
Sudah 2 hari sejak rumor yang beredar di berita. Keadaan belum juga membaik, justru semakin memanas.
Semakin banyak foto yang beredar, Raja semakin di sudutkan sekarang. Raja mati-matian untuk menahan beberapa perusahaan, yang masih bekerja sama dengannya.
Sudah 2 hari Raja tidak bisa tidur. Semua orang mengkhawatirkannya. Sedangkan Richard? Dia hanya diam, entah apa rencana pria dingin itu.
Saat ini Raja sedang berada di ruang keluarga, mengurus beberapa berkas perusahaan.
"Bang Raja" panggil Christy yang baru saja turun.
"Iya, kenapa Chris?" tanya Raja sambil tersenyum pada Christy.
Christy berjalan ke arah Raja, lalu duduk di sebelah abangnya itu. Christy menatap semua berkas yang berhamburan, sudah 2 hari pemandangan yang sama disaksikannya.
"Abang gak boleh maksaiin diri kayak gini" ucap Christy lalu menggenggam tangan Raja.
"Abang juga gak bisa santai, Chris. Masalah semakin runyam, perusahaan di ujung tanduk sekarang"kata Raja yang juga menggenggam tangan Christy.
Christy bisa melihat kehancuran, kesedihan, kelelahan di mata Raja. Semuanya menjadi satu.
"Aku tahu Abang mati-matian menjaga perusahaan. Tapi bang, bukan dengan cara menyiksa diri seperti ini" kata Christy yang sangat khawatir pada Raja.
"Seharusnya, bukan Abang yang ayah percaya untuk menjaga perusahaan. Lihat, sekarang semua hancur" Raja tersenyum tipis, ia menunduk merasa bersalah.
Perusahaan mungkin akan bangkrut, dan semua itu karenanya. Ia merasa gagal menjaga tanggung jawab yang Raymond berikan.
"Bang, ini keputusan ayah untuk mempercayakan perusahaan ke bang Raja. Itu berarti, ayah yakin kalau bang Raja bisa" kata Christy berusaha menyemangati Raja.
"Perusahaan Abang gak akan bangkrut. Selama JP Morgan Chase, perusahaan aku masih menanam saham di perusahaan Abang" Christy terus berusaha meyakinkan Raja.
"Chris, kalau perusahaan kamu tetap bekerja sama dengan perusahaan Abang. Kamu juga akan kena imbasnya" Raja pun terus memperingati adiknya itu.
"Bang, perusahaan aku gak akan goyang dengan rumor tidak jelas yang beredar. Bang Raja gak usah khawatir" ucap Christy.
"Raja mana?" tanya Fikra pada seorang maid. Fikra baru saja tiba di mansion. Bersama Dimas dan Michel.
"Fik" panggil Raja membuat Fikra menoleh.
Fikra langsung menghampiri Raja dan Christy. Dimas dan Michel mengikuti langkah Fikra, ketiga pria itu menampilkan raut wajah yang sulit di artikan.
"Ini apaan?" tanya Raja saat Fikra memberikannya sebuah amplop bewarna coklat.
"Gue sama yang lain dari bar Elixilous. Kita dapet itu. Lo lihat ajah" ucap Fikra membuat Raja dengan cepat membuka amplop itu.
Ada banyak foto seorang pria yang sangat mirip dengannya. Foto-foti itu yang beredar di semua stasiun televisi.
"Ini data mereka" ucap Michel lalu memberikan sebuah flashdisk.
Raja langsung menancapkan flashdisk itu ke laptopnya. Ada dua biodata seorang pria, salah satunya memiliki wajah yang sama dengannya.
"Levin Adinata?" Raja sedikit bingung saat menyebut nama pria yang wajahnya mirip dengannya itu
"Levin Adinata dan Arka Radhian. Mereka sepasang kekasih" ucao Dimas membuat Raja terkejut dan sedikit geli mendengarnya.
"Mereka berdua sering datang ke bar Elixilous. Jadi gak susah buat dapat data mereka" kata Michel membuat Raja mengangguk
"Tapi gue masih bingung. Kenapa dia bisa semirip itu sama gue. Gue ngerasa kembar 3 tahu gak" ucap Raja mengingat dia punya Raka kembarannya.
"Gue juga bingung Ja. Orang emang bisa mirip, tapi semirip ini? Gak masuk akal kan" ucap Fikra yang frustasi memikirkan semua ini.
