh. Setelah itu Steven tertawa lalu menepuk tangan dengan sangat gembira.
"Kita bunuh saja dia hari ini" tegas Rahel lalu menyambar samurai yang ada di sana.
Gadis itu hendak menusuk bola mata Angel. Namun Steven menahannya dengan cepat.
"Tidak sekarang! Menyiksa dia adalah pilihan yang tepat untuk saat ini" kata Steven lalu merebut samurai itu dari tangan Rahel.
Rahel yang begitu emosi seketika memukul Elsa, Levin dan juga Arka dengan membabi buta. Kabar Christy yang koma membuat gadis itu sangat marah.
"Kenapa bukan bajingan seperti kalian saja yang koma HAH!" bentak Rahel dengan penuh emosi.
Steven hanya diam dan mencoba memperhatikan Rahel, gadis itu semakin hari semakin mengerikan. Kemarahannya sangat sulit terkontrol, dan itu berbahaya untuk semua orang.
"Setiap nafas yang kalian hirup dan hembuskan, akan menjadi hal yang menyakitkan selamanya" kata Rahel lalu menendang kepala Elsa, hingga gadis itu menghantam besi yang ada di ruang bawah tanah.
"Dengar saya baik-baik, kalian hanya akan mati di tangan saya. Ingat itu!" tegasnya lalu pergi dari sana.
Steven tersenyum melihat keganasan Rahel, gadis itu semakin terlihat kuat saja. Lalu ia beralih menatap ketiga tahanannya itu.
"Dengerin gue baik-baik, kalian itu bego atau gimana sih hah?" tanya Steven yang menampilkan smirk andalannya.
"Dan buat Lo, Elsa. Lo bego banget teryata, Lo percaya ajah kalau bang Richard mau terima tunangan sama Lo. Ngapain dia harus rela tunangan sama Lo supaya Lo bisa bantuin nyelesain masalah Raja. Kalau bang Richard bisa nyelesain sendiri tanpa bantuan Lo" kata Steven yang tahu semua rencana abangnya itu.
"Diam Lo!" ucap Elsa yang menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Bang Richard gak sebodoh itu, Sampai rela tunangan sama cewek kayak Lo. Semua ini cuma jebakan, ngerti Lo. Jebakan!" tegasnya lalu tertawa sekencang-kencangnya.
"Malam saat Lo tunangan sama bang Richard, rencana di mulai sangat mulus. Setelah acara selesai, bang Richard ngajak Lo pergi dan dengan bodohnya Lo ikut gitu ajah. Tanpa Lo tahu kemana tujuan kalian. Dan akhirnya Lo berakhir di tempat bang Richard dan princess akan bertempur. Lo lihat semuanya, Lo lihat gimana mereka saling nyakitin. Dan itu semua karena Lo!" ucap Steven yang kembali menendang Elsa.
Rasa dendamnya terhadap Elsa, membuatnya begitu marah walaupun hanya melihat wajah gadis ular itu.
"Sebaiknya kalian berdoa sekarang, semoga bang Richard dan princess bisa bangun kembali. Kalau dalam waktu satu Minggu mereka belum sadar, kalian bakal mati di akuarium itu" ucap Steven menunjuk sebuah akuarium besar yang di penuhi ikan piranha peliharaan Reza dan Aron.
"Lihatlah, ikan-ikan itu sudah sangat kurus. Pasti mereka menginginkan daging segar" ucap Steven lalu tersenyum sinis.
"Gila, kalian semua gila!" kata Arka yang terlihat sangat takut.
"Gue emang gila, gak ada mafia yang gak gila. Karena menyiksa orang, adalah kesenangan untuk kami semua" Steven tersenyum sangat lebar, memperlihatkan kebahagiaannya pada ketiga orang itu.
"Kenapa Lo nyiksa kita? Kita cuma di suruh sama Elsa, kita gak ada hubungannya sama semua ini" ucap Levin menatap Steven.
"Kalian kenapa mau di suruh-suruh? Bego kan. Dan tadi Lo bilang apa? Kalian gak ada hubungannya? Siapa yang ngebunuh Raka? Siapa yang nusuk Raka pakai belatih hah?!" Steven sambil menginjak tangan Arka.
Tangan Arka sudah tidak berbentuk, injakan Steven berhasil membuat tangan pria itu mengeluarkan banyak darah.
"Gue udah bilang, gue gak sengaja. Gue gak ada niatin nusuk adik Lo itu" tegas Arka yang menahan sakit karena Steven terus saja menginjak tangannya.
"Gak sengaja? Gak sengaja Lo bilang, hah?! Kalau gitu balikan adik gue, BALIKIN!" teriak Steven seperti orang kesurupan.
Reza dan Aron yang baru saja datang, seketika terkejut mendengar Steven yang berteriak cukup kencang. Mereka tahu ini sangat berat untuk Steven.
"Gue bakal bebasin kalian, kalau kalian bisa kembaliin adik gue. Ngerti!" ucap Steven lalu keluar dari sana.
