
Di salah satu pemakaman yang cukup besar, terlihat ramai para pelayat. Bahkan, para wartawan berbondong-bondong merekam proses pemakaman Raymond. Berita kematian Raymond, memenuhi semua siaran TV.
Orang terkaya nomor dua itu menjadi berita utama di setiap stasiun TV. Para rekan bisnis Raymond pun, memenuhi pemakaman.
Richard, Raka dan Raja. Membantu menimbun peti mati Raymond. Gundukan tanah itu, perlahan di taburi bunga. Christy duduk bersimpuh di samping makam Raymond, meremas kuat tanah makam itu. Terus memohon, agar ayahnya kembali.
Richard berjongkok di samping batu nisan Raymond, mengusap nama ayahnya itu perlahan. Ia merasa waktu berlalu sangat cepat. Sekarang ayahnya sudah tidak ada. Keluarganya menjadi tanggung jawab terbesarnya.
"ayah.....Maaf untuk semuanya"ucap Richard dengan suara yang sangat kecil. Namun Christy bisa mendengarnya. Richard tidak pernah menyebut Raymond dengan sebutan ayah. Namun saat ini Richard terus memanggil ayah.
"terimakasih......Terimakasih sudah membesarkan saya. Walaupun hubungan antara kita tidak baik. Memang benar kata pepatah, penyesalan selalu datang di akhir."kata Richard menunduk meremas kuat tanan makam itu.
"Richard menyesal, karena tidak memberikan ayah kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Richard mohon, kembali."kata Richard menatap sendu batu nisan ayahnya itu .
"bang"panggil Christy sambil menggenggam tangan Richard.
"princess, selama ini abang tidak pernah meminta sesuatu. Tapi sekarang......Abang hanya mau satu saja. Kembalikan ayah"kata Richard menatap Christy sendu.
"bang Richard.....Abang harus iklasin kepergian ayah. Bukan cuma abang yang mau ayah kembali. Kita semua juga mau ayah kembali. Tapi itu tidak mungkin terjadi"kata Christy, menatap Richard.
"bahkan, abang belum menghabiskan waktu bersama ayah. Selayaknya seorang anak dan ayahnya. Lihatlah, sekarang dia pergi untuk selamanya"kata Richard tersenyum senyum. Merasa kasihan pada dirinya sendiri.
"bang Richard harus kuat, kita semua butuh abang sekarang. Bunda, bang Raka, bang Raja dan aku. Kita butuh abang"kata Christy berusaha membuat Richard kuat.
"berikan abang kekuatan princess"kata Richard lalu memeluk Christy erat.
"abang pasti kuat. Aku yakin"ucap Christy mengelus perlahan punggung Richard.
Raka dan Raja hanya bisa terdiam menatap kuburan ayah mereka itu. Sudah tidak ada sosok Raymond, tidak ada lagi yang akan memberi mereka motivasi, tidak ada lagi yang akan bercanda bersama mereka.
Sosok Raymond yang sangat berpengaruh besar di hidup kedua saudara kembar itu, menjadi pukulan terbesar yang mereka rasakan. Kehilangan sosok yang sangat mereka sayangi.
"bang"panggil Raja membuat Richard menatapnya. Mengangkat alisnya, ingin tahu kenapa Raja memanggilnya.
"langit sudah mendung, sebaiknya kita pulang"ucap Raja melihat awan yang perlahan menghitam. Para pelayat pun mulai meninggalkan area itu.
Richard menatap langit sebentar, melihat cuaca yang lumayan mendung. Sebentar lagi lasti hujan akan turun. Ia perlahan berdiri, di ikuti Christy, Raka, Raja dan Siska.
Richard merasa kakinya sangat berat untuk meninggalkan makan itu. Ia benar-benar belum ihklas, atas kepergian Raymond. Kecelakaan itu berujung kematian sekarang.
Kecelakaan yang di rencanakan anggota GDM, Richard sangat ingin membunuh semua anggota GDM. Termaksud leader GDM. Karena dia, Raymond sampai meninggal. Richard tidak bisa menerima semua ini, ia akan membalas dendam.
Pertempuran besar akan terjadi lagi, KC dan GDM akan membuat sejarah baru. Hanya akan ada satu yang menang, entah itu KC ataupun GDM.
"Dimas, Fikra. Saya mau meminta izin sebagai jendral KC. Apa bisa istri kalian mengikuti pertempuran?"tanya Richard secara tiba-tiba. Menatap Dimas dan Fikra, membuat kedua pria itu bingung harus menjawab apa.
