
Pagi hari di mansion Raymond, semua orang sedang sarapan pagi bersama. Hanya Steven dan Richard yang belum turun. Maid sudah menyiapkan nampan sarapan untuk kedua pria itu
"biar saya bantu"kata Michel pada maid yang ingin membawa 2 nampan sekaligus.
Michel naik keatas untuk memberikan Richard dan Steven sarapan. Saat masuk kedalam kamar, Michel melihat Richard yang sedang mengompres tubuh Steven.
"bang, lo sarapan dulu biar gue yang lanjutin ngompres dia"kata Michel menaruh sarapan di nakas.
"yang lain sudah sarapan?"tanya Richard lalu berdiri dari king size dan merenggangkan sedikit tubuhnya yang terasa kaku.
"lagi sementara sarapan di bawah, bang. Lo sarapan ajah dulu."kata Michel lalu mengompres Steven.
Steven membalikkan tubuhnya menghadap Michel, ia sedikit terkejut melihat bukan Richard yang mengompres dirinya melainkan Michel.
"bang dia demamnya dari jam berapa?"tanya Michel menatap Richard yang sedang memakan sarapannya.
"sekitar jam 4 subuh kalau tidak salah"jawab Richard menatap Steven yang masih terbaring.
"bang kalau boleh tahu, dia di operasi dimana?"tanya Michel penasaran.
"Amerika"jawab Richard singkat.
"abang masih berhubungan dengan dokter yang mengoperasi?"tanya Michel membuat Richard berhenti memakan sarapannya.
"iya, malau tidak salah adiknya bekerja di Indonesia. Dia satu departemen sama kamu"kata Richard.
"sama gue? Siapa?"tanya Michel penasaran.
"nama adiknya , Renal"jawab Richard membuat Michel terkejut.
"adiknya dokter yang operasi Steven itu, dokter Renal"ucap Michel dengan wajah terkejutnya.
"sebaiknya abang hubungi dokter yang mengoperasi Steven. Suruh dia datang ke Indonesia. Atau kalian yang ke Amerika"kata Michel, membuat Richard berhenti makan dan menatapnya.
"apa ada yang salah dari Steven? Apa separah itu?"tanya Richard yang terlihat sangat khawatir.
"infusnya sudah hampir habis, bukannya membaik justru dia menjadi demam. Mungkin ada yang salah dengan hati atau paru-parunya. Sebaiknya dokter itu memeriksa kedaan Steven, karena ini bukan keahlian gue bang. Ini bagian bedah umum, sedangkan gue bagian bedah saraf"kata Michel membuat Richard menghembuskan nafasnya gusar.
"kalau bisa dokter itu lebih cepat datang, gue cuma takut ada infeksi dari salah satu bekas operasi Steven"kata Michel yang terlihat khawatir.
"apa Steven di bawah kerumah sakit saja dulu?"tanya Richard.
"hari ini kita bawah Steven ke rumah sakit. Nanti ada ambulance yang datang menjemput, leralatan di ambulance lebih lengkap bang"jawab Michel membuat Richard mengangguk mengerti.
"makasih sudah bantuin saya jagain Steven"kata Richard pada Michel yang berdiri di depan pintu dan hendak keluar.
"gue juga makasih bang. Makasih karena kalian selalu bisa jagain Chris"kata Michel tersenyum tipis lalu pergi dari sana.
"apa kamu masih berfikir untuk merebut princess dari pria sebaik dia?"tanya Richard menatap Steven yang sedari tadi diam.
"entahlah"jawab Steven lalu membalikan tubuhnya dan menutup matanya.
"mereka semua terlalu baik bang, aku bahkan harus berfikir dua kali untuk melukai mereka"batin Steven.
//skip//
Jam menunjukan pukul 10 pagi, ambulance yang Michel siapkan sudah datang di mansion Raymond. Michel dan Richard membantu Steven berdiri dan membaringkannya di atas brankar.
Semua sangat khawatir dengan kondisi Steven saat ini, wajah pucat pria itu sangat terlihat jelas. Michel lebih dulu memakaikan Steven masker oksigen lalu kembali menginfusnya di dalam mobil ambulance.
