
Pagi ini Revano datang ke RD hospital, dia sudah sangat kesal karena Reina tidak pernah menghubunginya. Revano berjalan mencari Reina, cukup lama dia mencari akhirnya kekasihnya itu kelihatan.
"Reina"panggil Revano membuat Reina berbalik.
"Kamu ngapain kesini?"tanya Reina lalu menarik Revano tempat yang sedikit sepi.
"Masih nanya kenapa aku disini? Aku gak mungkin kesini buat bunuh orang kan Rein"kata Revano menggunakan nama Rein untuk Reina.
"Kamu kan bisa nelfon aku kalau mau kesini"kata Reina membuat Revano menatapnya dingin.
"cck hp kamu! Ada berapa ratus panggilan dari aku yang gak kamu jawab sama sekali"kata Revano membuat Reina menunduk.
"2 minggu Rein... 2 minggu kamu gak ada kabar sama sekali. Aku telfon gak di angkat, aku cht gak dibales. Kamu kemana?"tanya Revano memegang tangan kekasihnya itu
"Kita bicarain nanti. Aku harus balik kerja"kata Reina hendak pergi. Namun Revano dengan cepat menarik tangan kekasihnya itu.
"Aku maunya sekarang Rein!"Revano terlihat sangat marah. Sudah cukup ia bersabar selama ini.
"Van aku mohon. Kita bisa bicara nanti. Aku janji bakal nelfon kamu"ucap Reina membuat Revano semakin marah.
"Kamu kenapa sebenarnya? Kalau aku ada salah, bilang Rein! Jagan ngehindar kayak gini" Revano mencoba bersabar menghadapi Reina.
"Kamu gak salah Van"Reina menatap sendu wajah pria yang di cintainya itu.
"Kalau aku gak salah, kenapa kamu menghindar dari aku? Kalau kamu bosen sama hubungan kita, bilang Rein! Supaya aku tahu, kita bisa perbaiki sama-sama"Revano mengenggam tangan Reina. Ia hanya ingin hubungannya membaik.
Revano merasa muak dengan hubungannya yang selalu saja berakhir menyedihkan.
Reina yang ingin berbicara, seketika terkejut saat ada seorang pria yang datang. Revano juga terkejut ketika pria itu memegang pundaknya. Ia seketika berbalik dan bingung, dia tidak mengenal pria itu.
Pria itu hendak memukulnya. Baru saja ia ingin mengindar, justru pria yang hendak memukulnya itu terjatuh menghantam lantai.
"Jangan pernah sentuh adik saya"kata seseorang yang baru saja datang. Dia dengan cepat menarik Revano kebelakangnya.
"Bang Faris"Revano terkejut karena kehadiran abangnya itu.
"Bilang ke adik lo, berhenti deketin Reina"kata pria yang hendak memukul Revano tadi.
"Farhan udah!"Reina menarik pria itu menjauh dari Revano.
"Rein dia siapa?"tanya Revano menatap Reina.
"Gue tunangannya Reina"Farhan memegang tangan Reina. Seketika Revano menjadi sangat terkejut.
"Rein, aku nanya sama kamu. Jawab!"kata Revano yang sudah terpancing emosi.
"Van jangan salah paham. Aku bisa jelasin ke kamu"Reina terlihat bingung harus berkata apa lagi. Situasi saat ini membuat gila.
"Gak ada yang perlu dijelasin!"Farhan menatap Reina.
"Putusin dia! Atau kamu bakal lihat kemarahan aku"Farhan mengancam Reina, membuat gadis itu memangis. Ia berusaha menahan isakannya.
"Farhan tapi..."kata Reina terhenti karena Farhan mengenggam tangannya sangat kuat.
"Van aku minta maaf"Reina menatap Revano sendu.
"Aku gak mau dengar kata itu Rein! Kamu tahu aku gak suka"ucap Revano yang sangat membenci kata putus.
"Tapi Van, aku..."Reina kembali berhenti. Hatinya sangat sesak.
