
Matahari pagi yang menerobos masuk ke dalam sebuah apartement, membuat seorang pria yang tertidur di depan pintu sedikit terusik. Niat nya untuk bangun seketika hilang, saat merasa pintu kamar itu terbuka.
Ia berpura-pura tidur untuk mencari perhatian istrinya. Pria itu adalah Michel.
Semalaman pria itu tertidur di depan kamar tamu yang Christy tempati. Christy terkejut saat membuka pintu, ia mendapati Michel yang tidur di sana.
"Cel, kamu kok tidur di sini sih" ucap Christy lalu berusaha membangunkan suaminya itu.
Michel tetap tidak mau membuka matanya. Christy duduk di samping tubuh Michel, mengelus lembut kepala suaminya itu.
Christy merasa bersalah karena membiarkan Michel tertidur di depan pintu.
"Maafin aku. Harusnya kamu gak usah nungguin aku sampai ketiduran di sini" tutur Christy yang merasa tidak enak dengan Michel.
"Kamu keras kepala Cel" lanjutnya.
Tanpa sadar air matanya terjatuh hingga mengenai wajah Michel. Mata pria itu seketika terbuka lebar saat merasa jika Christy menangis. Ia langsung duduk dan memeluk tubuh Christy.
"Hey, kok kamu nangis hmm?" tanya Michel yang seketika menjadi sangat khawatir.
"Aku udah fikirin ini semalaman. Kayaknya kita butuh waktu sendiri dulu, Cel" ujar Christy membuat Michel melepaskan pelukannya. Ia sedikit bingung dengan apa yang Christy katakan.
"Maksud kamu apa?"
"Kita gak usah ketemu dulu, Cel" lontar Christy yang berhasil membuat Michel terkejut.
"Enggak Chris! Aku gak mau!" tegas Michel yang terlihat marah.
"Kita berdua butuh waktu masing-masing Cel" Christy kembali berkata. Membuat Michel benar-benar marah.
"Tapi kenapa? Aku gak butuh waktu sendiri. Aku mau sama kamu! Sama kamu Christy!" tegas Michel dengan penuh penekanan.
"Kamu butuh waktu Cel. Kamu harus fikirin, mau bertahan sama aku atau gak" kata Christy sambil menatap lekat mata suaminya itu.
"Semalam kamu sendiri yang bilang. Kamu mau tahu, arti kamu di hidup aku apa. Sekarang waktunya buat kita fikirin itu" lanjutnya yang benar-benar membuat Michel frustasi.
Michel seketika berdiri dan menatap Christy. Pria itu terlihat sangat marah. Ia tidak suka dengan apa yang Christy katakan barusan.
Christy terkejut saat melihat Michel memukul dinding berkali-kali. Tangan pria itu benar-benar di banjiri darah.
"Cel, udah" Christy langsung menahan tangan Michel, agar pria itu berhenti memukul dinding.
Tatapan Michel terlihat sangat menyeramkan. Ini pertama kalinya, Christy melihat Michel sangat marah. Pria itu seperti berubah menjadi monster yang menyeramkan.
"Kalau kamu marah, harusnya lampiasin ke aku. Bukannya nyakitin diri sendiri kayak gini" ujar Christy. Ia tidak habis fikir dengan apa yang Michel lakukan barusan.
"Tapi aku gak mungkin nyakitin kamu" tutur Michel bersamaan dengan air matanya yang terjatuh.
Pria itu benar-benar emosi. Mati-matian dia menahan emosinya agar tidak menyakiti Christy, hingga air matanya terjatuh.
"Aku akan nurutin semua kemauan kamu, Chris. Tapi gak kalau kamu mau ngejauh dari aku" kata Michel.
Michel sangat mencintai Christy, ia tidak mau jika jauh dari wanitanya itu. Tapi entah kenapa Christy ingin di beri ruang untuk sendiri dulu.
"Cel, cuma beberapa hari ajah. Kita harus fikirin ini lagi. Aku gak mau kita sama-sama nyesel nanti" kata Christy.
Seketika genggaman Michel di tangan Christy terlepas begitu saja. Pria itu menghapus air matanya, lalu sedikit menjauh dari Christy.
