Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 22


__ADS_3

Semua orang berlarian mendengar suara yang sangat besar. Semua orang terkejut melihat ada kecelakaan yang sangat besar di jalan. Lebih dari 3 mobil saling bertabrakan, semua benar-benar orang sangat panik. Beberapa orang mulai membantu orang-orang yang ada di dalam mobil.


Christy bernafas lega, saat melihat Richard di sampingnya baik-baik saja. Christy bersyukur, bisa mendorong Richard tepat waktu. Hingga mereka berdua menghantan trotoar jalan.


"bang"panggil Christy lalu memeluk erat tubuh Richard. Richard pun memeluk erat tubuh gadis itu.


Richard merasa jantungnya hampir copot, mobil yang sangat cepat itu hampir menabraknya. Richard lebih terkejut saat tubuh Christy mendorong dirinya hingga terpental menghantam trotoar.


Vira langsung mendorong kursi roda Steven untuk menghampiri Richard. Vira juga sangat terkejut, kaki gadis itu terasa lemas saat melihat Richard dan Christy menghantam trotoar cukup keras.


Steven berdiri dari kursi rodanya, lalu memeluk Richard dan Christy bersamaan. Dia benar-benar takut tadi. Entahlah apa yang akan terjadi jika Christy terlambat mendorong Richard.


"syukurlah abang baik-baik saja"kata Steven memeluk erat tubuh Richard.


"abang jangan seperti tadi lagi. Jangan melamun saat menyebrang. Abang buat kami takut"kata Christy meremas kuat baju Richard.


Christy dan Steven terkejut saat Richard tiba-tiba berdiri. Pria itu berjalan mendekat ke arah beberapa mobil yang mengalami kecelakaan, tatapannya benar-benar sangat kosong. Membuat Christy, Steven dan Vira bingung.


"abang mau kemana? Kita masuk ke rumah sakit dulu. Abang terluka"kata Christy, melihat lengan dan kepala Richard yang berdara. Akibat menghantam trotoar jalan.


Richard terus berjalan, dan tidak mendengarkan perkataan Christy. Dia menerobos kerumunan orang yang melihat kecelakaan itu. Christy semakin dibuat bingung dengan perilaku Richard.


"bang. Abang kenapa?"tanya Steven menahan tangan Richard. Membuat Richard berbalik dan menatapnya.


"a..a...ayah"kata Richard terbata-bata. Christy dan Steven bingung, saat mendengar Richard menyebut ayah.


"ayah? Maksud abang apa?"tanya Christy menatap Richard.


Richard menunjuk sebuah mobil alpart putih yang terbalik. Kondisi mobil itu sangat parah, asap terus keluar dari mobil mewah itu. Christy dan Steven berbalik menatap mobil itu. Tidak asing menurut mereka, Richard berjalan dengan kaki pincangnya, mendekat ke mobil itu dan terus mencari seseorang yang mempunyai mobil.


Mata Christy beralih pada plat mobil. Itu memang mobil seseorang, yang di kenalnya. Sangat di kenalnya. Itu mobil Raymond, ayahnya. Seketika Christy dan Steven menjadi panik, mereka mulai mencari Raymond di dalam mobil itu.


"tuan. Tiga penumpang di mobil itu, di baringkan di pinggir sana"kata seorang pria, saat melihat Richard seperti orang kebingungan.


"3 orang?"tanya Richard yang bingung sekaligus terkejut.


"ada 3 orang?"tanya Christy menatap orang itu.


"iya ada 3 orang. Satu pria yang sudah cukup tua, dan 2 pria berumur sekitar 24 tahun. Mereka kembar"kata orang itu. Seketika tubuh Christy menjadi lemas. Steven dengan cepat menahan tubuh Christy agar tidak terjatuh.


Vira langsung menahan Richard yang terlihat berdiri sempoyongan. Richard benar-benar terkejut, ayah dan adiknya mengalami kecelakaan sekaligus. Richard menatap Vira, tatapannya terlihat sangat hancur. Vira menjadi sedih melihatnya


"di mana mereka pak?"tanya Steven pada orang itu.


"dia pinggir sana tuan"jawabnya sambil menunjuk kerumunan orang.


Mereka berempat langsung berlari menghampiri kerumunan orang. Mereka menerobos masuk kedalam kerumunan itu, mereka terkejut melihat Raymond, Raka  dan Raja terbaring di sana. Mereka di penuhi darah, Christy menangis histeris melihat kondisi ketiga orang itu.


"hiks hiks kenapa jadi gini hiks hiks"Christy menangis terus menerus.


Raymond sudah tidak sadarkan diri, sedangkan Raka dan Raja masih membuka mata mereka, walaupun sangat sayup. Christy menggenggam tangan kedua abangnya itu.


"jangan tutup mata kalian. Aku mohon"kata Christy menggenggam erat tangan Raka dan Raja.


"kenapa belum ada orang dari rumah sakit yang datang?"tanya Vira pada beberapa orang yang ada di sana.


