Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 18


__ADS_3

Malam hari di sebuah hotel berbintang 5, terlihat sangat ramai para tamu yang datang ke acara pernikahan Fikra dan Fara. Semua orang berbahagia malam ini.


Termaksud Christy dan Tasya yang sangat bahagia melihat Fara dan Fikra yang sudah resmi menjadi sepadang suami istri. Christy tidak menyangkan satu persatu dari mereka mulai membangun rumah tangga masing-masing.


"gak kerasa yah, kita udah punya suami ajah Far"ujar Tasya terkekeh, membuat Fara dan Christy tersenyum.


"bukan cuma kita Sya. Gak lama lagi Michel sama Christy juga mau nikah"kata Fara menggoda Christy membuat gadis itu tersenyum malu.


"hmm btw, bang Richard udah tahu kalau lo bebasin Zee?"tanya Tasya sedikit berbisik sambil melihat sekitar takut jika ada Richard di dekat mereka.


"dia pasti udah tahu, tapi gak mau bilang ke gue. Gue juga mau ngomong, tapi bingung mau mulai dari mana"kata Christy.


"kenapa sih Chris lo maafin dia? Gue kasih tahu yah kalau dia gak ada, mungkin kita semua gak akan menderita"kata Tasya yang terlihat kesal.


"setiap orang punya kesempatan kedua Tasya. Gue yakin Zee pasti udah berubah. Apa lagi sekarang dia tahu kalau ada bang Reza yang cinta sama dia"kata Christy.


"gue gak nyangka kalau bang Reza suka sama Zee. Selama ini gue kira dia suka sama lo Chris"kata Fara membuat Christy terkekeh.


"bang Reza anggap gue adik doang, Far. Gak lebih"kata Christy santai.


"hmm ngomong-ngomong soal Putri?"tanya Tasya tiba-tiba membuat Christy sedikit tidak nyaman.


"hmm gue ke Michel dulu yah"kata Christy lalu menjauh dari Tasya dan Fara.


"kenapa harus nanya soal Putri sih"kata Fara


"Chris kayaknya kecewa banget sama Putri"kata Tasya menatap sendu Christy yang sedang berbicara dengan Michel dkk.


"itu wajar Sya. Siapa yang gak kecewa kalau sahabatnya lebih percaya sama orang lain. Dan lo tahu kan, Putri itu orang pertama yang Chris kenal"ucap Fara sendu.


Rasa kecewa Christy pada Putri membuat keadaan sedikit canggung jika membahasnya. Fara dan Tasya tahu betul bagaimana Christy jika sudah kecewa pada seseorang, terlebih lagi jika itu sahabatnya.


Christy saat ini sedang berbicara dengan Michel dkk, sesekali Fikra dan Dimas menggoda Christy yang sebentar lagi akan menikah dengan Michel.


"pak dokter kita juga udah mau nikah nih"ucap Fikra menyenggol Michel, membuat pria itu menjitaknya berkali-kali.


"iya nih, ngebet banget mau nikah. Udah gak sabar malam pertama yah"seru Dimas membuat Michel menatapnya horor.


"malam pertama ajah yang lo inget"kata Michel menjitak kepala sahabat laknatnya itu.


"abang malah keduluan kamu kalau gini"kata Raja membuat Christy terkekeh.


"abang pasti udah punya cewek kan, tapi gak bilang"ucap Cgristy membuat Raja menatapnya bingung.


"gak ada Chris. Kalau abang punya pacar, pasti udah abang kenalin ke kamu"ucap Raja.


"Ja gue waktu SMA ragu nih yah, tapi sekarang gue kok makin yakin sih kalau lo gak normal"ucap Revano membuat yang lain tertawa sedangkan Raja menjadi kesal.


"gue normal bego! Cuma lagi gak nemu yang pas di hati ajah!"seru Raja.


"makanya cari Ja! Umur lo udah 24 tahun, masa gak nikah"ucap Raka membuat Raja menatapnya.


"kita seumuran beda tiga menit doang bang. Kita kembar kalau Lo lupa! Lo ajah gak punya cewek"kata Raja menatap kesal kembarannya itu.


