Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 66


__ADS_3

Keadaan mansion terasa sangat canggung, setelah Richard jujur tentang perasaannya. Bahkan Christy memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Ia tidak bisa berhadapan dengan Richard.


Bukan hanya Christy, tapi Michel juga memilih untuk tidak bertemu dengan Richard. Mereka bingung dengan situasi saat ini.


Lalu bagaimana dengan Vira? Gadis itu tidak ada kabar sama sekali. Apa Richard mencoba untuk mencarinya? Jawabannya adalah tidak!.


Entah apa yang ada di fikirin pria itu, dia justru hanya berdiam diri di mansion. Seolah diamnya bisa menyelesaikan masalah.


"Richard" panggil Wijaya yang baru saja pulang dari kantor.


Richard menghembuskan nafasnya gusar, lalu menghampiri Wijaya. Ia merasa tidak enak untuk menatap mata orangtua kandung Christy itu.


"Duduk, daddy mau bicara" ucap Wijaya. Mereka langsung duduk di ruang keluarga.


Wijaya pun bingung harus berkata apa lagi, ia sangat bingug dengan semua yang terjadi. Tapi ia tidak bisa tinggal diam, saat keluarganya menjadi sangat canggung seperti ini.


"Richard...." Wijaya terdiam sejenak. Ia meraih tangan Richard, lalu menggenggamnya sangat erat.


"Kamu mencintai Chris selama ini, tapi hanya mencintai dalam diam. Apa daddy boleh tahu.... Hati kamu sakit nak?" pertanyaan Wijaya membuat Richard terdiam.


Entah kenapa hatinya terasa sesak saat mendengar pertanyaan Wijaya. Pertanyaan itu sangat ingin Richard dengar. Tapi tidak pernah ada yang menanyakannya.


"Saya boleh jujur?" Richard memberanikan diri untuk berbicara. Ia masih tetap menunduk, berusaha menahan sakit di hatinya. Lalu ia mengangkat kepalanya, menatap kedua mata Wijaya. "Hati saya sakit" lanjutnya.


Wijaya bisa melihat kehancuran di mata Richard. Bahkan ini pertama kalinya ia melihat Richard seperti ini. Richard yang di biasa di lihatnya sangatlah dingin, bahkan terkesan datar.


"Dulu sebelum Raymond meninggal, dia menitip keluarga ini kepada daddy. Dia bilang, keluarga ini sangat berarti untuknya. Terutama kamu Richard" tutur Wijaya sambil tersenyum tipis.


"Daddy tidak ingin membela siapapun di sini. Tapi daddy hanya mau kamu mengerti. Adik mu itu sudah berkeluarga, dan kamu juga sudah memiliki kekasih" lanjutnya.


Richard mengerti maksud Wijaya, tapi ia juga bingung dengan perasaannya sendiri.


"Saya seharusnya tidak sejauh ini. Semuanya hancur" Richard kembali menunduk, ia tidak berani mengangkat kepalanya.


"Sebaiknya ajak Chris untuk berbicara. Kalian berdua yang harus menyelesaikan semua ini" ujar Wijaya.


Baru saja mereka membicarakan Christy, tiba-tiba dia turun. Mereka saling bertatapan, tanpa ada yang mau menyapa.


"Ajak adikmu bicara" bisik Wijaya, lalu ia pergi dari sana. Memberikan ruang untuk kedua orang itu.


Richard memberanikan diri untuk menghampiri Christy. Mereka hanya saling menatap satu sama lain, tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Dari pintu samping mansion, terlihat Michel yang terdiam di sana.


Ia ingin menghampiri mereka, tapi tidak jadi. Michel ingin memberikan mereka waktu untuk berbicara empat mata.


"Aku harap, kali ini aku tidak harus mengalah lagi" ucap Michel sendu.


Christy merasa hancur saat melihat tatapan Richard. Pria yang selama ini menjaganya, mengajarkannya banyak hal, memberikan semua yang ia inginkan. Ternyata mencintainya, dan ia tidak tahu itu.


Christy merasa sudah menyakiti Richard selama ini. Ia merasa bersalah.


Tiba-tiba Christy memukul dada Richard berkali-kali, membiarkan rasa marahnya menghilang dengan sendirinya.


