
Sore hari di mansion Raymond, semua orang sedang berkumpul bersama. Ada kabar bahagia yang Tasya berikan, semua orang bahagia mendengar kalau Tasya saat ini sedang mengandung.
Banyak kata selamat yang Tasya dapatkan, semua orang merasa sangat bahagia. Akan ada anggota keluarga baru, akan ada suara tangisan bayi lagi.
"selamat Dim. Udah mau jadi ayah ajah lo"kata Fikra merangkul sahabatnya itu.
"iya nih Fik. Gak kebayang gimana kalau anak gue udah lahir nanti"ujar pria tampan itu, yang sangat bahagia.
"selamat Tasya"kata Richard lalu memeluk Tasya, dan di balas pelukan oleh gadis itu.
"makasih bang"kata Tasya tersenyum manis.
Richard melepaskan pelukannya, lalu menatap Tasya cukup lama. Richard meraih tangan Tasya, menggenggam dan mengelusnya.
"sebentar lagi, tangan ini akan menggendong seorang bayi dan bukan snapan lagi. Mesin pembunuh akan menjadi wanita penuh kasih sayang"ujar Richard membuat Tasya terharu mendengarnya.
Tasya tidak pernah membayangkan, kalau dia akan menjadi seorang ibu. Dulu, kehidupannya hanya di habiskan untuk membunuh banyak orang, menjadi mesin pembunuh. Tapi sebentar lagi, dia akan menjadi seorang ibu.
"ingat ini baik-baik. Dulu, prioritas kamu adalah diri kamu sendiri. Tapi mulai saat ini, ada seorang anak yang akan lahir dan akan menjadi prioritas kamu. Apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya, dia adalah yang terpenting"ucap Richard menatap lekat manik mata Tasya.
"iya bang. Aku pasti akan selalu ingat itu. Makasih untuk semuanya"kata Tasya tersenyum tulus.
"saya juga terimakasih, karena kamu sudah menjadi sahabat terbaik untuk princess. Dan kamu, sudah menjadi anggota terbaik di KC"kata Richard mengelus kepala Tasya.
"Dimas, jaga istrimu baik-baik. Saya tidak mau, kalau Tasya sampai kenapa-napa"kata Richard membuat Dimas mengangguk.
"hmm bang, Chris kemana? Kenapa dia gak ada dari tadi?"tanya Tasya yang menyadari jika Christy tidak ada.
"dia ada di kamar. Sebentar lagi pasti turun, tunggu saja"
"saya ke kamar dulu"kata Richard pada semua orang.
Saat Richard pergi, Steven dan Faris datang membawa beberapa bungkusan makanan. Mereka langsung menyimpan semua makanan itu di meja yang ada di hadapan semua orang.
Steven dan Faris langsung duduk bersandar di sofa. Mereka di penuhi keringat. Semua orang bingung, kedua pria itu pergi menggunakan mobil, tapi kenapa sampai berkeringat seperti itu.
"kalian habis ngapain? Keringetan gitu"kata Raja menatap kedua abangnya itu.
"tanya abangmu itu. Kelakuannya terlalu aneh!"kata Faris yang terlihat kesal, menatap Steven tajam. Sedangkan Steven, dia justru tertawa.
"bang, habis ngapain sih?"tanya Raka bingung.
"lo terlalu penakut. Itu hanya seekor anjing, lo gak mungkin mati kalau di gigit"seru Steven yang masih asik menertawai Faris.
"lo yang gila! Anjing kayak gitu di ganggu. Kalau di gigit gimana"Faris kembali berkata lalu melap keringatnya menggunakan tissue.
"jangan bilang, kalian tadi habis di kejar anjing tentangga itu"kata Revano menatap kedua abangnya.
"Steven, dia sengaja nginjak ekor anjing itu. Utung pemiliknya langsung menangkap anjing itu. Kalau tidak, habis kita di gigiti"kata Faris kesal.
"ada-ada ajah, nyari gara-gara sama anjing"kata Fikra terkekeh.
