Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 49


__ADS_3

Di mansion yang sangat besar terlihat sangat ramai. Banyak wartawan yang hendak masuk, namun terus di hadang beberapa anggota KC.


Berita kematian Raka sudah tersebar luas, semua orang sangat terkejut. Hari ini, pemakaman Raka akan di langsungkan, para pelayat mulai berdatangan.


Raja? Pria itu tidak meninggalkan tempatnya sejak tadi. Raja terus berdiri di samping peti mati milik Raka. Menatap wajah kembarannya yang sudah pucat.


"Bangun bang" Raja terus mengulangi kalimat yang sama. Berharap ada keajaiban, melihat mata kembarannya bisa terbuka.


"Ja" panggil Michel lalu memegang bahu Raja. Namun langsung ditepis dengan sangat kuat.


Michel terkejut saat Raja menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. Ia seperti melihat orang lain, bukan Raja yang di kenalnya.


"Ja, Lo harus ikhlas" ucap Revano yang mencoba membujuk Raja, namun itu tidak semudah membalikan telapak tangan.


"Ikhlasin apa? Ikhlasin kembaran gue yang udah mati hah? Kalian ngomong gampang, gue kehilangan kembaran gue! Gue gak akan bisa ngelihat dia lagi, terus gue harus ikhlas gitu? BEGO LO SEMUA!!" ucap Raja dengan suara yang sangat besar.


Para pelayat cukup terkejut, namun mereka mencoba mengerti posisi Raja saat ini. Richard hanya diam, memandangi peti mati Raka dari jauh.


Kedua kalinya, dia kehilangan orang yang penting di hidupnya. Pertama Raymond ayahnya, lalu sekarang Raka adiknya. Kurang kuat apa lagi dia?


"Abang harap, ini hanya mimpi buruk yang sebentar lagi akan berakhir" ucap Richard lirih.


Keadaan seketika menjadi kacau, saat beberapa wartawan berhasil masuk kedalam mansion. Banyak wartawan yang memotret Raja dan seluruh keluarga Raymond.


Kemarahan Richard secara tiba-tiba meningkat, kepalanya seperti akan meledak. Semua yang terjadi sudah kelewatan, mereka sudah membuat iblis yang tertidur selama bertahun-tahun, kembali terbangun.


"Mati kalian hari ini!!" kata Richard lalu bejalan mendekat kearah para wartawan.


Pria itu merebut camera salah satu wartawan, membantingnya dengan sangat kuat. Satu persatu camera dibuat hancur olehnya.


Semua pelayat terkejut, saat melihat Richard seorang diri memukuli wartawan yang sangat banyak. Richard tak pandang bulu, pria maupun wanita di sama ratakan.


Richard seperti orang kesetanan, satu persatu wartawan terjatuh dan tidak bernyawa lagi.


"Buang mayat mereka. CEPAT!" perintah Richard dengan suara yang sangat besar.


Para anggota KC langsung mengangkat semua mayat wartawan itu. Para pelayat di buat terdiam, melihat kegilaan si jendral Mafia itu.


"Berurusan dengan keluarga saya, tidak semudah yang kalian fikir" kata Richard dengan tatapan yang sangat mengerikan.


"Bang" Christy langsung menghampiri Richard, membersihkan sisa darah di tangan dan wajah Richard.


"Abang, kehilangan Raka. Princess bagaimana sekarang?" Richard menatap lekat mata Christy.


"Kita bisa melewati semua ini. Abang pasti bisa" ucap Christy meyakinkan Richard.


"Bang, sebaiknya sekarang kita ke pemakaman" kata Steven membuat Richard mengangguk.


Peti Raka hendak di bawa pergi. Namun Raja tetap tidak mau melepasnya. Dengan segala cara, Raja menahan peti mati kembarannya itu di bawa.


"Kalian bawa Abang gue, itu berarti kalian siap untuk ngangkat peti mati gue" kata Raja dengan penuh amarah.


"Raja, kamu tidak bisa seperti ini. Kamu tidak bisa menahan Raka" ucap Richard yang mencoba membuat Raja mengerti.


"ABANG GUE HARUS TETAP SAMA GUE!!" teriak Raja yang semakin menggila.


"Bang Richard yang bilang, akan selalu jagain keluarga ini. Terus sekarang, kenapa bisa kayak gini hah? Bang Raka nyelamatin Abang, lihat sekarang. Justru bang Raka yang meninggal. KENAPA BUKAN BANG RICHARD AJAH!!" teriak Raja membuat semua orang terkejut.


BUGH


Satu pukulan di berikan Steven untuk Raja, kemarahan Steven memuncak saat mendengar perkataan Raja.


Richard langsung menarik Steven menjauh dari Raja, Fikra dan Dimas membantu Raja berdiri.


"KENAPA HARUS BANG RAKA, KENAPA BUKAN BANG RICHARD YANG TERTUSUK MALAM ITU!!" Raja terus berteriak, meluapkan semuanya pada Richard.