"AKU GAK MAU DENGER REINA!"teriak Revano marah.
"Maaf Van. Tapi kita harus putus"ucap Reina lalu pergi dari sana bersama dengan tunangannya itu.
"REINA!"teriak Revano hendak menyusul Reina. Namun Faris langsung menahannya.
"Bang, aku harus tahu alasannya. Reina gak mungkin mutusin aku"kata Revano menatap Faris.
"Abang tahu. Tapi ini bukan waktu yang tepat"Faris mencoba membuat adiknya itu mengerti.
"Richard sudah pernah bilang sama kamu, jangan pernah menemui Reina sendiri. Kenapa tidak ajak Steven atau Raja?"tanya Faris yang terlihat sangat khawatir.
"Aku cuma mau ketemu Reina, bang. Gak harus ditemenin"Revano menepis kasar tangan abangnya itu.
"Justru karena kamu bertemu Reina, kamu tidak bisa sendiri. Kalau tadi abang datang terlambat, pria itu sudah mukulin kamu habis-habisan"Faris sangat marah saat mengetahui kalau Revano menemui Reina seorang diri.
"Kita pulang sekarang!"Faris menarik Revano pergi dari sana.
//skip//
Jam menunjukan puku 10 pagi, Christy baru saja sampai di markas KC. Hari ini banyak anggota baru yang akan dilatih. Ia turun dari motornya lalu hendak masuk kedalam markas.
Namun ada seorang pria yang menahannya. Christy hanya diam dan menatap pria itu.
"Lo siapa?"tanya pria itu membuat Christy mengerutkan keningnya.
"Lo siapa?"bukannya menjawab, Christy justru bertanya kembali membuat pria itu tersenyum.
"Mata lo buta atau gimana? Lo udah lihat gue ada dimarkas KC. Ya gue anggota KC lah"kata pria itu tersenyum sini, Christy menatapnya remeh.
"Lo juga buta atau gimana? Gue disini ya berarti gue bagian dari markas ini"Christy hendak masuk, namun pria itu menahannya.
"Minggir!"Christy seketika terlibat sangat datar.
"Lo gak bisa masuk! Mau mati lo ya"pria itu terus saja melarang Christy.
"Lo halangin gue masuk, justru lo yang mati nanti"kata Christy dengan smirk andalannya.
"Bisa baca?"tanya Christy membuat pria itu bingung.
__ADS_1
"Baca!"Christy menunjuk tulisan yang ada dijaketnya.
Pria itu dengan fokus membaca tulisan berwarna gold itu. Dia cukup terkejut. Ada tulisan "Leader KC" dijaket itu. Dia sedikit menjauh karena terkejut.
"Yapi leader kami ada didalam"pria itu yang menjadi bingung.
"Leader sebenarnya memang dia"ucap Rahel yang baru saja keluar dari markas. Lalu menghampiri Christy dan memeluknya.
"Rahel, kabarnya gimana?"tanya Christy tersenyum pada Rahel.
"Baik kak".
"Maaf... saya tidak tahu kalau anda leader KC"pria itu menunduk takut. Ia tidak menyangka jika orang yang di tahannya sejak tadi adalah leadernya.
"Gak apa-apa, lo masuk sekarang. Latihan udah mau dimulai"ucap Christy lalu berjalan lebih dulu.
"Princess"panggil Reza dan Aron, lalu memeluk Christy.
"Banyak anggota baru bang?"tanya Christy menatap kedua pria tampan itu.
"Iya, hari ini mereka akan berlatih. Kamu dan Rahel yang akan memilih"ujar Reza.
"Bang Richard dimana?"tanya Christy.
"Dia baru selesai latihan. Mungkin sedang mandi diruangannya"ucap Aron membuat Christy mengangguk.
"Suruh mereka berkumpul di aula. Aku mau keruangan bang Richard dulu"Christy lalu berjalan menuju ruangan milik si jendral itu.
Ia lebih dulu mengetuk pintu ruangan itu, lalu masuk kedalamnya. Christy bisa melihat Richard yang sedang duduk disofa.