"gak usah marah-marah"kata Raka menarik kuping adiknya itu.


"Fik ngobrol bentar bisa gak?"tanya Christy pada Fikra.


"bisa"jawab Fikra sambil tersenyum.


"duduk di sana ajah"kata Christy menunjuk salah satu kursi tamu yang masih kosong.


"aku ngobrol sama Fikra dulu yah, Cel"kata Christy pada Michel, membuat pria itu mengangguk sambil tersenyum.


Christy dan Fikra langsung duduk di kursi yang Christy tunjuk tadi. Fikra menunggu gadis itu akan mengatakan apa padanya.


"Fik, jaga sahabat gue yah"ucap Christy secara tiba-tiba, membuat Fikra mengerti arti perkataan gadis cantik itu.


"lo gak usah khawatir. Gue gak akan nyakitin Fara"ucap Fikra tersenyum manis pada Christy.


"gue percaya sama lo"kata Christy tersenyum begitu manis.


"gue gak nyangka lo bisa jadian sama Fara"kata Christy menatap Fikra.


"gue juga gak nyangka bisa sesayang ini sama dia. Mungkin karena gue terlalu care sama dia. Justru perasaan gue makin tumbuh buat dia"kata Fjkra tersenyum menatap Fara yang sedang bercerita dengan Tasya.


"makasih udah jagain Fara selama gue gak ada kabar Fik"kata Christy membuat Fikra tersenyum menatapnya.


"kalau lo gak ada, tugas gue sama yang lain itu jagain semua orang yang lo sayang, Chris. Emang bener kata Dimas, lo itu udah kayak malaikat buat semua orang. Waktu lo gak ada kehidupan mereka seolah berhenti"ucap Fikra sambil tersenyuman tulus.


"jangan hilang kayak dulu lagi yah Chris. Banyak orang yang sayang sama lo di sini"kata Fikra menggenggam tangan Christy, membuat gadis itu menatapnya dan tersenyum.


"gue gak akan hilang lagi Fik, gue juga sayang sama kalian yang ada disini. Gue gak akan ninggalin kalian"kata Christy tersenyum.


"Fikra, Chris, sini yuk. Mau foto bareng nih"panggil Tasya yang sudah berada di atas panggung bersama para sahabatnya yang lain.


Mereka berdua langsung kesana dan bergabung. Raka dkk dan Christy dkk sudah siap dengan pose masing-masing. Raka dan Raja yang masih jomblo berdiri paling ujung, Raja di ujung sebalah kiri sedangkan Raka di ujung sebelah kanan.


Dan yang memiliki pasangan berdiri di tengah, saat pemotret sudah menghitung, mereka semua berpose sangat kocak. Wajah yang sengaja di buat sejelek mungkin, hingga membuat para tamu terkekeh dengan tingkah mereka itu.


"guys kalau tukang fotonya udah ngitung sanpe tiga, kita lompat yah"usul Fikra yang berdiri paling tengah bersama Fara.


"bagus tuh"kata Raka antusias.


"lihat camera 1 2 3"kata si pemotret, lalu dengan semangat mereka melompat membuat hasil foto yang sangat bagus.


"langgeng terus"teriak mereka semua lalu memeluk Fikra dan Fara.


Semua tamu tersenyum melihat indahnya persahabatan mereka, wajah-wajah bahagia terlihat di wajah mereka semua. Menambah kesan istimewah malam ini.


"satu kebahagiaan berhasil aku dapatkan lagi, terimakasih tuhan. Kesempatam hidup yang engkau berikan membuatku bisa merasakan kebahagiaan. Jangan ambil lagi kebahagiaanku ini"batin Christy.


//skip//


Jam menunjukan pukul 12 malam, semua orang terlihat lelah selepas menghadiri acar pernikahan Fikra dan Fara. Richard mencari keberadaan Steven di mansion, adiknya yang satu itu belum di lihatnya sejak tadi.