"mereka akan segera keluar nona. Banyak korban, perlu waktu untuk membawa mereka. Walaupun rumah sakit di dekat sini"kata salah satu orang yang ada di sana.

__ADS_1


"jangan nangis"kata Raka dengan suara yang sangat lemah.


Richard pun menggenggam tangan kedua adiknya itu. Sangat sakit melihat keduanya terbaring lemah. Richard berusaha keras agar tidak terlihat lemah di saat seperti ini.


"kalian pasti akan baik-baik saja. Bertahanlah"ucap Richard menatap kedua adik kembarnya itu.


"bang, badan gue lemes banget"kata Raja yang sudah sangat lemah. Richard memejamkan sebentar matanyanya dan kembali menatap kedua adiknya itu.


"apapun yang terjadi, abang mohon bertahanlah"kata Richard yang terdengar sangat sendu.


Richard beralih pada Raymond. Steven sudah menggenggam erat tangan ayahnya itu, sungguh Steven takut jika Raymond kenapa-napa. Raymond sudah tidak sadarkan diri, wajah dipenuhi darah.


"ayah"kata Steven dengan wajah sendunya.


"kamu harus kuat di depan ayah"ucap Richard menatap adiknya itu.


Richard menggenggam tangan Raymond. Richard pun ingin menangis. Tapi menjadi lemah saat ini, bukanlah solusi yang baik. Dia yang tertua di antar adiknya, menjadi kuat adalah solusi terbaik untuk saat ini.


"bertahanlah......saya mohon. Pergi dengan cara seperti ini, sangat tidak adil. Kita bahkan, belum menghabiskan waktu bersama. Layaknya ayah dan anak"batin Richard.


Tim medis akhirnya datang dengan beberapa brankar. Raymond, Raka dan Raja di naikan ke atas brankar. Rumah sakit di sebrang jalan, cukup membuat lalu lintas mengalami kemacetan. Tim medis bolak-balik, menyebrangi jalan untuk mengangkat semua korban kecalakaan.


Raymond, Raka dan Raja langsung di bawa masuk ke dalam rumah sakit. Di dalampun terlihat cukup kacau, ternyata korban kecelakaan sangat banyak. Semua departemen yang ada di rumah sakit di penuhi korban kecelakaan. Mulai dari departemen bedah umum hingga bedah saraf.


Salah satu perawat memanggil dokter untuk melihat kondisi Raka dan Raja. Mereka berdua terlihat sangat parah. Dokter itu adalah Michel, dia sangat terkejut melihat pasien yang akan di periksanya adalah sahabatnya sendiri.


"Cel"panggil Christy. Membuat Michel berbalik dan mendapati kekasihnya itu menangis.


"jangan nangis. Mereka pasti baik-baik ajah"kata Michel menghapus air mata Christy. Gadis itu terus menangis dan menatap tangannya yang dipenuhi dengan darah milik kedua abangnya.


"siapkan darah tambahan. Sekarang sudah jam 12 siang. Luka kecil pun akan mengeluarkan darah yang sangat banyak"kata Michel pada perawat yang ada di dekatnya.


"DOKTER GENTA"teriak Michel membuat Genta langsung berlari kearahnya.


"sepertinya terjadi trauma otak pada pasien. Ini tugas bedah umum"kata Michel menunjuk Raja.


Genta langsung memeriksanya. Keadaan Raja terlihat cukup parah. Genta berfikir sejenak, lalu menatap Michel.


"dia harus di operasi. Kepalanya terus mengeluarkan darah, kita harus membedah kepalanya, agar tahu penyebab pendarahnnya. Setelah itu baru membedah bagian perutnya, saya rasa terjadi pendarahan pada area limpanya"kata dokter Genta.


"kalau begitu, saya yang akan masuk keruang operasi terlebih dahulu"kata Michel membuat dokter Genta mengangguk.


"Cel. Ayah juga"kata Christy membuat Michel terkejut. Lalu melihat arah tatapan Christy, Michel melihat Raymond yang ditangani dokter Renal.


Michel langsung berlari mendekat kearah Raymond, tubuh pria paruh baya itu di penuhi darah. Bajunya sudah digunting, karena dokter Renal yang memeriksa bagian tubuhnya. Dokter Renal mengoleskan sesuatu keperut Raymond, lalu mendorong sebuah alat kecil keperut Raymond.


Dokter Renal fokus menatap sebuah kotak. Yang terlihat mirip dengan alat yang biasa di pakai untuk memeriksakan kandungan. Michel menatap Renal, menunggu dokter itu mengatakan apa yang terjadi pada Raymond.


"ada pendarahan di sekitar hatinya. Kita harus melakukan operasi"kata Dokter Renal menatap Michel.


"apa bedah saraf di butuhkan?"tanya Michel.


"apa anda ada operasi sekarang?"tanya dokter Renal.


"ada pasien dengan pendarahan di bagian otak. Saya akan melakukan operasi"jawab Michel.


"memerlukan waktu berapa lama?"tanya dokter Renal.

__ADS_1


"saya bisa menyelesaikannya dalam waktu 2 jam"jawab Michel dengan sangat yakin.