"Kalau kamu butuh waktu untuk mikir, kenapa gak dari dulu? Sekarang kita udah resmi jadi suami istri, terus kamu masih butuh waktu untuk mikir? Sebenarnya arti hubungan ini buat kamu apa sih hah?!" Michel menghujani Christy dengan banyak pertanyaan.
Entah kenapa ia ingin menanyakan semua itu. Ia sudah tidak bisa menahan semuanya lagi, pria itu sudah sangat lelah saat ini.
"Bukan gitu maksud aku Cel" ucap Christy.
"Terus gimana Chris? Aku harus gimana lagi sekarang hah?! Aku harus ngelakuin apa supaya kamu yakin kalau aku serius sama kamu. Aku gak pernah main-main sama hubungan ini!" tegas Michel yang tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Aku tahu kamu serius Cel. Aku percaya sama kamu" kata Christy lalu hendak meraih tangan Michel. Namun pria itu menghindar.
"Kalau kamu mau akhiri hubungan ini......Bilang sekarang Chris" ucap Michel dengan sangat susah payah. Kalimat itu sangat sulit untuk di katakannya.
Christy terkejut mendengar perkataan Michel. Ia semakin bingung harus bagaimana lagi. Mana mungkin hubungannya hancur begitu saja. Tidak mudah untuk sampai di titik ini.
"Aku cuma mau hidup bahagia sama kamu Chris. Aku gak butuh yang lain......Aku cuma mau kamu" ucap Michel yang akhirnya menatap mata Christy.
Tatapannya terlihat sangat hancur. Pria itu benar-benar terluka saat ini. Christy sangat berpengaruh di hidupnya.
Christy langsung memeluk erat tubuh Michel. Ia menangis sejadi-jadinya. Michel menghembuskan nafasnya gusar, ia sangat lemah saat melihat Christy menangis.
"Maafin aku Cel" ucap Christy yang terus menangis di pelukan Michel.
"Aku tahu semua yang terjadi sangat berat buat kamu. Tapi aku mohon Chris.....Aku mohon jangan pernah berfikir untuk ninggalin aku" kata Michel lalu memeluk erat tubuh Christy.
"Iya Cel. Maafin aku"
Berbeda dengan Michel dan Christy. Di mansion suasan tidak begitu baik.
Keadaan Richard tidak begitu baik sekarang. Semua orang terkejut saat melihat kamar pria itu sangat berantakan.
Mereka mencari Richard, hingga mata mereka berhasil menangkap sosok pria dingin itu. Dia duduk di sudut kamar, sambil menghisap sebatang rokok.
Vira yang juga adaa di sana, langsung merebut rokok itu dan membuangnya ke sembarang tempat.
Vira tidak habis fikir dengan apa yang Richard lakukan. Pria itu benar-benar sudah gila. Entah berapa batang rokok yang ia hisap semalaman. Ada banyaak bungkusan rokok yang berserakan di kamar itu.
"Mau mati kamu?" tanya Vira yang terlihat tidak suka dengan apa yang Richard lakukan.
"Keluar" ucap Richard singkat. Lalu ia berdiri dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
"Bang tapi...." Steven yang hendak berbicara, seketika terdiam saat Richard melempar sebuah vas bunga, hingga menghantam dinding dan pecah.
"Saya bilang keluar! KELUAR!" Richard berteriak seperti orang kesetanan. Semua orang sangat terkejut.
Suasana hati pria itu tidak begitu baik. Sejak kejadian dirinya yang menampar Christy, dia menjadi sangat mengerikan.
Vira tidak suka melihat kelakuan Richard. Pria itu sudah seperti orang gila, penampilannya sangat amburadul.
__ADS_1
"Richard, kamu kenapa sih? Semua orang khawatir sama kamu" ucap Vira.
"Saya mau sendiri. Sebaiknya kalian semua keluar. Saya tidak ingin menyakiti siapa-siapa" Richard berusaha berbicara sedikit lebih halus. Ia tahu emosinya bisa membuat orang lain terkena dampaknya.
