
Dikamar terlihat Christy yang menyiapkan semua barang-barang Michel. Pria itu akan bekerja hari ini. Michel sesekali tersenyum saat melihat wajah cantik Christy. Paginya selalu menjadi behagia, karena ada Christy.
"Cel"satu panggilan dari Christy membuat Michel mengangkat alisnya, lalu mendekat kearah istrinya itu.
"Hari ini, aku mau ke markas. Boleh?"tanya Christy membuat Michel menatapnya.
"Kalau aku larang, gimana?"Michel berbicara dengan wajah seriusnya.
"Kalau gak boleh, gak apa-apa kok"ucap Christy membuat Michel tersenyum tipis. Lalu memeluknya.
"Boleh Chris, aku cuma bercanda tadi. Tapi gak boleh sampai lecet"kata Michel membuat Christy terkekeh.
"Kalau lecet, gimana dong?"Christy memeluk Michel, lalu mencium pundak suaminya itu.
"Aku marah besar, marah banget. Karena orang yang aku cintai terluka"ucap Michel membuat Christy salah tingkah.
"I love you"ucap Christy lalu mengecup bibir Michel.
Michel sedikit terkejut, lalu wajahnya menjadi merah. Christy terkekeh melihat ekpresi suaminya itu. Michel menarik gemas hidung Christy, lalu mengecup bibirnya terus menerus.
"Cel udah, kamu harus kerumah sakit"kata Christy terkekeh.
"Kalau aku gak kerja hari ini, kamu gak aku biarin lepas"bisik Michel sambil tersenyum nakal.
Mereka pun keluar dari kamar, lalu turun kebawah untuk sarapan bersama. Hari ini hanya ada keluarga Raymond dan Stamford, para sahabat Christy tidak datang pagi ini.
"Pagi semua"sapa Christy yang mendapat senyuman hangat dari semua orang. Christy dan Michel langsung duduk bersama yang lain.
"Dad, hari ini gak ke kantor?"tanya Christy menatap daddy nya yang berpakaian santai.
"Daddy kurang sehat hari ini. Mau istirahat dulu"Wijaya berbicara dengan suara yang terdengar lumayan serak, membuat Christy menjadi khawatir.
"ku anterin ke rumah sakit ajah dad"kata Christy.
"Daddy tidak apa-apa, Chris. Jangan khawatir ya"kata Wijaya tersenyum pada putri kesayangannya itu.
"Kalau daddy masih kurang sehat, bilang ke aku"ucap Christy yang langsung diangguki Wijaya.
"Bang mau kemana?"tanya Michel melihat Richard yang berpakaian formal.
"Ada urusan sedikit di kantor"jawab Richard membuat Michel tersenyum dan mengangguk.
"Bang Steven mana?"Christy bertanya karena tidak melihat kehadiran Steven pagi ini.
"Dia baru pulang tadi subuh, masih tidur dikamar abang"Raja menjawab pertanyaan Christy, membuatnya bingung.
"Ngapain tidur dikamar bang Raja?"Christy sedikit bingung.
"Abang ajah gak tahu. Subuh-subuh dia ngetuk pintu kamar abang. Terus langsung masuk, habis itu tidur disamping abang"ucap Raja membuat Christy terkekeh.
Saat mereka sedang sarapan bersama, tiba-tiba ada seorang maid yang datang bersama seorang gadis. Christy dan yang lain menatap gadis itu bingung.
"Ada tamu mencari tuan Richard"ucal maid itu, membuat Richard berbalik. Matanya mendapati Elsa yang berdiri sambil tersenyum padanya.
Richard mengerutkan alisnya, saat melihat ada Elsa dimansionnya. Richard sudah duga, gadis yang satu ini memang gila.
"Lo siapa?"tanya Christy menatap Elsa yang sedari tadi tersenyum kearah Richard.
"Dia Elsa, anaknya teman Raymond"ucap Wijaya yang tahu siapa Elsa.
"Ada apa kamu datang kesini Elsa?"Wijaya langsung bertanya pada Elsa.