"Apa ayah punya anak lagi?" tanya Raja membuat mereka semua menatapnya terkejut.
"Jangan asal ngomong" bantah Steven yang berjalan menghampiri mereka semua.
"Bang Steven. Abang dengar?" Raja sedikit terkejut dengan kedatang Steven.
"Semuanya" ucap Steven menampilkan smirk andalannya.
"Ayah gak punya anak lagi. Selain kita Ja" ujar Steven namun masih membuat Raja penasaran.
"Apa mungkin, cowok itu sengaja buat berita dimana-mana. Mungkin ajah dia operasi plastik kan" Dimas mencoba menebak semua yang terjadi.
"Ohh jadi namanya Levin" Steven melihat data Levin di laptop Raja.
"Dia gak operasi plastik" ucap Steven lalu duduk di samping Christy.
"Lo tahu dari mana bang?" Raja sekalian penasaran dengan sosok Levin.
"Kalian ingat gak, waktu gue pulang dengan keadaan mabuk. Sampai keadaan gue parah banget waktu itu" ucap Steven membuat semua orang mengangguk.
"Cowok ini yang nganterin gue sampai mansion" lanjutnya, lalu menunjuk foto Levin. Semua orang tentu saja terkejut.
"Lo yakin bang?" tanya Raja membuat Steven mengangguk.
"Waktu itu, gue kira dia Lo Ja. Gue emang mabuk, tapi gue masih bisa mastiin orang itu siapa. Seperti yang Zee bilang, cowok itu punya bekas luka di dahinya" kaya Steven yang sangat yakin kali ini.
"Maaf mengganggu tuan. Diluar ada tamu, katanya tamunya nona Christy" kata seorang maid yang datang menghampiri mereka.
"Suruh dia masuk" perintah Christy.
Maid itu langsung memanggil orang yang dimaksudnya tadi. Semua orang menatapnya bingung, wajah pria itu asing untuk mereka.
"Dia siapa?" tanya Michel.
"Lo Kelana kan?" tanya Raja yang sedikit ingat dengan wajah pria itu.
"Iya bang, dia Kelana anggota KC" ucap Christy membuat Raja mengangguk.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Raja.
"Sebelumnya, gue mau ngasih tahu siapa sebenarnya. Buat yang belum kenal gue, hmm nama gue Kelana Basudewa. Gue anggota KC sama kayak Raja, gue juga yang ngejagain bar Elixilous" Kelana pun memperkenalkan siapa dirinya.
"Tunggu, itu berarti Lo tahu orang-orang ini?" Atanya Michel memperlihatkan Foto Levin dan Arka.
__ADS_1
"Gue tahu. Mereka hampir tiap malam ke bar, wajah mereka udah gak asing lagi buat gue" ucap Kelana sambil tersenyum tipis.
"Gue saranin, kalian jangan terlalu terang-terangan dalam pencarian dua cowok itu. Mereka mungkin jadi takut, terus pergi jauh dari Jakarta" Kelana pun memberikan saran pada mereka semua.
"Lo bisa bantuin kita kan?" tanya Fikra yang langsung di angguki Kelana.
"Hari ini malam Minggu. Mereka pasti datang ke bar, kalian bisa ke sana. Tapi mereka selalu datang jam 12 malam" ucap Kelana membuat mereka mengerti.
"Gimana Ja? Lo mau ke sana?" tanya Michel membuat Raja terdiam dan berifkir sejenak.
"Bawa ini, kalau Lo mau pergi nanti malam" kata Steven memberikan sebuah gelang bewarna hitam.
Raja dan yang lain menatap gelang itu. Itu hanya gelang biasa, untuk apa membawanya? Seperti tidak ada guna sama sekali.
"Buat apa bang?" tanya Raja bingung.
"Pakai ajah. Lo nanti tahu, apa gunanya gue ngasih ini ke Lo" ucap Steven lalu pergi dari sana.
"Tapi Ja, gue kayaknya gak bisa nemenin Lo. Tasya kurang sehat, bawaan hamil deh kayaknya" kata Dimas merasa tidak enak. Karena tidak bisa menemani Raja.
"Santai Dim. Gue juga bisa sendiri ke sana" kata Raja menepuk pundak Dimas, sambil tersenyum tipis.
