Two World Mafia Girls(PART 2)

Two World Mafia Girls(PART 2)
Chapter 64 (Flashback)


__ADS_3

Langit yang semakin hari semakin gelap membuat seorang gadis kecil ketakutan. Hujan yang sebentar lagi turun membuatnya kebingungan.


Di umurnya yang masih kecil, seharusnya ia bermain di dalam rumah. Bukannya berkeliaran di jalan, tanpa tahu tujuannya.


Banyak kendaraan yang melewatinya, namun tidak ada satu pun yang menghampirinya untuk menanyakan kondisinya.


Bersamaan dengan air hujan yang turun begitu deras, isakan gadis kecil itu terdengar.


"Mom, Dad, bang......Aku takut" Gadis itu terus mengulangi kalimat yang sama. Berharap ketiga orang yang terus di sebutnya itu muncul di hadapannya.


Ia berlari mencari tempat untuk berteduh, hingga langkahnya terhenti saat ada seorang remaja yang berdiri di hadapannya.


Gadis kecil itu takut saat melihat tatapan remaja di hadapannya. Remaja pria itu memakai pakaian serba hitam, bahkan payungnya berwarna hitam.


Tiba-tiba suara petir yang sangat keras membuat gadis kecil itu ketakutan. Ia langsung mendekat pada remaja pria di hadapannya, lalu meremas kuas baju pria itu. Dia sedikit terkejut dengan apa yang gadis kecil itu lakukan.


"Menjauh!" ucapnya yang berusaha lepas dari si gadis kecil. Namun genggaman gadis itu sangat kuat.


"Aku sudah di usir sekali. Jangan lagi" lirihnya membuat remaja itu menatapnya.


Tanpa berkata apapun, pria itu membawanya masuk ke dalam mobil. Gadis itu hanya diam, seolah sangat percaya pada orang yang baru di temuinya.


"Kita ke markas" ucapnya, lalu supirnya langsung menurutinya.


Perjalanan yang cukup panjang membuat gadis kecil itu tertidur lelap di pangkuan si pria.


Dia tidak mau mengganggunya, saat sampai dia langsung menggendong gadis kecil itu. Banyak orang dengan wajah yang menyeramkan di sana.


Mereka bingung saat ada seorang gadis kecil yang di bawah ke tempat menyeramkan ini. Pria itu membawanya ke markas King Cobra, mafia terkuat di dunia.


"Bang Richard" panggil seorang remaja pria yang terlihat sangat gembira.


Pria yang di panggil Richard itu langsung menoleh, saat mendengar suara adik kesayangnnya.


Ia perlahan membaringkan tubuh gadis kecil itu, semua anggota KC mengerumuninya. Ini pertama kalinya mereka melihat seorang gadis kecil di markas.


Terlebih lagi gadis itu sangat cantik, wajahnya seperti di pahat sedemikian rupa hingga mendekati kata sempurna.


"Kita tidak mungkin membunuh gadis kecil ini" ucap pria yang memanggil Richard tadi.


"Abang tahu, Steven" kata Richard sambil mengacak gemas rambut adiknya itu.


Mereka semua sedikit terkejut saat melihat gadis kecil itu membuka matanya. Mata itu terlihat sangat cantik. Dengan polosnya dia duduk dan terus menggosok matanya yang terasa sedikit gatal.


Richard langsung menahannya, lalu mengusap mata gadis itu perlahan.


"Matamu bisa merah kalau menggosoknya seperti itu" kata Richard, namun nada dingin itu masih bisa terdengar.


"Richard umur lo baru 16 tahun. Lo udah punya anak?" tanya seorang pria yang baru saja datang bersama adiknya.


"Siapa ibunya?" tanya pria yang satu lagi. Membuat Richard menatap mereka tajam.


"Reza, Aron, dia bukan anak saya" tegas Richard yang tidak suka dengan pertanyaan kedua sahabatnya itu.