"Kenapa tidak pernah bilang? Kenapa hanya diam? Kenapa menyakiti diri sendiri? Kenapa?" Christy akhirnya membuka suara.


Richard membiarkan Christy memukul dadanya, setidaknya itu bisa membuat adiknya lebih tenang.


"13 tahun bang.....Apa selama itu abang mencintai aku?" Christy kembali bertanya.


"Abang yang salah. Seharusnya perasaan abang tidak tumbuh untuk kamu. Maaf" Richard kembali menunduk. Ia terlalu takut untuk mengangkat kepalanya dengan penuh hormat.


"Selama itu juga abang selalu membantu aku untuk menyelesaikan masalah percintaan. Abang membantu aku untuk bersatu dengan pria yang aku cinta. Sementara abang sendiri.... Abang juga mencintai aku" ucap Christy.


"Maaf princess" hanya itu yang Richard terus katakan. Ia bingung harus berkata apa lagi.


"Dulu aku mati-matian untuk yakinin diri sendiri, kalau aku hanya adiknya abang. Aku mati-matian untuk tidak menumbuhkan perasaan di antara kita, karena kita hanya sebatas saudara. Abang yang selalu mengatakannya, kita hanya saudara!" kata Christy.


Christy selalu mengingat perkataan Richard. Mereka hanya sebatas saudara, hanya itu!. Bahkan Christy mencoba menghilangkan perasaannya untuk Richard.


"Gadis mana yang tidak akan jatuh cinta, pada pria yang selalu ada untuknya. Selalu menjaganya, memberikan apa yang dia mau, bahkan mengorbankan nyawanya. Semua orang pasti akan jatuh cinta jika seperti itu. Termaksud aku" lanjutnya.


Richard terus menunduk, merutuki kebodohannya sendiri. Mencintai dalam diam adalah hal yang salah. Salah besar!.


"Dulu aku juga pernah memiliki perasaan untuk abang. Tapi aku fikir, abang hanya menganggapku sebagai seorang adik. Jadi aku membuang jauh-jauh harapan untuk abang. Sampai akhirnya aku bertemu Aya" ujar Christy kembali berbicara.

__ADS_1


"Abang yang salah princess. Abang hanya diam saat abang memiliki perasaan untuk kamu. Kalau saja dari dulu abang jujur, semua tidak akan sehancur ini" kata Richard lirih.


"Abang sudah jujur. Dan sekarang waktunya aku untuk jujur. Membuka jati diri aku yang sebenarnya di hadapan semua orang" kata Christy membuat Richard terkejut.


"Tidak princess!! Mereka akan membenci kamu" Richard tidak setuju dengan ucapan Christy barusan.


"Aku lelah seperti ini. Aku akan tetap melakukan apa yang sudah aku rencakan sejak awal. Tapi aku akan melakukannya dengan sangat jelas, di hadapan semua orang" lontar Christy.


"Aku gak mau berlama-lama. Ada nyawa malaikat kecil yang harus aku jaga" Christy meraih tangan Richard, lalu mengarahkannya ke perutnya yang masih datar itu.


"Malaikat kecil?" Richard bertanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang adiknya itu maksud.


"Sebagian diri aku dan Michel, sudah menjadi satu sekarang. Ada nyawa malaikat kecil di dalam sana" kata Christy membuat Richard tersenyum.


Christy mengandung seorang bayi sekarang. Michel yang mendengarnya pun terkejut, ia merasa sangat bahagia. Bahkan tanpa sadar Michel menangis, rasa bahagianya sangat besar.


Richard mengelus perut Christy, ia juga merasa bahagia saat ini. Richard mencium kening Christy, dan itu yang terakhir kalinya.


"Jaga dia. Keponakan abang harus bisa melihat dunia ini" Richard tersenyum bahagia.


"Abang harus memikirkannya lagi. Fikir dengan baik, siapa yang abang cintai saat ini" tutur Christy.


Christy merasa kalau Richard mencintai Vira, tapi dia hanya ragu pada perasaannya sendiri. Richard tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya.


"Abang harus memikirkannya. Abang tidak boleh sampai menyesal nanti" lanjutnya.