"Bang. Princess udah ketemu. Dia tinggal di apartement Michel" kata Steven yang berhasil menarik perhatian Richard.
"Antar abang ke sana" Richard langsung menyambar jaketnya. Ia harus bisa bertemu Christy hari ini juga.
"Dia gak mau ketemu sama abang" lanjut Steven.
Richard menghembuskan nafasnya gusar, ia melemparkan jaketnya dengan penuh emosi. Christy benar-benar membencinya.
"Kalau Chris lihat kamu kayak gini, yang ada dia makin gak mau ketemu sama kamu" ucap Vira yang terlihat marah.
"Sebaiknya kalian keluar dulu" pinta Steven pada semua keluarganya.
Mereka hanya menuruti apa yang Steven katakan. Lagi pula mereka juga sangat bingung harus melakukan apa lagi.
Situasi ini sangat sulit untuk mereka semua. Steven langsung menutup pintu kamar itu, lalu menatap Richard dan Vira.
"Bang Richard gak bisa kayak gini terus. Abang nyakitin diri sendiri" kata Steven yang tidak tahan melihat kondisi abangnya itu.
Steven tidak bisa melihat abangnya itu menyiksa diri sendiri. Richard sangat sulit untuk di beritahu. Hanya Christy yang bisa membuat pria itu mengerti.
"Richard, tangan kamu" ujar Vira yang terkejut melihat tangan Richard. Tangan pria itu di penuhi darah, bahkan warna kulitnya membiru dan bengkak.
Steven langsung mencari kotak obat di kamar Richard. Ia tidak habis fikir dengan kelakuan abangnya itu.
Steven dengan cepat membersihkan tangan Richard, ia merasakan perih saat melihat tangan abangnya itu.
Sedangkan Richard, dia hanya diam seolah tidak merasakan sakit sama sekali. Vira tidak bisa lagi berbicara, ia tidak bisa menebak orang seperti apa kekasihnya itu.
"Abang gak harus sampai kayak gini" tegur Steven yang sudah muak melihat kelakuan Richard.
Richard yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba menelfon seseorang. Steven dan Vira hanya menatapnya bingung, entah apa lagi rencana pria dingin itu.
"Bawa princess pulang. Bagaimana pun caranya, bawa dia kembali ke mansion!" perintah Richard pada anggota KC yang di telfonnya itu.
"Saya izinkan kalian menggunakan kekerasan" lanjutnya lalu mematikan sambungan telfon.
Steven terkejut mendengar perintah Richard. Bukannya membuat situasi kembali membaik, pria itu justru semakin memperburuk situasi.
Mana bisa dia menyuruh anggota KC untuk membawa Christy kembali ke mansion, walau dengan cara kekerasan.
"Bang, situasi gak akan membaik kalau gini" ucap Steven menatap wajah abangnya itu.
"Tidak ada cara lain. Hari ini juga, princess harus tahu semua yang abang sembunyikan selama ini" Richard kembali berkata, membuat Steven terkejut.
Dia tahu apa maksud Richard. Entah apa yang akan terjadi setelah pria itu jujur. Hanya ada dua kemungkinan. Kehilangan Christy atau kehilangan Vira.
"Abang bisa kehilangan mereka" ujar Steven yang menjatuhkan pandangannya pada Vira.
Gadis itu bingung dengan apa yang kedua pria itu bicarakan. Vira hanya diam, berusaha mengerti apa maksud dari semua ini.
"Abang sudah memikirkan itu. Sebaiknya jujur sekarang, sebelum semuanya semakin hancur" kata Richard lalu membalut tangannya sendiri menggunakan perban. Lalu ia keluar dari sana meninggalkan Vira dan Steven.
"Gue mau minta sesuatu sama lo, boleh?" tanya Steven yang terlihat sangat serius.
Vira hanya mengangguk lalu memperhatikan Steven yang sedang mengatakan sesuatu.
//skip//
Hari sudah sore, mansion masih terasa sangat tegang. Semua orang hanya bisa menatap Richard yang duduk sendiri di ruang keluarga. Pria itu terlihat sangat menakutkan. Auranya terasa sangat mengerikan.
