Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 20


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 8 malam, Richard sedang menunggu Vira yang masuk ke kamar untuk membersihkan badannya. Vira hanya bisa berharap, semoga pria itu tidak melakukan hal aneh di rumahnya, Vira keluar dari kamarnya menggunakan baju yang cukup tebal dan celana pendek di atas lutut.


Ia lebih dulu membuatkan secangkir coklat panas untuk Richard. Setelah itu, duduk bersama dengan Richard di ruang TV. Richard cukup lama sibuk pada hp nya, membuat Bira kesal. Pria itu yang memaksa untuk datang kerumahnya, dan sekarang justru mengabaikannya.


"lo mau ngomong apa? kalau gak penting-penting amat, bisa besok ajah gak? gue ngantuk nih"ucap Vira, membuat Richard mematikan hp nya lalu menatap gadis itu.


"mau jadi pacar saya?"tanya Richard membuat Vira terkejut dan sedikit menjauh darinya.


"tidak mau? Kenapa? Apa saya kurang tampan? Itu tidak masalah. Yang penting uang saya banyak"kata Richard membuat Vira menatapnya.


"lo barusan nembak gue?"tanya Vira, membuat Richard mengangguk lalu meminum secangkir coklat panas yang vira bawakan tadi.


"mau jadi pacar saya atau tidak?"tanya Richard sekali lagi.


"lo itu jadi cowok gak bisa romantis dikit apa? Masa nembak cewek kayak gini. Ngajakin dinner atau apa gitu?"tanya Vira membuat Richard menatapnya.


"di rumah sakit tadi, saya mau mengajak kamu untuk dinner. Tapi kamu bilang mau pulang. Jadi saya ikut kamu ke sini"ucap Richard membuat Vira menatapnya kesal.


"kalau gue tahu lo mau nembak gue, yah gue gak mungkin pulang tahu!"kata Vira kesal.


"mendekatlah"kata Richard membuat Vira menjadi was-was.


"mau ngapain? Jangan macam-macam yah! Gue telfon polisi nih"ucap Vira, membuat Richard dengan cepat menarik gadis itu hingga menabrak tubuhnya.


"saya tidak akan macam-macam. Tidak usah takut"kata Richard lalu memasangkan sebuah kalun di leher Vira.


Detak jantung Vira seketika berdetak sangat kencang, Richard sangat dekat dengannya. Deru nafas pria itu bahkan bisa dirasakannya.


"dengan kalung ini, semua orang akan tahu kalau kamu milik saya"kata Richard berbisik di telinga Vira, membuat gadis itu semakin tidak karuan


"ta...ta...tapi, gue belum bilang iya"kata Vira gelagapan, membuat Richard tersenyun tipis.


"jadi kamu menolak saya?"tanya Richard dengan tatapan yang sangat mempesona bagi Vira. Hingga membuat gadis itu semakin di buat tidak karuan.


"gue mimpi gak sih nih"kata Vira menunduk dan berbicara dengan suara yang sangat kecil.


"kalau seperti ini, apa kamu masih berfikir ini mimpi"kata Richard menarik Vira, hingga terbaring menindih tubuhnya.


"bu...bu...bukan mimpi ternyata"kata Vira yang menatap Richard, tanpa berkedip sedikitpun.


"kamu mau? Saya tidak suka menunggu"kata Richard, membuat Vira dengan polosnya mengangguk.


Richard tersenyum, lalu bangun dan mengangkat tubuh Vira yang menindihnya. Vira masih terdiam, membuat Richard tersenyum di buatnya.


"lo itu..."kata Vira terhenti saat Richard menatapnya.


"berhenti memakai kata lo-gue, kita bukan teman lagi"kata Richard, membuat Vira menggigit bibirnya.


Baru saja Vira hendak berbicara lagi, suara hp Richard yang berbunyi membuat pria itu langsung mengangkatnya. Vira bisa merasakan aura Richard yang sedikit menakutkan.


Ia menebak itu pasti telfon dari para anggota KC, Richard terlihat marah saat menerima telfon itu. Vira merinding, merasakan aura pria dingin itu yang sangat cepat berubah.


"saya harus pergi sekarang"kata Richard, lalu berdiri secara tiba-tiba membuat Vira ikut berdiri.


"kemana?"tanya Vira sedikit takut.


"ada urusan di markas. Kunci pintu saat saya pergi"kata Richard, lalu pergi di ikuti Vira yang mau melihatnya pergi.