Christy yang tahu jika Richard mencari Steven, akhirnya ikut mencari di mana keberadaan abangnya itu. Dia tidak ada di mana-mana termaksud kamar Richard.

__ADS_1


Richard mulai gelisa karena Steven yang juga tidak mengangkat telfonnya sama sekali. Christy ikut cemas melihat Dichard yang seperti orang kebingungan.


"kamu kemana Steven?"tanya Richard yang terlihat sangat khawatir. Ia terus menelfon Steven, berharap pria itu mengangkatnya.


"BANG RICHARD"teriak Raja dari lantai bawah membuat Richard dan Christy berlari kebawah karena penasaran.


Richard sangat terkejut melihat Steven yang berdiri sempoyongan di bantu oleh Raja. Riichard langsung membantun Raja mengangkat Steven. Richard bisa mencium bau alkohol dari mulut adiknya itu.


"kamu tidak boleh minum Steven! Kamu tahu itu"ucap Richard yang terlihat sangat marah.


"bang dadaku sakit"kata Steven dengan suara paraunya membuat Richard sangat khawatir.


Dengan cepat Richard menggendong Steven di punggungnya, dan berkari naik ke kamarnya di ikuti yang lain. Richard langsung membaringkan tubuh Steven yang terus menggeliat kesakitan. Wajah pria itu terlihat sangat pucat.


"Raja tolong ambil air hangat dan kain. Cepat!"kata Richard membuat Raja berlari keluar untuk mengambil apa yang Richard perintahkan.


Richard dengan cepat membuka kancing baju Steven, agar pria itu bisa lebih bebas bernafas. Nafasnha terus saja memburu, Richard semakin di buat khawatir.


"bang ini"kata Raja memberikan sebaskom air hangat dan sebuah kain.


Dengan cepat Richard melap dada Steven dengan air hangat, pria itu terus menggeliat kesakitan membuat Richard semakin panik.


"biar aku ajah bang"ucap Christy membuat Richard memberikan kain itu padanya.


Sementara Christy melap dada Steven, sedangkan Richard terus mengusap sambil meniup tangan adiknya itu. Wajah Steven terlihat sangat pucat.


"bang sakit"ucap Steven menatap Richard dengan keringat yang terus saja membasahi wajahnya.


"abang tahu itu sakit. Tapi tahan sebentar lagi, pasti akan hilang"kata Richard menggenggam erat tangan adiknya itu.


"Raka telfon Michel"kata Richard memerintahkan Raka untuk menelfon Michel. Membuat pria itu dengan cepat menekan beberapa digit angka untuk menelfon sahabatnya.


"Richard ada apa dengan Steven sebenarnya?"tanya Wijaya dengan wajah khawatirnya.


"dia tidak bisa meminum alkohol, ini yang akan terjadi kalau dia meminumnya"kata Richard menatap sendu wajah Steven.


"kenapa separah ini bang?"tanya Raja yang juga sangat khawatir.


"Michel pasti tahu. Suruh dia lebih cepat"kata Richard.


"dia sedang di lerjalanan bang. Sebentar lagi pasti sampai"kata Raka namun tidak membuat Richard lega sebelum dia melihat Michel.


10 menit menunggu, akhirnya Michel datang dengan nafas yang terangah-engah. Richard merasa sedikit lega melihat Michel sudah datang.


"periksa Steven"ucap Richard membuat Michel mengangguk mengerti.


"apa disini ada tabung oksigen?"tanya Michel membuat salah satu maid langsung membawa satu tabung oksigen yang mansion ini simpan.


Michel lebih dulu membantu Steven agar lebih mudah mengatur nafasnya, ia memasangkan masker oksigen dan mulai mengaturnya agar nafas Steven bisa stabil.


Michel mengeluarkan stetoskopnya, lalu mengecek keadaan Steven. Mulai dari dada hingga perut Steven. Tangan Michel meraba bagian dada pria itu yang terlihat aneh baginya. Michel melepas stetoskopnya lalau menatap Richard.


"dia pernah di operasi?"tanya Michel membuat Richard sedikit ragu menjawabnya.


