
Jam menunjukan pukul 9 pagi, semua orang sedang berkumpul di mansion Raymond. Richard berencana pindah ke mansion yang baru, bersama semua keluarganya.
Semuanya hanya menuruti perkataan Richard, sore nanti semua barang akan di pindahkan ke mansion yang baru. Sedangkan mansion yang lama, akan di biarkan kosong. Richard akan mengecek setiap minggu keadaan mansion itu
"Richard, kamu yakin kita harus pindah?"tanya Siska, yang masih ragu meninggalkan mansion. Banyak kenangan di mansion ini, banyak hal yang terjadi di mansion ini.
"kita tidak bisa di sini lagi. Terlalu banyak problem yang terjadi"ucap Richard sambil menatap wajah bundanya itu.
"yaudah. Apapun yang kamu lakukan, bunda percaya"kata Siska tersenyum.
Richard beralih menatap Christy yang sedari tadi hanya diam. Bahkan gadis itu tidak menatapnya sedikitpun sejak tadi. Richard mengerti, Christy pasti masih marah padanya.
"princess"panggil Richard, membuat semua orang menatap Christy yang diam dan tidak mendengar panggilan Richard.
"Chris, bang Richard manggil kamu"Raka menegur adiknya itu, sambil menggoyangkan tangannya, membuat gadis itu menatapnya.
"aku gak tuli bang"kata Christy tersenyum sangat tipis.
"kita bertiga harus bicara"ujar Steven menarik tangan Christy perlahan, membawanya masuk ke dalam kamar Richard. Richard pun mengikuti kedua adiknya itu.
Richard langsung menutup pintu kamarnya, dan menatap Christy cukup lama. Sedangkan Christy, gadis itu hanya diam dan terlihat sangat datar. Steven mendengus kesal, karena Christy dan Richard sama-sama tidak ada yang mau memulai pembicaraan.
"mau diem sampai jamuran?"tanya Steven menatap kedua saudaranya yang sama-sama keras kepala itu.
"princess lihat abang"Richard akhirnya mulai berbicara. Dia meraih tangan Christy, lalu menggenggamnya.
"kenapa bang?"tanya Christy yang terlihat kesal.
"abang ngerti, kalau kamu marah saat ini. Tapi sudah berapa kali abang katakan, abang tidak suka kalau kamu mendiami abang seperti ini"kata Richard menatap lekat mata adik kesayangannya itu.
"aku hanya gak mau bicara ajah bang"kata Christy yang tidak mau menatap Richard.
"princess dengarkan abang. Kalau ada masalah..... kita selesaikan sekarang. Jangan menjadi dingin seperti ini"kata Steven mencoba membuat Christy mengerti.
"kalian berdua yang memulainya. Kalau kalian gak ngelarang aku waktu itu, ini gak akan terjadi. Aku gak akan bersikap kayak gini"kata Christy melepaskan genggaman Richard, lalu menatap kedua abangnya itu.
"kita punya alasan, kenapa melarang kamu ikut pertempuran"Richard kembali berkata, mencoba membuat adiknya itu mengerti.
"kalau aku gak datang waktu itu, gimana nasib kalian berdua? Apa aku harus kehilangan lagi? Kehilangan orang-orang yang berarti di hidup aku. Aku belum siap bang, dan gak akan pernah siap!"ujar Christy yang terlihat menahan emosinya, menatap kedua pria di hadapannya itu
"abang minta maaf, abang tahu kalau abang salah. Jangan sedih princess"kata Richard dengan tatapan yang redup.
"aku kayak gini, karena aku takut kehilangan lagi. Aku udah kehilangan Aya dan Ayah. Apa aku harus kehilangan bang Richard dan bang Steven juga? Aku gak sekuat itu"kata Christy dengan air mata yang sudah terjatuh. Steven dan Richard tidak suka melihat Christy menangis, hati mereka terasa sakit.
"princess, jangan menangis"ujar Steven menatap sendu wajah gadis cantik itu.
"kami tidak akan meninggalkan kamu. Jangan menangis"kata Richard lalu memeluk Christy.
Christy terisak di pelukan Richard, entah kenapa gadis itu menjadi sangat takut sekarang. Rasya dan Raymond sudah tidak ada, ia takut jika Tuhan mengambil orang yang di sayangnya lagi, itu sangat menyakitkan.
"abang melarang kamu..... Karena abang takut kamu terluka lagi. Abang tidak siap melihat kamu terbaring lemah di rumah sakit lagi. Hati abang sakit kalau melihat kamu terluka princess. Abang mohon mengertilah"kata Richard mengelus kepala Christy.