"tunggu"kata Vira menahan tangan Richard, membuat pria itu berhenti dan berbalik menghadapnya.


"hati-hati"ucal Vira lalu melepaskan tangannya dari lengan Richard. Richard langsung menarik Vira dan memeluk gadis itu.


Vira sedikit terkejut dengan apa yang Richard lakukan. Elusan tangan Richard di kepalanya, membuat ia merasa sangat nyaman. Vira meremas kecil jaket yang Richard pakai.


"good night my girl"kata Richard berbisik di telinga gadis itu, lalu pergi dari sana meninggalkan Vira yang tersenyum.


"semoga, keputusan gue buat milih Lo gak salah"kata Vira tersenyum tipis.


//skip//


Jam menunjukan pukul 10 malam, Richard baru saja sampai di markas. Reza yang mengatakan jika markas di serang, membuat pria itu sangat marah.


Keadaan di luar markas cukup berantakan, bahkan gerbang markas hancur karena tembakan. Richard benar-benar tidak suka melihatnya.


Saat dia masuk, semua anggota KC termaksud Reza dan Aron menunduk hormat pada si jendral Mafia itu. Orang pertama yang Richard cari adalah Rahel. Gadis itu tidak ada untuk menyambutnya di bawah.


"di mana Rahel?"tanya Richard pada Reza yang berdiri tepat di hadapannya.


"dia sedang tidak sehat"jawab Reza, membuat Richard menaikan alisnya kebingungan.


"Rahel sakit?"tanya Richard.


"sejak kembali dari luar negeri, kondisinya tidak begitu baik"kata Aron membuat Richard berfikir sejenak.


"apa terjadi sesuatu saat dia menjalankan misi?"tanya Richard membuat Reza dan Aron menggeleng tidak tahu. Karena mereka berdua tidak mendampingi Rahel, saat gadis itu menjalankan misinya.


"jendral"panggil salah satu anggota KC, membuat Richard berbalik menghadap pria itu.


"saya yang menjalankan misi bersama leader. Seingat saya, dia sempat terkena tembakan. Di bagian atas sebelah kiri lengannya"kata anggota KC itu membuat Richard menatapnya.


"tembakan?"tanya Richard menatap anggotanya itu.


"iya jendral. Saya rasa ada yang aneh dari tembakan itu, karena leader sempat terduduk lemas"kata anggota KC itu membuat Richard kembali berfikir dan mencoba mengerti maksud anggotanya itu.


"Reza, ambilkan kotak putih di lemari yang ada di ruang latihan. Bawa ke kamar Rahel"kata Richard, lalu berlari naik keatas tempat dimana kamar Rahel berada.


Saat dia masuk, matanya menangkap sosok Rahel yang sedang membalut tangannya dengan perban. Melihat kedatangan Richard, membuat gadis itu berdiri dan menatap si jendral.


"duduklah, biar abang lihat lenganmu itu"kata Richard lalu duduk di kasur milik Rahel, dan memegang lengan kiri gadis itu.


"Richard ini yang lo minta"ucap Reza, yang baru datang membawa sebuah kotak yang Richard minta tadi.


"ini akan sedikit sakit, jadi tahanlah"kata Richard sambil mengikat kuat bagian siku Rahel dengan sebuah kain. Lalu mengiris sedikit lengan kiri bagian atas milik gadis itu.


Rahel meremas tangan Reza yang ada di sampingnya, sangat perih gadis itu rasakan. Darah segar keluar dari lengannya, Richard terlihat sangat serius saat mengobati lengan Rahel.


"tahan sedikit lagi"kata Richard lalu melepaskan penutup suntik menggunakan giginya, dan menyuntikan sesuatu ketangan Rahel.


Setelah itu ia dengan cepat menjahit lengan Rahel yang di irisnya tadi. Rahel terus meremas tangan Reza, karena merasa sangat perih. Setelah itu Richard melepaskan ikatan kain dari siku Rahel, lalu membalutnya menggunakan perban.


"kalau sakit seperti ini, jangan hanya terdiam. Itu bukan peluru biasa. Itu racun, Rahel"kata Richard menatap gadis yang menjadi leader KC saat ini.


"racun?"tanya Rahel yang bingung dan terkejut.


"peluru yang di tembakan untukmu itu bukan peluru biasa. Peluru itu mengandung racun. Itu sebabnya, kondisi kamu sangat lemah"kata Richard membuat Reza dan Rahel terkejut.


