Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 48


__ADS_3

"MINGGIR" teriak Richard yang berlari masuk kedalam rumah sakit. Richard menggendong tubuh seorang pria di punggungnya.


Darah segar terus tumpah hingga ke lantai. Semua orang panik, Richard jauh lebih panik.


"DOKTER" terikan Richard menggema di lantai satu rumah sakit.


Semua pasien dan perawat terkejut. Hingga dokter Renal dan Dokter Genta menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya dokter Renal yang terkejut saat melihat Richard dipenuhi darah.


"Sus, brankar. Cepat!" perintah Michel yang juga sangat panik.


Richard membaringkan tubuh pria itu di atas brankar. Dokter Renal dan Dokter Genta langsung membawa brankar itu masuk kedalam UGD.


Saat Michel ingin menyusul, tiba-tiba Richard menahannya.


"Bagaimanapun caranya. Selamatkan adik saya" ucap Richard yang bebar-benar menandakan bahwa dia sedang ketakutan saat ini.


Untuk kesekian kalinya, Michel melihat tatapan ketakutan itu di mata Richard. Dulu, saat Christy koma. Dan sekarang.


"Pasti bang" kata Michel lalu masuk kedalam ruang UGD.


Fikra, Dimas, Raja dan Christy terlihat sangat khawatir. Mereka tidak menyangkan, semua ini bisa terjadi.


Richard menghampiri Raja, lalu memeluk adiknya itu. Ia sangat tahu perasaan Raja saat ini.


Pria yang berada di UGD adalah kembaran Raja, siapa lagi kalau bukan Raka. Richard bisa merasakan ke khawatiran yang ada di dalam hati Raja.


Mereka tidak menyangka kalau Raka akan datang ke bar Elixilous. Raka datang tepat saat Arka hendak menusuk Richard.


Pria itu berlari sangat cepat, berdiri tepat di hadapan Richard. Belatih itu menusuk tepat di bagian perutnya.


"Bang Raka" Raja terus memanggil Raka. Berharap kembarannya itu menjawabnya walau hanya sekali.


"Tenanglah" ucal Richard sambil memeluk Raja. Mengelus lembut kepala adiknya itu.


"Jendral" panggil seorang pria yang menggunakan jaket KC.


Richard melepaskan pelukannya dari Raja, lalu menatap beberapa anggota KC yang datang karena perintahnya.


"Bagaimanapun caranya. Cari kedua orang itu, bawa mereka kehadapan saya!" perintah Richard, dengan aura yang sangat menyeramkan.


"Hidup atau mati. Bawa mereka!" lanjutnya.


"Siap jendral. Kalau begitu kami pergi dulu" kata salah satu anggota KC. Lalu mereka menunduk hormat dan pergi dari sana.


"Dimas, sebaiknya kamu pulang sekarang. Tasya kurang sehat, dia membutuhkan kamu" ucap Richard yang tahu kondisi Tasya saat ini.


Dimas juga sangat khawatir pada istirnya itu. Dimas fikir, hanya akan sebentar menyelesaikan urusan ini. Tapi nyatanya, masalah semakin runyam.


"Tapi Raka, gimana bang?" tanya Dimas yang juga berat jika meninggalkan sahabatnya di kondisi seperti ini.


"Ada saya. Kamu tenang saja, kalau ada apa-apa pasti saya hubungi kamu" Richard menepuk pundak Dimas.


"Okey bang" Dimas akhirnya memutuskan untuk pulang.


"Ja, Lo gak apa-apa gue tinggal?" tanya Dimas menatap Raja yang termenung.


Dimas tidak ingin meninggalkan Raja, tapi kondisi Tasya sedang tidak baik saat ini.


"Tasya butuh Lo Dim. Gue gak apa-apa, santai ajah" Raja berusaha kuat di depan sahabatnya itu.


Dimas langsung memeluk Raja, mengelus punggung sahabatnya itu. Ia merasa berat meninggalkan Raja dan Raka.


Perasaannya tidak enak sejak tadi, bingung harus tetap di rumah sakit atau pulang.


