Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 36


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu sejak kematian Putri. Christy dkk masih merasa sedih. Gadis itu pergi untuk selamanya. Christy fikir, Putri hidup bahagia, ternyata gadis itu menderita.


Bukan hanya Christy dkk yang kehilangan. Para anggota KC juga merasakan hal yang sama. Putri adalah anggota yang terkenal sangat ceria, gadis itu selalu berhasil membuat semua anggota KC tertawa.


Michel yang baru saja sampai di mansion, langsung menghampiri Christy dan para sahabatnya yang ada diruang TV. Dia mengerti perasaan Christy saat ini, karena dia juga merasakannya.


"Jangan sedih terus Chris. Kasihan Putri di sana. Pasti dia juga sedih lihat kamu kayak gini"ucap Michel menggenggam tangan Christy. Ia tidak tega melihat Christy yang terus-terusan bersedih.


"Iya Cel"Christy berusaha tersenyum.


"Oh iya Cel. Tadi daddy bilang acara pernikahan lo di laksanainnya besok. Emang bener?"tanya Revano menatap Michel dan Christy.


"Seharusnya emang besok. Tapi kalau Chris masih kayak gini, kayaknya di undur lagi ajah"kata Michel membuat mereka sedikit terkejut. Pernikahan kedua orang itu selalu saja di undur. Terlalu banyak masalah yang terjadi.


"Aku gak apa-apa Cel. Pernikahan kita udah terlalu sering di undur"kata Christy menatap Michel. Ia juga tidak tega melihat Michel yang terus-terus mengundur pernikahan, hanya karena melihat kondisinya.


"Mami sama papi lo udah ada di Indonesia Cel?"tanya Raka.


"Udah....Semalam baru ajah nyampe. Katanya sih entar sore mau ke sini"Michel menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


Saat mereka sedang berbincang, Wijaya dan Megan berjalan menuruni tangga. Mereka bingung melihat keduanya yang terlihat sangat rapi.


"Mommy mau kemana?"tanya Raja menatap Megan.


"Mommy mau ke hotel tempat acara nikahin Chris nanti. Mau ngecek udah siap atau belum"kata Megan tersenyum.


"Biar aku ajah, mom. Lagian yang lain juga ada"ujar Raka


"Gak usah. Lagian kalian harus kebutik mommy buat lihat baju yang mau kalian pakai nanti"kata Megan yang sudah menyiapkan beberapa baju untuk para anak-anaknya itu.


"Oh iya, daddy mau ngasih tahu. Sebaiknya kalian ke makam Raymond. Besok Michel dan Chris akan menikah, akan lebih baik kalau kalian ziara ke makam ayah kalian dulu"kata Wijaya yang di angguki semuanya.


"Kalau itu udah pasti dad"kata Michel tersenyum.


"Yaudah, daddy sama mommy pergi dulu"kata Wijaya lalu keluar bersama Megan.


Saat mereka pergi, Richard dan Steven baru saja datang. Mereka berjalan ke arah ruang TV dan duduk bersama dengan yang lain.


"Princess, besok acara pernikahan kamu kan?"tanya Steven sambil membuka jaket KC yang di pakainya.


"Iya bang"jawab Christy tersenyum.


"Kamu. Ke sini sebentar"Richard menunjuk salah satu maid yang berjaga di depan pintu mansion. Maid yang di tunjuk itu langsung berlari menghampirinya.


"Iya tuan. Ada apa?"tanya maid itu dengan sopan.


"Ini kunci mobil saya. Ambil kotak putih di dalam mobil. Ada tulisn princess di atasnya"perintah Richard pada maid itu.


Lalu maid itu mengambil kunci mobil dari tangan Richard, dan keluar dari mansion. Setelah menunggu beberapa menit, maid itu datang kembali dengan kotak putih besar yang di bawanya.


"Ini tuan"maid itu dengan hati-hati memberikan kotaknya pada Richard.


"Terimakasih"kata Richard. Lalu maid itu menunduk hormat dan kembali ke posisinya.


"Princess lihatlah"Richard memberikan kotak itu pada Christy. Tidak lupa tersenyum manis pada princess kesayangannya itu.


"Ini apa bang?"tanya Christy menatap kotak putih yang ada di hadapannya.


"Hadiah dari abang. Buka saja dulu"kata Richard tersenyum tipis.