"saya tahu, sekarang mereka sudah menikah. Tapi mereka tetap panglima tempur di KC. Mereka berpengaruh besar saat pertempuran di lakukan"kata Richard membuat Dimas dan Fikra kembali berfikir.
Memutuskan hal seperti ini, bukanlah hal yang mudah. Menyetujui istri mereka bertempur, itu sama saja membiarkan istri mereka mati. Tapi ini juga sudah jalannya, istri mereka seorang mafia. Kenyataan itu, tidak bisa di ubah sama sekali.
"iya bang. Gue izinin Tasya ikut pertempuran. Tapi gue mohon.....Gue mohon jaga dia bang"kata Dimas membuat Richard megangguk. Lalu beralih menatap Fikra, yang masih terdiam.
"aku bisa jaga diri"kata Fara membuat Fikra menatapnya cukup lama.
"okey. Tapi jangan sampai terluka."kata Fikra menatap lekat wajah istrinya itu. Terasa sangat berat saat menyetujui hal ini.
"maaf sebelumnya jendral. Tapi pertempuran apa yang akan di lakukan kali ini?"tanya Fara menjadi lebih berwibawa saat berbicara pada Richard.
"kita akan melawan GDM"jawab Richard. Membuat Tasya, Fara dan Christy terkejut.
"maksud abang apa? Kenapa baru bilang sekarang?"tanya Christy.
"kamu tidak akan ikut princess"kata Richard membuat Michel diam-diam bernafas lega. Setidaknya dia tidak perlu bertengkar dengan Christy, karena ini hal ini.
"tapi jendral, Chris masih berstatus sebagai leader. Apa jendral yakin, Chris tidak perlu ikut?"tanya Tasya bingung.
"sudah ada Rahel. Kita tidak perlu menyuruh princess untuk ikut"kata Richard yang tidak menatap Christy sedikit pun.
"bang, tapi..."kata Christy terhenti, karena Richard lebih dulu pergi dari sana. Ia bingung, melihat sikap Richard barusan.
"kalian di suruh kemarkas"ucap Reza yang baru muncul. Setelah Richard pergi.
"bang"panggil Christy membuat Reza menatapnya.
"princess, kamu tidak boleh ikut ke markas"kata Reza membuat mereka semua bingung.
"aku akan tetap ikut"ucap Christy penuh penekanan.
"percuma princess. Semua anggota sudah di peringatkan agar tidak membiarkan kamu masuk. Larangan kamu masuk markas sangat besar"kata Reza membuat Christy terkejut begitu juga dengan yang lain.
"tapi kenapa? Siapa yang membuat perintah seperti itu?"tanya Christy bingung sekaligus marah. Mana mungkin seorang leader di larang masuk ke markasnya sendiri. Sangat aneh.
"Richard yang memerintahkan kita semua"kata Reza menatap sendu wajah Christy.
"kalian bertiga, kita ke markas sekarang"kata Reza lalu pergi. Di ikuti Raja, Fara dan juga Tasya.
"Chris, jangan sedih yah. Nanti kakak coba ngobrol sama Richard"kata Vira menggenggam tangan Christy.
"sebenarnya bang Richard kenapa"kata Christy, menatap sendu wajah Vira.
"Chris, kita pulang sekarang"ucal Raka membuat Christy mengangguk perlahan.
__ADS_1
//skip//
Jam menunjukan pukul tujuh malam, Christy baru saja sampai di RD hospital. Malam ini ia datang untuk melihat keadaan Steven. Steven baru bisa di jengkuk, setelah melakukan operasi.
Saat Christy masuk ke kamar inap Steven, pria itu berbalik menatap Christy. Christy perlahan mendekat pada Steven. Pria itu hanya diam, bingung harus berkata apa lagi. Dia sangat sedih, karena tidak bisa melihat Raymond di makamkan. Kondisinya tidak memungkinkan, untuk datang ke pemakaman tadi pagi.
"gimana kondisi abang? Udah mendingan?"tanya Christy lalu duduk di kursi yang ada di samping brankar Steven.
"udah mendingan Princess"jawabnya lalu tersenyum tipis pada Christy.
"bagaimana pemakaman tadi pagi? Apa semuanya berjalan lancar?"tanya Steven berusaha menahan air matanya.
"semuanya lancar. Banyak pelayat yang datang. Ayah membuat semua orang kehilangan"ucap Christy yang berusaha tidak terlihat sedih di hadapan Steven.
"maaf. Karena abang, kamu harus kehilangan ayah"kata Steven menggenggam tangan Christy.