"Baru nyampe?"tanya Richard sambil tersenyum menatap Christy.
"Iya bang. Barusan nyampe"ucap Christy lalu duduk di samping Richard.
"Tumben latihan sendiri. Kenapa gak nunggu aku?"tanya Christy menatap Richard.
"Lagi mau latihan sendiri, princess"Richard tersenyum tipis, sambil mengacak gemas rambut adiknya itu.
"Banyak yang mau manjadi anggota KC. Kenapa abang gak turun buat lihat mereka?"Christy menyandarkan kepalanya di bahu Richard.
"Nanti abang turun princess. Abang mau bersantai dulu disini"ucap Richard yang mengelus kepala Christy.
Pria itu cukup lama terdiam begitu juga dengan Christy. Entahlah ada yang aneh hari ini. Christy tidak ingin banyak bicara begitu juga dengan Richard.
"Kalau abang salah, apa princess marah?"tanya Richard dengan suara yang sangat lembut.
"Tergantung sama kesalahan yang abang buat, tapi abang gak pernah buat salah ke aku"kata Christy yang masih menyandarkan kepalanya di pundak Richard.
"Princess... Terkadang sebuah kesalahan bisa saja tidak terlihat. Pasti ada kesalahannya yang justru akan menjadi bencana nantinya"kata Richard membuat Christy menatapnya.
"Abang buat salah apa? Kenapa gak bilang ke aku?"tanya Christy menatap abangnya itu.
"Kenapa minta maaf bang?"Christy kembali bertanya. Ia merasa ada yang aneh dari Richard hari ini.
"Maaf karena sudah mencintai kamu princess"batin Richard yang tidak bisa di dengar Christy.
"Kalau kamu di beri pilihan, kamu lebih memilih abang atau Michel?"tanya Richard melepaskan pelukannya lalu menatap Christy.
"Abang kenapa nanya gitu?"Christy semakin bingung dengan semua yang abangnya itu katakan dan tanyakan.
"Abang hanya mau tahu. Kamu lebih memilih pria yang kamu cintai. Atau memilih abang sebagai saudara kamu"ucap Richard. Ia menatap lekat kedua mata adiknya itu.
Christy langsung mengenggan tangan Richard. Ia tidak tahu apa yang salah dari Richard hari ini. Namun ia mencoba mengerti situasi saat ini.
"Aku lebih baik gak milih siapapun diantara kalian berdua"kata Christy.
"Tapi kenapa?".
"Kalau aku milih Michel, aku takut nyakitin abang. Dan kalau aku milih abang, aku takut nyakitin Michel. Aku gak mungkin nyakitin 2 pria yang paling berharga dihidup aku"kata Christy menatal lekat manik mata Richard.
Richard tersenyum tipis. Ia merasa didikannya selama ini berhasil membangun sifat unik untuk adiknya itu .
"princessnya abang sudah benar-benar dewasa sekarang"kata Richard tersenyum menatap Christy.
"Semua ini karena didikan abang. Hidup aku seperti ini karena abang. Semua menjadi baik karena abang"Christy tersenyum bahagia. Arti Richard di hidupnya sangat besar.
"Suatu saat nanti, kalau abang nyakitin kamu. Abang mohon jangan ninggalin abang. Apapun yang terjadu nanti, abang cuma mau kamu tetap disisi abang"Richard mengenggan tangan Christy.
"Aku gak akan ninggalin abang"kata Christy.
"Tuhan... Ini sudah sangat membuat saya takut. Saya takut kehilangan princess, seharusnya perasaan ini tidak muncul"batin Richard.
//skip//
Jam menunjukan pukul 7 malam, Semua orang sedang berkumpul di mansion. Faris baru saja menceritakan apa yang terjadi tadi pagi, semua orang cukup terkejut. Reina sudah punya tunangan? Apa benar? Pertanyaan itu berada di otak mereka.
