
Pagi yang sangat cerah, namun tidak secerah suasana di mansion. Semua orang terkejut, saat melihat berita dan semua saluran tv.
Berita perusahaan Raymond, berada di semua saluran tv. Ancaman bangkrut, menjadi topik hangat di semua saluran tv.
Raja sangat terkejut, perusahaan Raymond terancam bangkrut. Raja yang mengurus perusahaan itu, dan tidak ada kendala sama sekali. Lalu tiba-tiba, pagi ini banyak berita yang menyebutkan ancaman bangkrut perusahan Raymond.
"Raja, kenapa bisa seperti ini nak?" tanya Siska yang sangat terkejut. Perusahaan Raymond, di bangun dengan susah payah. Lalu terancam bangkrut? Itu sangat mengejutkan.
"Semuanya baik-baik saja selama ini. Lalu hari ini, kenapa seperti ini?" tanya Wijaya yang juga bingung. Wijaya membantu Raja menjalankan perusahaan Raymond. Karena perusahan Stamford juga menanam saham di perusahaan Raymond.
"Aku juga gak tahu dad" jawab Raja yang merasa frustasi.
Raja sangat frustasi, perusahaan yang akan bangkrut adalah hal yang sangat mengejutkan. Raja tidak mungkin membiarkan perusahaan hancur, perusahaan itu hasil kerja keras ayah.
"Bang maaf" Raja menatap Richard. Ia terlihat hampir menangis.
"Bukan waktunya untuk minta maaf. Kepercayaan ini, di berikan ayah untuk kamu. Seberat apapun masalahnya, kamu punya tanggung jawab besar untuk perusahaan. Banyak orang bergantung pada perusahaan itu" kata Richard mencoba membuat Raja mengerti.
Raja baru saja ingin berbicara. Tiba-tiba hp nya berbunyi, sekretarisnya baru saja menelfon. Ia langsung mengangkatnya, semua orang menatapnya dengan tatapan penasaran.
Raja langsung mematikan hp nya, lalu merebut remot tv dari tangan Raka. Raja mencari satu saluran tv, yang menayangkan berita lebih detail. Apa yang memicu kebangkrutan perusahaan.
"Perusahaan RD company, terancam bangkrut karena banyak yang menarik kembali saham mereka. Salah satu penyebabnya adalah, karena pemilik perusahaan terkena skandal yang kurang mengenakkan untuk di dengar" kata pembawa berita yang ada di salah satu lautan tv.
Semua orang menonton berita itu dengan sangat serius. Hingga ada salah satu foto yang membuat mereka terkejut. Ada sebuah foto, yang menampilkan wajah Raja yang berciuman dengan seseorang. Bukan seorang gadis, melainkan seorang pria.
Semua orang sangat terkejut, Raja terus memperhatikan berita itu. Richard menatap Raja cukup lama, para sahabatnya juga menatap Raja.
"Ja, itu Lo?" tanya Fikra menampilakan wajah terkejutnya.
"Bukan!" ucal Raja yang sangat yakin dengan perkataannya.
"Ja, tapi itu muka Lo" kata Dimas yang juga terkejut.
"Kita sahabatan udah lama. Kalian pasti tahu, gue alergi sama yang nama bulu-buluan. Lihat foto itu, dia pake baju yang ada bulunya di leher" kata Raja menunjuk tv.
Semua orang kembali memperhatikan foto itu. Memang benar, orang di foto itu memakai baju yang di penuhi bulu-buluan. Sedangkan Raja, dia alergi dengan bulu atau baju seperti yang orang itu pakai.
"Banyak orang yang terkejut dengan foto yang beredar. Pemilik perusahaan RD company, salah satu putra dari Raymond. Ternyata memiliki kekasih seorang pria. Banyak perusahaan yang menarik saham dari RD company, karena merasa jijik bekerja sama dengan seseorang yang tidak normal" kata pembawa acara di berita itu.
Raja sangat terkejut dengan perkataan pembawa berita itu. Itu memang bukan dia, tapi perkataan pembawa acara itu sangat menusuk.
"Pecat semua pembawa acara yang bekerja di seluruh saluran tv hari ini!" perintah Richard pada seseorang yang ditelfonnya.
Semua orang menatap Richard. Pria itu terlihat sangat marah, semua pembawa acara yang bekerja hari ini. Kehilangan pekerjaan mereka, hanya dengan satu kali kedipan mata.
"TUAN" teriak salah satu maid yang berlari dari luar.
"Kenapa pak?" tanya Christy bingung.
"Non, di luar banyak wartawan. Sangat banyak" ucap maid itu yang sangat panik.
Richard langsung melihat cctv-nya, memang benar kata maid itu. Sangat banyak wartawan yang berdiri di luar gerbang mansion.
"Gimana bang?" tanya Michel menatap Richard. Ia sangat bingung dengan situasi saat ini.
"Aku harus ke kantor" ucap Raja menatap semua orang.
"Tidak! Waktunya tidak tepat. Banyak wartawan diluar sana, di kantor sudah pasti lebih banyak lagi" Richard melarang raja.