"aku juga takut lihat abang terluka. Aku gak mau lihat abang kenapa-napa"ucapnya yang terdengar sangat tulus.
"abang mengerti princess, abang minta maaf. Kalau menjadi mafia adalah kemauan kamu, akan abang ikuti. Tapi abang mohon, jangan samapi terluka seperti dulu"kata Richard menatap mata Christy.
"makasih bang"kata Christy yang juga menatap abangnya itu.
"leader in the world sudah kembali"seru Steven mengacak gemas rambut Christy.
"princess, bisa tinggalkan kami berdua? Abang mau berbicara empat mata dengan bang Richard"kata Steven membuat Christy mengerti, lalu keluar dari kamar itu.
"ngomong apa?"tanya Richard lalu berbaring di king sizenya, di ikuti Steven.
"semalam tidur di rumah Vira?"tanya Steven menatap wajah abangnya itu sambil tersenyum.
"kamu terlalu kepo Steven"kata Ricbard menjitak kepala adiknya itu.
"abang beneran sayang kan sama Vira?"tanya Steven menatap Richard. Membuat pria dingin itu kembali menatapnya.
"kenapa bertanya seperti itu?"tanya Richard.
"pengen tahu ajah, aku kira abang masih cinta sama..."ujar Steven lalu seketika terhenti karena Richard menatapnya.
"jangan membahas ini di mansion, Steven. Nanti ada yang dengar"kata Richard yang sedikit mengecilkan suaranya
"bang, ini saran yah. Kalau abang cinta sama Vira, langsung nikahin ajah. Lagian umur abang udah matang buat nikah. Vira pasti siap kalau abang ajakin dia nikah"kata Steven antusias.
"abang masih ragu soal perasaan abang ke Vira"kata Richard membuat Steven bingung.
"ragu gimana maksudnya?"tanya Steven yang seketika menjadi sangat fokus pada abangnya itu
"abang takut, kalau perasaan abang saat ini hanya sementara. Abang bingung"ujar pria dingin itu lalu menghembuskan nafasnya gusar.
"abang jangan seperti ini terus. Ingat kata opah. Abang jangan sampai berakhir seperti ayah. Mencintai dua gadis di waktu yang sama"kata Steven menatap abangnya itu.
"abang juga tidak mau seperti ini, Steven. Tapi abang juga bingung. Abang bingung mencintai yang mana"Richard kembali berkata, ia benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Ia takut menyakiti hati Vira.
"aku yakin, yang abang cintai itu Vira. Cinta pertama abang itu, hanya karena abang selalu menghabiskan waktu sama dia. Itu hanya perasaan sementara bang. Sedangkan Vira, dia masa depan abang saat ini"kata Steven berusaha meyakinkan Richard.
"tapi, abang harus jujur pada Vira soal cinta pertama abang itu"kata Richard yang terlihat sangat serius.
"itu terserah abang. Lebih cepat lebih baik. Jangan sampai, Vira tahu dari orang lain. Itu pasti menyakiti hatinya"kata Steven lalu menepuk pundak abangnya itu.
"semoga semuanya lancar"kata Richard tersenyum tipis.
//skip//
Jam sudah menunjukan pukup 5 sore, Richard dan yang lain baru saja sampai di mansion yang baru. Semua barang sudah tertata rapi, mansion yang baru jauh lebih besar di bandingkan mansion Raymond sebelumnya.
Michel duduk di sofa lalu menyandarkan kepalanya. Pria itu terlihat lelah karena membantu Richard membawa beberapa barang.
"bi, bikinin minuman dingin yah. Nanti bawa ke ruang tengah"ucap Christy pada pelayan, yang bekerja di mansion.
__ADS_1
"iya non, saya buatkan dulu"kata pelayan itu dengan sangat sopan, lalu pergi ke dapur.
Christu langsung menghampiri Michel, lalu duduk di sebelah kekasihnya itu. Michel tersenyum tipis, saat melihat Christy duduk di sebelahnya.
"capek banget yah?"tanya Christy mengelus kepala Michel.
"lumayan"jawabnya, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Christy.
"eh aku hampir lupa"kata Michel lalu mengambil sesuatu di saku celananya.
Michel memegang sebuah amplop surat, Christy terlihat bingung. Amplop itu terlihat sangat kusam, sepertinya sudah sangat lama.
"punya siapa?"tanya Christy menatap amplop itu.
"aku baru mau nanya kamu, ini punya siapa"kata Michel membuat Christy bingung.
"kamu dapat dari mana?"tanya Christy dengan tatapan yang tidak lepas dari amplop itu.