__ADS_1


Siska terisak mendengar perkataan Raja, bukan ini yang diinginkannya.


"Jadi, lo mau bang Richard yang mati hah? Lo mau yang ada di dalam peti itu bang Richard, iya? JAWAB AN**NG!!" teriak Steven yang sangat marah.


"Terus harus siapa hah? Siapapun itu gue gak perduli. Asal jangan kembaran gue, ngerti Lo!" kata Raja lalu menarik baju Steven.


Kedua hampir saling memukul, namun Richard langsung menghalangi keduanya. Membuat wajahnya yang terkena pukulan, bibir dan hidungnya mengeluarkan darah.


Vira dan Christy hendak membantu Richard, namun Michel langsung menahannya. Situasi saat ini sedang tidak terkendali, Michel takut jika kedua gadis itu terkena amukan Raja.


Raja dan Steven terkejut, saat pukulan mereka justru mengenai wajah Richard. Pria itu hanya diam, lalu menatap kedua adiknya.


"Kalau memukul Abang, bisa membuat kalian tenang. Lakukan lagi, sampai kalian puas" kata Richard yang berdiri ditengah-tengah Raja dan Steven.


"Kalau dengan Abang mati, bisa membuat Raka kembali dan membuat kamu senang. Abang akan lakukan" kata Richard menatap Raja, ada tatapan kehancuran di matanya.


Semua orang merasa terhanyut mendengar perkataan Richard. Sangat terdengar ketulusan di setiap kata yang Richard ucapkan.


"KALAU MEMBUAT ABANG HILANG DARI DUNIA, BISA MEMBUAT SEMUA MASALAH SELESAI. AKAN ABANG LAKUKAN!!" teriak Richard.


"Richard udah" Faris hendak menarik Richard. Namun pria itu menolaknya.


"Lo mau ngomong apa lagi? Raja gak akan bisa ngerti. Gak akan pernah bisa ngerti!" Ucap Faris namun tidak di dengarkan Richard.


"Kalau abang bisa, Abang pasti berusaha yang terbaik untuk semua yang terjadi. Abang akan berusaha membuat semuanya baik, tapi Abang tidak bisa mengubah takdir yang terjadi. Abang juga tidak pernah mau kehilangan siapapun. Abang selalu meminta pada Tuhan, Abang hanya ingin mati lebih dulu dari pada kalian semua. Abang tidak sanggup kehilangan. Dua orang..... Udah dua orang yang pergi meninggalkan Abang. Lalu nanti siapa lagi?" ucap Richard yang akhirnya mengeluarkan semua kalimat yang selama ini di pendamnya.


Christy terisak, semenderita itu kah Richard? Serapuh itu kah abangnya? Christy menatap sendu wajah Richard.


"RICHARD UDAH!" bentak Faris yang tidak sanggup mendengar perkataan Richard. Ia merasa sedih saat mendengar perkataan Richard.


"Kalian semua selalu mau melihat sisi rapuh saya kan? Lihatlah, ini sisi rapuh saya. Ini sisi lemah saya. Kalian lihat, saya juga manusia biasa yang memiliki rasa sedih. Percaya atau tidak. Setiap hari, menit, detik saya selalu merasa sedih. Apa kalian semua tahu? Tidak ada yang tahu!" ucap Richard membuat semua orang merasa bersalah.


Siska mendekat kearah Richard, memeluk anak sulungnya itu. Ia bisa merasakan kesedihan Richard, tapi mereka berdua tidak begitu dekat.


Ini pertama kalinya, Richard merasakan pelukan bundanya itu. Ia tidak bisa berbohong, pelukan seorang ibu memang sangat nyaman.


"Bawa peti Raka keluar" kata Richard lalu pergi lebih dulu.


Michel, Fikra, Dimas, Revano dan Faris mengangkat peti mati milik Raka. Semua orang pergi menuju pemakaman. Di mobil ambulance, hanya ada Raja yang duduk didamping peti milik Raka.


Sepanjang jalan, Raja terus memikirkan perkataan Richard. Serapuh itu Richard, sehancur itu Richard. Tapi tidak pernah terlihat sedikit pun.


"Maafin gue bang" ucap Raja yang kembali terisak sambil mengelus peti dihadapannya itu.


//Skip//


Para pelayat berkumpul di sebuah pemakaman yang sangat luas. Peti mati Raka perlahan diturunkan, Raja merasa hatinya semakin panas.


Tiba-tiba Richard datang, menggenggam tangan Raja dengan sangat kuat. Ia hanya ingin membuat adiknya kuat, hanya itu.


"Kamu kuat Raja" ucap Richard menggenggam tangan Raja.


Sedikit demi sedikit tanah mulai menutupi peti mati itu. Angin terus betiup, pagi ini cuaca tidak begitu baik. Langit lumayan mendung, bahkan angin bertiup kencang.


Gundukan pasir terlihat begitu jelas, Richard memegang tangan Raja, lalu menaburkan bunga di atas makam milik Raka.