Mereka kembali terdiam, menatap gadis kecil cukup lama. Gadis itu bingung harus berbicara apa, pada semua orang dewasa di hadapannya saat ini.


"Adik kecil, nama kamu siapa hmm?" tanya Steven sambil tersenyum begitu manis. Membuat gadis kecil itu ikut tersenyum.


"Dara Aleyana Stamford" ucapnya membuat semua tersenyum, terkecuali Richard yang hanya menampilkan wajah datarnya.


"Dia anak orang kaya" seru Aron sambil memperlihatkan sebuah artikel di salah satu situs terkenal.


"Percuma kaya, kalau anak sendiri di buang" cetus Richard dengan santainya. Membuat semua orang menatapnya bingung, sedangkan Dara hanya bisa menunduk sedih.


Di umur tujuh tahun ia harus mengalami ini. Di mana seharusnya ia bermain dengan penuh tawa bersama keluarganya, tapi ia justru di usir karena suatu hal yang sangat aneh.


"Lalu apa yang harus kita lakukan pada anak ini?" tanya Reza yang menjadi bingung.


Tidak mungkin seorang gadis kecil tinggal di markas tempat para mafia berkumpul. Masa kecilnya akan hancur.


"Saya akan kembalikan dia ke tempat di mana saya menemukannya" ucap Richard lalu menarik Dara cukup keras, membuat gadis kecil itu terkejut.


Steven langsung menahannya, lalu menarik Dara menjauh dari abangnya itu. Sikap kasar Richard memang berlaku untuk semua orang, walaupun itu seorang anak kecil.


"Biarkan dia tinggal di sini dulu. Di luar sana hujan sangat deras" Steven mencoba membuat Ricard mengerti, meskipun itu mungkin tidak akan berhasil.


"Bang aku mohon" Steven terus berusaha membujuk Richard. Dan itu berhasil membuat Richard luluh.


"Hanya untuk sementara" ujar Richard lalu hendak pergi, namun Dara menahannya.


"Terimakasih" gadis kecil itu menatap lekat mata Richard. Ia senang bisa mendapatkan tempat tinggal, karena ia takut berkeliaran di malam hari.


Richard tidak memperdulikannya, ia langsung pergi meninggalkannya. Semua anggota KC seketika mendekat ke arah gadis kecil itu. Tatapan seram mereka seketika berubah menjadi sangat lembut.


"Dia sangat cantik" ucap salah satu anggota KC, membuat yang lain tertawa mendengarnya.


//skip//


Seperti biasa di pagi hari markas KC selalu terlihat sibuk. Semua anggota terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan mereka.


Dara yang baru bangun sedikit terkejut, karena melihat semua anggota KC yang berlatih menggunakan benda-benda tajam.


Dari tangga gadis itu mencoba mengikuti gerakan para anggota KC, ia sesekali memukul pegangan tangga itu. Hingga tangannya merah.


Richard yang berdiri tepat di belakang Dara, hanya diam memperhatikan gadis kecil itu.


"Menyingkir!" ucapnya singkat, membuat Dara sedikit terkejut.


Dara langsung menyingkir, lalu Richard langsung melewatinya begitu saja. Dengan langkah kecilnya ia berusaha mengejar Richard yang langkahnya sangat panjang.


Kepalanya menabrak punggung Richard, karena pria itu tiba-tiba berhenti. Ia kesal karena Richard selalu saja mengabaikannya.


"Kenapa?" tanya Richard singkat. Ia semakin kesal dengan tingkah gadis di hadapannya itu. Selalu saja mengikutinya.


"Biasanya jam segini aku di mandiin sama mommy" ucapnya dengan sangat polos, membuat Richard menatapnya.


"Lalu?"


"Aku bisa mandi sendiri. Tapi di sini tidak ada baju untukku" kata Dara menunduk takut, karena Richard terus menatapnya sejak tadi.


"Pertamana, di sini tidak ada orang yang kamu sebut mommy itu. Lalu yang kedua, mau kamu mandi atau tidak......Bukan urusan saya!" Richard berbicara dengan nada dinginnya, membuat Dara sangat ketakutan.