"Kuat yah Ja. Lo gak sendiri, ada gue sama yang lain" bisik Dimas lalu melepaskan pelukannya. Menepuk pelan pundak Raja.


"Makasih Dim" kata Raja tersenyum tipis.


Dimas langsung pergi dari sana. Hanya tersisa Raja, Richard, Christy dan Fikra. Entah kenapa, ada perasaan tidak enak di hati mereka.


"Bang Richard" panggil Christy membuat Richard menatapnya.


"Kamu kenapa? Butuh sesuatu?" tanya Richard mengelus kepala Christy.


"Abang udah hubungi orang di mansion? Bunda atau siapa?" tanya Christy membuat Richard tersadar. Dia tidak memberitahu apa yang terjadi, pada orang yang ada di mansion.


"Chris, biar gue ajah. Sekalian gue jemput mereka" ucap Fikra membuat Richard dan Christy menatapnya.


"Lo yakin?" tanya Christy membuat Fikra mengangguk.


"Hati-hati" kata Richard membuat Fikra yang sudah berjalan, berbalik dan mengangguk.


"Bang, please" ucap Raja sambil menunduk dan mengacak rambutnya.


Raja merasa hatinya panas, entah kenapa tapi itu sangat menyakitkan. Saat ini, separuh hidupnya sedang tidak baik.


Raja dan Raka seperti terhubung satu sama lain. Raja seperti merasakan apa yang Raka rasakan.


"Bang Raja tenang yah" Christy berusaha menenangkan Raja.


"Chris, Abang takut" Raja menatap Christy. Air mata Raja terjatuh begitu saja, dengan cepat Christy menghapus air mata abangnya itu.


"Bang Raka orang yang kuat. Aku yakin, pasti bang Raka bisa balik lagi" ucap Christy yang sangat yakin.


"Jangan takut, ada Abang disini" kata Richard lalu ia mengelus kepala adiknya itu.


"Richard" panggil Faris yang berlari mendekat kearah mereka.


"Kok bisa gini? Terus Raka, dia gimana?" tanya Faris yang juga terlihat panik.

__ADS_1


"Masih di UGD" jawab Richard singkat.


"Abang tahu dari mana?" tanya Christy yang penasaran, karena tidak ada seorang pun yang tahu selain mereka.


"Tadi..." Faris yang hendak menjelaskannya, tiba-tiba terkejut saat melihat ada Raja di saja.


Faris menatap Raja bingung. Ada yang janggal menurutnya saat melihat ada Raja disana.


"Lo sejak kapan nyampe disini?" tanya Faris membuat Raja bingung.


Richard dan Christy terdiam sejenak, mencoba mengerti apa yang Faris fikirkan saat ini.


"Ja, barusan kita ketemu di perempatan dekat rumah sakit" ucap Faris membuat Raja bingung.


"Bang Raja dari tadi disini" kata Christy membuat Faris menatapnya bingung.


"Sumpah, tadi Abang ketemu Raja di perempatan. Raja yang ngasih tahu Abang, kalau Raka di tusuk orang, terus di bawa ke rumah sakit ini" kata Faris yang ingat betul, kalau tadi dia bertemu Raja.


"Levin" ucap Richard dengan penuh amarahnya.


"Levin? Dia siapa?" tanya Faris yang merasa asing dengan nama pria itu.


"Orang yang wajahnya mirip banget sama bang Raja. Namanya Levin" ucap Christy membuat Faris mengerti sekarang.


"Dia harus mati!" ucap Raja yang sangat marah.


Raja tiba-tiba berdiri, lalu hendak pergi. Namun Richard menahannya, sangat terlihat kalau Raja sangat marah saat ini.


Levin dan Arka sudah sangat membuat Raja naik pitam. Levin tidak bisa berkeliaran terus menerus, apa lagi wajahnya sangat mirip dengan Raja.


Akan timbul banyak masalah jika seperti ini. Raja tidak bisa membiarkannya, semua ini harus di selesaikan.


"Mau kemana?" tanya Richard yang memegang kuat tangan Raja.


"Levin harus mati malam ini, bang. Semua yang terjadi, karena dia dan pacarnya itu" kata Raja menatap tajam wajah Richard.