"Terdiam di dalam sini. Tidak akan menyelesaikan masalah" kata Raja lalu mengambil kunci mobilnya.
Raja nekat keluar dari dalam mansion. Semua wartawan menggila, saat melihat Raja keluar dari mansion.
"Singkirkan mereka semua! Saya mau keluar" perintah Raja pada semua maid.
Semua wartawan di dorong paksa. Mobil Raja keluar dengan sangat cepat. Banyak wartawan yang mengikuti mobilnya
__ADS_1
Sepanjang jalan, Raja terus mendengar radio yang membicarakan tentangnya. Dan Raja terus memikirkan, siapa pria di foto itu. Kenapa bisa semirip itu dengannya.
"Gue emang jomblo. Tapi gue gak gila sampai nyosor cowok" ucap Raja marah.
Mobil Raja memasuki area kantor. Memang benar perkataan Richard, lebih banyak wartawan di kantor.
Saat ia keluar dari mobil, banyak wartawan yang menyerbunya dengan banyak pertanyaan. Raja hanya diam, dan berusaha masuk ke dalam kantor.
Untung saja banyak security yang menghalangi wartawan itu. Raja berhasil masuk ke dalam kantor. Banyak karyawan yang menatapnya, bahkan ada yang berbisik membahas berita yang beredar.
"Bapak seharusnya tidak ke kantor. Berbahaya pak" kata sekretaris Raja.
"Sebenarnya kenapa bisa seperti ini? Foto itu dari mana asalnya?" tanya Raja menatap sekretarisnya yang bernama Sasa Asylla itu.
"Saya juga tidak tahu pak. Saat mendengar berita di tv, sudah banyak yang membahas tentang foto itu" ucap Sasa menunduk.
"Pendapatan perusahaan mendadak anjlok pak" kata Sasa yang semakin membuat Raja frustasi.
"Banyak karyawan yang mendadak Resign pak" kata Sasa membuat Raja terkejut.
"Berapa perusahaan yang menarik saham dari perusahaan kita?" tanya Raja yang berusaha lebih berfikir jernih.
"Hampir setengah, dari semua perusahaan yang menanam saham di perusahaan ini pak. Kalau seperti ini, bisa-bisa kita gulung tikar pak" ucap Sasa yang merasa sedih.
Raja menatap seluruh karyawan yang masih ada di sana. Menatap semua wartawan yang ada di luar, situasi kali ini sangat berat.
"Perusahaan tidak boleh sampai gulung tikar" Raja kembali berbicara. Kali ini ia sangat yakin dengan perkataannya.
"Kalau kamu juga mau resign, saya tidak bisa melarang. Keadaan perusahaan sangat kacau saat ini" ucap Raja membuat Sasa menatapnya.
"Pak, saya sudah bekerja disini sebelum bapak menjadi pimpinan. Saya sudah menjadi sekretaris ayah anda pak. Tidak mungkin saya resign, hanya karena masalah seperti ini. Justru saya harus menemani bapak" kata Sasa.
"Kamu yakin?" yanya Raja membuat Sasa mengangguk.
"Kalau begitu saya mohon sama kamu, bagaimana pun caranya atasi masalah keuangan perusahaan. Saya akan berusaha menyelesaikan masalah yang terjadi, tapi saya mohon sama kamu. Jangan sampai perusahaan hancur" Raja menatap lekat kedua mata Sasa.
"Bapak bisa percaya sama saya" ucap Sasa yang sangat yakin.
Raja langsung berlari keluar dari kantor, lalu menaiki mobilnya. Belum sempat ia masuk kedalam mobil, bajunya di tarik sangat kuat oleh salah satu wartawan. Raja terjatuh menghantam tanah, hingga tangannya terinjak oleh beberapa wartawan yang hendak menyorot wajahnya.
Raja langsung dibantu berdiri oleh security. Ia langsung masuk kedalam mobil, dan pergi dari sana.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit, Raja sampai di mansion. Masih banyak wartawan di gerbang mansion.
Raja dengan cepat masuk kedalam mansion, semua orang masih ada di sana. Menonton semua berita yang menampilkan foto pria yang mirip Raja, berciuman dengan seorang pria.
"Bang, semua berita menampilkan foto itu" Christy menatap Raja.
Semua orang masih terkejut melihat foto-foto itu. Terlebih lagi wajah pria itu sangat mirip dengan Raja maupun Raka
"Ja, keuangan perusahaan Lo anjlok banget" Revano pun ikut berbicara.
"Sebaiknya, kalian juga menarik saham dari perusahaan gue. Kalau gini terus, bisa-bisa perusahaan kalian juga kena dampaknya" kata Raja menatap para sahabatnya.
"Mau seberat apapun masalahnya. Gak akan pernah gue narik saham dari perusahaan lo. Justru perusahaan kita, akan selalu bantuin perusahaan Lo" Fikra menolak permintaan Raja.
Situ seperti mereka harus saling membantu, bukan malah menyelamatkan diri sendiri.