Richard langsung meninggalkan dara, lalu bergabung bersama anggota KC yang sedang latihan.


Dara hanya diam lalu duduk di tangga, berharap ada seseorang yang menemani berbicara.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam ia duduk di sana, namun tidak ada seorang pun yang menghampirinya.


Gadis kecil itu memutuskan untuk mengelilingi markas. Langkahnya terhenti di sebuah ruangan yang memiliki pintu besi.


Tangannya hendak meraih pintu itu, namun ia di tarik dengan sangat kuat oleh Richard. Pria itu tiba-tiba saja muncul di sana.


"Apa orangtua mu tidak pernah mengajarkan sopan santun HAH?!" bentak Richard membuat Dara sangat ketakutan.


Steven dan Aron yang hendak mencari keberadaan Dara, justru melihat Richard yang membentak gadis kecil itu.


"Kenapa bang?" tanya Steven lalu menarik Dara menjauh dari Richard.


"Dia mau masuk ke ruangan abang. Kalau abang tidak menahannya, mungkin dia sudah mati terpanggang" kata Richard marah.


Steven dan Aron sangat terkejut. Semua anggota KC tahu betul jika ruangan itu tidak boleh di masuki siapapun. Memegang pintunya saja bisa membuat seseorang terbakar dan mati sia-sia.


"Hey, dengarkan abang. Kamu boleh ke mana saja. Asal jangan ruangan ini okey. Ingat, jangan ruangan ini" Steven mencoba memberitahu Dara apa yang tidak di perbolehkan di markas ini.


Dara hanya menunduk dan mengangguk, ia sangat takut pada Richard. Pria itu terlalu menyeramkan baginya.


"Maaf" ucap Dara memberanikan diri untuk berbicara pada Richard. Meskipun tidak mendapatkan respon dari pria dingin itu.


Steven tersenyum menatap wajah Dara. Menurutnya, gadis kecil yang satu ini sangat berani.


Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Richard, tiba-tiba Dara memeluk tubuh pria yang sangat tinggi itu.


Steven terkekeh melihat ekspresi terkejut Richard. Pelukan itu membuatnya nyaman, entah kenapa ia tidak menolaknya.


"Aku minta maaf. Janji gak akan ngulang lagi" ucap Dara dengan sangat imut.


"Ingan janji itu" tegas Richard lalu pergi dari sana.


Dara tersenyum bahagia karena berhasil memeluk pria dingin itu. Sejak pertama kali mereka bertemu, Dara sangat suka berada dekat dengan Richard.


"Ini baju untuk kamu. Mandi di kamarnya abang ajah ya" kata Steven lalu mengantar Dara ke kamarnya.


...✓✓✓...


Sudah satu minggu berlalu, Dara masih betah tinggal di markas KC. Hampir setiap pagi ia bangun lebih awal, agar bisa melihat para anggota KC yang berlatih.


Ada ketertarikan di dirinya untuk mengikuti jejak para mafia itu.


Gadis kecil itu juga semakin sering mengganggu Richard, meski terkadang tidak di tanggapi.


Seolah tidak mau menyerah, Dara selalu ingin menarik perhatian Richard.


"Aku dengar, abang akan pulang hari ini. Apa betul?" tanya Steven sambil menggandeng tangan Dara yang berdiri di sampingnya.


"Iya. Abang hanya mau melihat keadaan Raka dan Raja" Richard menjawab pertanyaan Steven, dengan tatapan yang fokus ke sasaran tembakannya.


"Abang mata tajam mau ke mana?" tanya Dara yang berbisik pada Steven, membuat pria itu terkekeh.


Dara selalu menyebut Richard dengan sebutan mata tajam. Meskipun gadis itu terkadang di marahi oleh Richard, namun ia tidak juga kapok.


"Dia mau pulang ke rumahnya" jawab Steven sambil mengacak gemas rambut gadis yang sangat menggemaskan itu.