Christy perlahan membuka kotak itu. Ia terkejut saat melihat ada gaun pernikahan berwarna putih yang sangat elegan dan cantik. Semua orang terpukau melihat gaun itu, terlebih lagi Christy yang merasa sangat bahagia.


"Ini buat aku bang?"tanya Christy yang masih tidak percaya. Gaun itu benar-benar seleranya.


"Iya, itu untuk kamu. Pakailah di acara pernikahan besok"ucap Richard tersenyum pada Christy. Ia ikut bahagia saat melihat gadis itu bahagia.


"Ini sangat bagus. Abang membelinya di mana?"tanya Christy menatap gaun yang sangat indah itu.


"Tidak penting abang membelinya dimana. Yang terpenting adalah, ini hadiah istimewah untuk princess abang"Richard menatap lekat wajah Christy.


"Hmm abang ke kamar dulu yah. Abang mau mandi"kata Richard lalu pergi dari sana dan masuk ke kamarnya.


"Abang juga"ucap Steven lalu berlari mengejar Richard yang masuk ke kamar.


Steven langsung menutup pintu kamar Richard, dan menatap abangnya itu. Tatapan Richard terlihat begitu sendu, namun pria itu masih saja tersenyum tipis.


"Bang, are you okey?"tanya Steven lalu duduk di samping Richard.


"Ya, i'm okey"kata Richard tersenyum tipis pada Steven.


"Kenapa abang bisa sekuat ini?"tanya Steven menatap abangnya itu. Ia sangat tahu jika abangnya itu sedang tidak baik saat ini.


"Abang tidak kuat Steven. Kamu pasti tahu hati abang saat ini sehancur apa"Richard berusaha tetap tersenyum.


"Dulu, abang mengalah karena tahu aku menyukai princess. Setelah itu abang juga mengalah karena princess mencintai Rasya. Dan sekarang, princess mencintai Michel. Kenapa abang tidak jujur saja?"Steven menatap Richard. Ia juga merasa bersalah karena membiarkan abangnya itu mengalah untuknya.


"Karena abang tahu, princess tidak mencintai abang"ujar Richard menatap Steven. Pria itu pun merasa takut untuk jujur tentang perasaannya sendiri. Dia takut jika Christy akan menjauhinya.


"Dari mana abang tahu, sedangkan abang tidak pernah jujur pada princess. Seharusnya abang jujur walau sekali. Agar abang juga tahu isi hati princess"kata Steven yang berusaha membuat Richard mengerti. Karena mencintai dalam diam adalah hal yang salah.


Mencintai dalam dia hanya akan menyakiti hatinya.


"Abang tidak apa-apa Steven. Lagi pula abang sudah memiliki kekasih sekarang. Abang harus menjaga hatinya"kata Richard. Namun Steven masih tidak percaya jika Richard memiliki perasaan untuk Vira kekasihnya saat ini.


"Percuma abang memiliki kekasih, kalau hati abang bukan untuk dia. Abang seharusnya sadar, saat ini abang bisa menyakiti 2 orang sekaligus"kata Steven marah. Ia marah karena mengingat bagaiman ayahnya dulu.

__ADS_1


Raymond terjebak dengan cinta sendiri. Mencintai dua orang sekaligus, dan itu menyakiti keduanya.


"Apa abang kira aku gak tahu, kalau gaun yang tadi itu adalah gaun yang abang simpan selama 13 tahun. Gaun yang abang siapkan untuk princess, saat dia menikah dengan abang. Tapi lihatlah, justru sekarang princess akan memakainnya tapi menikah dengan pria lain. Apa abang yakin abang kuat?"kata Steven yang sangat marah.


Ia tidak tahan melihat Richard yang terus mengorbankan perasannya sendiri. Pria itu sudah terlalu jauh sekarang.


"Gaun itu memang abang siapkan untuk princess saat dia berumur 8 tahun. Tapi abang salah. Abang kira abang yang akan menjadi pendamping hidupnya.....Tapi ternyata bukan"kata Richard yang merasa kasihan pada dirinya sendiri.


Dia bahkan merasa malu. Bisa-bisaga dia menyiapkan gaun pernikahan untuk Christy, padahal dia tahu jika gadis itu hanya adiknya. Bukan kekasih nya!.


"Lalu kenapa abang tetap memberikannya? Kenapa bang?"tanya Steven membuat Richard terdiam.


"Itu semua karena rasa cinta abang ke princess masih ada. Abang masih mencintainya"Steven kembali berkata, membuat Richard menatapnya.