"tadi waktu aku ngangkat box hitam, surat ini gak sengaja jatuh. Mau aku masukin balik, tapi bang Richard langsung rampas boxnya. Kayak marah gitu"ucal Michel membuat Christy berfikir sejenak.
"box hitamnya ada lambang KC?"tanya Christy membuat Michel mengangguk.
"pantesan bang Richard marah. Box itu emang gak pernah di pegang orang lain, selain dia. Aku ajah pernah di marahin karena megang box itu"kata Christy mengingat dirinya juga pernah terkena amukan Richard. Hanya karena ia tidak sengaja memegang box itu.
"terus, surat ini gimana?"tanya Michel yang bingung harus bagaimana.
Baru saja Christy hendak berbicara, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar menuruni anak tangga. Christy dan Michel menatap ke arah tangga, terlihat Richard yang berlari dengan sangat cepat menuruni tangga.
"abang kenapa lari-lari?"tanya Christy berjalan mendekat ke arah pria dingin itu.
"Michel mana?"tanya Richard lalu Christy langsung menunjuk Michel yang duduk disofa.
"kenapa bang?"tanyanya lalu berdiri dari duduknya. Ia langsung mendekat ke arah kedua bersaudara itu
"kamu kan yang tadi megang box hitam milik saya?"tanya Richard.
"iya bang"jawab Michel
"kamu buka box itu?"tanya Richard yang terlihat marah.
"enggak bang"kata Michel menatap Richard.
"jangan bohong!"ujar Richard marah. Lalu menarik kera baju Michel membuat Christy terkejut.
"abang kenapa sebenarnya?"tanya Christy berusaha melepaskan cengkraman Richard.
"saya tanya sekali lagi, kamu buka box itu?"tanya Richard yang terlihat sangat marah.
"enggak bang. Gue gak buka box punya lo. Gue bahkan baru ngangkat dan lo langsung rampas box nya"kata Michel mencoba membuat Richard mengerti.
"kalau kamu tidak membukanya, lalu di mana amplop yang ada di dalam box itu? Tidak mungkin hantu yang mengambilnya"Richard kembali berkata. Dia terlihat sangat marah saat ini.
"ini yang abang maksud?"tanya Christy menunjukan sebuah amplop, membuat Richard terkejut.
"kenapa ada sama kamu, princess?"tanya Richard.
"kalian membaca isi amplop itu?"tanya Richard menatap Michel dan Christy.
"enggak bang"kata jawab Michel.
"princess, kamu baca isinya?"tanya Richard membuat Christy menggeleng.
"kenapa abang semarah ini? Apa isinya sangat penting?"tanya Christy lalu memberikan amplop itu pada Richard.
"tidak untuk sekarang kamu tahu princess. Ada saatnya kamu tahu isi amplop ini"kata Ricbard menggenggan amplop itu.
"saya minta maaf"kata Richard menepuk pundak Michel, lalu pergi dari sana.
Michel menjadi sangat penasaran, kenapa Richard semarah itu hanya karena sebuah amplop. Dan apa isinya? Kenapa sangat mencurigakan?
"Chris, kamu tahu tentang amplop yang tadi?"tanya Michel yang masih sangat penasaran dengan amplop itu.
"aku gak tahu. Yang pasti itu sudah sangat lama. Aku jadi penasaran, kenapa bang Richard tidak pernah mengizinkan semua orang untuk memegang box hitam itu"kata Christy yang juga bingung.
"aku kira kamu tahu. Bukannya bang Richard tidak pernah menyembunyikan apapun dari kamu?"tanya Michel.
"hanya box itu yang gak pernah aku tahu. Sepertinya di dalam box itu ada barang-barang penting"kata Christy menatap Michel.
"yaudah, gak usah di fkirin lagi. Nanti juga bang Richard bakal ngasih tahu ke kamu"kata Michel tersenyum pada Christy.
"Fara sama Tasya gak kesini?"tanya Michel.
"katanya sih mau datang, tapi nanti malam. Kamu mandi ajah dulu, kamu bawa baju ganti kan?"tanya Christy.
"aku bawa kok, ada di mobil"kata Michel.
"yaudah, kamu mandi ajah sana. Biar aku yang ngambil baju kamu di mobil"kata Christy.
"makasih sayang"ucap Michel lalu mencium kening Christy. Ia langsung bergegas mandi.
Christy langsung keluar dari mansion, dan membuka bagasi mobil milik Michel. Christy terkejut melihat bagasi mobil yang sangat berantakan, baju-baju milik Michel tidak beraturan.
