
Sudah dua hari sejak dokter rio berbicara dengan para anak Raymond. Richard sudah mengambil keputusan yang cukup besar. Mau atau tidak, semua orang harus bisa menerima.
Setelah mengambil keputusan, Richard menyuruh seluruh anggota KC untuk mencari keberadaan Siska. Usaha anggota KC membuahkan hasil, sejak dua hari mencari akhirnya mereka menemukan Siska. Saat ini wanita itu sudah di bawah kemansion Raymond.
Christy yang melihat kedatangan Siska, menjadi bingung harus bagaimana. Apa harus marah? Sedih? Ia bingung harus berekspresi seperti apa.
Sedangkan Siska, dia terkejut melihat Christy sudah sadar dari komanya. Bahkan Christy berdiri dengan sempurna, gadis itu terlihat sudah sehat. Siska mengeluarkan air matanya, menatap sendu kearah Christy.
"bunda kemana ajah? Raja nyari bunda selama ini"kata Raja memeluk erat tubuh Siska.
"bunda buat kami khawatir"kata Raka yang juga memeluk Siska.
Siska memeluk erat kedua putra kembarnya itu, berusaha menahan isak tangisnya. Sangat sedih rasanya, saat melihat semua anaknya berkumpul di hadapannya. Hatinya seolah hancur, mengingat keluarganya yang hancur karena kebodohannya.
"maafin bunda"ucap Siska melepaskan pelukannya, mengelus pipi kedua putranya.
"bunda tidak bisa terlalu lama di sini, nanti ayah kalian marah melihat bunda"kata Siska membuat Raka dan Raja saling menatap. Sedangkan Christy terisak di pelukan Richard.
Siska belum mengetahui kondisi Raymond saat ini, entahlah bagaimana perasaannya nanti jika mengetahui yang sebenarnya. Richard menjadi bingung, harus memulainya dari mana.
"bunda belum nonton TV?"tanya Raka membuat Siska menatapnya bingung.
"memangnya ada apa?"tanya Siska dengan nada lembut pada Raka.
Raka langsung menarik Siska perlahan keruang TV, memencet tombol di remot TV. Layar besar itu menampilkan siaran berita. Sejak Raymond kecelakaan hingga sekarang, semua stasiun Televisi di penuhi dengan berita kecelakaan orang terkaya nomor dua di dunia itu.
Siska merasakan kakinya sangat lemas, melihat beberapa foto kecelakaan yang di tampilkan di TV. Wajah Raka dan Raja juga ada disana, Siska menatap senduh wajah kedua anak kembarnya itu, memeriksa apakah mereka baik-baik saja. Siska menangis sejadi-jadinya, ia tidak tahu apa yang terjadi saat dia tidak di mansion.
"kalian sudah baik-baik saja. Berarti ayah kalian jugakan?"tanya Siska berusaha menahan isakannya.
"gak ada harapan bun"jawab Raja menunduk sedih.
"maksud kamu apa Raja? Ayah kalian baik-baik saja kan?"tanya Siska yang menjadi sangat panik.
"ayah udah gak bisa bangun lagi bun"kata Raka berusaha membuat Siska mengerti.
"kamu tidak boleh berbicara seperti itu Raka! Ayah kalian pasti baik-baik saja"kata Siska marah.
"kita kerumah sakit"kata Richard membawa Christy keluar dari mansion.
Raka dan Raja pun membawa Siska keluar dari mansion, mereka semua bergegas ke rumah sakit. Di perjalanan, Siska terus saja menangis. Ia memikirkan kondisi Raymond saat ini. 10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di RD hospital.
Mereka semua berjalan masuk ke dalam rumah sakit, semua dokter dan perawat menunduk hormat saat melihat keluarga Raymond datang. Tujuan mereka saat ini adalah kamar di mana Raymond dirawat.
"mau masuk?"tanya Richard menatap Siska. Dengan cepat Siska mengangguk. Ia langsung di bawah masuk oleh seorang suster, Siska terlebih dulu di pakaian sebuah jubah rumah sakit dan masker.
Siska berjalan perlahan mendekat kearah Raymond yang terbaring di atas brankar. Ia menggenggam tangan suaminya itu, terasa sangat dingin dan pucat. Tubuh Raymond di penuhi alat medis, hatinya terasa sakit melihatnya.
Siska terisak di dekat Raymond, dia bingung harus berkata lagi. Mulutnya seolah sangat keluh, terasa sulit untuk berbicara.