"Sebenarnya hari ini aku udah ada janji sama Richard dikantor. Tapi aku fikir kenapa gak berangkat bareng ajah"ucap Elsa membuat semua orang menatap Richard.
Berangkat bersama Elsa, apa dia mau? Semua orang tahu bagaimana Richard, pria itu dingin sangat dingin.
"Saya sudah bilang, kita bertemu dikantor"Richard akhirnya membuka suara. Ia menatap Elsa sinis.
"Kamu bilang kan gak suka nunggu, aku takutnya telat nanti. Jadi aku kesini ajah, kita ke kantornya bareng"kata Elsa membuat Christy menaikan satu alisnya.
Christy bisa tahu bagaimana watak Elsa, hanya dengan menatap matanya. Christy tahu, pasti Richard tidak suka dengan gadis itu.
"Kamu bawa mobilkan"kata Richard menatap Elsa.
"Iya, kamu bareng aku ajah"Elsa tersenyum, seolah merasa kalau Richard akan menerima ajakannya.
"Kamu naik mobil saja. Saya hari ini mau naik motor"ucap Richard dengan sangat santai.
"Yaudah aku sama kamu ajah. Kita naik motornya barengan"kata Elsa membuat Raja dan Raka terkekeh. Gadis itu benar-benar sangat keras.
__ADS_1
"Gue yakin 100%, bang Richard pasti nolak"bisik Raja pada kembarannya itu.
"Dari ekpresinya ajah, kelihatan banget kalau bang Richard gak suka sama nih cewek"Raka pun ikut berbisik.
"Cowok kok ngegosip"tegur Megan karena mendengar percakapan anak kembarannya itu.
"Seru mom, ngegosipin orang"kata Raka dan Raja bersamaan, membuat Megan tersenyum.
Richard mengambil kunci motornya, lalu berdiri dan menatap Elsa cukup lama. Gadis itu justru tersenyum, seolah merasa kalau Richard menatapnya dengan tatapan suka. Bukannya suka, Richard justru kesal.
"Saya harus menjemput Vira"kata Richard membuat senyuman Elsa hilang.
"Princess, abang pergi dulu. Kalau sudah di markas, telfon abang"Richard mengecup kening Christy. Lalu mengacak gemas rambut adiknya itu.
"Hati-hati di jalan bang"Christy tersenyum manis. Menatap wajah Richard.
"Siap princess"ucap Richard dan tersenyum, lalu pergi dari sana.
Elsa justru mengejarnya, Christy tersenyum karena melihat usaha Elsa untuk menarik perhatian Richard. Namun itu tidak segampang membalikan telapak tangan, Richard memiliki watak yang sangat dingin dan menakutkan.
Berbeda dengan semua orang di mansion, saat ini Revano sudah berada di RD Hospital. Dia sengaja datang lebih pagi, agar bisa menemui Reina.
Revano yang sudah melihat Reina datang, dengan cepat menarik gadis itu ke rooftoop rumah sakit. Saat mereka sudah disana, Reina menatap Revano cukup lama.
"Aku ada salah sama kamu?"Revano langsung menanyakan hal yang ingin di tanyakan nya. Ia menatap lekat mata Reina.
"Rev, kita udah putus. Kamu gak usah nemuin aku lagi"Reina mengalihkan pandangannya. Ia tidak kuat menatap mata Revano.
"Yang punya hubungan, kita berdua. Jadi kalau kita harus putus, itu berarti dengan persetujuan bersama. Dan aku, gak mau kita putus"Revano kembali berbicara, kali ini suara sedikit lebih keras.
"Rev, aku udah punya tunangan. Kita gak bisa sama-sama lagi"ucap Reina yang terlihat sedikit lagi akan menangis.
"Makanya aku tanya Rein, aku ada salah apa? Sampai kamu tunangan sama cowok lain, terus mutusin aku"kata Revano membuat Reina menunduk, bingung harus mengatakan apa.
"Kamu gak punya salah apa-apa Rev. Aku yang salah"kata Reina yang sudah menangis. Hatinya terasa sakit saat mengingat bagaimana ia memutuskan hubungannya dengan Revano.