"Gue temenin Ja, Lo gak boleh ke sana sendiri. Gak ada yang tahu nanti bakal terjadi apa" kata Michel khawatir.
"Gue juga ikut" kata Fikra.
"Aku juga bang" kata Christy namun Raja langsung menggeleng.
"Enggak Chris. Bakal banyak wartawan disana, Abang gak mau kamu desak-desakan sama mereka" ucap Raja mengelus tangan Christy.
"Udah Ja biarin ajah. Ada gue yang jagain" kata Michel membuat Christy tersenyum.
"Yaudah" Raja pun hanya mengikuti perkataan Michel.
"Kelana, Lo awasin mereka. Hubungin gue kalau mereka udah di sana" kata Raja membuat Kelana mengangguk.
"Kalau gitu, gue pamit dulu" ucap Kelana lalu pergi dari sana.
"Bang Richard mana?" tanya Michel yang tidak melihat kehadiran Richard sejak tadi.
"Bang Richard ada di kamar" jawab Christy yang sempat menemui Richard tadi.
"Raka?" tanya Michel yang juga tidak melihat kehadiran Raka sejak tadi.
"Bang Raka pergi sebentar. Katanya ada yang mau di urusin" jawab Raja yang juga sempat bertemu Raka pagi tadi. Raka hanya bilang ingin keluar sebentar, karena ada urusan.
//Skip//
Hari semakin malam, Raja dkk menunggu laporan dari Kelana. Sudah hampir jam 12 malam, tapi Kelana belum juga menelfon.
Raja terus mondar-mandir menunggu telfon dari Kelana. Richard dan Steven yang berdiri di tangga, memperhatikan wajah tegang Raja.
Bahkan Dimas yang tadinya tidak bisa menemani Raja, memilih untuk menemani sahabatnya itu. Tasya sudah lebih baik, jadi ia bisa meninggalkannya sendiri.
"Gelang yang Abang kasih, sudah kamu berikan pada Raja?" tanya Richard yang langsung di angguki Steven.
"Semua akan berjalan seperti semestinya. Selama Raja memakai gelang itu" ucap Richard yang menampilkan wajah yang sulit di artikan.
"Kita pergi sekarang. Kelana bilang, mereka sudah datang" kata Raja pada para sahabatnya dan juga Christy.
Richard dan Steven menatap mereka semua yang baru saja keluar dari mansion. Richard membuang nafasnya gusar, entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak.
Tapi ia langsung membuang jauh-jauh rasa gelisahnya itu. Richard lebih memilih diam, menunggu dan bersiap jika sesuatu terjadi nanti.
Raja dkk dan Christy sedang dalam perjalanan menuju bar Elixilous. Hanya perlu waktu 15 menit, mereka akhirnya sampai disana.
Mereka tidak menyangka, jika bar Elixilous dipenuhi wartawan. Christy menggenggam erat tangan Raja, entah kenapa dia gelisah sekarang.
"Lo yakin mau turun?" tanya Michel yang tidak yakin dengan kondisi saat ini.
Benar-benar gila semua wartawan itu. Sangat gila sampai mendatangi bar Elixilous.
"Gak ada pilihan lain" Raja menatap para sahabatnya.
Raja hanya ingin masalah ini cepat selesai, setidaknya agar ia bisa bernafas lega.
"Sebisa mungkin, kita harus buat wartawan itu gak ngelihat wajah Lo" ucap Dimas yang sangat khawatir saat ini.
Mereka turun dari mobil, menatap semua wartawan yang belum menyadari kehadiran mereka.
"Jangan jauh dari aku" ucap Michel menggenggam tangan Christy.
Mereka berjalan menuju pintu masuk, beberapa penjaga sempat menahan mereka. Namun Christy langsung memperlihatkan wajahnya, baru saja penjaga itu ingin mempersilahkan mereka masuk.
Tiba-tiba salah satu wartawan berteriak, memanggil nama Raja. Seketika situasi menjadi tidak terkendali.
Raja di kerumuni banyak wartawa. Michel, Fikra, Dimas, dan Christy mencoba menarik Raja. Namun sangat sulit.
Raja terkejut saat ada seseorang dengan cepat menariknya. Raja menghilang dari keremunan wartawan, ia sedikit terkejut saat orang itu membawanya kesamping bar. Disana lumayan gelap. Dan sangat sepi.