"tapi untuk apa? Kenapa harus menggunakan racun?"tanya Reza menatap Richard.


"semua mafia sudah tahu, kalau Rahel menjadi leader KC. Mereka mengira Rahel tidak sebanding dengan princess. Jadi mereka mau membunuh Rahel secara perlahan. Salah satunya, menggunakan peluru beracun itu"kata Rjchard membuat Rahel sedikit ngeri membayangkannya.


"ingat perkataan abang ini. Kamu sekarang bukan lagi gadis biasa! Kamu adalah leader mafia! Bersikaplah seperti seorang pemimpim. Banyak orang di bawah kamu yang berharap lebih dari kamu. Jangan buat princess kecewa karena memilih kamu"ucap Richard dengan wajah seriusnya membuat Rahel mengangguk dengan sangat yakin.

__ADS_1


"aku gak akan buat siapapun kecewa. Aku akan berusaha keras, agar semua mafia tahu kalau aku bukan gadis biasa. Aku leader mafia sama seperti kak Chris. Kami Two world mafia girls"kata Rahel membuat Reza dan Richard tersenyum tipis.


"seorang pemimpim memang harus seperti ini"kata Richard mengacak gemas rambut Rahel lalu pergi dari sana di ikuti Reza.


Richard kembali turun ke bawah menemui semua anggota KC, banyak yang Richard harus bahas dengan mereka.


"siapa yang menyerang markas?"tanya Richard menatap semua orang.


"GDM(Golden Diamond Mafia)"jawab Aron membuat Richard menatapnya dengan wajah terkejut.


"mereka pasti kembali untuk membalas dendam kematian Alex"kata Richard membuat semua anggota KC terkejut.


"ini urusan kita dengan Alex. Kenapa mereka harus ikut campur? Bukannya mereka sudah tidak mau berurusan dengan kita lagi?"tanya Reza bingung.


"leader GDM adalah sahabat Alex. Pasti dia sangat marah, saat tahu Alex mati ditangan saya"kata Richard dengan rahang yang menguat menandakan dia sangat marah.


"mereka yang mengibarkan bendera pertempuran"ucap Richard dengan tatapan elangnya.


"sebaiknya biarkan saja mereka. Berurusan dengan mereka, tidak sama seperti mafia lain"kata Reza memperingati Richard.


"mereka tidak akan lepas setelah semua ini"kata Richard menatap tajam wajah sahabatnya itu.


"Richard mereka bukan tandingan biasa. Mereka setara sama kita! Sama lo dan princess"kata Reza khawatir.


"yang Reza bilang benar. Bermasalah dengan mereka hanya akan menghancurkan semuanya. Apa lo gak inget? Terkahir kali mereka hampir menembak princess"kata Aron membuat Richard semakin marah saat mengingat kejadian itu.


"itu menjadi salah satu dari seribu alasan, kenapa kita harus menghabisi mereka semua!"kata Richard lalu menyambar kunci mobilnya, dan pergi meninggalkan markas.


//skip//


Matahari pagi yang cerah, menyambar masuk menembus tirai yang ada di ruang VVIP yang Steven tempati. Richard baru saja selesai membantu Steven membersihkan dirinya.


Christy dan Michel juga baru saja datang, setelah sarapan pagi di cafe rumah sakit. Christy membawa makanan untuk Richard, agar pria itu juga bisa sarapan pagi.


"abang sarapan dulu"kata Christy menarik perlahan tangan Richard agar duduk di sebelahnya.


"terimakasih princess"ucap Richard tersenyum dan mengelus rambut princess kesayangannya itu.


"bang. Dokter itu mau menemui abang pagi ini"kata Michel membuat Richard berhenti makan sejenak.


"bukannya besok? Kenapa di percepat?"tanya Richard.


"sebaiknya abang temui dia saja, gue gak tahu cara jelasinnya bang"kata Michel, membuat Richard menangkap sesuatu dari wajah pria itu. Ada ke khawatiran di wajah Michel.


"dia datang jam berapa?"tanya Richard.


"sekiat jam 10 atau 11 gitu bang"jawab Michel membuat Richard berfikir sejenak.


"apa tidak bisa dia datang lebih pagi?"tanya Richard.


"abang ada urusan? Kalau abang ada urusan, biar aku ajah yang ketemu sama dokternya"kata Christy membuat Richard menggeleng lalu tersenyum.


