Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 41


__ADS_3

Sejak putus dari Reina, kehidupan Revano lumayan berubah. Pria itu lebih sering sendiri dan terdiam seperti orang bodoh. Reina benar-benar berpengaruh besar dihidupnya. Seperti saat ini, Revano sedang duduk di kolam berenang belakang mansion.


Christy yang hendak kedapur, justru menghampiri abangnya itu. Ia merasa sedih saat melihat Revano seperti ini. Bukan seperti ini Revano yang dikenalnya.


"Abang"panggil Christy lalu ikut duduk disamping Revano.


"Kamu mau kemana?"tanya Revano yang berusaha tersenyum.


"Aku tadi mau ngambil minum buat Michel. Tapi lihat abang disini"ucap Christy yang terus menatap wajah sendu abangnya.


"Abang mau tanya sesuatu sama kamu"Revano menatap Christy. Gadis itu menaikan alisnya, pertanda dia ingin tahu apa yang akan Revano tanyakan.


"Kamu pernah di tinggal Rasya, itu bukan waktu yang sebentar"perkataan Revano membuat Christy sedikit bingung.


"Memangnya kenapa abang bilang gitu?"tanya Christy menatapnya.


"Abang mau tahu.... Gimana caranya kamu bisa tetap kuat disaat orang yang kamu cintai hilang begitu saja? Bahkan sekarang dia sudah beda alam dengan kamu?"tanya Revano membuat Christy mengerti maksud abangnya itu.


Christy tersenyum tipis lalu memegang tangan Revano, lalu menyandarkan kepalanya dibahu lebar milik abangnya itu. Christy sangat tahu yang Revano rasakan saat ini, karena dia juga pernah merasakannya.


"Abang cinta sama kak Reina?"tanya Christy.


"Abang tidak akan seperti ini, kalau bukan karena dia"Revano berbicara dengan suara yang sangat kecil.


"Dulu aku selalu berharap Aya bisa balik, karena aku yakin dia cinta sama aku. Ternyata dia kembali, tapi kembali pergi untuk selamanya"kata Christy lalu menatap lekat wajah Revano.


"Kalau bang Revano yakin, kak Reina cinta sama abang. Dia pasti kembali. Gimanpun caranya dan kapanpun waktunya"Christy kembali berbicara. Ia ingin memberitahu pada Revano, kalau cinta tidak selalu ya menyakitkan.


"Tapi abang gak tahu... Apa dia cinta sama abang"kata Revano dengan tatapan sendunya.


Revano merasa bahwa hanya dirinya yang mencintai Reina. Sedangkan Reina? Entahlah bagaimana perasaan gadis itu.


"Kemarin kak Reina nangis didepan abang. Dia nangus saat mengatakan ingin putus dari abang. Apa abang gak lihat, tatapan tulus dari kak Reina?"tanya Christy.


"Abang harus tahu, ketika seorang gadisw menangis karena pria yang dia cinta. Itu artinya perasaannya benar-benar tulus"kata Christy mencoba membuat Revano mengerti.


"Chris.. Abang cuma mau Reina balik sama abang. Hanya itu"Revano akhirnya menangis dihadapan Christy. Hatinya terasa sangat hancur.


Tangisan seorang pria benar-benar terlihat memilukan, pria memang jarang menangis. Namun ketika mereka menangis, itu artinya mereka benar-benar hancur.


"Kalau abang mau dia balik, abang harus berusaha. Abang harus perlihatkan ke dia, kalau abang benar-benar cinta sama dia"kata Christy mengenggam tangan Revano.


"Gue yakin lo bisa Rev"ucap Michel yang datang dari arah belakang mereka.


Christy dan Revano seketika menolah, Michel langsung duduk disamping kanan Revano. Pria itu merasa sedih saat melihat sahabatnya seperti ini.


"Lo lihatkan gimana perjuangan gue buat pertahani Chris. Memperjuangkan emang udah kewajiban seorang pria"Michel menepuk pundak Revano.