Tidak ada yang berani menghampirinya selain Steven. Ia berkali-kali mencoba untuk berbicara pada Richard, namun tidak mendapat respon sama sekali.
"LEPAS" teriak seseorang yang di tarik paksa masuk ke dalam mansion.
Semua orang terkejut saat melihat orang yang di tarik itu adalah Christy dan Michel. Seketika Steven terlihat marah, ia tidak suka melihat Christy dan Michel yang di tarik paksa oleh anggota KC.
"Lepaskan mereka!" Steven langsung memberi perintah. Dengan cepat para anggota KC itu melepaskan Christy dan Michel.
Richard yang sejak tadi hanya duduk di ruang keluarga, langsung datang menghampiri mereka semua.
Christy menatap abangnya itu, ia tidak habis fikir dengan kelakuannya. Kalau saja Michel tidak dalam bahaya, ia pasti akan memberontak saat para anggota KC itu memaksanya datang ke mansion.
"Maaf kan kami. Kami hanya menjalankan perintah" ujar salah satu anggota KC yang merasa sangat takut jika terkana amukan Christy dan Steven.
"Kembali ke markas" perintah Streven yang langsung di turuti para anggota KC.
Richard dan Christy hanya saling menatap, tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Semua orang hanya berharap, semoga kedua orang itu tidak saling menyerang.
Tiba-tiba Richard melemparkan sebuah box hitam yang memiliki lambang KC. semua isi box itu berhamburan di mana-mana. Semua orang menatap isi box itu.
Banyak foto dan barang-barang yang tidak asing untuk mereka, termaksud Christy. Semua foto yang berserakan itu, adalah foto-foto Christy saat berumur 8 tahun hingga saat ini.
"Bang" tegur Steven yang takut jika semua orang tahu.
Mata Raja yang sangat tajam, membuatnya bisa melihat ada banyak tulisan di setiap foto-foto itu. Ia memberanikan dirinya untuk mengambil salah satu foto itu, lalu membacanya.
Ia sedikit bingung saat membaca pesan-pesan itu. Setiap katanya seperti menggambarkan sosok orang yang mencintai dalam diam.
"Kamu selalu ingin tahu kenapa abang sangat takut kehilangan kamu, princess" Richard akhirnya memulai pembicaraan.
Jantungnya berdebar sangat kencang, ia takut keputusannya akan membuatnya kehilangan seseorang.
"Dari semua orang yang pernah abang temui, hanya kamu yang berhasil mengubah sudut pandang abang tentang dunia ini" lanjutnya yang semakin membuat semua orang bingung.
Christy mencoba mengerti apa yang Richard maksud. Ia tidak bisa berfikir jernih saat ini.
"Dulu kamu berusaha membuat abang untuk lebih terbuka pada semua orang. Hampir setiap hari kamu mencoba memulai pembicaraan, walau terkadang abang hanya menganggapnya angin lalu" ujar Richard mengingat bagaimana sikapnya dulu pada Christy.
Pertama kali ia bertemu dengan Christy, sikapnya benar-benar sangat dingin. Pria itu bahkan terkadang berfikir, kenapa ia dengan cepat memutuskan untuk membawa Christy bersamanya.
"Hingga abang sampai di titik, di mana abang untuk pertama kalinya menyukai seseorang" lanjutnya.
__ADS_1
"Semua isi box ini, milik seseorang yang abang cintai sampai detik ini" ujar Richard membuat semua orang terkejut.
Christy seketika mematung, ia terkejut mendengar perkataan Richard. Semua isi box itu adalah tentang dirinya, itu berarti Richard mencintainya selama ini.
Vira yang juga ada di sana, hanya bisa terdiam. Gadis itu berharap ini semua hanya mimpi. Ia takut gagal dalam menjalin hubungan untuk kedua kalinya.
"Kamu ingin tahu kan, kenapa abang sangat takut kehilangan kamu. Itu semua karena abang mencintai kamu, princess" ungkap Richard yang sangat sulit untuk berbicara. Lidahnya terasa sangat keluh.
"Tuhan, aku tidak ingin mengalah lagi" batin Michel.