"Kalau aku gak ada salah, kenapa kamu ninggalin aku Rein? Kamu tahu aku sayang sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu"Revano langsung menggenggam tangan Reina.
Reina terisak saat merasa genggaman tangan Revano, itu terasa sangat hangat. Dia hanya bisa menangis, bingung harus bagaimana.
"Aku gak suka lihat air mata kamu"ucap Revano menghapus air mata Reina, lalu mengelus kepala gadis itu.
"Aku minta maaf Rev, gak seharusnya aku nyakitin kamu. Aku salah dari awal, tapi aku tetap bertahan. Karena aku sayang sama kamu"ucap Reina yang tiba-tiba memeluk Revano.
"Aku gak mau putus Rein. Aku sayang sama kamu"ucap Revano dengan suara yang sangat lembut.
Revano melepaskan pelukannya, lalu Menggenggam tangan Reina dan menatap gadisnya itu. Tatapannya benar-benar dalam. Reina tidak sanggup melihat Revano seperti ini.
"Kalau kamu sayang sama aku. Kamu gak boleh ninggalin aku. Kita harus sama-sama terus Rein"Revano berbicara, dan tatapannya fokus pada mata Reina.
"Rev, aku bukan cewek baik. Aku jahat Rev. Aku udah nyakitin kamu, aku gak pantas buat kamu"kata Reina memalingkan wajahnya, karena tidak kuat melihat Revano.
"Aku gak perduli! Mau kamu nyakitin aku atau gak. Aku cuma mau kamu balik sama aku Rein. Aku mohon"Revano terus memohon.
Rasa cintanya pada Reina, membuatnya tidak malu untuk terus memohon. Ia hanya ingin Reina nya kembali, hanya itu.
"Aku terlalu malu buat natap kamu Rev. Aku takut buat jelasin semuanya"ujar Reina lalu melepaskan genggaman Revano.
"Rein aku mohon, jangan ninggalin aku"kata Revano yang terus memohon, berharap Reina luluh.
"Besok, aku bakal balik ke London. Aku akan ninggalin Indonesian selamanya. Aku akan menatap di London tempat kelahiran aku"kata Reina membuat Revano sangat terkejut.
"Rein kamu udah mutusin aku. Sekarang kamu bilang, mau balik ke London. Sekeras itu usaha kamu buat lupain aku?"tanya Revano membuat Reina menggeleng.
"Andai aku bisa ngulang waktu. Aku mau kenal sama kamu, tapi bukan gini caranya. Cara aku salah Rev, aku salah"ucap Reina membuat Revano mengajak rambutnya frustasi. Reina selalu mengatakan kalau dia salah. Tapi entah apa salahnya.
"Kalau kamu mau tahu apa alasan aku mutusin kamu. Kamu bisa tanya sama abang kamu, yang namanya Richard. Dia pasti tahu semuanya"kata Reina membuat Revano menatapnya bingung.
"Rein hubungan ini, kita yang jalanin. Gak ada hubungannya sama bang Richard"ucap Revano dengan rahang yang mengeras, karena menahan emosi.
"Dia kenal sama aku. Dia tahu siapa aku. Dia tahu alasan kenapa aku ada di Indonesia"Reina kembali berbicara. Setakut itu dia sampai tidak berani menjelaskannya langsung pada Revano.
"Rev mungkin kamu fikir, aku gak sayang sama kamu. Kamu harus tahu, aku sayang banget sama kamu. Maaf karena perasaan aku terlambat tumbuh. Sejak awal, aku gak berniat untuk punya perasaan sama kamu. Tapi hari demi hari, kamu buat perasaan itu tumbuh"ucap Reina lalu mengenggam tangan Revano.
"Ini pertemuan kita yang terakhir. Makasih untuk semuanya Rev. Aku gak akan pernah bisa lupain kamu"lanjutnya lalu pergi meninggalkan Revano.