Christy merapikannya terlebih dahulu, lalu kembali menutupnya. Baru saja ia hendak masuk ke mansion, seorang gadis cantik datang dan menghampirinya.
"Chris"panggil gadis berpakaian formal itu.
"eh kak Vira"kata Christy tersenyum, melihat Vira yang memanggilnya tadi.
"kakak dari kantor? Ini kan hari minggu kak"kata Christy melihat penampilan Vira yang sangat formal.
"ada urusan penting di kantor, jadi kakak kesana dulu sebentar"kata Vira.
"pasti kesini mau ketemu bang Richard kan"tebak Christy membuat Vira tersipu malu.
__ADS_1
"kakak juga mau ketemu kamu Chris"kata Vira membuat Christy terkekeh.
"yaudah yuk, aku anterin ke kamarnya bang Richard"kata Christy menarik perlahan tangan Vira.
Christy dan Vira menaiki anak tangga satu persatu, lalu berjalan ke arah pintu berwarna putih bertuliskan "Richard".
Christy langsung mengetuk pintu kamar itu, lalu si pemilik kamar yang ada di dalam langsung membukanya. Dia sedikit terkejut melihat ada Vira di sana.
"aku ke kamar dulu"kata Christy lalu meninggalkan Richard dan Vira.
"masuk"seru Richard menarik pelan tangan Vira, lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Gadis itu cukup terkejut saat melihat kamar Richard yang sangat rapi dan sangat bersih. Dindingnya berwarna hitam putih, rak buku yang cuku besar, TV yang sangat lebar, kasur yang terlihat sangat mahal dan beberapa snapan yang terlihat mengkilat.
"kamu nyimpan snapan di kamar? Gak salah?"tanya Vira menunjuka 4 snapan yang tertata rapi.
"kamu tidak suka? Apa saya harus membuangnya?"tanya Richard membuat Vira terkejut.
"eh bukan gitu maksudnya. Gimana yah cara ngomongnya"ujar Vira yang menjadi bingung.
"snapan itu sangat berguna. Misuh saya bisa kapan saja datang ke mansion ini dan membunuh keluarga saya"ujat Richard membuat Vira merinding.
"segitunya yah?"tanya Vira membuat Richard tersenyum tipis.
"semua itu resiko, karena saya jendral KC. Banyak musuh yang mau membunuh saya"kata Richard lalu duduk di kasurnya.
"hmm kalian para mafia saling membunuh, apa polisi tidak mengangkap kalian? Atau kalian menjadi buronan?"tanya Vira penasaran. Ia penasaran kenapa Richard tidak pernah di tangkap polisi, atau bahkan menjadi buronan. Padahal pria itu sudah banyak membunuh dan menyiksa orang.
"kemari, duduk di samping saya"ucal Richard, lalu Vira langsung duduk di sampingnya.
"saya tidak tahu, soal polisi yang menjadikan para mafia itu buronan. Tapi yang pasti, para polisi tidak akan pernah menangkap anggota KC. Karena kami berbeda dari mafia yang lain"kata Richard membuat Vira mengerti.
Vira kembali memperhatikan seisi kamar Richard, benar-benar terlihat sangat rapi. Pria itu memang sangat teliti dalam mengatur barang.
"Vira"panggil Richard dengan suara beratnya itu. Vira yang mendengarnya, menjadi merinding.
"kenapa?"tanya Vira.
"kalau saya menyakiti hati kamu, apa kamu akan meninggalkan saya?"tanya Richard yang seketika terlihat sangat serius. Vira menatapnya cukup lama lalu memberanikan diri untuk berbicara.
"tergantung cara kamu nyakitin aku gimana. Kalau kamu selingkuh aku gak mungkin maafin kamu."kata Vira yang masih bisa tersenyum.
"saya tidak mungkin selingkuh. Kamu pacar pertama saya, mencari yang baru itu sulit"kata Richard mengingat kepribadiannya yang sedikit berbeda dari pria pada umumnya. Dia kasar, jarang berbicara, tidak suka tempat ramai.
"kamu gak pernah pacaran? Beneran? Kamu bohong pasti"kata Vira tidak percaya, jika pria setampan Richard tidak pernah berpacaran.
"saya tidak punya waktu untuk mengencani seorang gadis. Waktu saya habis untuk membunuh orang"kata Richard lagi dan lagi membuat Vira merinding.
"memangnya kamu pernah pacaran sebelumnya?"tanya Richard menatap Vira. Gadis itu terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafasnya gusar.
"pernah. Tapi gak berjalan lancar"kata Vira dengan wajah sedihnya. Ia kembali mengingat kenangan pahitnya itu.