"Sudah ada anggota KC yang mencari mereka. Kamu tidak harus mencari mereka, tetap disini!!" ucap Richard penuh penekanan.


"TAPI MEREKA HARUS MATI DI TANGAN GUE!!" teriak Raja dengan penuh emosi. Mendorong Richard menjauh darinya.


Richard sedikit terkejut, saat merasa dorongan Raja yang sangat kuat. Pria itu benar-benar diluar kendali saat ini, kemarahannya sangat berbahaya.


"Raja, Lo harus tenang! Masalah gak akan selesai kalau Lo kalau gini" ucap Faris yang langsung mendapat tatapan tajam dari Raja.


"Masalah akan selesai. Kalau mereka mati" kata Raja lalu berbalik dan hendak pergi.


Namun langkahnya terhenti, saat Michel memanggilnya. Dengan cepat ia berbalik berharap mendapat kabar baik.


Pakaian Michel di penuhi darah, bahkan Michel bercucuran keringat.


"Ja, Lo harus ketemu sama Raka sekarang. Gak ada waktu Ja" ucap Michel membuat Raja mematung.


"Gak ada waktu Ja" Michel kembali mengulang perkataannha, air mata itu sudah membanjiri wajahnya.


Raja berlari masuk ke dalam UGD. Tubuhnya mematung saat melihat Raka yang terbaring di brankar. Baju yang Raka pakai sudah terlepas, hanya tersisa celana jins panjang.


Raja mendekat kearah kembarannya itu, menggenggam tangan Raka yang mulai dingin. Mata Raka masih terbuka, walau hanya sedikit.


"Bang" panggil Raja dengan suara yang sudah bergetar.


Raka perlahan menoleh, menatap wajah Raja yang dipenuhi air mata. Senyuman di bibir Raka perlahan muncul, hati Raja terasa sakit saat melihat senyuman kembarannya itu.


"Maaf yah, kalau gue selalu nyusahin Lo. Padahal gue Abang, tapi selalu nyusahin Lo" kata Raka dengan suara yang sangat serak.


Raja menggeleng cepat, menggenggam erat tangan Raka. Enggan untuk melepasnya.


"Ja, badan gue mati rasa. Gue pengen tidur Ja" ucap Raka membuat genggaman tangan Raja semakin kuat.


"Please, bang lo jangan tutup mata. Lihat gue" Raja menatap Raka.


Ia terus menggenggam tangan Raka, berharap kembarannya itu tidak meninggalkan raganya.


"Kalau gue gak ada, dengerin kata bang Richard. Jangan ngebantah, jagain Chris juga yah" ucao Raka berusaha meraih kepala Raja. Ingin mengelusnya, namun terasa sangat sulit.


"Kamu kuat" kata Richard yang juga ikut menggenggam tangan Raka.


"Bang, maafin gue yah. Gue udah pernah nyakitin Chris, gue juga udah sering mukul Raja" Raka terus berusaha berbicara, meski lidahnya sangat keluh.


Christy terus terdiam, perasaan semakin tidak karuan. Raja dan Richard menggenggam tangan Raja. Michel? Pria itu menatap Raka dari pintu UGD.


Air mata Michel tidak bisa berhenti terjatuh, menjadi dokter membuatnya frustasi. Dia bisa tahu jelas, bagaimana kondisi Raka saat ini.


"Tuhan, jangan sahabatku" ucap Michel lalu terduduk di luar UGD.


Dengan berat hati, Christy mengelus lembut rambut Raka. Raka tersenyum, saat merasakan tangan adik kesayangannya itu.


"Abang yakin, kamu pasti bisa jagain semua orang" ucap Raka menatap Christy. Christy mati-matian menahan isakannya, menahan diri agar tidak terlihat lemah.


"Apapun itu, tetap buka mata kamu. Abang mohon" ucap Richard dengan tatapan yang sangat redup.


Untuk pertama kalinya, Raka melihat tatapan redup dari mata Richard. Ia bisa merasakan, sesayang apa Richard pada keluarganya.