Nama Raka terukir indah di batu nisan, Raja menatap nama kembarannya itu. Terus mengenang setiap moment bersama Raka, semuanya sangat indah.


"Tunggu gue bang, kita pasti bisa ketemu lagi" ucap Raja lirih, lalu kembali menangis.


"Terimakasih sudah menyelamatkan Abang" kata Richard lalu mengelus batu nisan Raka.


Fikra berusaha menahan isakannya, hingga akhirnya isakan itu pecah. Fikra tidak bisa menahannya lagi, kehilangan Raka adalah mimpi terburuk untuknya dan semua sahabatnya.


Dimas langsung memeluk Fikra, begitu juga Revano dan Michel. Mereka benar-benar kehilangan sosok sahabat, sosok pria baik yang mereka kenal sejak dulu.

__ADS_1


"Kenapa harus Raka?" tanya Fikra yang menatap satu persatu sahabatnya.


"Kita harus ikhlasin Raka" ucap Michel lirih.


"Susah Cel" kata Fikra lalu menangis sejadi-jadinya.


Michel terdiam, ia berusaha menahan tangisnya. Benar-benar berat rasanya, saat kehilangan seseorang yang penting.


"Raka pasti sedih kalau lihat kita kayak gini" ucap Revano yang juga menangis sejak tadi.


"Kita gak boleh lemah. Raja butuh kita sekarang, kita harus kuat" kata Dimas menatap Raja yang terisak di depan nisan Raka.


Satu persatu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Tersisa keluarga dan sahabat, Raja terus menangis di depan kuburan Raka.


Richard berjalan menjauh dari pemakaman, menatap semua keluarganya yang menangis. Ada rasa sesak, saat melihat seluruh keluarganya terisak seperti itu.


"Kamu pasti kuat" ucap seorang gadis yang baru saja datang.


Richard menoleh, mendapati Elsa yang baru saja datang. Gadis itu berdiri disamping Richard.


"Kamu harus kuat" lanjutnya lalu tersenyum tipis menatap wajah Richard.


Tanpa di sadari, Elsa tiba-tiba memeluk Richard. Tidak ada penolakan dari Richard. Ia hanya diam, membiarkan Elsa memeluknya.


Tiba-tiba Vira datang, lalu menarik Richard menjauh dari Elsa. Gadis itu menggenggam tangan Richard, lalu menatap tidak suka ke arah Elsa.


"Maaf, tapi saya tidak suka kalau milik saya di ganggu orang lain" kata Vira lalu menarik Richard pergi dari sana. Namun ia berhenti sejenak, lalu berbalik menatap Elsa.


"Dan satu lagi, saya harap anda berhenti mengejar Richard. Anda pasti tahu, kalau Richard kekasih saya. Mungkin saya rendah di mata anda, tapi saya tidak akan diam kalau anda mengambil milik saya" kata Vira lalu membawa Richard pergi dari sana.


Vira membawa Richard ke mobil, menyuruh Richard duduk di dalam mobil. Vira membiarkan pintu mobil terbuka, ia menatap wajah Richard cukup lama.


"Aku cari minum dulu buat kamu" kata Vira hendak pergi namun Richard langsung menariknya. Hingga dia terjatuh tepat di pangkuan Richard.


Richard memeluk pinggang ramping Vira, lalu menyandarkan dagunya di pundak kekasihnya itu.


"Kamu baik-baik ajah kan?" tanya Vira yang merasa sedih.


"Saya ingin menangis, boleh?" tanya Richard membuat Vira mengangguk.


Tidak perlu waktu lama, air mata Richard terjatuh begitu saja. Membasahi pundak Vira, tanpa sadar ia juga menangis.


Vira seperti merasakan kesedihan Richard.


"Kamu gak sendiri. Ada aku" kata Vira mengelus tangan Richard yang melingkar di pinggangnya.


"Saya gagal menjaga mereka" ucap Richard yang sesegukan.


Vira langsung berdiri, menatap wajah Richard yang di penuhi air mata. Ini pertama kalinya ia melihat Richard menangis hingga sesegukan.


"Hey, dengerin aku. Bukan kamu yang salah" kata Vira mengelus pipi Richard yang di penuhi air mata.


"Sa--sa-saya gagal" ucap Richard yang terbata-bata karena menangis.


Benar-benar terdengar pilu, Vira tidak kuat mendengarnya.


"Vira, saya gagal menjaga mereka" kata Richard lalu menatap mata Vira.


Mata pria itu di penuhi air mata, Vira bisa melihat kehancuran di mata kekasihnya itu.


"Enggak, kamu gak gagal. Selama ini, kamu yang menjaga mereka. Kamu gak gagal Richard" ucap Vira lalu menghapus air mata Richard.


Vira mendekat kearah wajah Richard, mencium satu persatu mata Richard. Lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Hanya ini yang bisa aku lakuin, supaya kamu bisa tenang. Kamu pasti kuat, aku yakin sama kamu" kata Vira mengelus punggung Richard.

__ADS_1


"Tuhan, saya mencintainya" batin Richard.


__ADS_2