Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 57


__ADS_3

Seluruh anggota KC berkumpul di mansion milik Richard. Semua orang khawatir dengan kondisi Richard dan juga Christy, keduanya terluka sangat parah. Terlebih lagi keduanya terkena tembakan.


Steven tidak membiarkan Richard dan Christy di bawah ke rumah sakit. Dokter yang menjadi kepercayaan anggota KC, di percayainya untuk melihat kondisi Richard dan Christy.


Michel yang melihat Christy di penuhi darah, membuatnya teringat kejadian tiga tahun lalu.


Terlihat sangat mirip. Christy di penuhi darah dan mata cantik itu tertutup. Michel membantu dokter yang Steven bawa ke mansion, ia berusaha fokus meski rasanya kakinya sangat lemas.


"Nona Christy sudah pernah di operasi, anda yang mengoperasinya?" tanya dokter itu pada Michel.


"Iya dok".


"Kita harus mengoperasi mereka. Sekarang!" ucap dokter itu. Michel terkejut mendengar perkataan dokter itu.


Mana bisa melakukan operasi di mansion ini, peralatan juga tidak begitu lengkap. Keadaan Christy dan Richard bisa semakin buruk.


"Dok, kita tidak bisa melakukan operasi di sini. Kita harus ke rumah sakit, saya akan telfon ambulance" kata Michel yang hendak menelfon ambulance, namun hp nya di rampas oleh dokter itu.


"Kita tidak punya banyak waktu. Kita bisa kehilangan mereka" tegas dokter itu dengan dengan wajah yang sangat serius.


Mau tidak mau Michel harus mengikuti perkataan dokter itu, ia menyiapkan beberapa alat yang berada di mansion.


Setidaknya alat-alat penting untuk operasi tersedia di mansion.


"Anda bisa memilih, nona Christy atau tuan Richard" ucap dokter itu, menyuruh Michel memilih siapa yang harus di operasinya.


Dengan keputusan yang sangat berat, Michel memilih mengoperasi Richard. Is tidak mempercayai dirinya sendiri untuk mengoperasi Christy.


"Saya akan mengoperasi abang saya" ucap Michel singkat.


Mereka berdua lansung melakukan operasi, dengan alat seadanya. Darah dari dada Richard dan Christy tidak berhenti sejak tadi. Michel berusaha fokus pada operasi ini, ia tidak bisa melakukan kesalahan.


"Bang, gue tahu lo kuat" ucap Michel dengan tangan yang berusaha mengeluarkan peluru dari dada Richard.


Michel terkejut saat mendengar alat pendeteksi detak jantung milik Christy berbunyi cukup keras.


Darah segar terlempar kewajah dokter yang mengoperasi Christy. Segala macam cara di lakukan dokter itu, agar darah yang keluar dari dada Christy bisa berhenti.


"Tuhan situasi apa lagi ini" ucap Michel yang khawatir dengan kondisi Christy dan juga Richard.


Keduanya seperti terhubung satu sama lain, kondisi mereka sama-sama parah. Michel terus berusaha melakukan yang terbaik untuk Richard.


Kamar yang mereka tempati untuk operasi, sudah di penuhi darah. Michel benar-benar merasa trauma melihat darah sebanyak itu.


Berkali-kali ia memasuki ruang operasi, berhadapan dengan banyak darah. Namun baru kali ini, badannya bergetar hebat karena melihat banyak darah.


"Dokter Michel, telfon pihak rumah sakit. Kita membutuhkan 5 kantong darah sekarang" perintah dokter itu, dengan wajah yang terlihat khawatir.


Tanpa fikir panjang, Michel menekan satu angka di hpnya yang langsung menyambung ke RD hospital.


Setelah memberi tahu apa yang ia butuhkan, pihak rumah sakit dengan cepat mengikuti perintah Michel.


"Dokter, darah terus meneru keluar. Kita bisa kehilangan mereka kalau seperti ini" kata Michel menatap dokter yang mengoperasi Christy.


"Nasib mereka sekarang tergantung seberapa cepat kantong darah itu sampai di sini" dokter itu pun terlihat frustasi saat ini.


Michel terus berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Richard, darah yang terus keluar membuatnya sulit untuk menyentuh peluru itu.