Semua orang benar-benar terkejut dengan semua yang Richard katakan. Selama ini pria itu mencintai Christy, dan tidak ada yang mengetahuinya selain Steven.
Mereka semua berfikir jika Richard hanya menganggap Christy sebagai seorang adik.
"Richard, kamu ngomong apa nak? Kamu gak bisa kayak gini. Chris itu adik mu" ucap Siska membuat Richard menatapnya.
"Kamu gak boleh berakhir seperti ayahmu.....Kamu akan menyesal Richard"anjutnya yang tidak bisa lagi menahan isakannya.
"Maaf" tutur Richard dengan suara yang terdengar sangat kecil.
Faris yang merasa semua ini salah, seketika menjadi emosi. Pria itu langsung menerobos dan menarik baju Richard.
"Lo udah punya pacar. Gak usah ngomong ngasal!" ucap Faris yang terlihat sangat marah.
"Biarin bang Richard ngomong dulu" tegur Revano lalu menarik abangnya itu menjauh dari Richard.
"Kalau lo cintanya sama Chris. Terus buat apa lo pacaran sama Vira hah?! Lo mau mainin hati cewek? Sok jago banget lo!" Faris kembali berkata, membuat Richard menatapnya tajam.
Baru saja Richard ingin berbicara, seketika ia terdiam saat melihat Christy yang mengambil sebuah amplop.
Amplop itu berserakan dengan semua barang yang ada di box, sudah terlihat sangat usang.
Christy mengingat amplop itu. Amplop yang tidak boleh di pegang oleh siapapun, kecuali Richard.
"Baca" perintah Richard.
Christy langsung membuka amplop itu. Ada sebuah surat yang sudah terlihat sangat lama. Tulisan di surat itu benar-benar sangat rapi.
"Hai, princess cantiknya abang. Tidak terasa ini sudah empat tahun sejak abang bertemu dengan kamu. Dulu abang melihat kamu seperti seorang gadis kecil yang ceroboh. Tapi hari ke hari yang abang habiskan bersama kamu, membuat abang mengerti arti princess di hidup abang itu apa. Umur kamu sudah 12 tahun sekarang, entah kamu mengerti arti cinta atau tidak. Tapi abang hanya ingin kamu tahu, kamu satu-satunya orang yang berhasil membuat abang tersenyum. Untuk pertama kalinya abang mencintai seseorang, dan itu adalah kamu princess. Tapi abang terlalu takut untuk jujur pada kamu. Abang memilih mencintai kamu dalam diam seperti ini. Karena abang fikir, hubungan persaudaraan yang kita jalin jauh lebih baik. Abang hanya berharap semoga kita bisa bersama selamanya. Karena abang mencintai kamu"
Isi surat itu benar-benar memiliki arti yang sangat dalam. Seketika air mata Christy terjatuh begitu saja. Ia tidak pernah menyangka jika Richard akan mencintainya seperti ini.
Christy benar-benar merasa sangat bersalah. Selama ini Richard mencintainya, dan dia tidak tahu sama sekali.
Selama ini Richard yang menemaninya, membantunya untuk menyelesaikan semuanya. Bahkan berjalan bersamanya di atas altar pernikahan.
Vira yang sudah tidak tahan, langsung merebut surat itu dan membacanya. Hati terasa seperti di tabrak beribu-ribu beton.
Pria yang ia cintai, justru mencintai orang lain. Lalu apa arti hubungan mereka selama ini? Apa hanya sebuah lelucon?
"Tapi kenapa...... Kenapa abang gak bilang? Kenapa bang?" tanya Christy yang memberanikan diri untuk menatap mata abangnya itu.
"Abang takut kamu menolak, lalu memilih menjauh dari abang" jawab Richard membuat Christy semakin merasa bersalah.
"Abang takut menyakiti kamu princess" lanjutnya membuat Vira menatapnya.
"Lalu bagaimana dengan aku? Kamu gak takut nyakitin aku? Jadi selama ini arti hubungan kita apa, Richard?" tanya Vira yang memberanikan diri untuk berbicara.
Gadis itu mati-matian menahan air matanya, namun sangat sulit. Air matanya terus terjatuh, hatinya terasa sangat sakit. Mana bisa ia mencintai seorang pria yang bahkan tidak mencintainya.