Siska semakin menyalahkan dirinya, perasaan bersalahnya semakin besar. Semua yang terjadi adalah karenanya, sedih rasanya melihat semuanya hancur seperti ini. Keluarganya hancur, semua itu karena dirinya. Dari luar, para anak-anak Raymond itu terdiam, sangat sedih bagi mereka. Christy terisak kecil. Dengan sigap, Richard langsung memeluk adiknya itu. Mengelus perlahan kepala Christy, berharapa gadis itu bisa lebih tenang.
"apa abang yakin mau menyetujui kemauan ayah?"tanya Raja, yang berharap jika Raymond tetap bisa bertahan hidup.
"kalau kalian tidak menyetujui, saya bisa batalkan"ucap Richard membuat Christy menatapnya.
"lalu bagaimana dengan bang Steven?"tanya Raka.
"saya akan berusaha mencari pendonor lain, kalau kalian tidak menyetujui keputusan saya"kata Richard yang terlihat bimbang dengan keputusannya sendiri.
"sebenarnya berat untuk mengambil keputusan seperti ini. Tapi, ayah juga tidak bisa bangun lagi. Sedangkan bang Steven, dia butuh pendonor hati secepatnya"kata Raja dengan wajah sedihnya. Ia merasa sangat sulit untuk menerima semua ini, pria yang sangat dia banggakan, sekarang terbaring lemah.
"saya tahu ini adalah keputusan yang berat untuk kalian semua"kata seorang dokter yang baru saja datang.
"dokter Rio"ucap Christy menatap dokter yang baru saja berbicara tadi.
"saya ingin sekali membantu kalian, tapi ini sudah di luar batas kemampuan saya."kata dokter Rio sedih.
__ADS_1
"persiapkan diri kalian, hari ini operasi transplantasi hati akan di lakukan"kata dokter Rio, membuat Richard merasa kakinya sedikit lemas. Christy langsung memegang tangan Richard, takut jika pria itu terjatuh.
"saya tahu ini berat buat kamu Richard. Tapi saya yakin, kamu yang paling kuat di situasi seperti ini. Adik-adikmu butuh kamu saat ini, tetap kuat demi mereka. Terutama Siska bunda kamu, turunkan sedikit egomu itu. Jangan gengsi untuk menegurnya duluan. Mau bagaimanapun, kamu tetap putranya."kata dokter Rio menepuk pundak Richard.
"saya bisa menjaga keluarga saya"ucap Rchard, melepaskan tangan dokter Rio dari pundaknya.
"kamu memang sangat mirip dengan ayahmu."kata dokter Rio tersenyum tipis. Lalu pergi meninggalkan mereka.
"kosongkan jadwal kalian hari ini. Kalian harus tetap di sini, sampai operasinya selesai"kata Richard menatap adik kembarnya itu.
"iya bang"kata Raka
"princess, kamu tunggu di sini. Abang mau melihat keadaan Steven"kata Richard menatap Christy.
"aku ikut"kata Christy membuat Richard berfikir sejenak.
"yasudah, ikutlah"kata Richard tersenyum, lalu memegang tangan Christy dan pergi dari sana.
Richard membuka pintu salah satu kamar, yang Steven tempati. Steven berbalik, dan mendapati abangnya bersama Christy.
Richard dan Christy mendekat ke arah Steven, wajah pria itu terlihat sangat sedih. Richard mengerti, apa yang Steven rasakan saat ini. Namun Richard tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"operasinya, akan segera di mulai. Kamu sudah siapkan?"tanya Richard. Membuat Steven menatapnya cukup lama.
"kenapa abang ngelakuin ini?"tanya Steven, membuat Richard dan Christy menatapnya
"apa maksud kamu Steven? Semua ini demi kamu"kata Richard, mematap lekat mata adiknya itu.
"kenapa abang lakuin ini? JAWAB BANG!"bentak Steven. Membuat Christy terkejut. Richard menarik Christy kebelakangnya, dan menatap Steven tajam.
"princess, tunggu abang di luar"kata Richard pada Christy.
"aku gak mungkin ninggalin kalian berdua di sini"kata Christy menolak perintah Richard.
"princess, abang mohon"kata Richard.
"Steven, kamu harus bersiap. Operasi akan di mulai sebentar lagi"kata Richard, beralih menatap Steven.
"kenapa abang gak jawab pertanyaanku? Kenapa abang ngelakuin ini?"tanya Steven sekali lagi, menatap marah ke arah Richard.
"harus berapa kali abang katakan. Semua ini demi kamu Steven! Kamu harus sembuh"kata Richard yang sudah terlihat emosi.
"tapi kenapa bang? Kenapa abang gak biarin aku mati? Kalau aku mati, ayah gak perlu donorin hatinya. Kenapa abang milih aku HAH? AKU MENDINGAN MATI BANG!"teriak Steven di hadapan Richard, membuat Richard dan Christy terkejut.