"Tapi dia akan kembali ke sini kan? Iya kan?" tanya Dara seolah tidak mau jika berpisah dari Richard.


"Abang mata tajam pasti kembali kan?" Dara beralih pada Richard, membuat pria itu melepaskan senapannya lalu menatapnya.


"Nama saya Richard! Berhenti memanggil saya mata tajam!" tegas Richard membuat Dara takut. Ia langsung bersembunyi di belakang Steven.


"Abang yakin?" Steven bertanya pada Richard.


Richard pun sedikit merasa ragu. Namun tidak ada pilihan lain, selain membawa dara ke rumah keluarganya.


Ia tidak mungkin membiarkan gadis itu berlama-lama di markas, banyak musuhnya yang terus berdatang .


"Abang yakin.....Percaya pada abang" Richard tersenyum tipis menatap Steven.


Steven langsung mengantar Dara untuk mengganti pakaiannya, dan menyiapkan semua barang-barang gadis kecil itu.


Semua anggota KC langsung berkumpul, saat mereka tahu bahwa Dara akan meninggalkan markas.


Gadis polos itu selalu berhasil membuat para anggota KC tertawa. Mengetahui bahwa dia akan pergi, semua anggota KC sedikit merasa sedih.


"Aku mau pergi bersama abang mata tajam" seru Dara yang langsung mendapat tatapan tajam dari Richard.


"RICHARD!" ujar pria itu, membuat para anggota KC menahan tawa.


"Dara, itu nama aku. Ingat ya. Wajah ku juga, jangan sampai lupa okey" Dara semakin membuat para anggota KC tidak mau jauh darinya. Dia sangat imut dan polos.


Dengan polosnya gadis itu memegang tangan Richard lalu menariknya untuk meninggalkan markas, ia sempat berbalik untuk melambai pada semua anggota KC.


"Sampai jumpa orang-orang baik" ucapnya tersenyum bahagia.


Gadis kecil itu menyebut mereka orang-orang baik. Di saat semua orang menyebut mereka pembunuh berdarah dingin. Gadis kecil itu memang sangat polos. Tanpa sadar Richard tersenyum.


Satu minggu terus di ganggu oleh gadis kecil itu, membuatnya sedikit lebih terbiasa. Hampir setiap hari Dara mengajaknya untuk berbicara, walau terkadang ia tidak meresponnya.


sepanjang perjalanan Dara terus mengeluarkan tangannya dari mobil, sesekali bersenandung kecil. Gadis itu terlihat gembira, seperti orang yang akan pulang ke rumahnya.


Senyumannya seketika hilang saat melihat sepasang suami istri yang berdiri di depan sebuah rumah sakit.


Ia membungkukkan badannya, tidak mau melihat kedua orang itu. Richard sempat berbalik, dan melihat apa yang barusan gadis kecil itu lihat.


Richard sudah tahu alasan Dara berkeliaran malam itu. Menurutnya, keluarga Stamford sangatlah bodoh. Mana bisa mereka menuduh seorang gadis sebagai pembunuh. Sangat tidak masuk akal.


"Kamu tidak mau kembali bersama mereka?" tanya Richard membuat Dara menatapnya.


"Keluargamu" lanjutnya, membuat gadis kecil itu menunduk. Wajahnya terlihat sangat murung, dia benar-benar terluka.


Di umurnya saat ini membuatnya di paksa menjadi dewasa oleh waktu dan keadaan. Richard bisa merasakannya, karena ia juga tahu rasanya.


Cukup memakan banyak waktu, akhirnya mereka sampai di sebuah mansion yang sangat megah. Richard meraih tangan Dara, lalu membawa gadis itu masuk ke dalam mansion.


Di ruang keluarga terlihat sepasang suami istri dan juga dua anak kembar. Dara sedikit takut, ia bersembunyi di belakang Richard.


Anak kembar itu langsung berlari ke arah Richard, mereka penasaran siapa gadis kecil yang abangnya bawa itu.