Revano seketika terduduk lemas, hatinya terasa hancur. Air matanya terus saja keluar. Hari ini hubungannya benar-benar berakhir. Tidak ada harapan lagi.
"Perjuangan gue, apa udah berakhir sekarang?"tanya Revano pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia memukul dadanya berkali-kali, sangat sakit rasanya. Kisah cinta selalu kandas seperti ini. Dulu Putri dan sekarang Reina.
"Tuhan kalau seperti ini akhirnya. Untuk apa engkau membuat perasaanku tumbuh? Untuk apa mengirim seseorang untuk mengisi hatiku. Jika engkau akan membuatnya pergi meninggalkanku."ucap Revano sambil menatap cerahnya langit, mengadukan semua yang dia rasakan saat ini.
"AARRGHH GUE BENCI JATUH CINTA! GUE BENCI!"Revano berteriak sepuasnya, berharap rasa sakit di hatinya bisa hilang.
"Balas dendam yang udah aku atur, justru buat aku terperangkap dengan perasaanku sendiri. Alex maafin aku. Maaf karena ada pria lain yang mengisi hati aku"kata Reina yang melihat Revano berteriak seperti orang kesetanan.
//skip//
Jam menunjukan pukul 10 pagi, Richard dan Elsa sedang berada diruang rapat. Richard dengan teliti mengajarkan semua hal yang harus Elsa ketahui, ketika dia mengelola sebuah perusahaan besar.
Elsa tidak bisa fokus mendengar penjelasan Richard, gadis itu justru menatap kagum wajah tampan Richard.
"Saya datang kesini, untuk mengajarkan kamu tentang perusahaan. Bukannya menjadi objek yang bisa kamu pandangi terus menerus"tegur Richard lalu membanting jurnal tebal, membuat Elsa terkejut.
"Amu mau nanya sama kamu. Untuk apa ada bawahaan, kalau bukan untuk diperintah? Di perusahaan aku, banyak yang bisa aku perintah. Jadi aku gak perlu capek-capek ngelola perusahaan"Elsa tersenyum manis, seolah perkataannya itu bisa membuat Richard senang.
Ekspresi wajah Richard sudah benar-benar tidak mengenakkan, Elsa sudah membuatnya naik pitam.
"Elsa! Dengarkan saya baik-baik"Richard menjeda kalimatnya sebentar. "kamu, dikirim kesini untuk belajar mengenai perusahaan. Kalau kamu tidak mau belajar, sebaiknya berhenti menemui saya. Mengerti!"lanjutnya, lalu menatap tajam gadis di hadapannya itu.
"Alasan aku kesini, bukan untuk belajar. Tapi, aku mau deket sama kamu"ucap Elsa tersenyum manis, lalu menggandeng tangan Richard.
Richard mendorong Elsa menjauh darinya, Elsa cukup terkejut dengan sikap kasar Richard. Dia benar-benar membangunkan singa yang sedang tertidur.
"Jangan melawati batas!"Richard dengan tegas memberitahu Elsa. Ia tidak suka dengan sikap gadis itu.
"Kenapa? Kamu takut cewek miskin itu lihat?"tanya Elsa sinis, membuat Richard tidak suka. Karena Elsa menyebut Vira gadis miskin.
Elsa benar-benar membuat Richard marah. Dia sangat berani menghina Vira di hadapannya, dan itu benar-benar keterlaluan.
"Kamu pasti sudah pernah dengar. Jendral KC, mafia terkuat di dunia. Jendral itu, tidak pernah bisa menahan emosinya"kata Richard yang seketika mengeluarkan aura iblisnya.
"Richard, cewek itu gak sebanding sama kamu! Kamu lebih cocok sama aku. Kita punya derajat yang sama. Kalau kita punya hubungan, perusahaan kamu dan perusahaan aku bisa makin maju"kata Elsa membuat Richard memperlihatkan smirk andalannya.
"Dari awal kita ketemu, aku udah suka sama kamu. Aku mau kamu"ucap Elsa lalu dengan cepat memeluk tubuh Richard.