PLAK
Satu tamparan keras Richard berikan pada Steven. Untuk pertama kalinya, pria itu memukul Steven. Sejak Steven kecil, Richard tidak pernah memukulinya. Memarahipun, itu sangat jarang.
Richard sangat marah, saat mendengar perkataan Steven. Itu menyakiti hatinya, Steven tidak tahu seberapa berat keputusan yang harus ia ambil. Lalu dengan gampangnya, dia berkata seperti itu.
"kenapa kamu tidak mengerti Steven. Abang seperti ini demi kamu! Apa kamu fikir, gampang mengambil keputusan sebesar ini? Abang juga tidak mau seperti ini"ucap Richard dengan emosi yang meluap, membuat Christy menjadi sedih.
"abang hanya bisa berharap, ini hanya mimpi buruk. Kamu harus tahu, abang tidak sekuat yang kamu fikir. Abang sekarang bingung harus berbuat apa lagi."kata Richard menatap wajah Steven.
"kenapa abang harus menyetujui kemauan ayah? Bisa ajah, ayah masih ada harapan untuk hidup. Kenapa abang lebih memilih, untuk mendonorkan hati ayah untuk aku? Aku hanya anak, dari wanita lain. Seharusnya abang benci sama aku. Bukan berkorban seperti ini"ucap Steven membuat Richard menghembuskan nafasnya gusar.
"walaupun kamu lahir dari rahim wanita lain. Kita tetap sedarah, kita memiliki ayah yang sama. Sudah kewajiban abang, untuk menjaga kamu ataupun adik abang yang lain."ucap Richard dengan penuh penekanan.
"aku memang gak di takdirin hidup bang. Biarin ajah aku mati, gak usah donorin hati ayah buat aku. AKU MATI AJAH BANG!"bentak Steven. Lalu mendorong Richard, hingga tubuh pria itu sedikit mundur kebelakang.
"bang Steven, udah dong! Kasihan bang Richard"kata Christy menarik Richard kebelakangnya. Menatap Steven tajam.
"princess, seharusnya kamu juga sadar. Abang gak pantas hidup! Untuk apa abang hidup? Bahkan cinta abang tidak terbalaskan. Dan sekarang, abang harus menggunakan hati ayah, lalu apa? Ayah akan meninggal. Kenapa bukan abang saja?"tanya Steven menatap sendu wajah Christy.
"apa bang Steven gak inget, kata bang Richard? Hidup itu pilihan semua orang, dan mati itu takdir yang sudah di atur. Bang Steven harus sadar, gimana susahnya bang Richard ngambil keputusan ini. Anak siapa sih, yang mau ngelihat ayahnya donorin hatinya untuk orang lain? Bang Steven gak bisa kayak gini"ucap Christy menatap wajah Steven.
Steven langsung terduduk di lantai, mengacak rambutnya frustasi. Air matanya terjatuh, sungguh ini semua menyakitinya. Sangat sulit di terima. Bagaimana dia bisa hidup, menggunakan hati ayahnya? Itu sama saja, dia menjadi alasan Raymond berhenti bernafas.
__ADS_1
Richard langsung mendekat ke arah Steven, dia berjongkok menyamakan tingginya dengan Steven. Mengelus rambut adiknya perlahan, menghapus air matanya. Lalu memeluknya, menepuk perlahan punggung Steven.
Sedangkan Steven, dia menyandarkan wajahnya di bahu Richard. Menangis sejadi-jadinya. Christy yang mendengar Steven menangis, menjadi sedih. Christy berbalik membelakangi mereka, berusaha menahan suara isakannya. Menggigit bibir bawahnya, agar suara tangisnya tidak pecah.
Richard juga merasa sangat sedih, air matanya sudah terjatuh. Namun dengan cepat ia menghapus air matanya. Dia berusaha terlihat kuat, setidaknya di hapan kedua adiknya.
"maaf, abang memukul kamu tadi. Abang janji, tidak akan mengulangnya lagi"kata Richard, yang masih memeluk Steven.
"maaf, karena gak bisa ngertiin perasaan abang. Aku bingung, harus bagaimana lagi. Aku tidak mau, menjadi alasan ayah berhenti bernafas"kata Steven sendum
"jangan berfikir seperti itu. Semua ini bukan karena kamu."ucap Richard melepaskan pelukannya, lalu menghapus kembali air mata Steven.
"kita bisa lalui semua ini sama-sama. Kamu pasti tahu, abang gak akan biarin kalian terluka. Abang janji, semua ini akan cepat berlalu"kata Richard menggenggam erat tangan Steven.