"Semua akan tetap berjalan seperti semestinya. Jangan sampai rahasia ini terbongkar. Akan banyak orang yang terluka Steven"Richard mencoba membuat Steven mengerti. Ia tidak ingin jika orang tahu kalau dia mencintai Chrisy.


"Kalau terus seperti ini, aku juga terus merasa bersalah bang. Dulu seharusnya abang tidak mengalah demi aku. Lihatlah semua jadi berantakan"kata Steven.


"Dengarkan abang baik-baik. Kamu tidak salah! Okey. Abang yang salah di sini. Seharusnya perasaa itu tudak tumbuh"ujar Richard yang menatap wajah adiknya itu.


"Kalau abang terus berbohong seperti ini, justru akan lebih menyakitkan nanti. Vira dan princess akan sedih bang. Terlebih lagi Vira. Dia sudah sangat mencintai abang"ucap Steven menatap Richard.


"Abang harus jujur secepatnya. Abang tidak boleh berakhir seperti ayah. Mencintai 2 gadis yang berbeda di waktu yang sama"kata Steven yang memperingati abangnya itu.


"Tjdak semudah itu Steven. Abang bingung harus berbuat apa. Abang tidak mau menyakiti princess maupun Vira"kata Richard yang seketika terlihat sangat kacau.


"Bang, kita bisa lalui sama-sama. Semua pasti cepat selesai"kata Steven.


"Tuhan, saya membenci ayah saya sendiri. Tapi lihatlah sekarang, justru saya sangat mirip dengannya. Kenapa harus seperti ini? Ssya tidak mau menyakiti siapapun. Saya harus bagaimana"batin Richard.


"Hati abang sudah sangat terluka selama ini. Abang melihat gadis yang abang cintai justru mencintai pria lain. Aku harus bagaimana, aku juga bingung bang"batin Steven sendu


//skip//


Hari sudah malam, di mansion terlihat lumayan ramai. Raka dkk sangat asik berbincang, begitu juga dengan Fara. Saat mereka sedang asik berbincang, tiba-tiba Richard dan Vira datang menghampiri mereka.


Christy langsung berdiri dan memeluk Vira. Dia sangat merindukan Vira, begitu juga sebaliknya.


"Cieee yang mau nikah besok"Vira menggoda Christy. Membuat gadis itu tersipu malu.


"Kalau kakak kapan? Bang Ricbard belum ngode gitu"kata Christy yang juga menggoda Vira. Membuat Richard tersenyum melihat tingkah kedua gadis itu.


"Sembarangan"Vira mencubit pelan lengan Christy.


"Besok kak Vira datang kan?"tanya Christy.


"Iya, kakak pasti datang"ujar Vira tersenyum.


"Oh iya, ngomong-ngomong kak Vira kesini mau ngapain?"tanya Christy.


"Duh, abang udah ada yang ngurusin yah. Jadiin istri ajah bang"kata Christy terkekeh. Itu terus saja menggoda sepasang kekasih itu.


"Kamu ada-ada saja princess"Richard mengacak gemas rambut adiknya itu.


"Oh ya, Revano. Sudah bertemu dengan pacar kamu?"tanya Richard menatap Revano.


"Belum bang. Mungkin besok baru ketemu sama dia"jawab Revano.


Masalahnya dengan Reina belum juga selesai. Kekasihnya itu benar-benar sangat sulit untuk di temui.


"Besok jangan pergi sendiri. Ajak Raja atau Steven"perintah Richard.


"Gue bisa sendiri kok bang".


"Bahaya kalau kamu sendiri. Ajak Raja atau Steven. Dengarkan perkataan abang"kata Richard sangat serius.


"Iya bang"Revano hanya menuruti perkataan Richard.


"Abang ke kamar dulu princess"kata Richard tersenyum pada Christy. Lalu memegang tangan Vira dan berjalan menuju kamarnya.


"Cel, mereka cocok banget yah"kata Christy yang sangat bahagia.


"Iya, mereka cocok banget"kata Michel mengelus kepala kekasihnya itu.


"Rev, besok kayaknya gue gak bisa nemenin lo. Sama bang Steven ajah, Rev"ucap Raja menatap Revano.


"iya Ja. Gue sama bang Steven ajah"kata Revano.


"Lo udah coba nelfon si Reina?"tanya Fikra menatap Revano.