"Hai" sapa si kembar, membuat Dara memunculkan kepalanya. Ia masih takut melihat orang-orang baru di hadapannya saat ini.


"Richard, siapa gadis kecil itu?" yanya pria paruh baya yang tidak lain adalah Raymond, ayah Rihcrad. Sekaligus orang terkaya nomor dua di dunia.


"Dia akan tinggal di sini.....Bersama kalian" ujar Richard membuat si kembar tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Raja, akhirnya kita punya adik" ucapnya pada kembarannya itu.


"Kemarilah" kata Raymond lalu berjongkok, berusaha memanggil Dara yang terlihat sedikit takut.


Dara perlahan berjalan mendekat ke arah Raymond. Tanpa berkata apapun, Raymond langsung memeluk Dara.


Ia sangat ingin mempunyai seorang anak perempuan, namun belum bisa terwujud hingga sekarang.


"Sekarang panggil saya dengan sebutan, ayah" tutur Raymond lembut, membuat Dara sedikit bingung.


Ia bingung karena seseorang yang baru di kenalnya, malah menyuruhnya untuk memanggilnya dengan sebutan ayah.


"Dan panggil dia, bunda" lanjutnya sambil merangkul istrinya itu.


Dara berbalik menatap Richard, pria itu hanya mengangkat alisnya. Membuat Dara tersenyum tipis.


"Ayah.....Bunda" ucapnya yang sempat terjeda sebentar, ia sedikit ragu namun ingin mencobanya.


Ada rasa bahagia di hati Raymond, hingga air matanya seketika terjatuh. Kehadiran Dara cukup membuat mereka semua bahagia.


"Saya pergi dulu" ucap Richard yang hendak pergi, namun Dara langsung menahannya.


"Mau ke mana? Jangan tingalin aku" kata Dara yang merasa sedikit takut.


Richard menghembuskan nafasnya gusar, lalu sedikit menunduk agar tingginya bisa sama dengan gadis kecil itu.


"Besok saya ke sini lagi untuk menjemput kamu. Untuk sementara tinggal di sini" Richard berkata sambil menatap lekat mata biru hazel milik Dara.


"Richard, siapa nama gadis kecil ini?" tanya Raymond membuat Richard menatapnya.


Entah ada dorongan dari mana, ia memegang kepala Dara, sambil mengelusnya lembut.


"Christy Walton Raymond.....Itu namanya" ucap Richard lalu pergi dari sana.


Dara sangat bingung karena Richard menyebut nama yang sangat asing baginya. Itu bukan namanya, lalu kenapa Richard menyebutnya? Ia sangat bingung.


Si kembar langsung meghampirinya, lalu memeluknya erat. Mereka sangat ingin mempunyai adik perempuan, dan tiba-tiba Richard membawakan adik untuk mereka.


"Namaku Raka, panggil bang Raka ajah ya" ucapnya.


"Kalau aku Raja"


Dara tersenyum sangat lebar, ini pertama kalinya ia melihat sepasang kembaran. Menurutnya itu sangat mengagumkan.


"Mas, aku siapin kamar untuk Christy dulu ya" ucap Siska istri Raymond.


"Siapkan dengan sangat bagus ya. Anakku yang satu ini spesial" ujar Raymond yang sangat bahagia. Siska ikut bahagia saat melihat suaminya bahagia.


Raymond langsung ikut bermain bersama ke tiga anaknya itu. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi keluarga Raymond.


Gadis kecil itu membuat mansion terasa sangat lengkap sekarang.


"Aku suka di sini" Dara tiba-tiba berbicara dengan suara yang lumayan kecil.


Raymond menatapnya bingung, ia tidak sempat menanyakan pada Richard. Dari mana ia menemukan gadis kecil ini.


"Kalau ayah boleh tahu, Christy bertemu dengan Richard di mana?" Raymond sedikit berhati-hati saat bertanya, takut jika gadis kecil itu tidak nyaman.


"Bang Richard bantu aku, waktu aku di usir" ucapnya, lalu seketika ia menunduk.


