
Jam menunjukan pukul 10 malam. Revano, Steven, Faris dan Raja mendatangi sebuah mansion yang lumayan besar.
Mansion itu adalah milik Farhan. Tunangan Reina. Revano sudah memikirkan secara baik-baik, dia ingin hubungannya membaik. Walau sejak awal dia telah di bohongi Reina.
"Kita kesini, hanya untuk membawa Reina pergi. Tidak boleh ada yang terbunuh"kata Steven memperingati mereka semua.
"Bang. Terus kita harus gimana sekarang?"tanya Raja yang menatap Steven.
"Revano, Lo ingat ini baik-baik. Reina ada di lantai 2, di kamar yang warna pintunya putih. Di lantai 2 ada 4 kamar, dan hanya ada 1 pintu yang warnanya putih. Waktu Lo cuma 15 menit, bawa dia keluar"kata Steven yang sudah menyusun strategi sejak awal.
"Kalian gimana?"Revano mengkhawatirkan mereka.
"Ngehadang anak buah cowok bajingan itu"kata Steven yang sudah menampilkan smirk andalannya.
Faris menatap Revano cukup lama. Dia khawatir jika Revano terluka, Steven tersenyum saat melihat wajah Faris yang sangat tegang.
"Kalau Lo bisa ngelawan orang-orang itu. Adik Lo gak bakal kenapa-napa"kata Steven yang mengerti ke khawatir Faris.
"15 menit Revano. Ingat!"Faris menepuk pundak adiknya itu.
Revano mengangguk, lalu masuk melewati gerbang belakang mansion itu. Sedangkan Steven dan yang lain, mereka masuk melewati gerbang depan.
Tentu saja mereka disambut dengan banyak orang berbadan besar. Steven menampilkan smirk andalannya.
"Death awaits"kata Steven lalu mulai menyerang beberapa orang.
Sedangkan Revano, dia sudah masuk kedalam mansion. Dia berlari menaiki tangga dan melihat seluruh kamar yang ada di lantai 2. Benar kata Steven, hanya ada satu kamar yang pintunya berwarna putih.
Tanpa aba-aba, Revano mendobrak pintu itu hingga terbuka lebar. Seorang gadis yang ada di dalam, seketika terkejut. Gadis itu adalah Reina.
Revano mendekat kearah Reina. Lalu memeluk kekasihnya itu, Reina masih bingung dan terkejut.
"Aku gak terlambat"ucap Revano dengan nafas yang memburu.
"Kamu kenapa bisa disini? Kamu gak boleh disini Rev. Kamu harus pergi sekarang"Reina melepaskan pelukan itu.
"Aku pasti pergi. Tapi sama kamu"Revano memegang tangan Reina. Lalu membawa gadis itu keluar.
Saat hendak turun dari tangga. Mereka bertemu dengan Farhan, si pemilih mansion itu.
"Aku mohon jangan sakiti dia"Reina langsung menarik Revano kebelakangnya. Revano menatap Farhan tajam.
"Reina, aku udah peringatin ke kamu kan. Berhenti ketemu sama cowok ini"kata Farhan yang yang terlihat marah.
"Jadi cowok, jangan suka maksa!"kata Revano. Lalu ia mendorong Farhan.
Reina dengan cepat menarik Revano menjauh dari Farhan. Ia takut jika kedua pria ini berkelahi.
"Apa perlu, rahasia kamu aku bongkar sekarang"Farhan tersenyum sinis menatap Reina.
"¿Que secreto? Todo se descubre estupido(Rahasia apa? Semuanya sudah terbongkar bodoh!)"kata Steven yang berbicara menggunakan bahasa spanyol.
Steven, Faris dan Raja baru saja selesai mengurus semua penjaga di mansion. Farhan lumayan terkejut, saat melihat ada Steven dimansionnya.
"Gak ada yang harus Lo bongkar lagi. Gue udah tahu semuanya"kata Revano membuat Reina sangat terkejut.