"udah. Katanya dia sibuk banyak pasien di UGD"kata Revano membuat Michel menatapnya. Ia sedikit merasa janggal saat mendengar perkataan sahabatnya itu.


"Rev, gue pimpinan departemen bedah saraf. Jadi gue pasti tahu kalau UGD lagi banyak pasien. Tapi udah 2 minggu UGD gak nanganin pasien banyak. Hanya beberapa pasien yang datang tiap hari"kata Michel yang mengingat jika rumah sakit akhir-akhir ini sedang tenang.


"Jadi maksud lo, si Reina bohong gitu?"tanya Dimas menatap Michel. Semua orang seketika sangat serius menanggapi masalah ini.


"Yah gue juga gak bisa bilang dia bohong sih. Tapi yang jelas, UGD gak banyak pasien"kata Michel yang tidak ingin menyalahkan Reina. Karena bisa saja Reina sibuk dengan kegiatan yang lain.


"Apa dia selingkuhin gue yah?"tanya Revano menatap para sahabatnya. Ia juga semakin curiga pada kekasihnya itu. Sangat sulit di kabari dan di ajak untuk bertemu.


"Lo jangan langsung mikir ke situ Rev. Mendingan lo cari tahu dulu"saran Raka. Dia takut jika Revano salah beranggapan.


"Dia udah aneh banget dari sebulan lalu. Telfon gue jarang di angkat. Chat gue juga biasa gak di balas"Revano mulai merasakan keanehan pada Reina kekasihnya.


"Besok pagi, kalau gue mampir ke rumah sakit nanti gue ngomong sama Reina"kata Michel menepuk pundak sahabatnya itu.

__ADS_1


"Lo mau masuk kerja besok Cel? Lo gak ngambil cuti buat acara nikahan lo?"tanya Raja. Membuat semua orang mengangguk.


"Gue mau ketemu sama dokter Renal. Selama gue cuti dia yang bakal ngawasin departemen saraf"kata Michel.


"Eh, tuh dokter patah hati dong. Kan dia suka sama Chris"ucal Fikra yang terkekeh.


"Resiko cewek cantik. Banyak cowok yang suka"kata Dimas mengacak gemas rambut Christy.


"Ada-ada ajah"Christy terkekeh mendengar perkataan Dimas.


Berbeda dengan yang lain, Richard dan Vira sedang sibuk memilih jas. Vira kehabisan akal menghadapi kekasihnya itu. Sudah lebih 10 jas yang dia pilihkan, tapi tidak ada yang Richard suka.


"Richard, kita mau milih jas sampai pagi?"tanya Vira yang duduk di king size milik Richard. Ia mulai kewalahan menghadapi Richard yang seleranya entar seperti apa.


"Jas-jas ini terlalu kecil. Badan saya sangat terbentuk memakai jas-jas ini"ucap Richard menatap jas yang di pegangnya. Semua jas yang di cobanya terasa sangat sempit.


".akanya punya badan jangan gede-gede amat. Otot kamu tuh terlalu besar, lengan jas ajah bisa sobek"kata Vira kesal. Ia terkadang merinding melihat tubuh Richard yang terlalu atletis. Belum lagi otot dadanya yang sangat terbentuk.


"Ini aset saya. Mamu kira para gadis-gadis menyukai saya karena apa? Semua itu karena badan saya yang bagus, dan wajah saya yang tampan"Richard dengan bangganya mengatakan itu, membuat Vira menatapnya.


"Percaya diri amat pak"ucap Vira membuat Richard tersenyum tipis.


"Kamu tidak percaya?"tanya Richard sambil menatap wajah Vira.


Tanpa aba-aba, pria itu membuka baju kaos yang di pakainya. Tubuhnya yang atletis terlihat begitu jelas. Vira sangat terkejut dengan apa yang Richard lakukan.


"RICHARD! kamu apaan sih. Pake gak bajunya!"Vira mendorong Richard menjauh darinya. Pria itu terlalu horor untuk di lihat.


"Sudah percaya sekarang?"tanya Richard.


"Iya iya percaya"Vira menutup matanya. Kelakuan Richard benar-benar gila.


Richard tersenyum tipis, lalu kembali memakai bajunya. Vira sangat kesal dengan kelakuannya itu. Richard terlalu gila menurutnya.


"Jadi, jas mana yang mau saya pakai?"tanya Richard menatap Vira. Gadis itu pun menjadi bingung.