Reza yang hendak menahan Steven, justru mendapat pukulan dari pria gila itu. Berbicara pada Steven bukan hal yang tepat, mereka hanya akan mendapat pukulan dan makian.
__ADS_1
"Masalah terus ajah datang. Susah banget lihat keluarga mereka bahagia" ucap Aron memikirkan keluarga Steven.
"Hidup gak selamanya selalu mulus. Pasti akan ada saatnya masalah datang" kata Reza menatap Aron.
...✓✓✓✓...
Di mansion cukup ramai karena semua orang berkumpul, mereka selalu ingin tahu bagaimana kondisi Christy dan Richard.
Sudah tiga hari kedua orang itu koma, tidak ada kemajuan sama sekali.
Mereka semua juga sedih melihat Michel yang menjadi sangat murung, bahkan semakin jarang berbicara. Michel lebih sering menyendiri.
"Cel" panggil Zee yang baru saja membawakan minuman untuk semua keluarga.
Zee menghampiri Michel yang berada di kamar tempat Christy dan Richard di rawat. Lamunan Michel buyar saat mendengar Zee memanggilnya.
"Lo gak ke bawah? Semua orang khawatir sama Lo" kata Zee lalu duduk agak jauh dari Michel.
"Gue mau nemenin Chris" ucap Michel dengan suara yang begitu kecil.
"Dulu Chris kayak gini juga?" tanya Zee membuat Michel sedikit bingung.
"Maksud Lo?"
"Koma selama tiga tahun, karena kak Alex" Zee mengingat kejadian waktu itu, saat Alex kakaknya berhasil menebak kepala Christy.
"Hmm sama persis" ucap Michel menatap sendu wajah pucat Christy.
"Kalian berdua terlalu sering terkena masalah. Gue kadang mikir, kalian kurang baik apa sih? Kalian ngelakuin apa sih? Sampai Tuhan selalu ngasih cobaan seberat ini. Kalian berdua orang baik, bahkan sangat baik" ucap Zee yang seketika menjadi sedih.
"Bukan cuma Lo yang mikir gitu, gue juga. Gue selalu mikir, gue salah apa sih sampai gini amat. Tapi gak ada jawaban" kata Michel lalu menatap Zee.
"Gue mau nanya sama Lo. Chris bisa bangun lagi kan? Dia bisa balik lagi kan?" tanya Michel yang seketika membuat air mata Zee terjatuh.
Pertanyaan Michel terdengar begitu menyedihkan. Sehancur itu kah dia? Sesedih itu kah dia? Jawabannya ya, pasti. Untuk kedua kalinya ia harus melihat Chris koma, dan entah kapan gadis itu bisa bangun.
"Lo tahu kan kalau Chris cinta sama Lo. Gue yakin dia pasti bangun, karena Lo nungguin dia" kata Zee menatap Michel yang terlihat begitu hancur.
"Lo harus yakin. Lo dokter, Lo pasti bisa buat Chris bangun lagi" Zee berusaha meyakinkan Michel.
Michel kembali menatap Christy, berusaha menguatkan hatinya yang terasa sangat hancur. Mencintai Christy tidak mudah, selalu banyak cobaan dan rintangan.
Air matanya terjatuh hingga ke wajah Christy, hatinya begitu hancur melihat Christy yang menutup mata.
Zee langsung keluar dari sana, lalu terisak sejadi-jadinya.
Zee semakin merasa bersalah, menghancurkan hidup Christy adalah hal yang paling di sesalinya.
Ia tidak bisa membayangkan jika ia di posisi Christy, selalu menghadapi banyak masalah, dan tidak pernah berhenti.
Saat Zee turun ia berpapasan dengan Vira yang hendak naik. Zee hanya tersenyum tipis, lalu turun untuk menghampiri semua orang.
Sedangkan Vira, dia masuk kedalam kamar tepat Richard dan Christy di rawat.
Michel menghapus air matanya saat melihat Vira yang baru saja masuk.
Gadis itu langsung duduk di dekat Richard, mengenggam erat tangan pria itu. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Richard yang pucat dan terlihat begitu polos.
Tidak ada lagi rahang yang mengeras karena marah, hanya ada wajah polos dan damai.
"Aku mending lihat kamu jarang ngomong, dari pada gak sama sekali kayak gini" ucap Vira yang berusaha tersenyum.
"Cel, gak ada kemajuan?" tanya Vira yang beralih menatap Michel.
"Gak ada kak"
Vira hanya bisa pasrah menerima semuanya, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain tetap di samping Richard. Pria dingin itu sudah berhasil membuatnya gila dan takut.
Michel dan Vira secara bersamaan mencium tangan orang yang mereka cintai itu. Entah kenapa rasanya sangat berat, saat melihat orang yang kita cintai terbaring lemah seperti ini.
"Bangun" ucap keduanya secara bersamaan.
Richard dan Christy seolah mendengar perkataan Michel dan Vira. Tangan mereka perlahan mulai bergerak, Michel dan Vira cukup terkejut saat keduanya tiba-tiba membuka mata secara bersamaan.