"saya akan mengurus pendarahan dibagian hatinya. Jika anda sudah selesai, langsung masuk keruang operasi satu. Saya rasa ada yang salah dengan kepalanya"kata dokter Renal.


"apa ada yang aneh?"tanya Michel.


"sejak saya periksa tadi, tubuhnya tidak mengalami reaksi apapun. Kemungkinan terburuknya, pasien ini mengalami mati otak"kata dokter Renal. Michel terdiam sejenak. Perkataan dokter Renal memang ada benarnya.


"anda itu dokter. Hanya karena dia orang yang anda kenal, bukan berarti anda bisa menjadi lemah. Bersiaplah untuk operasi"kata dokter Renal menepuk pundak Michel. Lalu mendorong brankar Raymond, dibantu beberapa perawat.


"bawa pasien ke ruang operasi"kata Michel.


Michel dan beberapa dokter sangat sibuk hari ini, banyak pasien yang harus melakukan operasi. Terlebih lagi departemen bedah saraf, 80% pasien kecelakaan, mengalami pendarahan otak. Membuat staff bedah saraf sangat kewalahan.


Christy, Richard, Steven dan Vira menunggu di depan ruang operasi. Di waktu yang sama, ketiga orang yang mereka sayang mengalami kecelakaan yang sangat parah.


Richard terus mengingat, bagaimana mobil ayahnya itu menghindar, agar tidak menabraknya. Karena mengindari nya, mobil itu justru menghantam beberapa mobil dari arah berlawanan. Christy baru saja merasa lega, karena berhasil menyelamtkan Richard dari tabrakan mobil. Namun melihat salah satu mobil yang mengalami kecelakaan, justru membuat Christy lemas.


Richard menunduk dan meremas kuat rambutnya, Vira langsung menggenggam tangan Richard. Pria itu menatap Vira, dia menatap Vira sebentar.


"kamu harus kuat"kata Vira menatap kekasihnya itu.


"mereka akan baik-baik sajakan?"tanya Richard menatap Vira.


"mereka pasti baik-baik ajah. Kamu harus sabar"kata Vira menggenggam erat tangan Richard.


Vira mengecek hp nya, saat mendengar ada pesan yang masuk. Vira terkejut melihat hp nya yang di penuhi berita tentang kecelakaan Raymond dan kedua anaknya. Banyak wartawan yang menunggu di depan rumah sakit. Menjadi orang kaya, memang sangat sulit.


"kamu harus di sini sama mereka. Jangan turun ke lobby. Banyak wartawan yang menunggu kalian"kata Vira menatap Richard.


"aku akan urus semua wartawan itu. Kamu harus kuat, kasihan adik-adik kamu"kata Vira melihat wajah khawatir Steven dan Christy.


"telfon saya kalau ada apa-apa"kata Richard menggenggam tangan Vira.


"pasti"kata Vira tersenyum lalu pergi dari sana.


Hanya tersisa Richard dan kedua adiknya itu. Richard menatap sekilas, wajah kedua adiknya. Benar kata Vira, kedua adiknya itu membutuhkannya saat ini. Dia harus kuat demi keduanya.


"mendekatlah"kata Richard, pada Christy dan Steven. Mereka berdua langsung mendekat ke atah Richard. Dia langsung menggenggam tangan kedua adiknya itu, dan berusaha tersenyum walau hatinya hancur.


"kemana princess dan Steven yang abang kenal, hmm? Mereka tidak selamah itu, mereka berdua kuat. Mereka adalah orang kuat yang paling abang banggakan"kata Richard tersenyum pada kedua adiknya.


"kenapa abang bisa sekuat ini?"tanya Christy menatap Richard, dengan air mata yang terus keluar.


"abang sekuat ini karena kalian. Demi kalian dan untuk kalian. Tidak ada orang lain, selain kalian semua. Hanya kalian yang menjadi alasan, kekuatan abang selama ini"kata Richard mengelus pipi kedua adiknya itu.


"tapi, ayah bang"kata Steven menatap sendu wajah Richard.


"Steven, dengarkan abang baik-baik. Ayah tidak selamah itu, dia pasti kuat. Dia akan bertahan, demi kita anak-anaknya"kata Richard. Meyakinkan Steven.


"princess jangan menangis. Abang sudah sangat lemah saat ini. Melihat kamu menangis, membuat abang semakin lemah"kata Richard, menghapus air mata Christy. Lalu mengecup singkat kening princess kesayangannya itu.


Richard memeluk tubuh Christy, dan menggenggam tangan Steven. Sungguh, Richard juga ingin menangis. Tapi melihat kedua adiknya yang sangat rapuh, membuatnya harus kuat demi keduanya.


"abang sayang sama kalian"kata Richard yang masih memeluk Christy, dan menggenggam tangan Steven.


"tuhan saya mohon, jangan ambil siapapun dari saya. Selama ini, saya sudah susah payah menjaga keluarga ini. Jangan ambil siapapun dari saya. Mereka semua berharga untuk saya."batin Richard.

__ADS_1


__ADS_2