"gue bawa Steven kerumah sakit dulu bang. Lo nyusul ajah"kata Michel pada Richard.
"sekali lagi makasih"kata Richard memeluk Michel lalu penepuk punggung pria itu.
"sama-sama bang"ucap Michel tersenyum tipis.
Lalu michel beralih pada Christy, ia memeluknya dan mencium kening kekasihnya itu. Michel menatap lembut wajah Christy, begitu pula sebaliknya.
"kalau ada apa-apa telfon aku okey"kata Michel tersenyum pada Christy.
"iya Cel, kamu hati-hati di jalan"kata Christy
"kamu tahukan kalau aku cinta banget sama kamu?"tanya Michel membuat Christy menatapnya bingung.
"maksud kamu?"
"kamu bahagia kalau sama aku?"tanya Michel secara tiba-tiba membuat Christy semakin bingung.
"aku bahagia, karena aku bisa selalu sama kamu Cel. Aku gak butuh apa-apa lagi, selama kamu ada buat aku"jawab Christy dengan sangat serius membuat Michel tersenyum.
__ADS_1
"itu memang jawaban yang aku mau dengar dari kamu, dan sekarang aku udah mutusin untuk tetap perjuangin kamu"kata Michel mencium tangan Christy dan tersenyun manis.
Setelah itu dia langsung masuk ke ambulance. Christy menatap wajah Michel bingung. Kekasihnya itu terlihat sedikit aneh hari ini.
Mobil ambulance itu meninggalkan mansion Raymond. Saat Richard hendak masuk, matanya menangkap sosok Raymond di balkon kamar. Richard melihat Raymond yang menatap mobil ambulance itu dengan tatapan sendunya.
Raymond yang merasa di perhatikan, langsung mencari sosok yang melihatinya. Matanya menangkap seorang pria yang tidak lain adalah Richard putranya. Raymond langsung masuk dan memutuskan kontak matanya dari Richard.
"sebenarnya ayah orang seperti apa? Kenapa ayah berprilaku seolah ayah adalah orang yang baik. Apa arti keluarga ini buat ayah? Jangan membuatku bingung. Aku lelah seperti ini, aku juga ingin hidup seperti dulu. Menjadi pria biasa yang selalu tersenyum. Bukan menjadi pria menakutkan seperti ini"batin Richard.
//skip//
Hari sudah sore, Richard baru saja sampai di RD hospital. Dia sangat sibuk mengurus beberapa hal di markas, dan juga harus berkomunikasi dengan dokter yang dulu mengoperasi Steven.
Hari ini Richard ke rumah sakit tidak sendiri, pria itu lebih dulu menjemput Vjra di JP morgan chase. Vira hanya bisa mendengus kesal menghadapi sikap pemaksa Richard.
"lo sebenarnya ke rumah sakit mau jengukin siapa sih? Chris kan ada di kantor. Terus yang sakit siapa?"tanya Vira yang kesal dan berusaha menyamakan langkahnya dengan kaki panjang milik Richard.
"mulut kamu tidak sakit? Dari tadi terus saja berbicara. Bisa-bisa kuping saya sakit karena kamu"kata Richard membuat Vira semakin kesal.
Richard langsung masuk di salah satu ruang VVIP khusus keluarga Raymond, di dalam ada Raja dan Raka yang sedang menonton TV. Dan Steven yang duduk sambil bersandar di atas brankarnya.
"bang"panggil Steven sambil tersenyum lalu memeluk Richard, dan dibalas oleh pria dingin itu.
"bagaimana keadaan kamu?"tanya Richard melepaskan pelukannya dan menatap Steven.
"sudah lumayan baik"jawab Steven sambil tersenyum, lalu matanya beralih pada Vira yang berdiri di samping Richard.
"Lo Vira kan"kata Steven menatap Vira, membuat gadis itu sedikit merasa bingung.
"lo kenal gue?"tanya Vira bingung, membuat Steven tersenyum.
"dia adik saya"kata Richard membuat Vira lumayan terkejut dan bingung.
"maksudnya?"
"abang kita"kata Raka dan Raja bersamaan membuat Bira semakin bingung.