"Rev, maksud kamu apa?"tanya Reina.
"Aku tahu kamu pacarnya Alex. Aku juga tahu alasan kamu pacaran sama aku apa"Revano semakin membuat Reina terkejut.
"Rev, bawa Reina pergi dari mansion ini"kata Steven membuat Revano mengangguk.
Revano langsung membawa Reina pergi dari sana. Farhan yang ingin mengejar, langsung di tahan oleh Steven dan Faris.
"Nuestro negocio no ha terminado, hombre (urusan kita belum selesai kawan)"kata Steven dengan smirk andalannya.
"Fuera de mi vista estúpido! (minggir dari hadapanku bodoh)"kata Farhan yang terpancing emosi.
BUGH
Satu pukulan diberikan Raja tepat di kepala Farhan. Pria itu tejatuh dan pingsan. Steven dan Faris menatap Raja.
"Kelamaan. Segala acara ngomong bahasa spanyol lagi. Gak ngerti!"kata Raja membuat Steven dan Faris menatapnya kesal.
"Keturunuan keluarga Raymond. Harusnya bisa menguasai paling sedikit 7 bahasa"Steven menatap adiknya itu.
"Terus dia mau di gimanain?"tanya Raja menunjuk Farhan yang terbaring di lantai.
__ADS_1
"Yang pukul dia, Lo kan. Ya tanggung jawab, bawa sampai di markas"kata Steven berjalan lebih dulu.
"Bang, gue sendirian nih?"tanya Raja menahan Faris yang hendak menyusul Steven.
"Yang mukul kan kamu. Ya tanggung jawab lah"Faris langsung berlari menyusul Steven.
"Gue laporin ke bang Richard nanti!"kata Raja kesal. Lalu mengangkat tubuh Farhan.
//Skip//
Jam menunjukan pukul 12 malam. Revano membawa Reina ke mansion. Revano menyuruh Reina untuk tidur dikamarnya, sedangkan ia akan tidur di kamar Raja.
"Ini baju punya Chris. Aku gak tahu pas buat kamu atau gak. Tapi cuma semalam, pakai ajah dulu"kata Revano, lalu memberikan sepasang baju tidur untuk Reina.
Saat Revano hendak keluar dari kamar, tiba-tiba Reina menahannya.
"Rev, maafin aku"kata Reina membuat Revano tersenyum tipis.
"Besok ajah dibahasnya. Udah malam Rein, kamu tidur ajah"Revano berusaha terlihat biasa saja. Meskipun sebenarnya hatinya terasa sangat sakit.
"Kamu udah tahu semuanya. Tapi kenapa masih mau lihat muka aku? Masih mau bantuin aku?"tanya Reina. Membut Revano yang sudah membuka pintu, langsung berbalik menatap kekasihnya itu.
"Because I love you.... "kata Revano, lalu keluar dari kamarnya itu.
Reina terdiam sejenak. Ia sudah menyakiti pria setulus Revano. Benar-benar bodoh. Balas dendam yang sudah dia rencanakan, justru menjadi luka untuk dirinya sendiri.
Reina terperangkap dengan perasaannya sendiri. Revano berhasil membuatnya nyaman, berhasil membuatnya jatuh cinta lagi.
"Maafin aku Rev. Aku bodoh karena udah nyakitin kamu"Reina terisak. Ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
Revano masih diluar, tepat didepan pintu kamarnya itu. Hatinya juga sakit, saat mengetahui kebohongan Reina. Tapi cintanya jauh lebih besar, kesalahan yang sudah Reina perbuat tidak membuat cintanha hilang.
"Are you okay,?"tanya seorang gadis, yang tidak lain adalah Zee.
Gadis itu hendak turun untuk mengambil air. Tapi dia mengurungkan niatnya, saat melihat Revano berdiri sendirian didepan kamar.
"No.... I'm broken"kata Revano membuat Zee tersenyum tipis.