"ini bukan salah bang Steven. Ini semua sudah takdir. Lagi pula, aku tetap merasakan kehadiran ayah, jika berada di dekat bang Steven"kata Christy. Mengingat Raymond yang mendonorkan hatinya untuk Steven.
"Apa boleh, abang meluk kamu?"tanya Steven membuat Christy berfikir sejenak. Lalu memeluk Steven
Steven perlahan memeluk erat tubuh gadis cantik itu, menyandarlan kepalanya di pundak Christy. Saat ini, ia sangat membutuhkan Christy. Ia memang sudah merelakan Christy untuk Michel. Tapi rasa cintanya belum sepenuhnya hilang.
Di peluk seperti ini, setidaknya membuatnya merasa sedikit tenang. Christy memang berperan penting dalam kehidupan pria itu.
"terimakasih princess"kata Steven lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"Apa bang Richard sudah ke sini?"tanya Christy membuat Steven menggeleng.
"sejak abang sadar, bang Richard belum datang."kata Steven,w membuat Christy menghel nafasnya.
"apa terjadi sesuatu? Kalian bertengkar?"tanya Steven penasaran.
"entahlah. Aku juga bingung. Bang Richard sedikit berbeda setelah pemakaman tadi. Dia bahkan tidak mengizinkan aku untuk ikut pertempuran"kata Christy membuat Steven berfikir sejenak.
"pertempuran dengan GDM?"tanya Steven
"bang Steven tahu soal itu?"tanya Christy.
"abang tahu. Pertempuran ini pasti akan terjadi. Bang Richard ingin membalas dendam"kata Steven membuat Christy bingung.
"balas dendam? Tapi kenapa? Bukannya GDM sudah tidak berurusan dengan kita lagi?"tanya Christy bingung.
"kecelakaan yang terjadi waktu itu, adalah perbuatan GDM. Karena mereka, ayah dan dua kembaran itu mengalami kecelakaan. Dan sialnya lagi, ayah sampai meninggal"kata Steven seketika membuat Christy terkejut.
"jadi, kecelakaan itu di rencanakan?"tanya Christy membuat Steven mengangguk.
"princess. Apa batinmu tidak bisa melihat apa-apa?"tanya Steven yang menyadari jika Christy sedikit aneh.
"entahlah. Tapi, aku sudah tidak pernah melihat kejadian aneh melalui batinku"kata Christy membuat Steven berfikir sejenak.
"ke sana saja aku tidak di perbolehkan"ucap Christy mengingat perkataan Reza waktu itu.
"maksud kamu? Siapa yang melarang kamu ke sana?"tanya Steven yang terlihat marah.
"bang Richard"jawab Christy membuat Steven terkejut.
"akan abang urus soal ini. Kamu jangan terlalu memikirkannya"kata Steven membuat Christy mengangguk.
Tok..tok..tok
Suara pintu yang di ketuk, membuat Steven dan Christy berbalik. Pintu itu terbuka menampilakan seorang pria tampan dengan tatapan dinginnya. Siapa lagi, kalau bukan Richard. Dia langsung masuk, dan mendekat kearag brankar Steven.
"bagimana keadaan kamu?"tanya Richard, menatap Steven.
"sudah lebih baik"jawab Steven.
"bang aku.."kata Steven terhenti karena Richard menatapnya.
"abang tahu, apa yang akan kamu katakan. Keputusan abang tidak akan berubah. Princess tetap tidak di perbolehkan ikut pertempuran. Dan tidak bisa masuk ke markas, sebelum pertempuran selesai"kata Richard yang sudah sangat yakin dengan apa yang dia putuskan.
"bang tapi.."kata Christy terhenti karena Ricbard menatapnya dengan tatapan elangnya. Christy sedikit terkejut, melihat Richard yang menatapnya seperti itu.
"keputusan abang tidak akan berubah"ucap Richard, membuat Christy menjadi marah. Gadis itu idak suka jika Richard melarangnya seperti ini.
"bang, aku masih leader KC saat ini. Aku wajib ikut serta dalam pertempuran ini! Kenapa abang tidak mengerti. Aku harus ikut! Tanpa persetujuan abang atau tidak. Aku tetap akan ikut..."kata Christy, hendak berbicara lagi namun terhenti. Karena Richard membentaknya.
"Christy Walton Raymond. Keputusan saya tidak bisa kamu bantah! Kalau saya bilang tidak.....Itu berarti tidak!"ucap Richard penuh penakanan. Menyebut lengkap nama Christy, membuat Christy dan Steven terkejut.