"Steven dioperasi saat umur 9 tahun"kata Richard membuat semua orang menatapnya termaksud Raymond yang sangat terkejut.


"hati dan paru-paru?"tanya Michel menatap Richard.


"iya. Steven menggunakan hati dan paru-paru yang pendonor berikan"ucap Richard membuat semua orang semakin terkejut.


"jahitan bekas operasinya sangat rapi, bahkan hampir tidak terlihat"kata Michel menatap tubuh Steven.


"apa ada masalah dengan salah satunya, Michel? Apa harus kita kerumah sakit?"tanya Richard yang tidak bisa tenang melihat Steven menahan sakit seperti itu


"tidak separah itu bang, sepertinya dia baru saja mengonsumsi sesuatu yang tidak sesuai dengan kondisinya. Itu membuat bekas operasinha menjadi sedikit sensitif. Nanti gue kasih obat, mungkin dia bisa baikan"kata Michel membuat Richard bernafas lega.


"apa dia punya alergi? Supaya gue bisa langsung buat resep obat"tanya Michel.


"Steven tidak bisa meminum obat yang dosisnya terlalu tinggi"kata Richard membuat Michel sedikit berfikir.


"kalau gitu gue infus ajah biar gak makin parah"kata Michel mengambil keputusan.


"gue mau kerumah sakit dulu ngambil beberapa alat, sebaiknya dia di kompres terus dengan air hangat itu"kata Michel membuat Christy mengangguk.


"gue bareng lo deh Cel, biar bisa bantu lo gitu"kata Revano membuat Michel mengangguk.


"kamu hati-hati yah Cel. Udah malam banget soalnya"kata Christy yang khawatir pada kekasihnya itu.


"iya sayang"kata Michel lalu mengecup kening Christy, setelah itu pergi bersama Revano.


"masih sakit?"tanya Richard menatap Stevens.


"tidak sesakit tadi bang"jawab Steven dengan suara parau dan mata yang masih tertutup.


"kenapa kamu terlalu keras kepala Steven"kata Richard mengelus dahi Steven yang dipenuhi keringat.


"maaf bang"ucap Steven yang menyesal karena sudah membaut Richard khawatir.


"kalian bisa istirahat sekarang. Saya bisa menjaga Steven. Princess kembali ke kamar, kamu juga harus istirahat"kata Richard membuat Christy menggeleng.


"aku di sini ajah. Abang gak mungkin jagain bang Steven sendirian. Michel juga pasti baliknya lama"kata Christy yang tidak setuju dengan perkataan Richard.


"kamu harus istirahat princess"kata Richard mencoba membuat Christy mengerti.


"biarkan princess di sini bang"ucap Steven sambil menggenggam tangan Christy.


"yasudah"kata Richard menuruti kemauan kedua adiknya itu.


"Raja antar ayahmu ke kamar"kata Wijaya membuat Raja mengangguk mengerti


"bang Raka, boleh minta tolong airnya di ganti lagi gak? Soalnya udah dingin"kata Christy sambil memberikan sebaskom air hangat yang Raka bawa tadi.


"tunggu abang ganti dulu"kata Raka lalu membawa baskom itu keluar.


"daddy sama mommy ke kamar duluan yah Chris. Kalau capek kamu istirahat"kata Wijaya mencium pucuk kepala Putri kesayangannya itu.


"good night sayang"kata Megan mengelus kepala Christy.

__ADS_1


"bang Richard ganti baju ajah dulu"kata Christy menatap Richard yang masih memakai setelan jas selepas acara pernikahan Fara dan Fikra.


"setelah itu kamu juga ganti baju, baru kesini lagi"kata Richard membuat Christy mengangguk.


Richard langsung masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya itu, meninggalkan kedua adiknya. Christy merasa kasihan melihat Steven yang terlihat sangat lemah.


"abang udah tahu gak boleh minum alkohol, kenapa harus di minum sih bang?"tanya Christy membuat Steven menatapnya dan tersenyum tipis.


"alkohol itu gak bisa membunuh abang. Tenang saja princess"kata Steven dengan sangat santai.