Richard dan Christy menoleh dan saling menatap, mata keduanya saling bertatapan.
Tanpa sadar air mata mereka terjatuh, rasanya seperti tertidur cukup lama dan baru saling menatap lagi.
Richard dengan sekuat tenaga meraih tangan Christy, lalu menggenggamnya begitu erat.
__ADS_1
"Kamu ada princess" ucap Richard dengan suara yang terdengar sangat serak.
"Abang juga" Christy perlahan tersenyum.
Michel langsung melepaskan masker oksigen yang Christy dan Richard pakai. Ia lebih dulu memeriksa keadaan kedua orang itu, lalu bisa bernafas lega saat semuanya sudah membaik.
"Kamu balik Chris" Michel mencium kening Christy.
"Makasih udah mau nunggu aku" Christy menatap lekat wajah suaminya itu.
"Terimakasih" kata Richard yang langsung meraih tangan Vira, lalu mencium tangan mulus kekasihnya itu.
"Makasih kamu udah bangun. Jangan tidur lagi" ucap Vira yang tidak bisa menahan isakannya, karena terlalu bahagia.
"Semua akan kembali di mulai"
//Skip//
Steven yang mendengar kabar kalau Richard dan Christy sudah sadar, tanpa fikir panjang ia langsung bergegas pulang ke mansion. Rahel pun mengikuti Steven.
Semua orang di mansion merasa sangat bahagia saat mereka melihat Richard dan Christy yang sudah sadar. Mereka bisa bernafas lega sekarang.
Steven yang baru sampai di mansion langsung berlari menuju kamar milik Richard. Nafasnya begitu sulit untuk di atur, ia tersenyum saat melihat Richard dan Christy yang duduk bersandar dengan wajah yang terlihat sehat.
"Kalian kembali" ucap Steven dengan nafas yang memburu, lalu memeluk dua orang terpenting di hidupnya itu.
"Maaf membuat kamu khawatir" kata Richard sambil mengelus punggung adiknya itu.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Steven lalu melepaskan pelukannya.
"Baik" jawab Richard dan Christy secara bersamaan.
"Kak Chris" panggil Rahel yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.
Christy tersenyum saat melihat kedatangan Rahel, gadis itu langsung memeluk erat tubuh Christy.
"Jangan seperti itu lagi kak. Aku takut kehilangan kakak" ucap Rahel mengingat kejadian di malam pertempuran waktu itu.
"Kakak gak akan kayak gitu lagi" ucap Christy lalu melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Rahel.
"Terimakasih sudah menjaga markas saat kakak tidak ada. Kamu memang leader terbaik" Christy tersenyum bangga pada adiknya itu.
Ia merasa tidak salah karena memilih Rahel sebagai leader. Gadis itu sangat bertanggung jawab.
"Semua itu karena perintah kakak. Aku hanya menjalankannya saja" kata Rahel sambil tersenyum menatap wajah Christy.
"Apa ada masalah di markas?" tanya Richard menatap Steven dan Rahel.
"Sedikit" jawab Rahel dan Steven sambil tersenyum nakal.
"Apa lagi yang kalian lakukan" Richard tersenyum tipis.
"Elsa dan kedua pria itu sekarang ada di markas" kata Rahel membuat semua orang terkejut.
Mereka tidak tahu jika Elsa berada di markas KC, mereka hanya tahu jika Elsa hilang.
Richard hanya tersenyum karena sudah tahu semua, karena itu rencananya.
"Malam ini kita markas" kata Richard yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vira.
"Berdiri ajah masing miring, gimana mau ke markas hmm? Gak usah macam-macam, nanti ajah ke markasnya" tegas Vira yang berhasil membuat Richard diam dan yang lain tertawa.
Pertama kalinya ada yang berani memarahi Richard, selain Christy. Bahkan Christy tertawa saat melihat wajah Richard yang terlihat seperti takut pada Vira.
"Pawangnya ganas yah" kata Steven lalu tertawa dan mendapat jitakan dari Richard.
"Tidak usah tertawa!" ucap Richard yang kembali menjadi dingin.
"Saya hanya mau mengecek markas" kata Richard sambil menatap Vira.
"Nanti ajah Richard! Kamu berdiri ajah masih miring, gimana mau ke markas sih. Istirahat ajah dulu beberapa hari" kata Vira yang hanya bisa di angguki Richard.
"Sepertinya posisi princess sudah terganti sekarang" kata Steven yang berhasil membuat Christy tertawa.
"Iya nih, pawangnya lebih galak dari aku" Christy terkekeh.
"Sudah jangan tertawa!" kata Richard yang menjadi salah tingkah karena semua orang menertawainya.
"Suasana seperti ini yang aku inginkan, Tuhan. Jangan berikan kesedihan pada keluarga ini, sudah cukup semuanya" batin Raja yang bahagia menatap semua keluarganya.
__ADS_1