"bang. Abang gak harus kayak gini"kata Steven menegur Richard. Karena merasa abangnya itu sudah berlebihan.
"bang Steven, aku pergi dulu."kata Christy hendak pergi namun menatap Richard sebentar.
"maaf"kata Christy lalu keluar dari sana.
Richard terduduk lemas di sofa yang ada di sana, Steven menjadi bingung dengan apa yang Richard lakukan. Abangnya itu terlalu sulit di tebak. Richard mengacak rambutnya frustasi.
"sebenarnya apa rencana abang kali ini? Apa harus abang membentaknya?"tanya Steven menatap Richard.
"abang harus menjauh dari dia untuk sementara"kata Richard membuat Steven cukup terkejut.
"menjauh? Maksud abang apa? Kenapa abang harus menajuhi princess?"tanya Steven yang sangat bingung dengan abangnya itu.
__ADS_1
"tidak ada cara lain. Abang harus mejauh dari princess. Tidak akan lama"kata Richard menatap Steven.
"terserah, itu urusan abang. Tapi jangan membentaknya seperti tadi. Apa lagi sampai menyebut lengkap namanya"kata Steven tidak suka jika Richard membentak Christy seperti tadi.
Berbeda dengan Richard dan Steven yang berbicara serius. Christy berjalan di lantai dua rumah sakit, hendak menemui Michel di ruangannya. Baru saja Christy hendak mengetuk pintu, Michel keluar dari dalam ruangannya.
Pria itu sedikit terkejut melihat kehadiran Christy di sana. Ia menatap wajah kekasihnya itu. Michel bisa melihat gadisnya sedang sedih. Ia langsung menggenggam tangan Christy, lalu membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"kamu kenapa?"tanya Michel lalu duduk di sofa bersamaan dengan Christy.
"bang Richard, dia ngebentak aku"ucap Christy membuat Michel mengerutkan dahinya.
"kalian bertengkar? Ada masalah apa? Soal pertempuran yang di bahas tadi pagi?"tanya Michel.
"iya. Aku coba bicara baik-baik. Tapi bang Richard malah marah. Bahkan tadi, dia sampai manggil aku pake sebutan nama....Christy Walton Raymond"kata Christy membuat Michel menghembuskan nafasnya gusar.
"udah jangan sedih"kata Michel lalu memeluk gadis cantik itu.
"pasti bang Richard seperti itu, ada alasannya. Mungkin dia gak mau kamu terluka lagi. Kamu harus ngertiin posisi dia, Chris"ucap Michel mengelus kepala Christy perlahan.
"Cel, apa aku egois? Aku selalu ngelakuin hal, yang buat orang lain khawatir. Banyak orang terluka, dan itu karena aku"kata Christy menyandarkan kepalanya, di bahu Michel.
"jangan mikir kayak gitu. Kamu gak egois, semua yang kamu lakuin pasti ada alasannya. Aku ngerti Chris"kata Michel mencium kepala Christy.
"sekarang, ayah udah gak ada. Aku bakal nikah sama kamu, tanpa kehadiran ayah. Tidak akan lengkap"kata Christy menatap mata Michel.
"aku ngerti Chris. Kamu jangan sedih terus, aku gak tega lihat kamu kayak gini."kata Michel menatap sendu wajah kekasihnya itu.
"apa aku harus nunda hari pernikahan kita? Kita nikah setelah kamu udah lebih baikan"ucap Michel membuat Christy menggeleng.
"gak Cel. Kamu udah terlalu sering nunda hari pernikahan kita. Kita akan tetap nikah, di hari yang udah di tentui waktu itu"kata Christy, berusaha tersenyum di depan Michel.
"kalau gitu, kamu jangan sedih lagi. Aku gak suka lihat kamu sedih"kata Michel mencium kening Christy.
"udah malam, aku anterin kamu pulang?"tanya Michel membuat Christy menggeleng.
"malam ini, kamu balik ke apartement?"tanya Christy
"iya. Gak ada jadwal malam ini. Jadi aku bisa balik ke apartement"jawab Michel.
"aku nginep di apartement kamu yah"kata Christy.
"kamu gak mau pulang? Kalau bang Richard nyariin?"tanya Michel. Mengingat bagaimana Richard, yang selalu khawatir jika Christy tidak ada di mansion.
"nanti, aku telfon bang Raja ajah"kata Christy.
"yaudah. Aku ambil tas dulu, terus kita ke apartement aku"kata Michel. Lalu berdiri, merapikan mejanya dan mengambil tasnya.