"Lo udah coba suruh Reina jelasin?"tanya Michel menatap sahabatnya itu. Ia tidak tega melihat Revano yang terlihat sangat sedih.
"Boro-boro minta penjelasan Cel. Gue tanya ajah dia diem doang"ucap Revano yang merasa sangat frustasi.
"Kalau dia mau tunangan sama cowok lain, seharusnya dia bilang ke gue. Gak gini caranya"Revano merasa dirinya terlah dikhianati.
"Rev, lo tenang dulu. Mita bakal bantuin ngomong ke Reina"Fikra menepuk pundak sahabatnya itu.
"Malau gue tahu kayak gini, gue gak akan jatuh cinta lagi. Dulu Putri.... Sekarang Reina"kata Revano menatap para sahabatnya.
Mereka semua merasa sangat sedih. Revano sudah hampir putus asa dengan yang namanya cinta. Selalu aja berakhir menyakitkan.
"Lo gak boleh ngomong gitu. Lo juga belum tahu kan alasan Reina ngelakuin ini"kata Raka membuat Revano tersenyum sinis.
__ADS_1
"Gue cuma mau dia jujur, kalau dia udah gak mau pacaran sama gue. Dia bisa bilang kan, gak harus ngelakuin hal sampah kayak gini"kata Revano berusaha menahan emosinya.
"Revano sudah!"Richard menegur Revano.
"Bang, kenapa lo gak bilang kalau Reina udah punya tunangan. Lo kan bisa lihat batin orang, kenapa gak bilang ke gue bang?"tanya Revano marah.
Revano benar-benar sudah bingung harus bagaimana lagi. Ia terus saja memarahi semua orang.
"Rev lo tenang dulu"Michel mencoba membuat Revano tenang.
"2 tahun Cel... 2 tahun bukan waktu yang sebentar. Gue baru nyadar sekarang, selama 2 tahun ini cuma gue yang coba pertahanin dia. Sementara dia? Gue gak tahu dia coba buat pertahanin gue atau gak"kata Revano marah.
"Revano! Semua yang kamu lihat sekarang belum tentu itu kebenarannya"kata Richard membuat Revano menatapnya.
"Terus gimana kebenaran yang sebenarnya bang? Gue yang jatuh cinta sama cewek yang gak cinta sama gue.. Itu kebenarannya? Bego! Gue bego!"Revano mengacak rambutnya frustasi.
"Sudah saya katakan. Kebenaran yang kamu lihat saat ini, belum tentu itu yang sebenarnya"kata Richard yang terlihat marah. Ia juga tidak suka melihat tingkah Revano.
"Terus apa bang? Gue capek kayak gini! Gue muak sama cewek yang gak hargain perasaan gue"kata Revano.
BUGH
Bogeman Richard berhasil membuat ujung bibir Revana berdarah. Michel dan Raja dengan cepat menahan Revano yang hampir terjatuh.
"Bang, lo mukul gue?"tanya Revano menatap Richard.
"Pukulan saya sesakit yang gadis itu rasakan, saat mendengar perkataan kamu"kata Richard menatap Revano. Namun menunjuk seorang gadis yang berdiri didepan pintu.
Semua orang spontan melihat kearah pintu mansion. Ada Reina yang berdiri dengan air mata yang sudah terjatuh di pipinya.
Semua orang terkejut karena ada Reina disana. Reina berjalan mendekat pada mereka semua, dia menghapus air matanya dengan cepat.
"Ngapain lagi kesini? Mau ngasih undangan pernikahan?"tanya Revano dengan nada sinisnya. Richard yang hendak memukulnya lagi, seketika berhenti karena melihat tatapan Christy.
"Bang udah!"tegur Christy membuat Revano membuang nafasnya kasar.
"Tadinya aku kesini buat jelasin semuanya ke kamu,. Tapi kayaknya kamu udah gak mau dengerin penjelasan aku lagi"Reina mencoba tersenyum. Hatinya sangat sakit saat mendengar semua perkataan Revano.