"Jagain mereka semua ya, bang. Gue udah selesai sekarang" kata Raka dengan suara yang semakin serak.


"Anugrah terindah, bisa memiliki orang-orang seperti kalian. Terimakasih"lanjutnya.


"Bang, gue mohon bertahan. Gue gak mungkin bisa, gak akan bisa bang" kata Raja menangis sekeras-kerasnya.


"Gue sayang banget sama lo, Ja. Gue beruntung punya kembaran kayak Lo" kata Raka yang akhirnya bisa meraih kepala Raja. Dengan perlahan ia mengelus kepala adiknya itu.


"Gue tidur dulu, Ja" ujar Raka singkat.

__ADS_1


Setelah itu, tangannya terjatuh begitu saja. Kaki Raja terasa lemas, dunia terasa gelap baginya.


"BANG BANGUN!!" teriak Raja sambil menggoyangkan tubuh Raka.


Raja terus berteriak, hatinya terasa hancur. Separuh hidupnya, telah menghilang.


"Bang, gue mohon. Gue janji gak akan kerasa kepala lagi, gue bakalan nurutin semua yang lo suruh. Tapi gue mohon, bangun bang" Raja menggenggam tangan Raka begitu kuat.


"Tuhan, saya mohon.... Jangan adikku" batin Richard yang juga merasa hancur.


Michel yang terduduk diluar, merasa dadanya semakin sakit. Dengan berat hati ia menelfon Fikra dan Dimas.


"Halo, Cel. Gimana Raka? Udah siuman?" tanya Fikra dari sebrang sana, orang pertama yang Michel telfon.


Michel terdiam sejenak, berusaha menahan Isak tangisnya. Sangat berat mengatakan ini, benar-benar berat.


"Cel, semuanya baik kan?" tanya Fikra yang mulai panik.


"Fik, gue udah berusaha semampu gue. Tapi..." ucap Michel lalu terdiam sejenak. Sangat berat rasanya.


"Tapi apa Cel? Raka baik-baik ajah kan?" tanya Fikra yang semakin dibuat gila.


"Sahabat kita, Fik. Sahabat kita pergi" ucap Michel lalu menangis sejadi-jadinya.


Telfon langsung di matikan sepihak oleh Fikra. Michel mengacak rambutnya, berteriak sepuasnya. Dokter Genta dan dokter Renal terdiam, saat melihat sisi lain dari Michel.


Diruang UGD, suasana masih buruk. Raja terus berteriak, berharap Raka menjawabnya.


"Bangun" ucap Richard dengan suara yang sangat kecil. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya.


Raja langsung mencari Michel, menarik masuk pria itu ke dalam UGD. Raja mendorong Michel hingga menabrak brankar milik Raka.


"Sembuhin Abang gue, SEMBUHIN ABANG GUE, MICHEL!!" teriak Raja dengan rasa sedih dan emosi yang menjadi satu.


"Ja, Please" ucap Michel yang tidak berhenti menangis. Menatap wajah pucat Raka saat ini.


"Sembuhin Abang gue, Cel!! Lo dokter kan, Lo dokter Michel" teriak Raja sambil menarik kuat kera baju Michel.


"LO BISA SEMBUHIN CHRIS, SEHARUSNYA LO JUGA BISA SEMBUHIN ABANG GUE. LAKUIN APAPUN, ASAL ABANG GUE BISA BANGUN" Raja terus berteriak, menarik kuat baju sahabatnya.


"Ja, gue udah berusaha semampu gue. Gue juga gak mau kayak gini" Michel menunduk dan tidak mau menatap wajah Raja.


"PEMBOHONG!!" teriak Raja lalu mendorong Michel, hingga pria itu terjatuh menghantam tiang infus yang ada di UGD.


Christy langsung membantu Michel berdiri, menggenggam erat tangan suaminya itu. Bukan hanya Raja yang merasa terpukul, tapi semua orang merasakannya.


"Bang Richard selalu tahu, apa yang akan terjadi. Tapi kenapa jadi gini bang? Pasti Abang udah tahu, tapi kenapa gak ngubah situasi apapun. KENAPA ABANG DIAM AJAH!" Raja terus berteriak, hingga mendorong Richard terus menerus.