"bodoh"kata richard sambil menyentil jidat Vira, membuat gadis itu menyumpahi Richard di dalam hatinya.
"jadi ini calon pendamping abang? Calon kakak ipar aku?"tanya Steven sambil tersenyum.
"gue sama dia? Oh tidak mungkin. Mustahil!"kata Vjra membuat mereka tertawa.
"gue gak mungkin sama dia, serem ih. Mukanya ajah tuh"kata Vira ambigu, membuat Richard menatapnya.
"ada apa dengan wajah saya? Terlalu tampan? Terlalu bagus untuk ukuran manusia?"tanya Richard dengan sangat bangga membuat Vira menatapnya.
"kepedean banget"kata Vira sinis.
"kamu itu milik saya! Tidak usah jual mahal. Saya tahu kamu juga suka sama saya"kata Richard membuat Vira kesal karena Raka dan Raja yang terus menertawainya.
"bang udahlah, kasihan dia"kata Steven terkekeh.
"abang hampir lupa, malam ini sepertinya princess yang akan menjaga kamu. Abang pasti ke sini. Tapi mungkin sangat larut"kata Richard.
"memangnya abang mau kemana? Ada urusan?"tanya Steven.
"bukannya sedang tidak ada misi bang?"tanya Raja.
"urusan abang ada pada gadis ini"kata Richard membuat Steven, Raka dan Raja mengangguk mengerti.
"gue? Gak bisa malam ini. Gue capek banget mau istirahat di rumah"kata Vira membuat Richard menghela nafasnya gusar.
"yasudah di rumah kamu saja"kata Richard mengambil keputusan.
"eh gak boleh! Enak ajah lo mau ke rumah gue. Gue tinggal sendiri, nanti apa kata orang kalau ada cowok ke rumah gue. Malam lagi"kata Vira menolak.
"kalau tidak mau, di hotel saja. Apa saya harus mengulang kejadian malam itu"kata Richard membuat Vira menatapnya sinis.
"okey di rumah gue ajah"ucap Vira kesal.
"kejadian apa bang? Di hotel? Jangan bilang..."kata Raka menggoda Richard.
"tidak usah memakai otak mesummu itu!"kata Richard melemparkan botol air mineral ke arah Raka, membuat pria itu meringis karena botol itu mengenai kepalanya.
"wajar kalau dia berfikir mesum, pria seperti bang Richard tidak mungkin hanya diam saja berdua dengan seorang gadis di hotel"kata Steven yang juga ikut menggoda Richard.
"Steven kenapa kamu jadi mesum seperti dua anak itu"kata Richard menunjuk si twins yang menunjukan watados mereka.
__ADS_1
"siapa suruh abang menyuruh mereka menjagaku di sini. Otak mesum mereka itu seperti virus. Menular!"kata Steven lalu tertawa di ikuti Raka dan Raja.
"kalian tidak bisa di satukan"kata Richard yang ngeri membayangkan betapa mesumnya ketiga adik laki-lakinya itu.
Tok.... Tok.... Tok
Suara pintu di ketuk membuat semua orang berbalik dan melihat ada Michel di sana, pria itu terlihat rapi dengan jas dokter miliknya. Michel datang untuk mengecek keadaan Steven.
Setelah itu bertos ala pria bersama kedua sahabatnya. Kondisi Steven yang sudah membaik membuat Michel tidak harus berwas-was lagi.
"malam ini princess mau kesini, kamu tahu kan?"tanya Richard.
"tahu kok bang. Gue yang jemput nanti"jawab Michel membuat Richard mengangguk.
"besok pagi dokter yang mengoperasi Steven akan sampai di Indonesia. Mungkin lusa dia baru mulai mengecek kondisi Steven"ucap Michel.
"menurut kamu, apa semuanya baik-baik ajah?"tanya Richard sedikit khawatir.
"kemungkinan terbaiknya itu hanya efek samping dari alkohol. Tapi kemungkinan terburuknya, hati dan paru-parunya harus di ganti dengan yang baru lagi"kata Michel membuat Richard sangat terkejut.
"di ganti lagi?"tanya Richard.