"biar abang saja princess"kata Richard lalu melanjutkan makannya.


"lo masih demam?"tanya Michel yang berdiri di samping brankar Steven.


"hmm sepertinya tidak"jawab Steven sambil memegang dahinya. Agar mengetahui apa suhu badannya panas.


"ada yang sakit gak?"tanya Michel membuat Steven terdiam sejenak.


"gak ada yang sakitm hanya saja di dalam perut dan dada gue kayak aneh"kata Steven membuat Michel mengerutkan dahinya.


"selain perut dan dada, apa ada yang sakit?"tanya Michel


"kalau ada yang sakit, lo langsung ngomong ajah. Biar dokter tahu, kondisi lo itu sebenarnya kenapa"kata Michel membuat Steven menatapnya sebentar, lalu mengangguk.


"bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?"tanya Richard. Membuat Michel dan Christy saling bertatapan.


"semuanya udah selesai bang. Tinggal tunggu Steven sembuh ajah. Baru acaranya di mulai"kata Michel.


"gak usah nungguin gue sembuh. Kalau kalian besok mau nikah, langsung nikah ajah"kata Steven.


"aku maunya semua orang lengkap bang"kata Christy.


"princess kalau kamu tunggu abang sembuh. Yang ada kamu gak jadi nikahnya."kata Steven membuat Richard menatapnya.


"maksud kamu apa?"tanya Richardm


"abang tahu sendiri, kondisi aku gimana sekarang. Masih bisah bernafas ajah itu keajaiban buat aku"kata Steven, membuat Richard menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"abang tidak suka dengan apa yang kamu bicarakan barusan. Jangan mengulanginya lagi!"kata Richard marah. Membuat Steven menghembuskan nafasnya gusar.


"maaf bang. Aku cuma gak mau kalau abang berharap lebih soal kesembuhan aku"kata Steven membuat Richard marah, lalu berdiri dan menatap adiknya itu.


"kamu pasti bisa sembuh! Abang akan berusaha, agar kamu mendapatkan pendonor yang baru"kata Richard dengan sangat yakin.


"pendonor? Bahkan dulu, butuh waktu 5 tahun untuk mendapat pendonor buat aku bang. Berhenti buat diri abang lelah"kata Steven menatap lekat kedua mata abangnya itu.


"apa abang pernah mengeluh lelah sama kamu? Tidak pernah Steven! Semua ini demi kesembuhan kamu!"ucap Richard.


"abang memang tidak pernah mengeluh pada siapapun. Abang selalu memendamnya sendiri, itu buat aku lelah jadi beban buat abang"kata Steven frustasi.


"kamu bukan beban untuk abang, ini kewajiban abang sebagai abang kamu. Jangan terlalu di fikirkan, fokus saja untuk penyembuhan kamu"kata Richard.


"kapan abang mau berhenti terlihat kuat? Abang memang yang tertua di antara kami. Tapi bukan berarti abang harus bertanggung jawab sepenuhnya untuk kami"kata Steven menatap Richard.


"Steven diam! Jangan membuat abang marah"ucap Richard menatap tajam adiknya itu.


"bang udah"kata Christy menarik Richard agar sedikit menjauh dari Steven.


"Steven, lo gak boleh ngomong gitu! Kasihan bang Richard"kata Michel, menegur Steven. Berharap pria itu mengerti.


"gue mau sendiri"kata Steven, lalu berbaring membelakangi semua orang.


"Steven!"kata Richard marah.


"bang udah. Kita keluar ajah, biarin bang Steven istirahat"kata Christy membujuk Richard.


Mereka semua langsung keluar, meninggalkan Steven sendiri. Richard mengacak rambutnya frustasi, kepalanya terasa sangat penuh saat ini. Terlalu banyak masalah, yang datang silih berganti.


"princess, abang pergi dulu. Kamu tetap disini sama Michel"ucap Richard lalu mengecup singkat kening Christy.


"mau kemana?"tanya Christy menatap abangnya itu.


"ke kantor kamu"jawab Richard tersenyum. Lalu pergi dari sana, meninggalkan Michel dan Christy.


"ke kantor? Ngapain bang Richard ke kantor? Gak biasanya"tanya Christy pada Michel


"alasannya cuma satu. Kak vira"jawab Michel, membuat Christy tersenyum dan mengangguk.