"Raja, Abang mohon jangan seperti ini" Richard berusaha membuat Raja tenang.


Raja benar-benar tidak bisa terkontrol, rasa sedih dan emosi menjadi satu dalam dirinya. Semakin Raja melihat wajah pucat Raka, semakin emosinya menjadi-jadi.


"BANGUN, BANG LO HARUS BANGUN! LO GAK BOLEH NINGGALIN GUE SENDIRI, KITA TWINS BANG. GUE BUTUH LO, GUE BUTUH LO BANG! BANGUN!!" Raja terus berteriak, hingga beberapa dokter dan perawat terkejut mendengar suara teriakan Raja.


Fikra, Dimas dan yang lain baru saja sampai. Fikra dan Dimas terdiam, merasakan kaki yang sangat lemas.


Dimas mencoba mengerti situasi saat ini, tapi ia berharap semuanya hanya mimpi. Dalam satu kedipan mata, dia kehilangan Raka sahabatnya.


"Kalian harus bangunin Abang gue. CEPAT!!" Raja mendorong Dimas dan Fikra kearah brankar Raka.


Fikra meraih tangan Raka, menggenggamnya sangat kuat. Sangat dingin rasanya, ia merasa hatinya seperti ditusuk beribu-ribu jarum.


"Gue kenal lo, Raka. Gue tahu Lo kuat, Please buka mata Lo" ucap Fikra sambil menggenggam erat tangan Raka.


Tidak ada jawaban sama sekali, Fikra menggigit bibirnya. Berusaha agar isakan tangisnya tidak terdengar.


"Cel, ini gak nyata kan?" tanya Dimas menatap Michel yang berdiri dengan tatapan kosong.


"CEL JAWAB!!" teriak Dimas hingga menarik kera baju Michel.


"Dim, please" Christy berusaha membuat Dimas lebih tenang.


"Kamu tenang dulu Dimas" ucap Tasya yang juga ada disana.


"Siapkan pemakaman. Besok pagi, kira harus menguburkan Raka" ucap Richard membuat Raja menatapnya.


Saat pihak rumah sakit hendak membawa brankar Raka, tiba-tiba Raja mendorong orang-orang itu.


"Jangan sentuh Abang gue! Abang gue gak akan kemana-mana, NGERTI!!" ucap Raja lalu ia mendorong semua orang, ia berdiri tepat di samping Raka.


"Raja, kamu harus ikhlas nak" ucap Siska yang sudah menangis sejadi-jadinya.


"Ikhlas buat apa hah? Bunda gak boleh ngomong gitu, bang Raka baik-baik ajah!" kata Raja membuat semua orang semakin hancur melihatnya.


"Bang bangun, Lo harus buat mereka percaya kalau Lo orang yang kuat. Lo Abang gue, kembaran gue yang paling kuat. Buka mata Lo bang!" ucap Raja lalu meraih tangan Raka, menggenggamnya sangat kuat.


"Raja" panggil Richard lalu hendak mendekat kearah Raja.


"BANG RAKA PASTI BANGUN" Raja kembali berteriak, bahkan ia semakin histeris seperti orang gila.


"Maaf" ucap Richard dengan suara yang sangat kecil.


Dengan gerakan cepat, Richard memukul bagian belakang kepala Raja. Hingga membuat Raja terjatuh dan pingsan.


Fikra dan Dimas langsung mengangkat tubuh Raja, lalu membawanya keluar dari ruang UGD.


"Bersiaplah. Besok pemakaman Raka akan di lakukan" kata Richard dengan berat hati.


"Sudah aku bilang padamu, Tuhan. Aku belum siap dan tidak akan pernah siap untuk kehilangan lagi. Lalu kenapa, kenapa engkau mengambil orang yang aku sayang untuk kesekian kalinya" batin Christy yang sangat hancur.


"Andai waktu bisa di ulang. Saya hanya ingin, nyawa saya saja yang di ambil. Jangan adik saya, Tuhan" batin Richard.

__ADS_1


__ADS_2