"Abang sudah mencintainya, tapi abang tidak sadar" Christy mengelus pundak Richard. Lalu ia pergi dari sana.


Richard hanya bisa terdiam mendengar perkataan Christy. Ia memang mencintai Vira, tapi entah kenapa ia selalu ingin menolak perasaannya sendiri. 


"Vira, maafkan saya.... Maaf karena menyakiti kamu" ucap Richard lirih.


//skip//


Hari sudah sore, di sebuah rumah terlihat seorang gadis yang duduk termenung. 


Ia bingung harus bagaimana sekarang, ingin bertahan tapi hatinya terlanjur hancur. Gadis itu adalah Vira, sejak kejadiaan waktu itu ia tidak lagi menemui Richard.


Vira yang hendak memukul dadanya lagi, seketika berhenti saat ada seorang pria yang menahan tangannya.


"Cinta boleh, tapi jangan bego kayak gini!" ucap pria itu. Yang tidak lain adalah Faris.


"Ngapai ke sini? Richard yang suruh? Mending lo pergi" Vira mengusir Faris, ia hendak masuk namun Faris menahannya.


"Gue ke sini bukan karena Richard. Tapi karena lo!" tegas Faris menatap lekat mata Vira. Genggaman tangannya bahkan sangat lembut, tidak ada paksaan sama sekali.


Vira akhirnya mengalah, ia kembali duduk begitu pula dengan Faris. Mereka sama-sama bungkam, tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali.


Vira yang sibuk dengan fikirannya, dan Faris yang bingung harus berkata apa.


"Lo gak apa-apa?" Faris akhirnya mengeluarkan suara, membuat Vira meliriknya sebentar.


"Kalau gue bilang, gue gak apa-apa.....Lo percaya?" Vira pun kembali bertanya. Kali ini Faris hanya diam. Membiarkan Vira mengeluarkan semua yang ingin dikatakannya.


"Sejak kejadian waktu itu, gue terus berharap Richard datang nemuin gue" Vira mulai berbicara, ia berusaha menahan sakit di dadanya. "Gue terus yakinin diri gue, kalau Richard cinta sama gue. Tapi gue gak sadar, kalau itu justru nyakitin diri gue sendiri" lanjutnya lirih.


"Gue ngerasa bego banget. Di saat gue berusaha untuk membangun hubungan yang baik. Justru itu malah nyakitin gue" kali ini Vira menatap Faris, membiarkan pria itu melihat sisi lemahnya.


Entah ada dorongan dari mana, Faris tiba-tiba saja memeluk Vira. Gadis itu seketika terisak, Faris melakukan hal yang benar. Saat ini Vira sangat butuh pelukan, setidaknya itu bisa membuatnya lebih tenang.


Vira menangis di pelukan Faris. Sedangkan Faris, dia hanya diam membiarkan Vira menangis sepuasnya.


Gadis itu meremas kuat baju yang Faris pakai, hatinya terasa sangat sakit.


Faris mengelus lembut kepala Vira, membuat gadis itu merasa sangat nyaman. Melihat Vira seperti ini, membuatnya sedih. Entah ada apa dengan perasaannya, ia tidak suka melihat Vira menangis.


"Udah, lo bisa sakit kalau gini" Faris melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Vira.


"Maaf....Baju lo" ucap Vira sambil menunjuk baju Faris yang basah karena air mata dan ingusnya itu.


"Gue maafin, asal lo berhenti nangis" Faris tersenyum sambil mengacak gemas rambut Vira.


Entah kenapa Vira ikut tersenyum, setidaknya hatinya terasa sedikit lebih tenang sekarang.

__ADS_1


"Rencana lo sekarang gimana? Mau gue bantuin buat ngobrol sama Richard?" tanya Faris membuat Vira diam sejenak.


"Gue mau pergi" ucap Vira singkat. Faris menatapnya bingung, ia tidak mengerti dengan perkataan Vira.


"Pergi? Tapi ke mana?".


"Pergi jauh. Tempat di mana Richard gak bisa nemuin gue" ujar Vira sangat yakin dengan keputusannya kali ini.


"Richard bukan orang biasa, dia pasti bisa nemuin lo. Mau lo pergi ke pelosok dunia sekalipun" ucap Faris mengingat orang seperti apa Richard.