"Chris yuk"kata Michel meraih tangan Christy. Lalu keluar dari ruangannya.
Mereka berjalan berdampingan, melewati beberapa perawat yang berjaga. Mereka langsung keluar dari RD hospital, menaiki mobil milik Michel.
Michel mengendarai mobilnya, dengan kecepatan sedang. Ini sudah malam, Michel tidak mau terjadi sesuatu saat dia bersama Christy. 10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di apartement.
Michel keluar dari mobil, membuka pintu untuk Christy. Lalu menggenggam tangan gadisnya ith, masuk kedalam apartement nya. Saat sudah masuk, ia lebih dulu menyalakan lampu, karena sangat gelap.
Christy merasa, apartement Michel tidak pernah berubah. Christy langsung duduk di sofa, dan menyandarkan kepalanya. Menghembuskan nafasnya gusar.
Michel yang mendengar Christy seperti itu, langsung mendekat dan menggenggam tangan Christy. Memijatnya perlahan, agar Christy lebih rileks.
"langsung tidur ajah yah, gak usah mandi. Udah malam banget"kata Michel yang langsung di angguki Christy.
"kalau kamu mau tidur, duluan ajah Cel. Aku masih mau di sini"kata Christy tersenyum menatap Michel.
"aku belum ngantuk, aku di sini ajah. Nemenin kamu"kata Michel menyandarlan kepalanya di pundak Christy.
Christy dan Michel sama-sama diam, tidak ada pembicaraan. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Terlalu banyak masalah yang terjadi, dan itu terkadang membuat mereka hampir putus asa.
Christy perlahan menggenggam tangan Michel. Pria tersenyum tipis, saat merasa tangannya di genggam. Christy terdiam, menatap cincin tunangan yang di lakainya dan juga di pakai Michel. Michel tidak pernah melepasnya. Pria itu selalu ingin memakainya, agar orang tahu jika hatinya sudah di miliki seseorang.
"Cel, aku boleh nanya sesuatu ke kamu?"tanya Christy, membuat Michel mengangguk. Kepalanya masih tetap di sandarkan di pundak Christy.
"selama aku koma. Apa kamu gak kepikiran, untuk nyari pengganti aku?"tanya Christy, membuat Michel tersenyum tipis.
"otak aku, di penuhi sama kamu. Gak ada kesempatan untuk mikirin cewek lain. Waktu kamu koma, aku cuma mau jadi dokter yang bisa buat kamu sadar. Itu ajah"kata Michel. Christy yang mendengar perkataan Michel, merasa sangat bahagia.
"kenapa kamu cinta banget sama aku?"tanya Christy. Michel langsung duduk tegap sambil menatap mata kekasihnya itu.
"sudah berapa kali aku bilang. Mencintai seseorang, tidak harus memiliki alasan. Aku cinta sama kamu, tanpa alasan apapun. Aku hanya mau kamu. Tidak ada yang lain"kata Michel menatap lekat mata Christy.
"tapi, kalau ternyata kita bukan jodoh? Kamu bakal lakuin apa?"tanya Christy membuat Michel tersenyum.
"aku akanĀ bilang pada Tuhan, supaya kamu jadi jodoh aku. Kalau bukan sekarang, aku harap jika di lahirkan kembali, aku akan berjodoh dengan kamu. Aku akan menunggu, entah itu di kehidupan selanjutnya, atau kapanpun itu. Aku akan menunggu, sampai kamu jadi jodoh aku. Karena hanya kamu yang aku mau"kata Michel menggenggam tangan Christy.
"makasih......Makasih karena udah mencintai aku sampai seperti ini. Sekarang aku makin yakin, kalau kamu memang yang terbaik untuk aku"ucap Christy tersenyum tulus sambil menatap wajah pria yang selalu berada di sampingnya selama ini.
"sekarang, kamu jangan sedih lagi. Kalau ada masalah, langsung cerita sama aku. Kita selesaikan sama-sama"kata Michel mengelus pipi Christy.
"iya Cel"kata Christy tersenyum.
"sini, aku mau meluk kamu"kata Michel lalu memeluk Christy. Dan Christy pun membalas pelukannya
__ADS_1
"setelah kita menikah nanti. Aku akan buat kamu ngerasa, kalau kamu adalah perempuan yang paling beruntung di dunia ini"ujar Michel dengan suara seraknya.
"Tuhan, jika engkau mendengar ini. Aku mencintainya.....Aku mencintai pria ini. Jaga dia selalu. Jangan pisahkan kami, aku ingin bersamanya"batin Christy.