"Bukan begitu maksud saya. Jangan salah paham" Richard mencoba membuat Vira mengerti. Namun gadis itu sudah terlanjur kecewa.
"Sekarang aku ngerti, Kenapa setiap kita ngehabisin waktu sama-sama itu gak ada kesannya sama sekali. Setiap Chris butuh kamu, kamu rela ninggalin aku buat dia. Dan ternyata ini alasannya" ucap Vira dengan sangat susah payah.
"Kamu gak pernah cinta sama aku" lanjutnya lalu tangisannya benar-benar pecah.
Richard merasa hatinya sakit saat mendengar perkataan Vira. Ia ingin menentang perkataan Vira, tapi entah kenapa suaranya tidak bisa keluar sama sekali.
"Vira saya tahu kalau saya salah. Tapi saya tidak pernah berfikir untuk mempermainkan perasaan kamu. Saya benar-benar tulus sama kamu" kata Richard lalu hendak meraih tangan Vira. Namun gadis itu langsung menghindar.
"Gimana mau tulus, sedangkan kamu ajah gak cinta sama aku. Kamu cinta sama Chris" Vira tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Bukan seperti itu Vira" ucap Richard membuat Vira tersenyum tipis.
"Yaudah, sekarang aku mau kamu pilih. Aku atau Chris hah?" tanya Vira membuat semua orang terkejut.
Richard hanya bisa terdiam, ia bahkan bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia masih mencintai Christy. Di sisi lain dia juga tidak mau melepaskan Vira.
Vira tiba-tiba melepaskan kalung pemberian Richard, lalu memberikannya pada pria itu. Dengan berat hati ia harus meninggalkan semua ini.
"Selama ini aku selalu coba untuk ngeyakinin diri aku sendiri, kalau kamu cinta sama aku" ucap Vira lalu berhenti sejenak.
"Tapi ternyata itu hanya ngebuat aku terlihat sangat bodoh. Aku ngebayangin ngebangun hidup bahagia bareng kamu, cuma kamu. Tapi ternyata kita harus selesai sampai di sini" lanjutnya membuat Richard menggeleng.
"Saya mohon jangan katakan hal itu" ucap Richard lalu menggenggam tangan Vira.
"Makasih untuk semua kenangan indah yang mau kamu buat bareng aku"ucap gadis itu yang merasa sangat sakit hati.
"Aku nyerah, Richard. Aku nyerah buat mencintai kamu. Aku selesai sampai di sini" kata Vira yang mencoba tersenyum.
Gadis itu langsung pergi dari sana , meninggalkan Richard yang terdiam mematung. Ia ingin mengejar Vira, namun entah kenapa kakinya terasa sangat berat.
Christy semakin bingung dengan situasi saat ini. Ia tidak mungkin menerima perasaan Richard.
"Dengerin gue baik-baik. Lo bakalan nyesel!" Ucap Faris lalu keluar untuk mengejar Vira.
"Abang gak bisa kayak gini. Kak Vira tulus sama abang" ucap Christy yang mencoba untuk melupakan perkataan Richard tadi. Ia hanya tidak mau jika Richard menyesal nanti.
"Sejak dulu kita bersaudara bang, dan itu sampai sekarang. Abang gak bisa menyimpan perasaan untuk Chris. Abang menyakiti diri sendiri" ucap Raja yang sejak tadi diam. Dia juga masih sangat terkejut dengan pengakuan Richard.
"Ingat pesan ayah, bang. Kita bersaudara, hanya saudara" lanjutnya membuat Richard menghembus kasar nafasnya.
Christy tiba-tiba langsung memeluk Richard, seketika air mata pria itu terjatuh begitu saja. Christy benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini perihal perasaan, tidak bisa di anggap sepele.
"Maaf kalau selama ini aku nyakitin perasaan abang. Aku juga cinta sama abang, tapi itu dulu bang" bisik Christy.
__ADS_1
"Abang yang salah, princess. Abang tidak pernah jujur tentang perasaan abang" ucap Richard sendu.