Saat Zee hendak turun, Revano langsung menahan tangannya. Zee menatap Revano.
"Air di kamar gue udah habis. Mau gue isi nih"Zee menjawab pertanyaan Revano.
"Yaudah bareng ajah. Gue juga mau ngambil air".
Mereka berdua langsung turun kebawah. Sudah sangat gelap, Revano lebih dulu menyalakan lampu agar lebih terang.
Zee mengisi termos, begitu juga dengan Revano. Keadaan sedikit canggung saat ini.
"Soal hari ini.... Gue minta maaf. Gue gak bisa ngontrol emosi"kata Revano, mengingat kelakuannya pada Zee.
"Lo gak salah kali. Lo ada benarnya juga sih, kalau gue gak ada. Pasti semuanya gak akan kayak gini"Zee tersenyum tipis. Ia juga merasa kalau kehadirannya adalah sebuah malapetaka.
"Gue gak bermaksud ngomong gitu"Revano kembali berbicara.
"Tahu gak, gue bersyukur banget bisa kenal sama Chris. Dia cewek paling kuat, paling sabar, bahkan paling bisa maafin semua orang yang udah nyakitin dia. Ya salah satunya gue"kata Zee yang menatap Revano.
"Gue belajar banyak dari dia. Gue bisa lebih sabar ngehadapin hidup, bisa ngerelain apa yang bukan hak gue, bisa jadi orang yang lebih baik"lanjutnya.
Zee merasa, Chris adalah gadis yang sangat sulit ditemui di dunia ini. Gadis yang banyak menyimpan luka, namun masih bisa tetap tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Lo gak perlu minta maaf. Kesalahan gue jauh lebih besar"Zee tersenyum menatap Revano.
"Lo emang udah berubah"Revano pun membalas senyuman gadis itu.
"Seru banget nih kayaknya"kata seorang pria yang tidak lain adalah Raja.
"Baru pulang? Dari mana ajah?"tanya Revano menatap Raja.
"Ada urusan dikit di markas"jawab Raja, lalu mengambil minuman dingin di kulkas.
"Nih dari bang Reza"Raja memberikan sebuah kotak kecil untuk Zee.
"Udah 3 hari, dia gak ada kabar sama sekali. Dia gak apa-apa kan?"tanya Zee yang tidak mendapatkan kabar dari Reza sejak 3 hari lalu.
"Bang Reza banyak misi. Katanya sih nanti subuh, dia mau ke Amerika"kata Raja.
"Makasih ya udah ngasih ini. Gue ke kamar duluan"kata Zee lalu pergi dari sana.
__ADS_1
"Si Zee sama bang Reza. Hubungannya gimana sih?"tanya Revano penasaran.
Reza dan Zee jika di lihat tidak memiliki hubungan, tapi jika di lihat lebih teliti lagi seperti ada sebuah hubungan. Revano menjadi penasaran akan hubungan keduanya.
"Tahu gak, jemuran yang digantung sama emak-emak?"tanya Raja membuat Revano mengangguk.
"Nah, kayak gitu hubungan mereka. Emak-emaknya itu bang Reza, nah jemurannya si Zee. Digantungkan Mulu!"kata Raja yang tersenyum sangat lebar. Ia senang karena berhasil membuat Revano kesal.
"Semerdeka Lo deh. Gak ngerti gue!"
"Si Reina mana?"Raja tiba-tiba menanyakan keberadaan gadis itu
"Kamar gue".
"Gue tidur bareng Lo ya"kata Revano membuat Raja mengangguk.
Mereka langsung naik kelantai dua. Saat mereka masuk ke kamar, mereka sangat terkejut melihat keadaan kamar yang sangat berantakan.
"Kalian masuk cepat. Tutup pintunya"kata Richard yang ada di dalam kamar.
Raja dan Revano langsung masuk ke kamar, lalu menguncinya. Mereka berdua sedikit bingung, kenapa ada Richard dikamar itu dan kenapa bisa berantakan seperti ini.