Entah Richard sedang sial atau apa, saat gadis itu memeluknya tiba-tiba Vira masuk. Vira terkejut saat melihat Elsa memeluk Richard.
"Richard"panggil Vira membuat Richard sedikit terkejut, lalu berbalik menatap Vira.
Richard mendorong Elsa menjauh, lalu mendekat kearah Vira. Vira bingung harus bagaimana. Marah? Sedih? Entahlah.
"Kita bicara diluar"Richard langsung memegang tangan Vira.
"Dan untuk kamu. Kamu sudah salah karena berurusan dengan saya"Richard menunjuk Elsa, lalu pergi membawa Vira.
Richard membawa Vira keruangannya, ia menutup pintu lalu menguncinya. Vira masih diam, menunggu Richard menjelaskannya.
"Kamu marah sama saya?"Richard langsung bertanya pada Vira. Ia tidak ingin kekasihnya itu salah paham.
"Dia yang meluk kamu? Kamu yang meluk dia? Atau kalian emang mau pelukan berdua?"Vira bertanya dengan nada yang terdengar sangat lembut.
"Dia yang meluk saya tiba-tiba"jawab Richard singkat.
"Aku kira kamu yang meluk dia duluan"Vira mengalihkan pandangannya.
Richard menghembuskan nafasnya gusar, ia tidak suka jika Vira mengalihkan pandangannya.
"Saya harus bagaimana, supaya kamu percaya?"tanya Richard lalu membalikan tubuh Vira, agar gadis itu menatapnya.
"Gak tahu kenapa, sekarang aku takut buat percaya sama kamu. Aku takut kecewa lagi untuk yang kedua kalinya. Aku takut kamu sama seperti Farel"ucap Vira membuat Richard mengertukan dahinya, bingung dengan apa yang Vira katakan.
"Richard, aku gak tahu hubungan kita akan sampai ditahap mana. Tapi aku udah sayang banget sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu"Vira kembali berbicara. Kali ini ia berani menatap mata tajam milik Richad.
"Sudah saya bilang. Saya tidak akan ninggalin kamu"Richard berbicara dengan sangat yakin, ia mengenggam erat tangan Vira.
"Aku dengar obrolan kamu sama Elsa tadi"Vira tersenyum tipis. Mengingat semua kalimat yang Elsa keluarkan.
"Aku rasa, omongan Elsa ada benarnya. Hubungan kita gak akan ada untungnya sama sekali. Sedangkan kalau kamu sama Elsa, perusahaan kalian akan semakin sukses"kata Vira membuat Richard marah.
"Kamu fikir, saya berhubungan dengan kamu untuk mendapatkan keuntungan? Kalau seperti itu, lebih banyak gadis dari perusahaan-perusahaan besar yang bisa saya pacari. Tapi saya pilih kamu, karena itu kamu!"kata Richard yang terdengar sangat tulus.
"Vira dengarkan saya baik-baik. Kamu tidak harus selalu mendengar perkataan orang-orang. Dalam sebuah hubungan, pasti akan ada rintangan. Entah itu orang ketiga, atau apapun itu. Saya hanya mau, kamu percaya sama saya"ucap Richard lalu menggenggam tangan Vira.
"Suata saat nanti, kalau kamu udah gak ada perasaan sama aku. Please buat perasaan itu balik lagi. Aku udah pernah dibohongin sama Farel. Kamu yang terakhir Richard. Kalau kamu juga bohongin aku, mungkin kamu gak akan pernah lihat aku lagi"kata Vira membuat dada Richard terasa sedikit sesak.
Richard merasa hatinya sakit, perasaannya untuk Vira entah seperti apa. Tapi ia merasa bersalah, karena sejak awal membohongi Vira. Entah perasaan cinta itu sudah tumbuh atau belum, tapi ia tetap merasa bersalah.
__ADS_1
Richard langsung memeluk Vira, lalu mengelus lembut rambut gadisnya itu. Hari demi hari, Richard selalu merasa bersalah.
"Perasaan saya untuk kamu, entah seperti apa. Maaf... Seharusnya saya tidak sejauh ini"batin Richard.