"Bang, tangan Abang berdarah?" Christy menatap tangan Raja yang berarah.
"Ini kenapa?" Richard mengangkat tangan Raja yang terluka.
"Gak apa-apa bang" ucap Raja lalu menjauhkan tangannya dari Richard.
"Jawab abang! Tangan kamu kenapa" Richard kali ini terlihat marah.
"Tadi aku jatuh bang. Gak sengaja banyak wartawan yang nginjek tangan aku" kata Raja membuat semua orang khawatir.
__ADS_1
Richard tiba-tiba menelfon seseorang, wajahnya cukup serius.
"Tugaskan semua anggota KC untuk datang ke RD company. Bunuh semua wartawan yang ada disana. Jangan biarkan mereka hidup, satu orangpun!" ucap Richard dengan penuh amarah.
Semua orang terkejut dengan apa yang Richard katakan. Perintah kali ini, benar-benar terdengar menyeramkan.
"Bang, yang salah hanya beberapa orang. Abang gak bisa bunuh mereka semua" ucap Raja yang langsung merebut hp Richard.
"Perintahkan semua anggota, tetap di markas" kata Raja lalu mematikan sambungan telfon.
Raja cukup berani untuk merampas hp milik Richard. Bahkan membatalkan perintah yang Richard katakan.
"Ini masalah aku bang. Aku bisa selesaiin ini sendiri" kata Raja dengan tatapan elangnya.
"Ja" Revano membalikan badan Raja menghadap tv.
Semakin banyak foto yang tersebar. Raja semakin bingung, kenapa ada pria yang sangat mirip dengannya. Bahkan Raka juga terkejut, dia adalah kembaran Raja. Saat melihat ada pria dengan wajah yang mirip dengannya, itu sangat mengejutkan.
"Kalian mikir gak sih, Raja sama Raka itu kembar. Terus dari mana mereka tahu, kalau yang di foto itu Raja? Kenapa cuma Raja yang di tuduh? Sedangkan Raka, gak sama sekali" ucap Dimas membuat semua orang berfikir.
"Benar Dim, seharusnya gue juga kena imbasnya. Tapi cuma Raja yang kena" Raka pun merasa perkataan Dimas ada benarnya.
"Perhatiin deh foto itu" ucap Zee yang membaca berita di hpnya.
"Kenapa Zee?" tanya Christy penasaran.
"Raja sama Raka, punya bekas luka di jidat yah?" tanya Zee membuat Raja dan Raka menggeleng.
"Gak ada" jawab Fikra yang langsung mengangkat rambut Raka dan Raja yang menutupi jidat.
Jidat si kembar itu sangat mulus, tidak ada bekas luka sama sekali. Zee kembali melihat foto di hpnya, ada yang aneh.
"Tapi foto yang ada di semua berita, cowoknya itu ada bekas luka di jidat" Zee kembali berbicara. Ia sangat yakin dengan apa yang dikatakannya.
Semua orang langsung mengecek hp, melihat semua berita yang beredar. Benar kata Zee, pria itu memiliki bekas luka di jidat. Sedangkan Raka atau Raja, tidak mempunyai bekas luka sama sekali.
"Udah jelas, itu bukan di antar kalian berdua" kata Michel yang sangat yakin. Tidak mungkin kembaran itu melakukan semua ini.
"Terus sekarang gimana? Mau kita cari dimana orang yang di foto itu?" tanya Revano menatap para sahabatnya.
"Jangan cari dia. Kita cari cowok yang ciuman sama dia di foto itu" ucap Raja.
"Tapi dimana?" Fikra pun bertanya. Mencari orang itu bukan hal yang mudah.
"Lo lihat foto itu. Mereka ciuman di depan bar Elixilous. Punya Chris" kata Raja.
Christy memperhatikan foto itu, memang benar itu bar miliknya. Akan sangat mudah menemukan mereka.
"Aku bisa bantu kalau gitu" ucap Christy.
"Mau mencari ke sana? Dengan kondisi seperti ini"km kata Richard menunjuk saluran tv yang menampilkan bar Elixilous yang di padati wartawan.
"Separah ini?" tanya Zee yang tidak menyangka. Jika situasi akan seburuk ini.
"Biar gue sama yang lain ajah yang kesana. Lo gak bakal mungkin bisa ke sana" Michel menatap Raja.
"Tapi Cel...." Raja menjadi sangat frustasi dengan semua keadaan saat ini.
"Ja, kita bisa bantuin Lo" ucap Michel menepuk pundak Raja.
"Bang Richard mau kemana?" tanya Raja saat melihat Richard yang hendak pergi.
"Kamu sendiri yang bilang, ini masalah kamu. Jadi selesaikan dengan cara kamu sendiri" kata Richard menujuk Raja. Lalu pergi dari sana.
"Lo gak sendiri Ja. Ada kita" ucap Fikra membuat Raja mengangguk.
"Tuhan bantu kami menyelesaikan semua ini. Perusahaan tidak boleh sampai gulung tikar, semuanya tidak boleh berakhir" batin Raja.
__ADS_1