"Gue takut gagal Cel"ucap Revano membuat Michel tersenyum tipis.


"Lo tahu dari mana bakal gagal? Sedangkan lo ajah belum coba"Michel berusaha memberikan semangat untuk Revano.


"Dari dulu gue sahabatan sama lo, gue tahu lo tipe orang yang selalu mau perjuangin apa yang lo miliki. Kemana Revano yang dulu hmm?"tanya Michel sambil merangkul pundak Revano.


Revano tersenyum tipis, dia bersyukur di kelilingin sahabat-sahabat yang sangat baik. Revano merasa yang Christy dan Michel katakan memang benar. Dia harus berusaha demi gadis yang dicintainya itu.


"Makasih ya. Sekarang gue tahu apa yang harus gue perjuangin"Revano tersenyum pada Christy dan Michel, lalu berlari pergi dari sana.


Michel lalu bergesar mendekat pada istrinya itu. Christy langsung mengenggam tangan Michel. Mereka  bukan lagi sepasang kekasih, melainkan sepasang suami dan istri.


"Hari-hari seperti ini yang aku tunggu dari dulu. Nisa mengenggam tangan kamu sebagai seorang suami"ucap Michel yang juga mengenggam tangan Christy.


"Makasih Cel... Makasih udah mau nunggu aku selama ini. Aku fikir saat membuka mata lagi, aku akan lihat kamu sama gadis lain. Tapi ternyata, kamu setia nungguin aku"perkataan Christy membuat Michel tersenyum.

__ADS_1


"Gak ada alasan untuk aku harus nyari gadis lain. Sedangkan aku masih punya kamu." Michel berhenti sejenak. Mencium punggung tangan Christy.


"Sekalipun kamu gak buka mata lagi, aku gak akan pernah nyari gadis lain. Karena hanya ada satu Christy Walton Raymond didunia ini. Dan sekalipun ada dua, tetap gak akan sama kayak kamu"Michel melanjutkan perkataannya lalu tersenyum, dan menatap lekat manik mata Christy.


"Sebesar itu cinta kamu ke aku?"tanya Christy yang benar-benar merasa bahagia mendengar perkataan Michel.


Bahkan Christy merasa sangat beruntung mendapatkan Michel. Pria seperti itu sangat jarang di temukan.


"Rasa cinta aku ke kamu, mungkin gak akan bisa kamu ukur. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu terluka dan aku takut kehilangan kamu"kata Michel mengelus lembut pipi Christy.


"Kamu juga harus tahu. Aku juga cinta sama kamu, aku juga sayang sama kamu, aku juga takut kamu terluka dan aku juga takut kehilangan kamu Cel"ucap Christy membuat Michel tersenyum bahagia.


"Kalimat itu... Kalimat yang dulu sangat sulit kamu katakan. Tapi sekarang, itu menjadi hal yang paling aku suka"ucap Michel membuat Christy tersenyum.


"Makasih udah berjuang sampai saat ini. Aku mungkin gak akan bisa ketemu pria sebaik kamu"Christy mengelus lembut pipi Michel. Ia tidak bisa membohongi perasaannya. Michel berhasil membuatnya jatuh cinta.


"Aku juga makasih.... Makasih karena kamu mau bertahan sampai saat ini. Makasih karena udah buka mata kamu lagi. Aku sekarang bisa lihat mata indah itu lagi"kata Michel lalu mencium kedua mata Christy.


Michel langsung memeluk Christy, begitu juga sebaliknya. Selalu ada rasa nyaman jika berpelukan seperti itu. Michel merasa kebahagiaannya sudah dimulai. Memiliki Christy seutuhnya adalah hal yang sangat membahagiakan.


"Tuhan benar-benar baik, karena sudah menghadirkan sosok kamu dihidup aku. Aku gak pernah berhenti beryukur. Karena punya kamu dihidup aku"bisik Michel ditelinga Christy.


"Tuhan memang baik, aku jauh lebih bersyukur karena masih punya kesempatan membuka mata. Aku bersyukur karena masih bisa lihat kamu"kata Christy mengelus lembut punggung Michel.