"kalau abang kayak gini, kasihan bang Richard. Dia khawatir banget sama abang"ucap Christy mengingat bagaimana wajah khawatir Richard tadi.


"dia memang seperti itu, terlalu khawatir sama kondisi abang"kata Steven tersenyum.


"kamu akan menikah dengan dokter itu?"tanya Steven tiba-tiba menatap serius wajah Christy.


"iya bang"jawab Christy yang sedikit canggung.


"kamu pasti tahu kalau abang punya perasaan ke kamu"kata Steven yang langsung pada intinya membuat Christy sangat terkejut.


"maksud abang apa?"tanya Christy semakin merasa canggung.


"princess, abang tahu kamu tidak sebodoh itu. Kamu pasti tahu kalau abang punya perasaan ke kamu lebih dari seorang abang ke adiknya"kata Steven dengan tatapan yang sangat redup.


"aku anggap bang Steven hanya sebatas abang doang sama kayak bang Richard. Gak lebih dari itu"kata Christy.


"kenapa abang selalu kalah untuk mendapatkan hati kamu princess. Dulu ada Rasya, dan sekarang ada dokter itu. Kenapa kamu gak pernah lihat abang sedikit ajah"kata Steven membuat Christy semakin merasa bingung.


"abang harus tahu, di dunia ini banyak gadis yang bisa mengisi hati abang. Aku gak mungkin bisa bang, aku udah punya seseorang di hati aku"kata Christy.


"gadis di dunia ini memang banyak, tapi sangat sulit mendapatkan gadis seperti kamu princess"kata Steven menggenggam tangan Christy


"abang pasti bisa menemukannya"kata Christy menatap sendu wajah Steven


Saat Steven hendak berbicara lagi, ia mengurungkan niatnya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Richard yang sudah berpakai lebih santai.


"princess, kamu juga ganti baju saja. Setelah itu baru kesini lagi"kataR Richard mengelus kepala Christy.


"iya bang"kata Christy lalu pergi dan melepaskan genggaman tangan Steven dari tangannya.


Sekarang tersisa Richard dan Steven di kamar. Richard menatap sendu wajah pucat adiknya itu. Sedangkan Steven dia hanya diam dan menatap ke arah jendela.


"kalau kamu sedang ada masalah, kamu bisa meluapakannya ke abang. Jangan minum Steven!"seru Richard menasehati adiknya itu.


"aku juga mau ngeluapin amarah aku ke abang, tapi aku gak bisa nyakitin abang. Aku gak mungkin mukulin abang!"kata Steven menatap abangnya itu.


"kenapa kamu jadi seperti ini? Apa ada hubungannya dengan pernikahan princess?"tanya Richard.


"gadis yang aku cintai akan menikah dengan pria lain. Bagaimana bisa aku bisa hidup tenang"kata Steven menatap tajam kearah Richard.


"Steven jangan seperti ini, sudah abang katakan berkali-kali princess mencintai pria lain. Princess hanya menganggapmu sebagai seorang abang hanya itu"kata Richard mencoba untuk membuat Steven mengerti.


"kalau aku bisa, sudah sejak lama aku berhenti mencintai princess. Tapi apa? Sangat sulit bang! Aku sangat mencintai princess"kata Steven dengan tatapan sendunya.


"abang mohon jangan seperti ini, kamu akan terluka jika seperti ini terus. Kamu masih bisa mencari gadis lain"ucap Richard.


"tidak bisa bang! Tidak segampang itu"kata Steven dengan penuh penekanan.


Baru saja Richard ingin berbicara lagi, Michel dan Revano masuk ke dalam kamar. Membuat Richard sedikit terkejut. Entah sejak kapan kedua pria itu ada di sana.


Namun Richard bisa membaca wajah terkejut Revano, pasti mereka mendengar semuanya. Michel hanya diam, dan mulai memasangkan infus untuk Steven. Wajah Michel seperti biasa saja seolah tidak tahu apa-apa.