"Kamu gak apa-apa?" tanya seorang pria tinggi dengan wajah yang lumayan tampan. Raja terkejut, saat pria itu memeluknya dengan sangat erat.
Raja langsung mendorong pria itu, menjauh darinya. Ia menatap pria itu bingung.
"Makasih udah bantuin gue" kata Raja hendak pergi. Namun pria itu kembali menariknya bahkan menggenggam tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya pria itu membuat Raja menaikan alisnya. Bingung dengan pertanyaan pria itu.
"Seharusnya gue yang nanya. Lo kenapa? Lo kenal gue?" tanya Raja membuat pria di hadapannya itu menatapnya bingung.
"Levin, kita udah kenal 3 tahun. Kamu lupa? Kita pacaran" ucap pria itu membuat Raja menelan ludahnya dengan susah payah.
Raja seketika merinding mendengar penuturan pria itu. Pacaran? Pria dan pria? Oh itu tentu saja membuat Raja merinding.
__ADS_1
"Lo Arka Radhian? Pacarnya Levin?" tanya Raja membuat pria bernama Arka itu bingung.
"Iya Levin, aku Arka pacar kamu" ucap Arka membuat Raja semakin menjaga jaraknya.
"Kamu kenapa?" tanya Arka hendak meraih tangan Raja. Namun dengan cepat Raja menghindar.
"Eh tunggu, gue bukan Levin" ucap Raja lalu mengeluarkan KTP dari dompetnya.
"Gue Raja Pratama Raymond. Gue rasa Lo tahu berita yang lagi panas di semua saluran tv" kata Raja membuat Arka terdiam sejenak.
"Oh iya, gue tahu. Sorry gue salah orang"kata Arka lalu hendak pergi. Namun Raja menahannya.
"Karena Lo sama pacar Lo itu. Perusahaan gue hampir bangkrut, kalian harus tanggung jawab" ucap Raja yang menampilkan wajah marahnya.
"Itu urusan Lo!" Ucap Arka yang langsung mendapatkan Bogeman dari Raja.
Arka tersungkur menghantam tanah. Raja sangat emosi mendengar perkataan Arka, pria itu seolah tidak merasa bersalah.
"Lo sama pacar Lo itu sinting. Karena kelakuan kalian, gue sama keluarga gue yang kena imbasnya. Tiap pagi, keluarga gue dihujani banyak pertanyaan, gak ada satu hari pun keluarga gue bisa tenang. Dan semua itu, karena kelakuan kalian berdua!" Raja menarik Arka dan mendorongnya menghantam dinding.
"Gue juga gak mau ini terjadi. Gue gak ada niatin buruk ke lo. Gue bahkan baru tahu ada orang yang mirip sama Levin. Bahkan Levin juga baru tahu, kita gak mau kejadian kayak gini terjadi" Arka pun membantah semua tuduhan yang Raja berikan.
Arka pun tidak mau ada di situasi ini, mereka menjadi terekspos di semua saluran tv. Itu membuatnya menjadi sangat gelisah.
"Masalah sudah sebesar ini. Terus Lo mau lari hah? Perusahaan yang bokap gue bangun dengan susah payah, terus kalian rusak dengan sangat mudah! Jangan harap kalian bisa lepas dari gue!" kata Raja yang sangat emosi.
"Terus gue harus gimana hah? Gue gak mungkin muncul didepan media, nyeritain semua yang terjadi. Itu sama ajah gue bunuh diri" ucap Arka mendorong Raja menjauh darinya.
"Terus Lo mau masa bodoh ajah? Biarin perusahaan gue hancur hah? Perusahaan gue gak boleh hancur! Hanya karena perbuatan pasangan gila kayak kalian!" kata Raja membuat Arka sangat marah.
"Maksud Lo apa hah?" tanya Arka dengan penuh emosi.
"Gue bilang, kalian berdua pasangan gila. Ngerti Lo!" Raja kembali mengulang perkataannya. Ia merasa sangat marah saat ini.
Keduanya terlibat aksi saling memukul. Raja terlihat sangat unggul, Arka tidak berdaya membiarkan Raja memukulnya.
Hingga Michel dan yang lainnya datang. Fikra menarik Arka dari bawah Raja. Michel mencoba membuat Raja tenang, sahabatnya itu seperti orang kesetanan.