//skip//


Hari sudah sore namun Richard masih menunggu Vira menyelesaikan rapat. Richard benar-benar tidak suka menunggu, karena sudah sangat kesal dia menerobos masuk keruang rapat.


semua orang langsung berdiri dan menunduk hormat, saat melihat ada Richard disana. Vira menatap Richard cuku lama, hingga pria itu meraih tangannya dan menariknya pelan.


"Rapatnya belum selesai" Vira menahan Richard yang hendak membawanya pergi.


Pria yang satu ini gilanya sudah memenuhi kapasitas. Overdosis!.


"Rapat dilanjutkan besok"kata Richard pada semua CEO yang berada diruang rapat. Lalu ia membawa Vira keluar dari sana.


"Richard, aku tahu kamu punya pengaruh besar diperusahaan ini. Tapi kamu gak boleh seenaknya kayak tadi. Mereka semua datang jauh-jauh untuk menghadiri rapat. Terus kamu malah berhentiin dan nyuruh lanjut besok"kata Vira namun RIchard hanya diam dan memperhatikan Vira yang mengomel.


"Aku ngomong Richard! Kamu dengar gak sih?"Vira menjadi sangat kesal karena Richard hanya diam dan menatapnya, tanpa berbicara sedikit pun.


"Bagaimana saya mau bicara, kalau kamu mengomel terus"Richard akhirnya mengeluarkan suaranya. Telinga terasa sakit karena mendengar omelan kekasihnya itu.


"Sekarang sudah jam 5 sore. Mereka juga pasti lelah. Besok waktu masih ada, tidak harus diselesaikan sekarang"kata Richard.


"Tapi..."Vira tidak melanjutkan perkataan saat melihat seorang gadis datang menghampiri mereka.


"Hai Richard. Masih inget aku gak?"tanya seorang gadis yang berpakain cukup modis, pakaian terlihat sangat mahal.


"Elsa"ucal Richard membuat gadis bernama Elsa itu tersenyum.


"Aku fikir kamu lupa sama aku"kata Elsa yang terus tersenyum menatap wajah tampan milik Richard.


"Oh iya, aku hampir lupa. Kata papi, aku mulai belajar sama kamu besok. Kamu udah tahu?"tanya Elsa membuat Richard mengangguk.


Tatapan Richard bukannya fokus ke Elsa yang sedang berbicara. Melainkan menatap Vira yang berdiri di sampingnya. Wajah Vira lebih nyaman di pandang menurutnya.


"Aku boleh minta nomor kamu? Supaya aku bisa hubungi kamu, kalau mau tanya sesuatu soal perusahaan"kata Elsa membuat Richard menatap Vira. Sedangkan yang di tatap justru bingung.


"Kenapa?"Vira dengan polosnya bertanya, ia pun menatap Richard yang juga menatapnya.


"Kasih nomor kamu"kata Richard membuat Vira dan Elsa menatapnya bingung.


"Tapi dia maunya nomor kamu"kata Vira menatap bingung Richard.

__ADS_1


"Kasih nomor kamu saja"Richard berbicara dengan nada yang terdengar kesal.


"Hmm ini kartu nama saya. Ada nomor telfon saya disitu"Vira memberikan kartu namanya pada Elsa.


Elsa mengambil kartu nama itu dengan perasaan kesal. Bukannya mendapat nomor Richard, justru dia mendapat kartu nama Vira. Terlihat jelas wajah tidak suka Elsa pada Vira.


"Besok jangan terlambat! Saya tidak suka menunggu"ucap Richard lalu membawa Vira pergi dari sana.


"Ngeselin banget sih tuh cewek. Rchard lihat apa sih dari cewek itu. Cuma sekretaris, cantikan juga gue"kata Elsa yang terlihat sangat kesal.


Sedangkan Richard dia membawa Vira keluar dari kantor. Lalu menyuruh gadis itu masuk kedalam mobilnya. Dipejalanan, Vira terus memikirkan kejadian saat dikantor tadi.