Christy yang sudah selesai mengganti pakaian, dia kembali ke kamar Richard. Saat kembali di sana, Christy sudah melihat ada Raja, Raka, Michel dan Revano.


"gimana keadaan bang Steven?"tanya Christy pada Mjchel yang sedang mengecek aliran infus Steven.


"sudah membaik. Biarkan dia tidur dulu"jawab Michel tersenyum pada Christy.


"kalian sebaiknya istirahat. Michel tidur di kamar tamu saja atau di kamar Raka"kata Richard.


"gue stay di kamar ini bang. Kondisi Steven bisa memburuk kapan ajah"kata Michel lalu duduk di sofa yang ada di kamar Richard.


"kita juga di sini ajah"kata Raka lalu ikut duduk di ikuti Raja dan Revano.


"aku juga"kata Christy terkekeh membuat Richard tersenyum melihat tingkah para adiknya itu.


Richard menyuruh beberapa maid untuk membawa selimut tebal, agar Raka dan yang lain tidak kedinginan tidur di lantai dan di sofa. Mereka semua sudah tertidur di kamar Richard.


Steven yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur, langsung membuka matanya saat merasa semua orang sudah lelap. Steven menatap satu persatu orang yang ada di sana.


Steven bisa melihat Michel belum tidur, mata pria itu terlalu fokus pada wajah Cbristy sehingga tidak merasa jika Steven terbangun. Tatapan tulus itu membuat Steven merasa sedikit iri.


Baru saja ia ingin menegur Michel, namun suara Michel yang sangat kecil membuatnya mengurungkan niatnya. Michel mengatakan sesuatu pada Christy yang tertidur di pundaknya.


"apa aku harus mengalah lagi"perkataan Michel itu membuat hati Steven sakit.


Steven membalikkan tubuhnya, agar Michel tidak tahu jika dia terbangun. Steven merasa sangat malu melihat ketulusan Michel untuk Christy.


Mata Steven menangkap sosok Raymond yang duduk di kursi rodanya. Mengintip ke dalam kamar Richard. Steven menutup matanya agar Raymond tidak melihatnya.


Michel yang juga merasa kehadiran Raymond, langsung berpura-pura tidur. Pria paru Bayah itu masuk perlahan dan mendekat kearah Steven.


"kamu ternyata sudah sebesar ini"ucap Raymond lalu mengelus kepala Steven.


Mati-matian Stven menahan dirinya agar tidak terlihat sedih di hadapan Raymond. Untuk pertama kalinya ia merasakan elusan lembut itu dari Raymond ayahnya.


Steven bisa merasakan tangannya yang Richard genggam, ternyata Richard juga hanya berpura-pura tertidur sejak tadi. Richard menggenggam tangannya untuk membuat adiknya itu kuat.


"ayah terlalu malu untuk menghadapi kamu, ayah bukan orang yang baik untuk menjadi ayah kalian semua. Ayah terlalu beruntung mendapatkan anak-anak yang sangat baik seperti kalian"kata Raymond yang sudah mengeluarkan air matanya.


"ayah tahu kalau kamu mencintai Chris adikmu. Ayah tidak mau kalian saling menyakiti. Kalian harus saling menjaga, karena kalian bersaudara. Ayah sangat percaya sama kamu dan Richard. Kalian pasti bisa menjaga adik-adik kalian"kata Raymond mengelus pipi Steven.


"maafkan ayah"kata Raymond lalu keluar dari kamar Richard.


Hancur sudah pertahanan Steven, dengan mata yang masih tertutup air matanya terjatuh begitu saja. Perkataan Raymond sangat membuat hatinya hancur.


Ternyata semua orang sedari tadi tidak ada yang tertidur. Raka, Raja, Revano dan Christy merasa sangat sedih mendengar perkataan ayah mereka itu.

__ADS_1


"mana bisa aku melukai mereka semua. Tuhan, kenapa mereka sangat baik padaku. Aku harus bagaimana? Menyerah dengan cintaku? Atau perjuangkan walaupun melukai banyak orang? Tuhan batun aku"batin Steven sendu.


__ADS_2