"memangnya kenapa?"tanya Richard yang seketika ingin tahu seperti apa masa lalu gadisnya.
"dulu, aku pernah pacaran selama 3 tahun. Awalnya semua berjalan sangat baik, tapi dia membuat kesalahan yang sangat besar"kata Vira menatap Richard.
"selama 3 tahun, aku kira dia tulus mencintai aku. Tapi ternyata, itu semua hanya kebohongan. Dia macarin aku, hanya karena aku mirip dengan cinta pertamanya yang sudah meninggal"ujar Vira membuat Richard sangat terkejut.
"aku hanya menjadi sebuah pelampiasan"kata Vira tersenyum tipis.
Richard terdiam sejenak, ia merasa dirinya sama berengseknya dengan mantan pacar Vira. Ia sampai sekarang masih bingung dengan perasaannya, dia bingung mencintai siapa.
Bagaimaba jika Vira tahu nanti? Pasti gadis itu akan hancur untuk kedua kalinya. Richard semakin takut, dia takut menyakiti hati Vira.
"aku harap kamu serius soal perasaan kamu ke aku"kata Vira menatap Richard.
Richard langsung memeluk tubuh gadis itu, menutup matanya sejenak. Lalu perlahan mengelus kepala Vira, mencium kepala gadis itu.
"apapun yang terjadi suatu saat nanti, saya mau kamu tetap di sisi saya. Jangan tinggalkan saya"kata Richard yang terdengar sangat tulus.
"aku gak akan pergi, kecuali kamu yang nyuruh aku pergi"kata Vira memeluk erat tubuh Richard.
"terimakasih"kata Richard, melepaskan pelukannya lalu menggenggan tangan Vira.
Richard mendekatkan wajahnya pada Vira. Gadis itu menjadi gugup, jantungnya berdetak begitu cepat, deru nafas Richard bisa di rasakannya. Richard tersenyum tipis, lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Vira.
Tok...tok..tok
Richard menatap pintu kamarnya tajam, orang yang mengetuk pintu kamar itu benar-benar menganggu. Dengan kesal, ia membuka pintu kamarnya dan menatap pria yang ada di depan itu kamarnya itu.
"bang, numpang mandi yah. Kamar mandi aku airnya macet"kata Steven sambil tersenyum, membua Richard menatapnya datar. Ia ingin marah, tapi tidak bisa.
"Steven kamu merusak suasana"kata Richard memasukan kepala Steven di sela tangannya, lalu mengacak rambut adiknya itu.
"bang, bang, bang, Abang lepas ihh. Gak bisa nafas"kata Steven lalu mendorong Richard, dan masuk ke dalam kamar Richard.
"ohhh ini ternyata"kata Steven terkekeh menatap Vira yang duduk dikasur.
"yaudaj lanjutin ajah, aku mau mandi dulu. Hmm jangan keras-keras yah suaranya. Takut ada yang denger di luar"kata Steven membuat Vira terkekeh.
"Steven mandi saja sana"kata Richard meleparkan bantal pada Steven, membuat pria itu langsung berlari masuk ke dalam kamar mandin.
"BANG JANGAN KELEWATAN BATAS, KASIHAN ANAK GADIS ORANG. DI HALALIN DULU, BARU BOLEH"teriak Steven dari dalam kamar mandi.
Richard dan Vira terkekeh dengan tingkah Steven, dia sangat mirip seperti anak kecil. Umurnya saja yang bertambah, namun kelakukannya tetap seperti anak kecil.
"kalian berdua beda banget. Steven orangnya periang, tapi kamu kaku banget. Kaya aspal panas"kata Vira membuat Richard menatapnya. Mana bisa gadis itu menyamakannya dengan aspal panas.
"walaupun saya seperti aspal panas, tapi kamu cinta sama saya kan"kata Richard lalu menindih tubuh Vira di atas kasur membuat gadis itu terkejut.
"Richard kamu apaan sih. Nanti Steven lihat gimana, nanti dia mikir yang aneh-aneh tahu"kata Vira memukul dada Richard.
"dia tidak akan dengar, kalau kamu tidak berisik"kata Richard dengan smirk andalannya.
__ADS_1
"mampus gue, bisa mati jantungan nih kalau gini. Kenapa dia ganteng banget sih"batin Vira membuat Richard tersenyum. Gadis itu selalu lupa jika Richard bisa mendengar isi hatinya.
"saya tahu, kalau saya itu tampan. Kamu harus bersyukur, karena memiliki kekasih setampan saya"kata Richard lalu mencium bibi Vira.