"Abang habis ngapain sih? Kenapa berantakan gini kamarnya?"tanya Raja yang tidak suka jika kamarnya seperti kapal yang terbalik.
"Jam tangan Abang hilang. Bantu cari cepat!"kata Richard yang masih membongkar barang-barang di kamar Raja.
"Bang, nyari barang boleh-boleh ajah. Tapi gak harus buat kamar aku jadi kayak gini. Hancur bang astaga"kata Raja mengacak rambutnya kesal.
Raja sangat risih jika melihat barang-barang yang tidak teratur, terlebih lagi kamarnya yang hancur seperti ini.
"Bang, jam tangannya bang Richard kan masih banyak. Harus banget nyari yang hilang gitu?"tanya Revano yang membantu Richard mencari jam tangan itu.
"Jam tangan itu beda dari yang lain. Cari cepat!"kata Richard yang tidak bisa tenang. Sebelum jam tangannya itu bisa dia dapatkan kembali.
"Jam segini tidur, NO. Jam segini nyari jam tangan, OH YES"kata Raja kesal.
"Protesnya nanti saja. Cari saja dulu"kata Richard melemparkan remot AC ke kepala Raja.
"BANG, SAKIT!"teriak Raja yang sangat kesal.
Richard hanya mengangkat bahunya, seolah tidak merasa bersalah. Lalu kembali mencari jam tangannya itu.
"Kenapa harus nyari disini bang? Emang, Abang sering masuk ke sini?"tanya Revano bingung.
"2 kali. Abang masuk kesini 2 kali, mungkin jam tangannya ada disini"kata Richard yang semakin membuat Raja ingin menangis
"Kamar yang sering Abang masukin itu, cuma kamarnya Chris sama bang Steven. Mungkin ada disana kan"Raja semakin kesal
"Dikamar Steven tidak ada. Di kamar princess juga tidak ada".
"Emang jam tangannya kayak gimana sih?"tanya Raja bingung. Ia terus saja membongkar barang-barang, tanpa tahu seperti apa jam tangan itu
"Warna hitam, ada ukiran nama Abang di jam itu. Nama kamu sama Raka. Dan ada satu nama lagi"kata Richard membuat Raja bingung.
"Nama gue? Bang Raka juga? Sejak kapan Abang punya jam tangan ukirannya nama kita?"tanya Raja yang merasa tidak pernah melihat jam tangan itu.
"Dibalik jam tangan itu, ada nama kalian. Sejak kalian lahir, Abang sudah membuat jam tangan itu"kata Richard membuat Raja terdiam.
Sedetail itu kah Richard? Membuat ukiran nama kedua adiknya? Benar-benar orang yang sulit di tebak.
"Ini?"tanya Revano memegang sebuah jam tangan. Sambil menatap jam tangan itu dengan teliti, mencoba mencari nama Raja dan Raka yang Richard maksud tadi.
"Beneran ada nama Lo, Ja"kata Revano tersenyum. Sambil mengelus ukiran nama Raja yang tertulis sangat indah.
Raja dengan semangat mengambil jam tangan itu. Lalu tersenyum saat melihat benar-benar ada namanya disana.
Raja mencoba membaca satu nama lagi. Tapi terlihat sangat sulit, Ada delapan hurup tapi sulit di baca.
"Ini nama siapa bang?"tanya Raja namun Richard langsung mengambil jam tangan itu. Lalu memakainya.
"Memangnya kamu tidak bisa membaca?"tanya Richard.
"Ada delapan huruf, tapi tulisnnya tidak jelas. Ceweknya Abang ya?"tanya Raja yang mencoba menggoda Richad.
"Tapi kak Vira cuma 4 huruf kan"kata Revano membuat senyuman Raja hilang. Ia baru mengingat jika abangnya itu sudah memiliki Vira.
"Sudah malam. Kalian tidur saja"kata Richard mengacak rambut Raja dan Revano. Lalu keluar dari sana.
__ADS_1