Richard membantu Steven berdiri, merapikan baju pasien yang adiknya itu pakai. Mengacak gemas rambut Steven, dan menatap wajahnya.
"jendral mafia, seharusnya tidak cengeng"kata Richard berusaha tetap tersenyum.
Tok...tok...tok
Pintu di ketuk lalu di buka oleh dokter Rio. Dia tidak sendiri, dokter Rio datang bersama dua perawat. Richard menatap dokter Rio cukup lama, lalu mengerti maksud dari kedatangan dokter Rio.
"Steven, kembali ke atas brankarmu"kata dokter Rio. Steven perlahan berbaring di atas brankarnya.
"kita akan keruang operasi sekarang"kata dokter Rio. Lalu menarik brankar Steven, di bantu oleh dua perawat yang dibawanya.
Steven langsung di bawah keruang operasi, Richard seketika terduduk lemas di lantai. Christy langsung panik, lalu mendekat kearah abangnya itu. Richard penatap lekat mata Christy. Christy bisa melihat kesedihan dari tatapan Richard.
"abang kenapa?"tanya Christynmenggenggam tangan Richard
"princess, apa boleh abang menangis di kadapan kamu. Sekali ini saja, abang janji tidak akan mengulangnya lagi"ucap Richard, dengan suara yang sudah bergetar.
"abang boleh menangis. Menangis saja, aku tidak mungkin melarang"kata Christy, menatap sendu wajah abangnya itu.
Seketika air mata pria itu jatuh begitu cepat. Wajahnya basah, karena air matanya itu. Untuk pertama kalinya, Christy melihat Richard menangis. Hatinya begitu hancur, saat melihat Richard menangis.
Perlahan suara isakan Richard terdengar, suara isakan itu terdengar sangat menyakitkan. Christy tidak kuat mendengarnya, air matanya kembali jatuh.
"princess, hiks hiks maafin abang. Abang menjadi lemah di hadapan kamu. Maaf hiks hiks"ucap Richard dengan isakannya yang berusaha dia tahan
"abang gak perlu minta maaf. Abang gak lemah, wajar kalau abang merasa sedih di saat seperti ini. Aku juga sedih bang, semua orang sedih. Kalau abang sedih, seharusnya abang menangis saja. Jangan di tahan, semua orang punya titik jenuhnya masing-masing"kata Christy, menghapus air mata Richard.
"princess, jika abang boleh jujur. Hati abang hancur, perasaan abang kacau. Semuanya tidak ada yang baik. Abang lelah princess, abang mau menyerah saja"kata Richard, kembali menangis sejadi-jadinya
"abang gak boleh nyerah. Semua ini pasti akan berlalu. Abang pasti bisa..... Kita semua bisa melalui ini sama-sama"kata Christy mengelus lembut pipi Richard.
"abang benar-benar sudah lelah. Masalah silih berganti berdatangan, tidak ada waktu itu abang bernafas lega. Abang lelah princess"kata Richard membuat Christy semakin sedih.
Untuk pertama kalinya, Richard mengeluh di hadapan Christy. Berkata lelah berulang kali. Christy bisa merasakan perasaan Richard, ia tahu itu pasti melelahkan.
"kalau abang menyerah, lalu bagaimana dengan aku? Keluarga ini? Hanya abang yang kita harapin. Kalau abang nyerah, aku harus gimana?"tanya Christy, membuat Richard menatapnya. Lalu Richard menghapus air mata Christy.
"abang gak boleh nyerah"kata Christy menatap sendu wajah Richard.
Richard langsung berdiri, lalu membantu Christy berdiri. Ia memeluk adiknya itu, mengelus perlahan kepalanya.
"sudah jangan menangis lagi"kata Richard, mencium kepala Christy berkali-kali.
"abang gak akan nyerah. Abang janji"kata Richard, membuat Christy berhenti terisak, memeluk erat tubuh Richard.
"kalau abang tidak kuat, menangis saja. Aku yang akan hapus air mata abang. Seperti abang, yang selalu bisa hapus air mata aku"kata Christy mencium pundak Richard.
"terimakasih princess"kata Richardm
"Tuhan, aku tidak menyangkan jika bang Richard, menahan air matanya terus-terusan. Pasti sangat sakit rasanya, aku mohon jaga bang Richard. Dia yang paling berarti di hidupku"batin Christy.
"selama ini, abang sudah sangat lelah princess. Tapi kamu selalu menjadi alasan kenapa abang harus kuat. Kamu terlalu berarti untuk abang. Kamu gadis, yang selalu buat abang takut kalau kamu terluka. Maaf karena abang sempat menyerah" batin Richard sendu.
__ADS_1