"eh gue hampir lupa. Tadi gue beli ini buat lo"kata Steven memberikan sebungkus rujak untuk Tasya.
"makasih bang"kata Tasya lalu membuka bungkusan rujak itu, lalu memakannya dengan lahap.
"Tasya nitip sama lo?"tanya Dimas menatap Steven.
"gak nitip sih. Gue tahu, kalau dia mau rujak"kata Steven lalu memainkan hpnya
"Cel, Chrisnya mana?"tanya Faris menatap Michel yang sedari tadi hanya diam.
"di kamar bang"jawab Michel yang terlihat berusaha untuk tersenyum.
Baru saja Faris menanyakan keberadaan Christy, gadis itu menuruni anak tangga. Tatapannya terlihat sangat dingin, dia berjalan mendekat ke arah semua orang. Michel langsung berdiri dan mendekat ke arah Christy, gadis itu tersenyum tipis padanya.
"mommy dimana?"tanya Christy pada semua orang.
__ADS_1
"mommy ada urusan di butik. Kamu mau sesuatu?"tanya Wijaya daddy nya.
"enggak dad, nanti ajah kalau mommy udah pulang"kata Christy tersenyum.tipis.
"Chris, bisa bicara sebentar?"tanya Michel menatap Christy.
"yaudah, bicara di taman belakang ajah"kata Christy membuat Michel tersenyum.
Mereka berdua langsung pergi dari sana, semua orang membiarkan mereka berdua berbicara. Sikap Christy yang menjadi dingin, membuat semua orang merasa sedih terutama Michel.
Sifat Christy jauh lebih dingin di bandingkan dulu. Sekarang gadis itu jauh lebih menyeramkan. Dia menjadi sangat sensitif, sudah banyak maid yang terkena amukannya hanya karena kesalahan kecil.
Para maid hanya bisa bersabar, jika Christy memukul atau bahkan memaki mereka. Semua orang menjadi sedih karena perubahan sifatnya. Entahlah, kapan gadis itu akan kembali menjadi lembut.
Saat ini Christy dan Michel duduk berdua di kursi taman belakang Mansion. Michel tersenyum manis sambil menggenggam tangan Christy, sedangkan Christy dia menatap Michel bingung.
"kenapa senyum terus?"tanya Christy yang akhirnya memulai pembicaraan.
"lagi pengen ajah"jawab Michel yang masih terus menatap wajah cantik kekasihnya itu
"katanya mau ngomong"ujar Christy. Michel terdiam sejenak, menghembuskan nafasnya gusar.
"please, jangan bersikap kayak gini"kata Michel menatap lekat manik mata Christy. Pria itu tidak suka melihat Christy seperti ini, ia merasa seperti ada yang hilang.
"maaf Cel, aku udah buat kamu sedih. Maafin aku"ucapnya yang berusaha berkata lebih lembut, meski masih terdengar agak dingin.
"kamu gak perlu minta maaf. Aku ngerti kondisi kamu saat ini. Tapi aku mohon, jangan bersikap dingin lagi"ujar Michel yang terlihat sedih.
"cuma ini cara satu-satunya, supaya trauma aku hilang Cel. Aku gak mau jadi lemah, aku gak bisa Cel"kata Christy yang seketika menangis di hadapan Michel.
"kalau kamu terlalu berusaha untuk menghilangkan trauma itu, aku takut kamu kenapa-napa Chris. Aku mohon ngertiin perasaan aku"kata Michel menggenggam erat tangan Christy.
"kalau aku menjadi lemah, siapa yang akan menjaga keluarga ini. Banyak orang yang mau melukai kalian, aku takut kehilangan lagi Cel"kata Christy terisak.
Michel langsung memeluk erat tubuh Christy, gadis itu terisak di pelukannya. Melihat Christy seperti ini, membuat Michel menjadi sedih. Ia bingung harus berbuat apa, semuanya sangat membuatnya bingung.
"maaf aku terlalu sering buat kamu sedih. Aku juga gak mau kayak gini Cel. Aku minta maaf"kata Christy yang masih terisak.