"mereka udah jadian loh Cel"kata Christy.

__ADS_1


"bang Richard pacaran? Gak nyangka aku. Seharusnya langsung nikah ajah, umur bang Richard juga udah pas banget buat nikah"kata Michel sambil tersenyum begitu manis.


"gak bisa langsung nikah dong, Cel. Kan harus saling kenal dulu"ucap Christy.


"kayak kita yah"kata Michel menggoda kekasihnya itu membuat gadisnya tersenyum.


"temenin aku yuk"kata Christy.


"kemana?"tanya Michel


"lihat Zee"jawab Christy, membuat Michel terdiam sejenak.


"kalau gak mau, aku sendiri ajah gak apa-apa kok"kata Christy.


"sama aku ajah"ucap Michel menggenggam tangan Christy. Lalu berjalan bersama menuju ruang rawat yang Zee tempati.


Semua perawat dan dokter, menatap iri pada sepasang kekasih itu. Kecocokan keduanya, membuat semua orang merasa iri.


"Cel, kalau di rumah sakit gak usah megang tangan aku. Gak enak. Semua perawat sama dokter ngelihatin kita"kata Christy.


"waktu sekolah dulu, kamu gak perduli sama perkataan orang. Sekarang kok jadi kepikiran"kata Michel.


"inikan tempat kerja kamu Cel. Nanti mereka cerita jelek tentang kamu"kata Christy.


"ini tempat kerja aku, dan rumah sakit punya keluarga kamu. Aku gak perduli perkataan mereka semua. Mereka semua hanya iri sama kita"kata Michel, lalu membuat tangan Christy melingkar dilengannya.


"kalau jalan sama aku, kamu gak akan malu. Secara aku tampan,"kata Michel membuat Christy terkekeh.


Mereka berdua berhenti dis salah satu ruangan, Michel mengetuk pintu itu lalu masuk bersama dengan Christy. Zee yang sedang berbaring, langsung duduk saat melihat ada Christy dan Michel yang datang.


"gimana keadaan lo?"tanya Christy yang sudah berdiri di samping brankar Zee.


"gue udah mendingan. Thanks yah Chris"kata Zee tersenyum, di balas senyuman oleh Christy.


"ternyata lo udah jadi dokter"ucap Zee menatap Michel, yang hanya diam dan fokus pada wajah Christy.


"bang Reza gak kesini?"tanta Christy membuat Zee menggeleng.


"dari kemarin dia gak datang. Mungkin sibuk"jawab Zee.


"berarti gak ada yang jengukin lo?"tanta Christy.


"gak ada. Tapi kemarin ada yang ngirimin keranjang buah. Tadi juga ada buket bunga"kata Zee membuat Christy bingung.


"lo punya keluarga di sini?"tanya Christy membuat ekpresi Zee seketika berubah menjadi sendu.


"gue udah gak punya keluarga, Chris"jawab Zee membuat Christy menatapnya cukup lama.


"maksud lo?"


"mereka semua udah meninggal. 3 tahun lalu, waktu lo koma"kata Zee membuat Christy menampilkan wajah terkejutnya.


"cel, kamu tahu soal ini?"tanya Christy pada kekasihnya itu yang sedari tadi hanya diam.


"mereka di bunuh bang Richard dan anggota KC lainnya. Hanya dia yang tersisa"kata Michel, membuat Christy cukup terkejut.


"sorry Zee. Gue gak tahu soal itu"kata Christy.


"udah gak apa-apa. Kalian duduk ajah, ada buah tuh di situ. Makan ajah"kata Zee menunjuk keranjang buah yang ada di nakas.


Saat Christy duduk, gadis bisa mencium bawa khas tubuh seorang pria yang di kenalnya. Itu bau tubuh Richard, aroma mint yang sangat menyengat.


"bang Richard dari sini?"tanya Christy, membuat Zee mengangguk.


"iya. Dia ngasih ini"ucap Zee lalu memperlihatkan sebuah paspord dan tiket pesawat.


"London?"tanya Michel saat melihat tujuan yang tertera di tiket itu.


"setelah gue sembuh total. Gue bakal balik ke London"kata Zee membuat Christy dan Michel menatapnya.


"bang Richard yang suruh?"tanya Christy.


"keputusan dia untuk nyuruh gue pergi, itu udah benar Chris. Gue gak mungkin tinggal di dekat kalian. Terutama lo."kata Zee tersenyum tipis namun tatapan gadis itu terlihat sangat sendu.