"Kamu gak takut kalau Elsa ngaduh ke papinya?"tanya Vira membuat Richard sedikit menoleh lalu kembali fokus menyetir.


"Perusahaan tidak akan rugi kalau mereka menarik sahamnya. Tidak usah difikirkan"kata Richard dengan sangat santai. Menurutnya jika keluarga Elsa menarik saham, perusahaan Jl Morgan Chase tidak akan rugi.


"Tadi kan dia minta nomor kamu. Kenapa malah nyuruh ngasih nomor aku?"tanya Vira.


"Bukan kontaknya"Richard memberikan hp nya pada Vira.


Vira langsung membukan kontak yang ada di hp Richard. Hanya ada dua nama disana. Princess dan juga Vira, dia merasa aneh dan bingung. Kenapa hanya ada dua nomor? Apa Richard tidak pernah menelfon orang, selain dirinya dan juga Christy?


"Raka dan Raja saja tidak tahu nomor saya. Lalu untuk apa memberikan nomor saya pada gadis tadi"kata Richard dengan sangat santai.


Vira sedikit bingung dengan jalan fikir kekasihnya itu. Mana bisa dia cuma menyimpan dua nomor di hpnya. Lalu jika ada sesuatu bagaimana? Pria aneh!.


"Raka dan Raja gak tahu nomor kamu. Terus kenapa kamu ngasih tahu nomor kamu ke aku?"tanya Vira penasaran.


"Kamu tahu arti princess untuk saya?"tanya Richard membuat Vira mengangguk.


"Sama halnya dengan kamu. Kamu juga berarti dihidup saya"perkataan Richard cukup membuat jantung Vira berdegup sangat kencang.


Perkataan Richard selalu berhasil membuatnya terbang. Senang? Itu sudah pasti. Mendapatkan pria seperti Richard adalah sebuah anugrah terbaik menurut Vira.


"Apa aku sangat berarti untuk kamu?"tanya Vira sambil tersenyum.


"iya"jawab Richard.


"Terus kalau kamu disuruh milih, kamu mau milih aku atau Christy?"tanya Vira yang berniat bercanda.


Tiba-tiba Richard merem mobilnya mendadak. Vira hampir terlempar kedepan namun Richard menahannya. Richard terlihat sangat mengerikan saat ini.


"Saya tidak suka dengan pertanyaan kamu"ucap Richard dengan nada yang sangat dingin, dan aura yang menyeramkan.


"Aku bercanda Richard. Kamu gak harus seserius ini"kata Vira menatap Rihard.


"Saya tidak suka. MENGERTI!"Richard berbicara dengan bentakan diakhir kalimatnya.


Vira sangat ketakutan saat melihat ada bayangan hitam disekeliling tubuh Richard. Ia menunduk takut dan menahan isakannya. Richard benar-benar terlihat menyeramkan saat ini.


"Maaf aku gak akan nanya gitu lagi"kata Vira yang terisak dan menunduk takut.


Richard seketika tersadar telah membuat Vira takut. Dia berusaha menurunkan emosinya. Dia hendak meraih tangan Vira, namun gadis itu sedikit menghindar karena takut.


"Saya mohon jangan menangis"Richard langsung mengenggam tangan Vira.


"Kamu terlihat menyeramkan"Vira terisak. Ia sangat takut pada Richard.


"Saya minta maaf. Jangan menangis lagi"kata Richard lalu memeluk Vira.


"Saya hanya tidak suka dengan pertanyaan kamu tadi"Richard melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Vira.


"Aku gak akan nanya kayak gitu lagi"kata Vira menatap Richard.

__ADS_1


Richard langsung memeluk Vira, dia mengelus lembut rambut kekasihnya itu. Dia tahu, pasti Vira sangat takut padanya.


"Saya tidak mungkin memilih antara kamu dan princess. Saya masih bingung dengan perasaan saya untuk kamu. Namun jika boleh jujur, sampai saat ini saya masih mencintai princess. Maaf"batin Richard.


__ADS_2