"Penjelasan? Tadi pagi aku minta penjelasan, tapi kamu diam. Sekarang kamu bilang mau jelasin? Gila kamu hah?"tanya Revano lalu mengenggam kuat tangan Reina.
"Lepaskan tangan kamu Revano"ucap Richard penuh penekanan.
"Bang, Reina kesakitan"Christy menegur abangnya itu. Kelakuannya sudah sangat berlebihan.
"Untuk kedua kalinya, hati aku hancur karena cinta. Dan kali ini kamu penyebabnya"kata Revano meremas kuat pundak Reina.
"Faris, maaf"Richard menatap Faris membuat pria itu sedikit bingung.
BUGH
BUGH
BUGH
Richard memukul Revano dengan sangat kuat, Faris seketika terkejut dan langsung membantu Revano berdiri. Ia menatap Richard bingung, dia memukul Revano sangat kuat.
"Gila lo?"tanya Faris menatap Richard.
"Saya sudah minta maaf tadi"ucap Richard seolah tidak bersalah.
"Kamu, bicara sekarang. Jelaskan apa yang perlu dijelaskan" Richard menatap Reina.
"Van, aku gak tahu harus mulai dari mana. Tapi aku gak ada niatan buat nyakitin kamu. Kalau kita putus sekarang, semuanya bakal kembali seperti semula"ucap Reina membuat Revano tertawa sinis sambil menghapus darah dari bibirnya.
"Putus? Kamu bilang putus? Segampang itu? 2 tahu Rein... 2 tahun aku perjuangin kamu. Aku coba buat jadi yang terbaik buat kamu. Ini balasannya?"tanya Revano menatap Reina.
"Hubungan kita salah Van. Aku harusnya gak punya hubungan sama kamu. Kita gak bisa sama-sama"Reina menghapus air matanya.
"Kamu tahu sebenci apa aku sama kata putus, dan sekarang kamu ngucapin kata itu. Kamu buat aku makin benci sama kata putus dan benci sama cinta"ucap Revano berusaha menahan emosinya.
"Rev, lo tenang dulu"Dimas mengelus pundak sahabatnya itu. Ia berusaha membuat Revano lebih tenang.
"Hubungan kita berakhir sampai disini Van, makasih buat 2 tahunnya"kata Reina menatap lekat manik mata Revano.
"Tapi satu yang perlu kamu tahu. 2 tahun ini bukan cuma kamu yang berjuang. Aku juga coba buat perjuangin kamu... Tapi udah gak bisa Van"kata Reina lalu hendak pergi dari sana, namun Christy menahannya.
"Lo yakin?"tanya Christy menatap Reina.
"Jagain Revano ya"Reina melepaskan tangan Christy, lalu berjalan keluar.
Didepan pintu mansion, Reina bertemu Zee yang baru saja datang. Zee yang tadinya acuh, seketika menahan tangan Reina dan menatap wajah gadis itu.
"Kita pernah ketemu kan?"tanya Zee merasa kenal dengan Reina. Wajahnya tidak asing.
"Sorry lo salah orang"kata Reina lalu pergi dari sana.
"Tapi gue yakin, gue pernah ketemu sama dia"kata Zee lalu terdiam cukup lama. Hingga Richard mendatanginya.
"Kamu pasti kenal sama dia"kata Richard membuat Zee menatapnya.
"Gue yakin pernah ketemu dia"Zee mencoba mengingat lagi. Karena ia merasa Reina tidak asing baginya.
Zee seketika terkejut saat sudah mengingat siapa Reina. Ia menatap Richard dengan wajah terkejutnya. Richard mengangguk, karena tahu apa yang Zee fikirkan.
"Tapi kenapa dia bisa disini?"tanya Zee yang masih terkejut.
"Dia kekasih Revano"ucap Richard yang lagi-lagi membuat Zee terkejut.
"Tapi Reina itu..."Zee terdiam sejenak.
__ADS_1
"Reina, kekasih Alex kakak kamu"kata Richard menyambung perkataan Zee.