"gak bisa! Lo tetap di Indonesia!"kata Christy merampas paspord dan tiket itu. Lalu merobeknya.


"gak mungkin Chris. Mau gue kemanain muka gue, kalau ketemu sama keluarga lo. Gue malu banget. Karena gue sama kak Alex, kalian semua menderita"ucap Zee menatap Christy sendu.


"itu masa lalu? Sekarang lo hanya harus mikirin masa depan. Lo harus stay di Indonesia"kata Christy dengan penuh penekanan.


"gue harus balik ke London, Chris"kata zee menunduk.


"Terus gimana sama bang Reza? Apa lo mau ninggalin dia? Setelah tahu perasaan dia ke lo"kata Christy membuat Zee terdiam dan menatapnya.


"gue ngasih saran sebagai temen ke lo. Sekarang lo gak sendiri. Ada cowok yang cinta sama lo. Seenggaknya, hargain perasaan bang Reza ke lo"kata Michel membuat gadis itu berfikir sejenak.


"lo harus mulai semuanya dari awal. Lo gak sendiri. Ada gue, Michel juga ada."ucap Christy menggenggam tangan Zee.


Seketika Zee terisak, hatinya terasa sangat sakit. Gadis yang dia rusak kebahagiaannya, justru menjadi satu-satunya orang yang perduli padanya. Dia langsung memeluk erat tubuh Christy. Begitu pula sebalinya, Christy mengelus perlahan punggung Zee.


"kenapa lo bisa sebaiknya ini Chris"kata Zee yang terisak.


"kehidupan yang ngajarin gue. Ngadapin dunia yang jahat kayak gini, lo harus punya banyak rencana."kata Christy melepaskan pelukannya, lalu tersenyum pada Zee.


"gue keluar dulu. Kalau lo mau sesuatu, lo telfon gue ajah. Nomor yang gue kasih kemarin, masih lo simpen kan?"tanya Christy.


"masih kok"


"yaudah gue keluar dulu. Cepat sembuh yah"kata Christy tersenyum. Lalu keluar bersama Michel.


"Chris"panggil Michel setelah menutup pintu ruang rawat inap milik Zee


"kenapa?"tanya gadis itu tersenyum menatap wajah kekasihnya.


"nikah sekarang yuk"ucap Michel membuat Christy mencubit perutnya, lalu tertawa.


"apaan sih Cel"kata Christy tertawa.


"kamu tuh, jadi cewek baik banget tahu gak. Kalau si Zee itu cowok, aku yakin dia pasti suka sama kamu. Aku ajah yang cowok, jatuh cinta sama kamu"kata Michel memeluk Christy, sambil menggoyangkan tubuh kekasihnha itu. Membuat Christy terkekeh.


"kamu harus hati-hati, banyak cowok yang mau sama aku tahu. Nanti kalau aku di ambil, gimana dong?"tanya Christy sambil mencubit hidung Michel.


"gak ada yang bisa ambil kamu dari aku! Sekalipun bisa, mereka gak bisa mencintai kamu sebesar aku mencintai kamu"kata Michel mencium kening Christy cukup lama. Membuat gadis itu tersenyum.


"makasih.... Makasih karena kamu udah mencintai aku sebesar ini. Aku beruntung, karena akan membangun rumah tangga bersama pria seperti kamu"kata Christy tersenyum, begitu pula dengan Michel.


"dan aku.... Beruntung karena mencintai gadis seperti kamu"ucap Michel yang terdengar sangat tulus.


Michel langsung memeluk Christy, begitu pula sebaliknya. Gadis itu meremas jas dokter milik Michel. Michel mengelus perlahan rambut kekasihnya itu.


"hanya tinggal menghitung hari, kita bisa hidup bersama selamanya. Nanti setelah kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Detik itu juga, aku akan buat kamu menjadi perempuan paling beruntung di dunia ini"kata Michel berbisik di telinga Christy. Membuat Christy tersenyum, lalu mencium pundak Michel dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Tuhan, aku ingin memberitahu sesuatu, aku harap engkau mendengarnya. Aku mencintai pria ini.... Benar-benar jatuh cinta padanya. Jaga dia untukku...... Jangan engkau ambil lagi pria yang aku cintai. Tuhan beritahu pada Aya, aku sudah bahagia saat ini."batin Christy.


__ADS_2