"Lo bisa kan bantuin gue? Gue mohon" Vira menatap Faris, berharap pria itu mau membantunya.


"Gue mungkin bisa bantuin lo, tapi gue gak janji kalau Richard nanti bisa nemuin lo" ucap Faris membuat Vira mengangguk.


Vira kembali terdiam, kali ini Faris menatapnya cukup lama. Entah kenapa ia tidak mau mengalihkan pandangannya dari Vira, gadis itu menjadi objek terindah kali ini.


"Gue bakal jagain lo".


"Hmm? Lo ngomong barusan?" tanya Vira saat mendengar suara Faris yang sangat kecil.


"Enggak" jawab Faris singkat.


...✓✓✓...


Saat ini semua orang di mansion merasa sangat bahagia, saat mendengar berita baik dari Michel. Pria itu memberitahu kalau Christy saat ini sedang hamil.


Bahagia? Itu sudah pasti. Christy hanya tersenyum tipis, saat semua orang mengucapkan selamat padanya.


"Pasti nanti seru banget, kalau anak kalian sudah lahir" ucap Fikra sambil mengelus perut Fara yang semakin besar.


"Iya nih, gak lama lagi Tasya lahiran. Terusan Fara sama Chris juga nyusul" ujar Raja yang merasa sangat bahagia.


"Ja, si Sasa gak lo buat hamil juga?" Revano bertanya dengan polosnya, membuat semua orang menatapnya.


"Rev, deketin sini deh" Raja tersenyum pada Revano, membuat pria itu bingung.


"Mau ngapain emang?" tanya Revano penasaran.


"Mau gue jahit mulut lo! Ngomong jangan suka ngasal. Kalau udah gue nikahin, baru gue hamilin anak orang" ucap Raja, lalu ia melemparkan bantal sofa pada Revano.


Mereka semua asik bercanda, sedangkan Christy hanya diam. Mereka terus memperhatikan sikap Christy, ada yang aneh darinya hari ini.


"Chris" Michel pun memanggilnya, membuat Christy tersadar dari lamunannya.


"Kamu gak apa-apa?" Michel pun bertanya, ia juga memperhatikan istrinya itu sejak tadi.


Christy hanya mengangguk, lalu kembali terdiam. Richard yang sejak tadi berdiri di tangga, hanya bisa menghembuskan nafasnya gusar.


Entah kenapa hatinya terus saja merasa gelisah, tapi ia tidak tahu apa penyebabnya. Rencana Christy untuk menyelesaikan semuanya sudah benar-benar bulat.


Kali ini Christy benar-benar ingin semuanya selesai. Bagaimanapun akhirnya ia harus menyelesaikannya. Sudah cukup semua kebohongan ini. Ia juga lelah seperti ini.


"Cel, aku ke kamar dulu yah" ucap Christy, lalu ia pergi dari sana.


Mereka hanya terdiam melihat sikap Christy. Michel langsung berlari menyusul istrinya itu. Ia menutup pintu kamar, lalu duduk di samping Christy.


"Mau cerita hmm?" tanya Michel dengan sangat lembut.


Christy hanya diam lalu menyandarkan kepalanya di bahu Michel. Bahkan ia meraih tangan Michel, lalu menggenggamnya sangat erat.


"Aku mau ngehabisin waktu lagi bareng kamu. Kita kehilangan waktu selama 3 tahun. Mau coba buat kenangan indah lagi sama kamu?" tanya Christy membuat Michel tersenyum.


"Boleh, aku juga mau. Ngehabisin waktu kayak anak SMA" ucap Michel yang tersenyum bahagia.


Michel mencium kening Christy, menatapnya dan tersenyum.


"Aku udah berjuang sejauh ini. Jadi aku mohon jangan tinggalin aku" ucap Michel lirih.


Mereka berdua kembali terdiam. Mereka hanya saling menatap satu sama lain. Membiarkan tatapan itu yang memberitahu sehancur apa hati mereka saat ini.


"Aku gak akan ninggalin kamu. Kita punya dia sekarang" ucap Christy sambil mengelus perutnya yang masih datar.


"Terimakasih" ucap Michel singkat. Lalu mencium bibir Christy.

__ADS_1


__ADS_2