"jika di ganti itu tidak akan sulit, akhir-akhir ini banyak pendonor organ yang datang kerumah sakit"kata Michel santai.
"tidak segampang itu. Darah Steven sangat langkah"kata Richard membuat semua orang menatapnya terkecuali Steven yang hanya terdiam.
"golongan darah Steven apa?"tanya Michel.
"Rhnull Blood"jawab Richard membuat Michel sangat terkejut, hingga terdiam beberapa saat.
"Rhnull Blood? Gue baru denger golongan darah itu"kata Raja bingung.
"Rhnull Blood, jumlah pemilik darah ini hanya di bawah 100 orang"kata Michel membuat semua orang terkejut.
"100? Lo gak salah? Itu dikit banget, Cel"kata Raka terkejut.
"bang lo yakin darah steven, Rhnull Blood?"tanya Michel yang masih tidak percaya.
"pendonor Steven waktu itu, daftar orang ke 58 yang golongan darahnya Rhnull Blood. Sangat sulit mendapatkannya"kata Richard menghelas nafasnya gusar.
"golongan darah Raka sama Raja A. Malau lo apa bang?"tanya Michel.
"golongan darah bang Richard, A. Kita bertiga sama seperti bunda"jawab Raja membuat Michel semakin gila.
"lalu Steven?"tanya Michel mengingat Steven juga anak dari Raymond.
"ayah"jawab Richard membuat Raka dan Raja terkejut.
"ayah? Bukannya darah ayah, AB?"tanya Raja dengan wajah terkejutnya.
"darahnya Rhnull Blood, bukan AB. Dia berbohong soal itu"jawab Richard.
"hanya karena darahnya langkah, bukan berarti kita bisa nyerah bang. Gue akan usaha nyari pendonor buat Steven"kata Michel yang hendak membuat Richard lebih tenang.
"kemungkinannya terlalu kecil, Rhnull Blood sangat sulit di dapatkan. Sekalipun ada, banyak yang merebutkannya"kata Richard menatap sendu Steven yang sejak tadi terdiam.
"gue dokter bang, dan gue bakal ngelakuin apapun demi pasien gue. Gue gak kenal sama bang Richard yang kayak gini, yang gue tahu bang Richard itu orangnya gigih! Gak kenal kata gak mungkin"kata Michel tersenyum pada Richard.
"selama dokternya kamu. Saya tidak akan khawatir soal kesalamatan adik saya. Saya percaya sama kamu"kata Richard membuat Michel tersenyum.
"gue keluar dulu bang, masih ada pasien yang harus gue temuin"ucap Michel hendak keluar namun Steven menahannya.
"tunggu"ucap Steven membuat Michel berbalik.
"tangan lo siniin"kata Steven membuat Michel bingung, namun mendekatkan tangannya pada Steven
Steven mengambil sesuatu di dalam laci nakas, ada sebuah gelang berwarja hitam disana. Ia memasangkannya ditangan Michel. Michel sedikit kenal dengan gelang itu.
Gelang hitam itu, sama seperti gelang yang selalu berada di lengan kiri Richard. Dan Michel baru sadar, kalau gelang itu juga ada di di tangan Steven.
"untuk apa?"tanya Michel menggoyangkan gelang yang ada di tangannya.
"pakai saja"kata Steven lalu berbalik membelakangi Michel.
"bang?"tanya Michel menatap Richard.
"pakai saja, itu gelang keberuntungan"kata Richard tersenyum dan memperlihatkan gelang yang sama dengan Michel.
Michel hanya tersenyum dan mengangkat bahunya, lalu keluar dari sana. Richard tersenyum melihat Steven yang menutup matanya. Richard tahu adiknya itu hanya berpura-pura tidur.
__ADS_1
"sepertinya kamu memang sudah sangat dewasa, dulu kamu bilang gelang itu hanya akan kamu berikan pada pria yang kamu percayai bisa menjaga princess. Bertahun-tahun hanya kita berdua yang memakai gelang itu, dan sekarang ada pria lain. Abang rasa kamu sudah mulai bisa merelakan princess"batin Richard.
"itu semua karena aku sadar, bukan aku kebahagiaan princess. Tapi dokter itu"batin Steven.