"gak apa-apa, aku ngerti Chris. Kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah okey"kata Michel mengelus lembut kepala Christy.
"Tuhan aku mohon, jaga gadisku baik-baik. Aku tidak mau kalau dia terluka, aku mencintainya saat ini hingga akhir nafasku nanti. Apapun yang terjadi, aku hanya ingin bersamanya"batin Michel sendu.
"Tuhan, engkau pasti tahu perasaanku saat ini. Aku ingin bersamanya, aku ingin hidup bersamanya selamanya. Jangan pisahkan kami"batin Christy
//skip//
Jam menunjukan pukul 9 malam, Vira baru saja akan pulang setelah merapikan ruangannya. JP Morgan Chase terlihat sudah lumayan sepi. Hanya tersisa karyawan yang lembur dan beberapa satpam. Gadis itu keluar dari ruangannya sambil memijat kepalanya yang terasa sakit.
Baru saja dia hendak memesan taxi, sebuah motor berhenti tepat di depannya. Vira sempat bingung siapa orang itu. Namun setelah orang itu melepas helm nya, Vira baru sadar kalau dia adalah Richard. Gadis itu langsung berjalan mendekat ke arah Richard.
"kamu kenapa ke sini?"tanya Vira menatap Richard yang baru saja turun dari motornya.
"saya mau bakar perusahaan ini"jawab Richard datar, membuat Vira bingung.
"serius?"tanya Vira membuat Richard mendengus kesal. Pria itu tidak habis fikir dengan kepolosan kekasihnya.
"kenapa kamu tidak menelfon atau mengirim pesan pada saya? Lupa kalau sudah punya pacar?"tanya Richard membuat Vira terkekeh.
"aku sibuk tadi, banyak rapat yang aku hadiri. Aku mau nelfon kamu, tapi nanti kalau aku udah nyampe di rumah"kata Vira tersenyum.
"kenapa mau naik taxi? Kamu bisa menelfon, dan saya akan antar kamu pulang"kata Richard.
"aku takut ganggu. Lagian aku udah biasa pulang taxi, Richard"kata Vira yang langsung mendapat tatapan elang dari jendral Mafia itu.
"sekarang saya pacar kamu. Sesibuk apapun saya, kalau kamu butuh pasti saya ada untuk kamu"ujar Richard membuat Vira menjadi salah tingkah. Perkataan pria itu selalu membuatnya terbang.
"tunggu sebentar"kata Richard lalu menelfon seseorang.
__ADS_1
Saat selesai menelfon, seorang pria berpakaian serba hitam datang. Richard memberikan helm dan kunci motornya, lalu pria itu memberikan kunci mobil untuk Richard. Setelah itu dia pergi membawa motor milik Richard.
"saya antar kamu pulang sekarang"kata Richard lalu meraih tangan Vira dan menggenggamnya. Mereka berdua berjalan menuju mobil sport berwarna hitam milik Richard.
"kenapa kita gak naik motor yang tadi?"tanya Vira bingung.
"sebenarnya saya mau naik motor, tapi pakaian kamu seperti ini. Jadi kita naik mobil saja"kata Richard membuat Vira menatap pakaian yang di lakainya.
"aku punya jaket, jadi bisa nutupin kaki aku Richard"kata Vira yang semakin membuat Richard kesal.
"tapi yang tertutup hanya setengah, saya tidak suka orang-orang melihat lekukan tubuh kamu"kata Richard menatap Vira.
"masuk. Hari semakin malam"kata Richard membuka pintu mobil untuk Vira.
Richard langsung membawa mobilnya keluar dari area perusahaan. Pria itu membawa mobil dengan kecepatan standar, ia yang terlalu fokus menyetir tidak menyadari kalau Vira sudah tertidur.
Richard melirik sebentar, menatap wajah gadis yang terlihat kelelahan itu. Ia memperlambat mobilnya, agar Vira tidak terganggu karena suara mobilnya yang begitu besar.
10 menit perjalanan, mobil Richard berhenti di depan rumah Vira. Dia keluar dari mobilnya perlahan, lalu mengangkat tubuh Vira keluar dari mobil. Richard mengendong tubuh Vira brydal style.