Hingga akhirnya ia bisa mengeluarkan peluru dari dada Richard, setidaknya ia bisa bernafas lega.

__ADS_1


Begitu juga peluru yang ada di dada Christy, namun darah terus keluar. Michel dan dokter itu bingung kenapa darah dari dada keduanya terus keluar.


"Dimana mereka" ucap Michel dengan emosi yang memuncak. Karena merasa pihak rumah sakit terlalu lama.


Michel memutuskan untuk keluar dari kamar itu, semua orang yang menunggu di luar terkejut saat melihat Michel di penuhi darah.


Semua anggota KC merasa tidak tenang, takut jika leader dan jendral mereka kenapa-napa.


"Gimana?" tanya Steven yang terlihat sangat khawatir.


Michel hanya diam, bingung harus menjawab apa. Steven yang emosi, langsung memukul Michel cukup keras hingga hidung dan bibirnya berdarah.


Faris langsung menarik Steven menjauh dari Michel.


"Lo gak apa-apa kan?" tanya Dimas membantu Michel berdiri, dan menghapus darah yang keluar dari hidung Michel.


"GUE TANYA BEGO. JAWAB!" bentak Steven dengan emosi yang benar-benar sulit di tahan.


Tiba-tiba dua orang yang berpakain rumah sakit datang, Michel langsung merebut kotak yang mereka bawa.


Saat hendak masuk kembali kedalam kamar, Michel berbalik menatap semua orang.


"Gue tahu kalian semua khawatir. Tapi kalian juga harus tahu, gimana perasaan gue ada di dalam sana" ucap Michel lalu kembali masuk ke kamar.


"Lo gak bisa kayak tadi Steven. Michel udah berusaha semampu dia, lo harus mikir perasaan dia ngelihat istrinya di kondisi kayak gini" tegas Faris mencoba membuat Steven mengerti.


Di dalam kamar, Michel dan dokter itu memasangkan infus dengan cairan yang berisi darah.


Setidaknya itu bisa membantu saat ini, sedikit demi sedikit darah yang keluar dari dada Christy dan Richard mulai berhenti.


"Kita berhasil" kata dokter itu yang akirnya bisa bernafas lega.


Namun perasaan lega itu seketika menghilang, saat mereka kembali memeriksa keadaan Christy dan Richard.


"Enggak Chris, enggak. Aku mohon jangan lagi" ucap Michel lirih.


"AAARRGH" Michel berteriak dengan emosi yang meluap.


Ia berkali-kali memukul tembok hingga tangannya mengeluarkan darah.


"Tenang dokter Michel, anda harus sabar" kata dokter itu berusaha membuat Michel tenang.


Dokter itu langsung membawa Michel keluar dari kamar, menemui semua orang menunggu sejak tadi.


"Dokter, bagaimana keadaan anak-anaknya saya?" tanya Wijaya yang terlihat sangat khawatir.


"Michel, gimana hmm?" tanya Siska yang tak kalah khawatir.


"Maafin Michel bun" ucap Michel dengan air mata yang secara tiba-tiba keluar begitu saja.


Semua orang menjadi sangat panik, saat mendengar perkataan Michel. Mereka benar-benar takut jika hal buruk terjadi.


"Bagaimana? Mereka baik-baik ajah kan?" tanya Steven menatap Michel dan dokter itu.


"Operasi yang kami lakukan, sudah berhasil. Tapi..." ucap dokter itu yang berhenti sejenak.


"Tapi?" tanya Fara yang tidak bisa tenang sejak tadi.


"Mereka berdua dalam kondisi koma saat ini" ucapnya singkat.

__ADS_1


Semua keluarga dan anggota KC seketika merasa kalau kaki mereka lumpuh. Mereka benar-benar terkejut mendengar perkataan dokter itu.


Kedua orang hebat itu koma? Mereka tidak sadar? Lalu bagaimana selanjutnya?


"Maksud dokter apa? Abang dan adik saya kenapa? JAWAB!" teriak Steven yang benar-benar tidak bisa menerima situasi ini.


"Maafkan saya tuan, saya sudah berusaha. Tapi mereka berdua dalam keadaan koma saat ini, saya tidak bisa memastikan kapan mereka bisa sadar" ucap dokter itu.


Steven merasa dadanya seperti ditabrak beribu-ribu baton, terasa sangat sakit.