Raymond sangat terkejut mendengar perkataan gadis kecil itu. Mana bisa seorang anak kecil di usir? Sangat keterlaluan.


"Christy itu, bukan nama asli kamu kan? Lalu siapa nama kamu yang sebenarnya hmm? Ayah ingin tahu" ucap Raymond dengan sangat lembut.


"Dara Aleyana Stamford"


Raymond terkejut saat mengetahuinya. Marga yang gadis kecil itu pakai, adalah milik keluarga Stamford. Orang terkaya nomor tiga setelahnya.


"Hmm sekarang, nama kamu adalah Christy okey. Princess nya ayah adalah Christy" tutur Raymond lembut sambil memeluk erat tubuh gadis kecil itu.


Pelukan itu terasa sangat nyaman. Identitasnya telah berubah sekarang. Dara? Tidak ada gadis bernama Dara. Hanya ada Christy Walton Raymond.


//skip//


Seperti janji Richard, ia kembali membawa Christy ke markas. Semua orang sangat senang, karena gadis kecil itu kembali.


"Chris" langgil Richard membuat semua anggota KC saling menatap. Seingat mereka, tidak ada yang bernama Chris di markas ini.


"Namanya Christy Walton Raymond. Ingat itu!" ucap Richard sambil menunjuk si gadis kecil.


Mereka cukup terkejut karena gadis itu memakai marga yang sama dengan Richard dan Steven.


Tapi mereka mencoba untuk mengerti, dan kembali fokus menatap si gadis kecil.


"Latih dia" Richard kembali berkata. Perkataannya itu semakin membuat semua orang terkejut.


"Dia? Lo yakin?" tanya Aron yang merasa tidak yakin, jika seorang gadis kecil harus di latih di markas mafia ini.


"Dia yang mau" ujar Richard dengan sangat santai.


"Terserah lo ajah. Kita ngikuti" Reza akhirnya membuka suara. Menurutnya tidak salah jika Christy ingin berlatih. Hitung-hitung untuk menjaga dirinya sendiri nanti.


Richard yang hendak berbicara, seketika terhenti saat mendengar suara tembakan yang cukup keras.


Alarm markas berbunyi, menandakan ada musuh yang menyerang. Mereka semua langsung mengambil posisi.


Richard menarik Christy, membawa gadis itu untuk bersembunyi. Lalu ia pergi untuk menghadapi semua musuhnya itu.


Christy hanya diam, melihat semua orang-orang itu saling menyerang. Ia terus saja terkejut saat mendengar suara tembakan.


Ia terkejut saat melihat melihat Richard yang terduduk sambil memegang kaki kanannya.


Christy panik saat ada seseorang yang hendak menembak Richard. Tanpa fikir panjang, gadis itu mengambil senapan yang ada di sampingnya. Lalu menembak orang itu.


Ia tidak tahu jika senapan itu berkekuatan sangat tinggi, hingga berhasil membuat kepala orang itu hancur.


Mereka semua langsung berlari keluar, sedangkan para anggota KC masih terkejut dengan apa yang gadis kecil itu lakukan.


Tubuhnya terlempar cukup jauh, karena senapan itu sangat kuat. Richard berusaha untuk berdiri, lalu menghampiri Christy yang terduduk sambil meringis kesakitan.


Steven mengangkat senapan itu, ia terus mengingat bagaimana Christy memegangnya dan menembak orang itu. Senapan bermerek AK-47 itu adalah senapan yang benar-benar mematikan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Richard sambil mengecek keadaan Christy. Gadis itu sedikit terluka karena menghantam dinding.


"Orang yang tadi, dia mau nembak abang" ucapnya dengan sangat polos, membuat Richard menatapnya.

__ADS_1


Gadis kecil itu menyelamatkannya hari ini. Richard bernafas lega karena keadaan Christy tidak begitu buruk.


"Terimakasih.....Princess" ucapnya sambil tersenyum manis. Lalu memeluk erat tubuh Christy.


__ADS_2