Richard langsung masuk dan membawa Vira ke dalam kamar. Perlahan Ricbard membaringkan tubuh gadis itu di kasur, lalu melepaskan sepatunya, dan menyelimuti tubuh gadis itu.
Richard mengambil kursi dan duduk di sana. Cukup lama ia menatap wajah Vira, hingga gadis itu terbangun dan terkejut karena ada Richard di sana. Vira langsung duduk, dan merapikan rambut nya yang berantakan.
"kenapa gak bangunin kalau udah nyampe?"tanya Vira menatap Richard.
"saya lihat kamu sangat lelah. Jadi saya tidak bangunkan. Tidur saja kalau kamu mau"kata Richard lalu memainkan hp miliknya.
"udah mau jam 11 Richard. Kamu gak pulang?"tanya Vira menatap Richard yang terlihat serius memainkan hpnya.
"saya pulang, tapi nanti. Kamu tidur saja"kata Richard dengan sangat santai.
"aku mau mandi dulu. Badan aku lengkat banget"kata Vira lalu turun dari kasurnya, namun Richard langsung menahannya dan menyimpan hp nya dinakas.
"ini sudah malam. Besok pagi saja kalau kamu mau mandi"kata Richard menatap Vira.
"tapi badan aku lengkat Richard. Nanti gak bisa tidur"kata Vira yang berusaha membuat Richard mengerti
"yasudah, tapi jangan pakai air dingin. Kamu bisa flu nanti"kata Richard membuat Vira mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandin.
Vira cukup lama di kamar mandi, 30 menit dia baru keluar dari sana. Saat keluar dari kamar mandi, ia mendapati Richard yang tidur di atas kasur. Gadis itu sudah mengganti pakaiannya di kamar mandi, dia langsung mengeringkan rambutnya.
Saat sedang mengeringkan rambutnya, ia melihat hp Richard yang berbunyi. Ada pesan yang masuk. Vira yang penasaran langsung meraih hp Richard, belum sempat tangannya memegang hp itu. Richard lebih dulu mengambilnya dan menatap Vira.
"ada pesan masuk tadi"ujar Vira yang mengerti arti tatapan Richard.
Richard langsung mengecek pesan yang baru saja masuk, setelah itu mematikan hp nya dan kembali menutup matanya. Vira bingung dengan tingkah kekasihnya itu.
"Richard, kamu gak pulang?"tanya Vira menepuk pelan pipi Richard.
"saya menginap di sini malam ini"ucap Richard yang masih menutup matanya. Lalu menarik Vira dan memeluknya seperti guling.
"yaudah, aku siapin kamar tamu dulu"kata Vira hendak melepaskan pelukan Richard, namun sangat sulit.
"saya tidur di sini saja. Kasur kamu lembut"ujar Richard membuat Vira menjadi gelagapan.
"tapi.."kata Vira lalu terdiam sejenak.
"saya hanya ingin tidur, tidak usah khawatir. Saya tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh"kata Richard yang mengerti pemikiran Vira.
Richard mengeratkan pelukannya, membuat Vira semakin tidak karuan. Gadis itu bisa merasakan deru nafas Richard yang begitu dekat dengannya, wajah tampan Richard berhasil membuatnya terdiam.
Rahang kokoh, wajah mulus, hidung mancung dan alis tebal milik Richard membuat Vira tidak karuan. Pria itu terlalu tampan, bahkan sangat tampan. Vira tidak menyangka ada pria seperti Richard, dia tampan dan juga cerdik. Semua gadis pasti tertarik padanya.
Cup
Satu kecupan singkat di berikan Ricbard untuk Vira. Gadis itu tersipu malu karena Richard mengecup keningnya. Wajahnya memerah karena malu, ia tersenyum tipis. Richar dpun tersenyum, meskipun senyumannya sangat tipis, hampir tidak terlihat.
__ADS_1
"good night sayang"ucap Richard dengan suara seraknya. Membuat Vira semakin merasa ingin terbang.