Raja terkejut saat melihat ada seorang pria yang berdiri disamping Arka. Raja seperti melihat dirinya sendiri, pria itu adalah Levin. Orang yang fotonya tersebar luas di media.
"Gue minta maaf, gue gak tahu kalau wajah gue ngebuat perusahaan Lo hancur. Gue gak ada niatan sama sekali" ucap Levin dengan wajah penuh penyesalan.
"Minta maaf? Apa itu bisa buat semuanya membaik? Hah!" Raja menatap kedua orang itu. Berharap ini hanya mimpi.
"Gue janji, gue bakal muncul didepan media. Gue bakal ngasih tahu semuanya" ucap Levin lirih.
"Gak! Kamu bisa kena masalah" ucal Arka membuat semua orang menatapnya.
Apa seperti ini, hubungan antar pria dan pria? Mereka baru menyaksikannya secara langsung. Ada rasa aneh yang mereka rasakan.
"Arka, kita gak bisa sembunyi terus seperti ini. Cepat atau lambat, semua orang pasti akan tahu hubungan kita" Levin pun berusaha membuat Arka mengerti.
"Enggak! Aku gak setuju!!" Arka menolak kemauan Levin. Itu terlalu beresiko.
Dengan gerakan cepat, Arka mengambil belatih di saku jaketnya. Semua orang terkejut dan menjadi was-was.
Raja menatap gelangnya yang mengeluarkan sinar berwarna merah. Sinar itu terus berkedip tanpa henti, mereka semua was-was.
"Arka kamu mau apa?" tanya Levin yang terkejut dengan kelakuan Arka.
"Dia harus mati!!" Arka mengarahkan berlatihnya ke arah Raja.
"Lepas belatih itu!" Ucap Christy yang seketika terlihat menyeramkan.
Ada aura hitam yang keluar dari tubuhnya. Suasana menjadi mencengkram, terasa sangat dingin.
Michel menatap wajah Christy, wajah istrinya itu terlihat menakutkan. Tatapannya sangat tajam.
"Lepas belatih itu! Atau sesuatu buruk akan terjadi" Christy kembali berbicara membuat Arka merinding.
"DIAM!!" teriak Arka lalu hendak menusuk Raja. Namun dengan gerakan cepat, Christy menendang Arka.
Arka terlempar cukup jauh, Levin langsung membantu Arka berdiri.
"Gue janji akan nyelesain semuanya. Tapi gue mohon, jangan sakiti Arka" ucap Levin dengan wajah sendunya.
"Dim, situasi kayak gini gue harus gimana sih? Gue takut, tapi gue geli juga" ucap Fikra berbisik pada Dimas.
"Lo kira, cuma Lo doang apa. Gue juga geli ini, baru tahu gue hubungan sesama jenis kayak gini" Dimas pun menatap Fikra.
Kedua orang itu langsung mendapat tatapan tajam dari Michel. Situasi seperti ini, masih sempat mereka bergosip.
Christy berbalik hendak melihat Raja. Namun dia lengah, saat Arka berlari kearahnya. Belatih itu mengenai pria yang melindungi Christy.
"MICHEL!!" mereka semua yang seketika panik.
Arka terkejut saat dia salah menusuk orang. Michel memeluk Christy dari belakang, melindungi istirnya dari Arka.
Michel terduduk menahan sakit di punggungnya, belatih itu mengiris punggungnya cukup dalam.
"Michel" Christy menggenggam erat tangan Michel.
Tiba-tiba Richard dan Steven datang. Tanpa berbicara apapun, Richard dan Steven langsung memukuli Arka. Levin terkejut, melihat ganasnya Richard dan Steven.
"Bawa Michel kerumah sakit" ucap Richard yang baru saja selesai memukuli Arka.
"BASTARD!" teriak Arka lalu berdiri dan hendak menusuk Richard.
Namun seseorang datang dan berdiri dihadapan Richard. Orang itu seketika terjatuh, dengan belatih yang menusuk perutnya. Richard sangat terkejut.
Dengan cepat Richard menangkap tubuh orang yang berdiri dihadapannya. Richard merasa hatinya panas, melihat orang itu lemas dipenuhi darah.
"Please jangan tutup mata" kata Raja yang langsung menggenggam tangan orang itu. Hatinya terasa panas melihat orang itu dipenuhi darah.
__ADS_1
"Gue tepat waktu" ucap orang itu lalu semuanya gelap.