"Kamu maunya yang mana? Aku jadi bingung. Udah banyak jas yang kamu coba, dan gak ada yang kamu suka"kata Vira menatap jas-jas yang berhamburan itu.


"Yang ini bagaimana?"tanya Richard memegang satu jas berwarna putih.


"Bagus. Coba kamu pake dulu"


"Bagus?"tanya Richard yang sudah memakai jas itu.


"Bagus, itu ajah. Gak kekecilan juga kan"Vira sedikit lega karena akhirnya menemukan jas yang tepat untuk kekasihnya itu.


"Aku rapihin ini dulu"kata Vira hendak merapihkan semua jas-jas yang berhamburan itu. Namun Richard menahannya.


"Ada bibi yang beresin nanti. Kamu bukan pembantu di sini"kata Richard menahan tangan Vira.


"Yaudah, kalau gitu anterin aku pulang ajah deh"ucal Vira menatap Richard.


Richard dengan cepat menarik Vira ke atas king sizenya, gadis itu sedikit terkejut. Richard memeluknya layaknya bantal guling.


"Nanti saja pulangnya. Temani saya dulu"kata Richard menutup matanya.


"Terus aku pulangnya jam berapa?"tanya Vira menatap wajah Richard yang sangat dekat dengan wajahnya. Gadis itu berusaha membuat jantungnya normal.


"Nanti saja".


"Parfum kamu harum banget. Bau kamu juga selalu ini. Kamu suka banget sama parfumnya?"tanya Vira yang sangat suka dengan bau tubuh Richard. Tubuh pria itu benar-benar harum, dan terasa sangat candu baginya.


"Ini parfum pemberian princess. Dari dulu saya selalu memakai parfum ini. Lihatlah, saya bahkan membelinya sebanyak itu"Ricbard menunjuk satu lemari besar, yang di dalamnya ada banyak parfum dengan merek yang sama, tersusun sangat rapi.


"Sebanyak itu?"tanya Vira terkejut. Lemari sebesar itu hanya menyimpan parfum. Dan semua parfum itu memiliki merek yang sama.


"Saya suka baunya. Makanya saya beli sebanyak itu. Terbukti kan, bahkan kamu juga suka"kata Richard.


Vira dan Richard kembali terdiam, tidak ada suara sama sekali. Vira bisa merasakan deru nafas Richard yang sangat dekat dengannya, ia terdiam memikirkan sesuatu.


"Kamu mau mengatakan sesuatu?"tanya Ricbard yang tahu jika gadisnya itu sedang gelisah.


"Tapi jangan marah yah"ucap Vira sedikit takut.


"Iya".


"Hmm.... Kamu ingat mantan aku yang pernah aku ceritain? Yang macarin aku karena aku mirip pacaranya yang udah meninggal itu?"tanya Vira yang sedikit ragu untuk membahasnya.


"Saya ingat. Ada apa dengan pria itu?"tanya Richard.


"Kemarin, waktu aku rapat dia ada. Dia menanam saham di perusahan Chris. Hmm dia bilang mau ngajak aku ketemuan lusa"kata Vira sedikit takut jika Richard marah.


"Yaudah datang saja. Tapi jangan sendiri. Saya ikut"Richard kembali berkata.


"Kamu yakin? Aku gak usah ketemu dia ajah deh"Vira merasa sedikit tidak enak pada Richard.


"Ketemu saja. Perlihatkan pada pria itu, kalau kamu sudah bahagia sekarang. Dan kamu, sudah punya saya"ujar Richard mengeratkan pelukannya.


"Makasih udah hadir di hidup aku"kata Vira yang juga memeluk Richard.


"Saya juga makasih. Makasih karena sudah mau mencintai saya, dan maaf kalau suatu saat nanti saya tidak sengaja menyakiti hati kamu"Richard mengelus lembut kepala Vira. Ia terus saja mengingat perkataan Steven padanya.


"Dan aku harap, kamu gak akan pernah nyakitin hati aku. Karen aku gak mau kehilangan kamu"ucap Vira menenggelamkan kepalanya di dada bidang Richard.


"Kalau boleh jujur, saya juga takut kehilangan kamu. Tapi saat ini, saya bahkan bingung dengan perasaan saya sendiri. Apa saya mencintai kamu? Atau saya hanya merasa nyaman saja. Tuhan jangan sakiti hati gadis saya. Saya akan mencoba memperbaiki semuanya"batin Richard.

__ADS_1


__ADS_2