Masalah terus saja berdatangan silih berganti, dulu Christy lalu sekarang? Michel yang kehilangan keseimbangan hampir saja jatuh tersungkur, namun Dimas langsung menahannya.


Dimas merasa seperti kembali ke masa lalu, masa di mana ia menyaksikan kerapuhan dari Michel sahabatnya itu.


"Saya akan terus mengontrol kondisi mereka berdua" kata dokter itu sambil menepuk pundak Steven. Lalu dia pergi dari sana.


"Lo dokter yang paling hebat di rumah sakit, lo harus bisa sembuhin abang dan adik gue" tegas Steven yang tiba-tiba menarik baju Michel.


"Gu-gu-gue..." ucap Michel dengan terbata-bata. Situasi saat ini sangat berat baginya.


"Bisa tenang gak? BISA TENANG GAK HA?!" teriak Raja dengan penuh emosi.


Steven yang terus memojokan Michel, membuat Raja benar-benar emosi. Bertengkar di saat seperti ini bukanlah hal yang penting.


"Michel emang dokter, tapi dia bukan Tuhan. Bang, lo harus ngerti posisi Michel sekarang. Yang koma sekarang, bukan hanya abang dan adik lo. Tapi istri dan kakak ipar Michel. Mikir bang!" ucap Raja yang berhasil membuat Steven terdiam.


"Sudah tidak usah berdebat! Kalian semua sudah dewasa, kalian bukan anak SD yang menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini!" tegur Wijaya selaku kepala keluarga.


"Sebaiknya kalian memikirkan keadaan Richard dan Chris" lanjutnya yang hanya bisa di dengarkan mereka semua.


"Michel, ikut ke ruang kerja daddy" ucap Wijaya lalu berjalan lebih dulu, lalu Michel menyusulnya.


"Mereka akan di rawat di mansion ini" kata Steven memberikan keputusan finalnya, lalu pergi dari sana.


Sedangkan di ruang kerja milik Wijaya, terlihat Michel yang duduk tenang dengan tatapan yang benar-benar kosong.


Wijaya langsung duduk di samping menantunya itu, lalu secara tiba-tiba memeluknya.


"Terimakasih sudah berjuang demi putri daddy" ucap Wijaya yang mati-matian menahan air matanya.


"Tapi aku gagal, dad. Chris kembali tidur, entah akan lama atau tidak" kata Michel dengan suara yang bergetar karena menangis.


Wijaya melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Michel. Melihatnya seperti itu, membuat ia merasa sangat sedih.


"Kamu pria paling bertanggung jawab yang daddy kenal. Kamu tidak gagal Michel, kamu berhasil. Kamu berhasil menjadi pria yang menjaga gadisnya dengan baik" kata Wijaya berusaha tetap tersenyum.


"Terkadang kita tidak bisa memaksakan diri untuk melawan takdir. Semua yang terjadi adalah takdir, dan kita hanya perlu menjalaninya" lanjutnya sambil menepuk pundak Michel.


"Dad, apa aku boleh jujur?" tanya Michel dengan tatapan yang sangat sendu.


Wijaya langsung mengangguk, mengiyakan pertanyaan Michel barusan.


"Aku takut dad...... Aku takut gak bisa lihat mata cantik Chris kembali terbuka. Aku takut kehilangan orang yang paling aku cintai" ucap Michel bersamaan dengan air matanya yang kembali terjatuh.


Tanpa aba-aba, Wijaya langsung memeluk Michel sangat erat. Air matanya yang ditahannya sejak tadi, akhirnya terjatuh saat mendengar perkataan Michel.


Wijaya tidak bisa berbohong, ia juga takut kehilangan putri kesayangannya itu.


"Putri daddy adalah orang yang paling kuat, daddy yakin dia pasti bisa membuka matanya" ucap Wijaya yang susah payah menahan isakannya.

__ADS_1


"Tuhan, jangan engkau ambil putriku. Ambil saja nyawaku, jangan putri kecil ku" batin Wijaya sendu.


"Entah apa salah ku, Tuhan. Hingga engkau menghukum ku dengan cara seperti ini, engkau kembali memisahkan raganya. Aku mohon jangan seperti ini, aku masih ingin membuat kisah indah bersamanya" batin Michel.


__ADS_2